* Buletin PRISMA *
Penulis: Risalah Dakwah Al Atsari,
Cileungsi Edisi 13/1420 H Th. 2
Dewasa ini banyak tersebar media
informasi yang tidak bertanggung jawab,
seperti brosur, majalah, koran,
radio dan televisi. Mereka sangat gencar
menyuguhkan gambar-gambar wanita
yang suka pamer perhiasan,
bergaul bebas dan buka-bukaan.
Haruskah muslimah ikut menjadi
korban ?
Memang demikianlah fenomena yang
kita saksikan. Kebanyakan remaja, khususnya muslimah termakan oleh berbagai
bujuk rayu yang disajikan oleh media-media tersebut. Kalau kita tengok
aktivitas para remaja, diantara mereka ada yang betah duduk berjam-jam demi
menghabiskan sebuah novel percintaan. Atau diantara mereka ada yang sibuk
mengejar gosip-gosip terbaru tentang artis idolanya. Ada juga yang suka menanti
koran harian atau majalah untuk melihat ramalan bintang yang katanya bisa
meramal nasib seseorang, baik atau buruk. Subhanallah. Bahkan ada yang kecanduan
koran atau buku-buku yang berbahaya seperti filsafat dan ilmu kalam.
Diantaranya juga ada orang yang betah nongkrong di depan layar televisi, asyik
menikmati racun-racun yang ditebarkan oleh tayangan tersebut.
BAHAYA YANG MENGANCAM
Bila keadaan remaja muslim atau
muslimah seperti ini, maka dapat kita bayangkan dan kita lihat sendiri bahaya
yang terjadi. Kenyataan yang dapat kita saksikan adalah kecenderungan mereka
untuk mengangkat tokoh idola seperti artis penyanyi atau bintang film.
Akibatnya gaya hidup sang idolapun tercermin dalam gaya hidupnya, seperti
pergaulan bebas, pakaian terbuka, hura-hura, dan pamer perhiasan. Dan akibat
dari pergaulan bebas adalah perzinaan, selanjutnya akan diikuti oleh
kerusakan¬-kerusakan yang lain. Trend mencari popularitaspun ikut merasuki
pemikiran sang remaja, akhirnya mereka berlomba-lomba untuk menjadi pemenang
cover girl atau cover boy (gambar sampul depan majalah) Menurutnya suatu
kebanggaan bila wajahnya jadi bahan tontonan dan pujian. Subhanallah !
Disamping bahaya tersebut, berapa
barryak mereka harus menghabiskan waktu dengan sia-sia, sementara itu banyak
pula kewajiban-kewajiban yang terbengkalai. Sempatkah mereka memikirkan
ibadahnya, padahal mereka mengaku beragama Islam ?!
Sholeh bin Muqbil Al-Ushaimi mengatakan
bahwa kecintaan kepada koran dan majalah dapat menghalangi seseorang untuk
melakukan kebaikan. Bila ia berpikir menghafal Al-Qur'an atau membaca kitab, ia
tidak memiliki waktu. Kecintaannya membaca koran atau majalah menyita semua
waktunya untuk membaca yang lebih bermanfaat. Bahkan hingga ada yang kuat
membaca tiga ratus halaman majalah dan koran setiap harinya, tapi tidak mampu
membaca satu ayat saja dari Al-Qur'an, apalagi membaca kitab atau risalah
kecil.
Demikian sebagian fenomena yang kita
lihat, AI¬Qur'an seolah-olah jadi barang antik yang dimusiumkan, disimpan
ditempat yang paling indah tapi hanya jadi pajangan. Akhirnya kebodohan yang
muncul kepermukaan. Subhanallah !
