Oleh
: Masduki Ibnu Zeayah
Secara etimologis kata ini merupakan bentuk masdar dari kata ittaqâ–yattaqiy
(اتَّقَى- يَتَّقِىْ),
yang berarti “menjaga diri dari segala yang membahayakan”. Sementara pakar
berpendapat bahwa kata ini lebih tepat diterjemahkan dengan “berjaga-jaga atau
melindungi diri dari sesuatu”. Kata taqwa dengan pengertian ini dipergunakan di
dalam al-Quran, misalnya pada QS. Al-Mu’min [40]: 45 dan Ath-Thûr [52]: 27.
Kata ini berasal dari kata waqâ–yaqi–wiqayah (وَقَى- يَقِى- وِقَايَة),
yang berarti “menjaga diri, menghindari, dan menjauhi”, yaitu menjaga sesuatu
dari segala yang dapat menyakiti dan mencelakakan. Penggunaan bentuk kata kerja
waqâ (وَقَى)
dapat dilihat antara lain dalam QS. Al-Insân [76]: 11, Ad-Dukhân [44]: 56, dan
Ath-Thûr [52]: 28. Penggunaan bentuk ittaqâ(اِتَّقَى)
dapat dilihat antara lain di dalam QS. Al-A‘râf [7]: 96. Kata taqwâ (تَقْوَى)
juga bersinonim dengan kata khaûf (خَوْف) dan khasyyah
(خَشْيَة)
yang berarti “takut”. Bahkan, kata ini mempunyai pengertian yang hampir sama
dengan kata taat. Kata taqwâ yang dihubungkan dengan kata thâ‘ah
(طَاعَة)
dan khasyyah (خَشْيَة)
digunakan al-Quran dalam QS. An-Nûr [24]: 52.
Dalam istilah syar‘i (hukum), kata taqwâ mengandung
pengertian “menjaga diri dari segala perbuatan dosa dengan meninggalkan segala
yang dilarang Allah Swt. dan melaksanakan segala yang
diperintahkan-Nya”.
Di dalam al-Quran kata ini disebut 258 kali dalam berbagai bentuk dan dalam
konteks yang bermacam-macam. Kata ini dalam bentuk kata kerja lampau (fi‘l
mâdhi) ditemukan sebanyak 27 kali, yaitu dengan bentuk ittaqâ (اِتَّقَى)
sebanyak 7 kali, antara lain dalam QS. Al-Baqarah [2]: 189; dalam bentuk ittaqaw
(اِتَّقَوْا)
sebanyak 19 kali, seperti dalam QS. Al-Mâ’idah [5]: 93; dan dalam bentuk ittaqaytunna
(اِتَّقَيْتُنَّ)
hanya satu kali, ditemukan dalam QS. Al-Ahzâb [33]: 32. Dalam bentuk-bentuk
seperti di atas, kata taqwâ pada umumnya memberi gambaran mengenai
keadaan, sifat-sifat, dan ganjaran bagi orang-orang bertakwa. Kata taqwâ
yang diungkapkan dalam bentuk kata kerja masa sekarang (fi‘l mudhâri‘)
ditemukan sebanyak 54 kali. Dalam bentuk ini, Al-Quran menggunakan kata itu
untuk: (1) menerangkan berbagai ganjaran, kemenangan, dan pahala yang diberikan
kepada orang yang bertakwa, seperti dalam QS. Ath-Thalâq [65]: 5; (2)
menerangkan keadaan atau sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seseorang
sehingga ia diharapkan dapat mencapai tingkat takwa, yang diungkapkan bentuk la‘allakum
tattaqûn (لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُـوْنَ = semoga engkau bertakwa), seperti
dalam QS. Al-Baqarah [2]: 183; dan (3) menerangkan ancaman dan peringatan bagi
orang-orang yang tidak bertakwa, seperti dalam QS. Al-Mu’minûn [23]: 32.
