Selamat datang di Blog Pribadi Untuk Sosial Dan Semua

SHIYAM (Puasa)

10 November 20120 komentar



Oleh : Masduki Ibnu Zeayah
Al-Quran menggunakan kata shiyam sebanyak delapan kali, kesemuanya dalam arti puasa menurut pengertian hukum syari’at. Hanya sekali Al-Quran menggunakan kata shaum, tetapi maknanya adalah “menahan diri untuk tidak berbicara”, “Sesungguhnya aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun” (QS. Maryam [19]: 26). Demikian ucapan Maryam As. yang diajarkan oleh Malaikat Jibril ketika ada yang mempertanyakan tentang kelahiran anaknya (Isa As.).

Kata yang berarti sama juga terdapat masing-masing sekali dalam bentuk perintah berpuasa di bulan Ramadhan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa “berpuasa adalah baik untuk kamu” dan sekali menunjuk kepada pelaku-pelaku puasa pria dan wanita, yaitu “Ash-shaimin wash-shaimat”.

Kata-kata yang beraneka bentuk itu semuanya terambil dari akar kata yang sama, yakni sha-wa-ma, yang dari segi bahasa maknanya berkisar pada “menahan” dan “berhenti” atau “tidak bergerak”. Kuda yang berhenti berjalan dinamai faras shaim. Manusia yang berupaya  menahan diri dari satu aktivitas dinamai shaim (berpuasa). Pengertian kebahasaan ini dipersempit maknanya oleh hukum syari’at, sehingga shiyam hanya digunakan untuk “manahan diri dari makan, minum, dan upaya mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari”.

Kaum sufi, merujuk ke hakikat dan tujuan puasa, menambahkan kegiatan yang harus dibatasi selama melakukan puasa. Ini mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh, bahkan hati dan pikiran dari segala macam dosa.

Betapapun, shiyam atau shaum bagi manusia pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu pula puasa dipersamakan dengan sikap sabar, baik dari segi pengertian bahasa (menahan diri) maupun esensi kesabaran dan puasa. Hadis qudsi yang menyatakan bahwa “Puasa untuk-Ku dan Aku yang memberinya ganjaran” dipersamakan oleh para ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar [39]: 10, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”. Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa.

(Disunting oleh Edi Junaedi dari buku “Wawasan Al-Quran” karya M. Quraish Shihab terbitan Mizan, Maret 2003).


AQSHA (Yang paling jauh, [masjid] Aqsha)
Kata aqsha (أَقْصَى) disebut tiga kali di dalam Al-Quran, yakni di dalam S. Al-Isrâ’ (17): 1, S. Al-Qashash (28): 20, dan S. Yasin (36): 20.

Dari segi bahasa (etimologi), kata tersebut merupakan turunan dari kata qasha (قَصَى) yang berarti ‘jauh’. Bentuk superlatif (ism tafdhil)-nya dengan bentuk mudzakkar ialah aqsha (أَقْصَى) dan muannats-nya ialah qushwa (قُصْوَى) yang artinya ‘yang terjauh’. Arti kebahasaan ini memberi kesan adanya dua sisi/arah yang terintegrasi di dalam penggunaan kata ini, arah yang satu mempunyai jarak yang paling jauh dari arah yang lain. Istilah ‘terjauh’ bersifat relatif, tergantung kepada sisi tempat kita melihat atau membandingkan jarak tersebut.

Ayat yang menggunakan kata aqsha (أَقْصَى) menunjukkan bahwa kata itu digunakan untuk menggambarkan “jarak yang terjauh secara fisik di antara satu tempat dengan tempat yang lain”.

Di antara surat dan ayat yang menyebut kata aqsha (أَقْصَى) itu ialah S. Al-Isrâ’ [17]: 1. Kata aqsha (أَقْصَى) di dalam ayat ini digunakan sebagai sifat bagi arah masjid yang ada di Palestina. Maksudnya ialah masjid Haikal yang dibangun oleh Nabi Sulaiman pada abad X sebelum Masehi, tetapi kemudian dihancurkan oleh tentara Romawi ketika mereka memadamkan pemberontakan orang-orang Yahudi dan puing-puingnya dijadikan tempat pembuangan sampah. Sejak tahun 123 H, ketika pecah lagi pemberontakan kaum Yahudi yang juga dapat dipadamkan tentara Romawi, puing-puing masjid Haikal lenyap tertimbun sampah/tanah). Tempat ini disebut sebagai masjid Aqsha (أَقْصَى) karena merupakan tempat sujud Nabi yang paling jauh dari Mekah selama perjalanan israknya di bumi.

S. Yâsîn [36]: 20 memberi keterangan tentang seseorang yang datang dengan tergesa-gesa dari negerinya yang jauh dan menyeru kaumnya agar mengikuti seruan Rasulullah. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa negeri yang dimaksud adalah Antiochie, termasuk wilayah Turki, tetapi setelah Perang Dunia I, negeri itu termasuk wilayah Syria.

Demikian Al-Quran menggunakan kata aqsha (أَقْصَى) untuk menggambarkan jarak terjauh di antara dua tempat secara fisik dan tidak untuk menggambarkan jarak dua arah yang bersifat nonfisik, seperti jarak waktu, hubungan, dan kepangkatan. Di sinilah perbedaan kata itu dengan kata lain yang berasal dari kata ba‘uda (بَعُدَ) yang secara etimologis juga berarti “jauh”. Kata ba‘îd (بَعِيْد), bentuk sifat musyabbahah dari kata ba‘uda (بَعُدَ), digunakan untuk arti fisik seperti di dalam S. Hûd [11]: 89, ...Wa mâ qaumu Lûthin minkum bi ba‘îd (... وَمَا قَوْمُ لُوْطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيْدٍ = ... sedangkan kaum Luth itu tidak jauh tempatnya dari kamu), dapat juga digunakan untuk arti nonfisik (tidak dapat diukur dengan alat-alat ukur), seperti di dalam S. An-Nisâ’ [4]: 4, ... Yurîdu asy-syaithânu an yudhillahum dhalâlan ba‘îdan (... يُرِيْدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيْدًا = ... setan itu bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesa­tan yang sejauh-jauhnya).


Syukron Atas Kunjungan Anda..
Mohon Luangkan waktu ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..








Share this article :

Posting Komentar

Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..

 
Support : Qye Ducky | Creating Website | Qye Course | Masduki | PAYTREN YUSUF MANSUR
Copyright © 2016/1437.H qyeowner.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modify by Masduki Ibnu Zeeyah
Proudly powered by Blogger