KEWAJIBAN YANG TERLALAIKAN
Para remaja muslim dan muslimah
memang harus menyadari akan bahaya yang mengancam tersebut. Bila tidak, ia akan
terus terseret dalam kebodohan, kegelapan, dan dapat membawa pada kebinasaan di
dunia dan akhirat. Kewajiban yang sering dilalaikan oleh remaja muslim dan
muslimah adalah menuntut ilmu syar'i. Kebanyakan mereka phobi bila mendengar
kata "agama" penuh aturan ini dan itu. Hal ini karena mereka lebih
senang hidup”semau gue" tanpa ikatan apapun. Jelas ini adalah pikiran yang
harus diluruskan, karena dengan tuntunan syariat Islam, seseorang dapat selamat
dunia dan akhiratnya.
Ketahuilah wahai para remaja bahwa
Islam telah menetapkan tuntunan hidup manusia dalam Qur'an dan Sunnah
Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam.
Bila kita berpegang pada Al-Qur’an
dan Sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam, sebagaimana yang dipakai
oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam dan para shahabatnya maka kita
tidak akan tersesat. Ini sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi
Wassallam:
"Aku tinggalkan untuk kalian,
yang jika kalian berpegang teguh dengannya, kalian tidak akan sesat yaitu
Kitabullah dan Sunnahku ". (HR. Malik dan Hakim)
Setiap diri kita tentu mendambakan
kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Untuk itu kita harus menyadari bahwa
segala kesenangan dunia yang melalaikan hanyalah fatamorgana, itulah kesenangan
yang memperdayakan. Allah Ta'ala berfirman :
"Kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan". (QS. Ali Imron:185)
Sudah saatnya kita semua
mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan akhirat. Diantaranya adalah
dengan mempelajari ilmu dien ini. Karena dengan ilmulah seseorang dapat
mengetahui mana a¬l-haq dan mana al-batil. Dan hanya orang-orang yang
berilmulah yang mengetahui bahwa apa yang datang dari Allah itulah al-haq,
sebagaiman firman-Nya :
"Dan orang-orang yang diberi
ilmu berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itulah yang
benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha
Terpuji ". (QS. Saba: 6).
Islam juga telah mewajibkan setiap
muslim atau muslimah yang mukallaf (aqil dan baligh) untuk menuntut ilmu dien,
sebagaimana hadits dari Anas bin Malik, Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam
bersabda:
Menuntut ilmu wajib bagi setiap
muslim ".(HR. An-Nasa'i, hadits Hasan)
Dengan ilmu seseorang akan berjalan
diatas jalan yang terang. la akan mengetahui bagaimana ia harus beribadah
kepada Allah, bagaimana syariat Islam, apa yang halal dan yang haram. Dengan
ilmu pula dapat tersinari hati seseorang dengan cahaya keimanan, karena ilmu
adalah obat kebodohan, cahaya yang menyingkap kegelapan hati dan menghasilkan
rasa takut pada Allah. Sebagaimana firman Allah :
"Sesungguhnya yang takut kepada
Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah orang¬-orang yang berilmu ". (QS.
Faathir : 28)
Setelah kita mengetahui betapa pentingmya
ilmu syar'i, maka haruskah kita terus menerus tenggelam dalam bacaan-bacaan
atau tontonan sia-sia yang hanya menghabiskan waktu saja ?!. Kini, kita
tinggalkan perbuatan sia-sia dan kita mulai raih manfaat dengan mengkaji
Al-Qur'an, hadits-hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam, kitab-¬kitab
para ulama, hadir di majelis- majelis ilmu, atau mendengarkan kaset-kaset
ceramah yang membimbing kita pada jalan yang lurus sebagaimana yang ditempuh
oleh salafus sholeh. Jelas ini baik untuk kita dan tidak akan membuang-buang
waktu !
MUSLIMAH, PERHATIKANLAH !
Bila muslimah terus-menerus
ikut-ikutan menjadi korban berbagai media informasi tersebut, maka segala
kerusakan yang kini terjadi akan terus terjadi atau bahkan akan bertambah
besar.