Kata taqwâ yang dinyatakan dalam kalimat perintah ditemukan sebanyak
86 kali, 78 kali di antaranya mengenai perintah untuk bertakwa yang ditujukan
kepada manusia secara umum. Obyek takwa dalam ayat-ayat yang menyatakan
perintah takwa tersebut bervariasi, yaitu: (1) Allah sebagai obyek ditemukan
sebanyak 56 kali, misalnya pada QS. Al-Baqarah [2]: 231 dan Asy-Syu‘arâ’ [26]:
131; (2) Neraka sebagai obyeknya dijumpai sebanyak 2 kali, yaitu pada QS.
Al-Baqarah [2]: 24 dan آli ‘Imrân [3]: 131; (3) Fitnah/siksaan
sebagai obyek takwa didapati satu kali, yaitu pada QS. Al-Anfâl [8]: 25; (4)
Obyeknya berupa kata-kata rabbakum (رَبَّكُمْ), al-ladzî
khalaqakum (الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ), dan kata-kata lain yang semakna
berulang sebanyak 15 kali, misalnya di dalam QS. Al-Hajj [22]: 1.
Dari 86 ayat yang menyatakan perintah bertakwa pada umumnya (sebanyak 82
kali) obyeknya adalah Allah, dan hanya 4 kali yang obyeknya bukan Allah
melainkan neraka, hari kemudian, dan siksaan. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa ayat-ayat yang berbicara mengenai takwa di dalam Al-Quran pada dasarnya
yang dimaksudkan adalah ketakwaan kepada Allah Swt. Perintah itu pada dasarnya
menunjukkan bahwa orang-orang yang akan terhindar dari api neraka dan siksaan
hari kemudian nanti adalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah Swt.
Kata taqwâ yang dinyatakan
dalam bentuk mashdar, ditemukan di dalam al-Quran sebanyak 19 kali. Yang
diungkapkan dalam bentuk tuqât (تُقَاة) sebanyak 2 kali dan dalam bentuk taqwâ
(تَقْوَى)
sebanyak 17 kali. Dalam bentuk ini kata taqwâ pada umumnya digunakan
al-Quran untuk: (1) menggambarkan bahwa suatu pekerjaan yang dilakukan harus
didasarkan atas ketakwaan kepada Allah Swt, seperti dalam QS. Al-Hajj [22]: 37;
dan (2) menggambarkan bahwa takwa merupakan modal utama dan terbaik untuk
menuju kehidupan akhirat.
Takwa kepada Allah merupakan sesuatu
yang harus dilaksanakan. Takwa kepada Allah, menurut Muhammad Abduh, adalah
menghindari siksaan Tuhan dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang
dilarang-Nya serta mengerjakan segala yang diperintahkan-Nya. Hal ini,
lanjutnya, hanya dapat terlaksana melalui rasa takut dari siksaan yang menimpa
dan rasa takut kepada yang menjatuhkan siksaan, yaitu Allah. Rasa takut itu
pada mulanya timbul dari keyakinan tentang adanya siksaan. Perintah dan
larangan Allah dapat dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu (1) Perintah dan
larangan yang berkaitan dengan alam raya, yang disebut hukum-hukum alam,
seperti dinyatakan dalam QS. Fushshilat [41]: 11, misalnya api membakar atau
bulan berputar mengelilingi bumi; dan (2) Perintah dan larangan yang berkaitan
dengan pelaksanaan ajaran agama yang ditujukan kepada manusia, seperti perintah
melakukan shalat yang dinyatakan dalam QS. Al-Isrâ’ [17]: 78. Kumpulan dari
perintah dan larangan ini dinamakan hukum-hukum syariat. Sanksi pelanggaran
terhadap hukum-hukum alam akan diperoleh di dunia, sedangkan sanksi pelanggaran
terhadap hukum-hukum syariat akan diperoleh di akhirat. Dengan demikian,
ketakwaan mempunyai dua sisi, yaitu sisi duniawi dan sisi ukhrawi. Sisi duniawi
yaitu memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan hukum-hukum alam, sedangkan sisi
ukhrawi yakni memperhatikan dan melaksanakan hukum-hukum syariat.
Takwa sebagai upaya melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya
hanya dapat terwujud oleh dorongan harapan memperoleh kenikmatan surgawi serta
rasa takut terjerumus ke dalam neraka. Karenanya, sebagian ulama menggambarkan
takwa sebagai gabungan di antara harapan dan rasa takut.
Ketakwaan yang dinyatakan dalam bentuk amal perbuatan jasmaniah yang dapat
disaksikan secara lahiriah merupakan perwujudan keimanan seseorang kepada Allah
Swt. Iman yang terdapat di dalam dada
diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan jasmaniah. Oleh sebab itu, kata taqwâ
dalam al-Quran sering dihubungkan dengan kata îmân (الإِيْمَان), seperti
dalam QS. Al-Baqarah [2]:
103, Al-A‘râf [7]: 96, آli ‘Imrân [3]: 179, Al-Anfâl
[8]: 29, dan Muhammad [47]: 36.
Al-Quran menyebut orang yang bertakwa dengan muttaqî (الْمُتَّقِى),
jamaknya muttaqîn (الْمُتَّقِيْنَ),
yang berarti “orang yang bertakwa”. Kata tersebut disebut al-Quran sebanyak 50
kali. Kata ini digunakan al-Quran untuk (1) Menggambarkan bahwa orang-orang
yang bertakwa dicintai oleh Allah Swt. dan di akhirat nanti akan diberi pahala
dan tempat yang paling baik (surga), seperti yang diungkapkan dalam QS. آli ‘Imrân [3]: 76, Adz-Dzâriyât [51]: 15, dan Ad-Dukhân [44]: 51; (2)
Menggambarkan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang mendapat
kemenangan, seperti diungkapkan dalam QS. An-Naba’ [78]: 31; (3) Menggambarkan
bahwa Allah merupakan pelindung (wali) bagi orang-orang yang bertakwa, seperti
diungkapkan dalam QS. Al-Jâtsiyah [45]: 19; dan (4) Menggambarkan bahwa
beberapa kisah yang terjadi merupakan peringatan dan teladan bagi orang-orang
yang bertakwa, seperti yang diungkapkan dalam QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 48 dan
Al-Hâqqah [69]: 48.
Al-Quran tidak menjelaskan secara rinci siapa yang dimaksudkan dengan
istilah itu. Al-Quran hanya menyebutkan beberapa cirinya, antara lain dalam QS.
Al-Baqarah [2]: 2-5. Selanjutnya, dijelaskan dalam QS. آli ‘Imrân [3]: 132-135.
Ciri-ciri orang bertakwa menunjukkan suatu kepribadian yang benar-benar
utuh dan integral, sebagaimana dinyatakan di dalam QS. Al-Hujurât [49]: 13.
Penggunaan kata atqâkum (أَتْقَاكُمْ) dalam ayat ini
menunjukkan bahwa taqwâ mempunyai tingkatan-tingkatan. Perbedaan
tingkatan tersebut sangat ditentukan oleh kualitas keimanan dan ketaatan
seseorang dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya.
Orang-orang bertakwa diberi berbagai kelebihan oleh Allah Swt, tidak hanya
ketika mereka di akhirat nanti tetapi juga ketika mereka berada di dunia ini.
Beberapa kelebihan mereka disebutkan di dalam al-Quran, antara lain: (1)
Dibukakan jalan keluar pada setiap kesulitan yang dihadapinya (QS. Ath-Thalâq
[65]: 2); (2) Dimudahkan segala urusannya (QS. Ath-Thalâq [65]: 4); (3)
Dilimpahkan kepadanya berkah dari langit dan bumi (QS. Al-A‘râf [7]: 96); (4)
Dianugerahi furqân (فُرْقَان),
yakni petunjuk untuk dapat membedakan yang hak dan bathil (QS. Al-Anfâl [8]:
29; dan (5) Diampuni segala kesalahan dan dihapus segala dosanya (QS. Al-Hadîd [57]:
28 dan Al-Anfâl [8]: 29).
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..