Sebagian besar produk yang
diperdagangkan dalam berbagai media tersebut menggunakan jasa wanita sebagai
pelaris. Gambar-gambar wanita yang terbuka auratnya dan memamerkan kecantikan
memenuhi lembaran-lembaran majalah atau koran. Subhanallah, sampai kapan akan
kau jual dirimu wahai wanita.
Kini kita buka hati untuk
memperhatikan apa yang disabdakan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam. Dari
Usamah bin Zaid , beliau bersabda :
"Tiada kutinggalkan sesudahku
suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi lelaki dari fitnah perempuan "
(Muttafaq'alaih).
Ingatlah hal ini bahwa fitnah yang
paling besar bagi laki-laki adalah wanita. Wahai para wanita yang menjual
dirinya, yang tenggelam dalam dunianya. Coba tanya pada dirimu, sudahkah engkau
dapatkan ketenangan dengan apa yang engkau lakukan ? Hanya dengan tumpukan
rupiah dan popularitas, sudahkah dirimu bahagia ? Bila mau jujur, tentu hati
kecilmu menyatakan tidak, sebab dunia telah kau letakkan dihatimu, sehingga
engkau tidak pernah puas dengan apa yang sudah kau peroleh. Kalaupun engkau
dapatkan kesenangan, itu hanyalah kesenangan dunia yang semu, yang akan hilang
seiring menghilangnya ruh dari badan. Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata,
Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda:
"Yang mengikuti mayit itu tiga
: keluarga, harta kekayaan, dan amal perbuatannya. Maka kembali yang dua yaitu
keluarga dan kekayaan hartanya dan tinggal satu yang tetap yaitu amal
perbuatannya". (Muttafaq'alaih)
Kini, waspadalah terhadap serangan
media informasi tersebut, karena mereka akan merusak dirimu, menyibukkan dirimu
dengan amalan sia¬-sia, bahkan menjerumuskanmu pada perbuatan yang Allah
haramkan.
Hendaklah kita takut pada Allah
karena wanita mempunyai peluang lebih besar untuk menjadi penghuni neraka. Ibnu
Abbas dan Imron bin Hushain Radhiyallahu ‘anhum berkata Rasulullah
Shalallahu’alaihi Wassallam telah bersabda:
"Aku melihat ke surga, maka aku
melihat kebanyakan penghuninya orang-orang fakir, dan aku melihat ke neraka,
maka aku melihat kebanyakan penghuninya wanita ". (Muttafaq'alaih)
Demikianlah wahai muslimah, sebelum
ruh sampai ditenggorokan, pintu taubat masih terbuka untuk kita dan belum ada
kata terlambat untuk mulai memperbaiki diri Oleh karena itu kita harus segera
mempersiapkan hidup kita untuk akhirat dan tidak terus menerus tenggelam dalam
kehidupan yang fana ini. Allahu a'lam.
Ukhtukunna fillah : Ummu.Abdillah
binti Mursyid
Bundel by PRISMA --- Juni ‘12
Sedang wanita Barat sendiri sudah
muak dan bosan dengan kebebasan palsu ini, dan penganiayaan kaum pria terhadap
mereka dengan semboyan-semboyan kemajuan. Wanita dijadikan barang dagangan
dengan harga murah. Mereka memperdagangkan wanita melalui promosi dan
siaran-siaran, untuk mendapatkan keuntungan dunia yang fana ini.
Dan sekarang para wanitanya insaf,
sadar dan meneriakkan kata-kata untuk kembali ke rumah tangga; hidup sebagai
ibu dan sekaligus sebagai isteri yang tenang, jauh dari kelelahan bekerja dan
campur baur dengan pria.
Demikianlah apa yang terjadi pada
wanita di negara-negara Barat, yang hanya dijadikan "komoditi" untuk
mencari harta dan ketenaran, dan isteri sebagai barang dagangan yang tidak ada
harga dan kehormatannya.
Maka janganlah anda menjadi begitu.
Menghindarlah sejauh-jauhnya dari faham-faham seperti ini, sebelum anda terkena
perangkap, lalu sukar untuk keluar lagi.
Referensi: Buku “Membina
Keharmonisan Berumah Tangga Menurut Al Qur’an dan Sunnah dan Bahaya Emansipasi
Wanita” Hal. 15-22 Penerbit Cahaya Tauhid Press, Malang)
Bundel by PRISMA --- Juni ‘12
normal�&pn�����ont-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman","serif";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman"'>“Telah terjadi sesuatu antara aku
dengan dia, dia pun marah padaku lalu keluar dari rumah. Dia tidak tidur siang
di sisiku,” jawab Fathimah.
Rasulullah n berkata kepada
seseorang: “Lihatlah (cari) di mana Ali.”
Orang yang disuruh itupun datang dan
memberi kabar: “Wahai Rasulullah! Dia ada di masjid sedang tidur.”
Rasulullah n mendatangi Ali yang
ketika itu sedang berbaring. Beliau dapatkan rida`-nya telah jatuh dari
punggungnya sehingga pasir mengenai punggungnya. Mulailah beliau mengusap pasir
tersebut dari punggung Ali seraya berkata: “Duduklah, wahai Abu Turab. Duduklah
wahai Abu Turab!” (HR. Al-Bukhari no. 3703 dan Muslim no. 2409)
Demikian perselisihan yang pernah
terjadi dalam rumah tangga orang-orang yang mulia, sengaja kami paparkan dengan
tujuan agar mereka yang akan membangun mahligai rumah tangga atau telah
menjalaninya, menyadari bahwa tidak ada rumah tangga yang lepas dari problema
sehingga mereka bersiap-siap dan tidak kaget ketika problem itu datang
menghadang. Dan agar mereka tidak terlalu muluk-muluk dalam angan-angan mereka
tentang kehidupan berumah tangga7, selalu indah bak bunga-bunga di taman yang
bermekaran dengan beragam warna, menampakkan keindahan yang mempesona dan
menebarkan aroma yang harum semerbak!!! Rumah tangga tanpa masalah, tanpa
problema, tanpa ganjalan, tanpa pertikaian, selalu sejalan, seia sekata,
sepakat tanpa pernah ada perbedaan!!! Padahal bayangan ini sesuatu yang teramat
langka untuk didapatkan pada sebuah rumah tangga di dunia… Sesuatu yang bisa
dikatakan mustahil untuk sebuah akad yang dijalin dengan seorang anak Adam yang
senantiasa punya salah, sebagaimana kata Rasul yang mulia n:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ
الْخَطاَّئِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
“Setiap anak Adam itu banyak
bersalah. Dan sebaik-baik orang yang banyak bersalah adalah orang-orang yang
mau bertaubat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2616. Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-
Shahihul Jami’ no. 4514 mengatakan: “(Hadits ini) hasan.”)
Masalah mesti akan dijumpai antara
suami istri. Dan ketika masalah itu bergulir di antara keduanya semestinya
keduanya berusaha mencari jalan penyelesaian, memperbaiki keadaan, dan menutup
pintu rapat-rapat (dari campur tangan orang yang tidak berkepentingan). Bila
seorang suami marah atau seorang istri sedang emosi, hendaklah keduanya
berlindung kepada Allah k dari gangguan setan yang terkutuk, lalu bangkit
berwudhu dan shalat dua rakaat. Bila salah satu dari keduanya (yang sedang
marah, terbawa emosi) dalam keadaan berdiri maka hendaklah ia duduk, bila
sedang duduk maka hendaklah ia berbaring. Atau salah seorang dari keduanya
menghadap pasangannya, memeluknya dan meminta maaf bila memang ia bersalah
melanggar hak pasangannya, dan yang dimintai maaf hendaklah lapang dada dengan
memberi maaf karena mengharapkan wajah Allah k. (Fiqhut Ta’ammul Bainaz
Zaujain, hal. 37)
Tidak sepantasnya ketika ada masalah
dengan suami, seorang istri ngambek minta pulang ke rumah orang tuanya. Atau yang
lebih parah lagi si istri minggat dari rumahnya, tanpa izin suami tentunya.
Padahal di antara hak suami yang harus ditunaikan istri, si istri tidak boleh
keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izinnya8.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t
berkata: “Tidak halal bagi seorang istri keluar dari rumahnya kecuali dengan
izin suami dan tidak halal bagi seorang pun mengambil istri seseorang dan
menahannya dari suaminya, sama saja baik karena si istri tersebut seorang
perawat, atau seorang bidan atau profesi lainnya. Bila istri tersebut keluar
dari rumah suami tanpa izinnya, maka ia telah berbuat nusyuz9, bermaksiat
kepada Allah dan Rasul-Nya dan ia pantas mendapatkan hukuman.” (Majmu’
Al-Fatawa, 32/281)
Dengan demikian, bila ada
permasalahan rumah tangga, seharusnya suami dan istri berusaha menyelesaikannya
berdua bila memang masalahnya bisa diselesaikan berdua. Ibaratnya “tutup pintu
rapat-rapat” dari masuknya pihak ketiga dan jangan sampai orang lain tahu
masalah tersebut. Jangan tergesa-gesa melibatkan pihak luar, orang tua
misalnya, karena dapat memperkeruh suasana, bukan memperbaiki keadaan.
Melibatkan orang tua, apatah lagi orang tua yang masih awam, tidak memiliki
pandangan dalam agama, belum tentu menyelesaikan masalah, malah bisa menambah
panas dan keruhnya permasalahan. Terkecuali orang tua itu seorang yang arif,
paham agama dan pandangannya lurus, barulah memungkinkan masalah yang ada
diangkat padanya bila memang sepasang suami istri tidak bisa lagi
menyelesaikannya berdua.
Sebagai akhir, hendaklah sepasang
suami istri selalu bertakwa kepada Allah k dalam seluruh keadaan mereka, di
mana pun mereka berada10 dan hendaklah keduanya melazimi (selalu) ketaatan
kepada-Nya. Ketahuilah, dengan takwa segala masalah akan mendapatkan
pemecahannya, karena Allah k yang Mahabenar janji-Nya telah berfirman dalam
Tanzil-Nya:
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ
مَخْرَجاً
“Siapa yang bertakwa kepada Allah
niscaya Dia akan menjadikan jalan keluar baginya.” (Ath- Thalaq: 2)
Dan firman-Nya:
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ
مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Siapa yang bertakwa kepada Allah
niscaya Dia menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq: 4)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
1 ‘Umar heran dengan Ibnu ‘Abbas,
kenapa hal yang ditanyakannya itu belum diketahuinya, padahal ia begitu
terkenal dengan pengetahuannya dalam tafsir dan terdepan dalam ilmu dibanding
yang lainnya. Atau ‘Umar heran dengan semangat Ibnu ‘Abbas untuk mengetahui
cabang-cabang ilmu tafsir sampaipun pengetahuan tentang mubham (Fathul Bari, 9/338).
Pengertian mubham sendiri adalah orang yang tidak disebutkan namanya.
2 Kamar yang tinggi
3 Allah k berfirman:
وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى
بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيْثاً فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ ... اْلأَيَةَ
“Dan ingatlah ketika Nabi
membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istrinya suatu peristiwa.
Maka ketika istrinya itu mengabarkan rahasia tersebut (kepada istri yang
lain)….” (At- Tahrim: 3)
Mayoritas ahli tafsir berkata bahwa
istri Nabi n yang dimaksud dalam ayat adalah Hafshah. Nabi n pernah
menyampaikan satu rahasia kepadanya dan memintanya agar tidak memberitahukan
kepada seorang pun. Ternyata Hafshah menceritakan rahasia tersebut kepada
Aisyah x. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 873)
4 Allah k mencela Khalil-Nya yang
mulia Muhammad n ketika beliau mengharamkan dirinya untuk menyentuh budak
wanitanya bernama Mariyah atau ketika beliau mengharamkan dirinya minum madu,
karena memperhatikan perasaan sebagian istrinya, sebagaimana kisahnya ma’ruf
(dalam kitab-kitab tafsir dan selainnya, pen). Allah k menurunkan ayat -Nya:
ياَ أَيُّهاَ النَّبِيُّ لِمَ
تُحَرِّمُ ماَ أَحَلَّ اللهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ وَاللهُ
غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ. قَدْ فَرَضَ اللهُ لَكُُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ ...الأية
“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan
apa yang Allah halalkan bagiku karena engkau ingin mencari keridhaan
istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sungguh Allah
telah mewajibkan kalian untuk membebaskan diri dari sumpah kalian….” (At-
Tahrim: 1)
5 Yaitu ayat Allah k:
عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ
يُبْدِلَهُ أَزْوَاجاً خَيْرًا مِنْكُنَّ ... الأية
“Jika Nabi menceraikan kalian,
mudah-mudahan Rabbnya akan menggantikan untuknya istri-istri yang lebih baik
daripada kalian… (At-Tahrim: 5)
Yakni janganlah kalian mengangkat
diri kalian di hadapan beliau, karena jika beliau menceraikan kalian tidaklah
berat/ sempit perkaranya bagi beliau dan tidaklah beliau dipaksa untuk terus
bersama kalian. Bahkan beliau akan dapatkan pengganti kalian dan Allah k akan
memberikan kepada beliau istri-istri yang lebih baik daripada kalian, baik
dalam hal agama maupun dalam keelokan paras. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal.
873)
6 Sebagaimana diberitakan Rasulullah
n dalam peristiwa perang Khaibar:
لأُعْبِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً
يُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ – أَوْ قَالَ: يُحِبُّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ –
يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ ... الْحَدِيْثَ
“Aku sungguh akan memberikan bendera
ini besok kepada seseorang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya –atau beliau
mengatakan: dia mencintai Allah dan Rasul-Nya–. Allah akan membukakan
kemenangan melalui kedua tangannya…..” (HR. Al-Bukhari no. 3702 dan Muslim no.
2407). Dalam riwayat Muslim (no. 2404) disebutkan: …seseorang yang mencintai
Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya….”
Dan ternyata keesokan harinya
Ali-lah yang diserahi bendera tersebut.
7 Yang akhirnya berujung dengan
kekecewaan
8 Al-Imam Al-Bukhari t membuat satu
bab dalam kitab Shahih-nya dengan judul: Isti‘dzanul Mar‘atu Zaujaha fil Khuruj
ilal Masjid wa Ghairi (Permintaan izin istri kepada suaminya untuk keluar
menuju masjid atau yang selainnya). Kemudian beliau t membawakan hadits
Rasulullah n:
إِذَ اسْتَأْذَنَتِ الْمَرْأَةُ
أَحَدَكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ يَمْنَعْهاَ
“Apabila istri minta izin kepada
salah seorang dari kalian untuk keluar menuju masjid, maka janganlah ia
mencegahnya.” (Hadits no. 5238)
9 Lihat pembahasan nusyuz dalam
Syariah Vol. I/No. 04/Juli 2003/Jumadil Ula 1424 H, hal. 58-60
10 Rasulullah n berpesan:
اتَّقِ اللهَ حيْثُماَ كُنْتَ ...
الْحَدِيْثَ
“Bertakwalah engkau kepada Allah di
mana pun engkau berada.” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani t
dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/1618, dan Al-Misykat no. 5083)
(http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=281)
Bundel by PRISMA --- Juni ‘12
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..