Oleh
: Masduki Ibnu Zeayah
Kata nûr (نُوْرٌ),
terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf nûn, wauw,
dan ra’. Maknanya yang populer adalah cahaya. Tetapi di
samping itu, dari huruf-huruf ini juga dibentuk kata yang bermakna, gejolak,
kurang stabil, dan tidak konsisten. Api dinamai nâr,
bukan saja karena dia memberi cahaya, tetapi juga karena dia bergejolak
dengan cepat, sekali bekobar ke atas, sekali menurun, karena terpaan angin.
Kata nûr secara berdiri sendiri ditemukan dalam Al-Qur’an sebanyak
33 kali, di samping itu ditemukan pula kata ini digandengkan dengan kata ganti
persona pertama, kedua, dan ketiga; dia, kamu, kami, dan
mereka.
Merujuk kepada
penggunaan Al-Qur’an, ditemukan bahwa kata nûr, paling tidak memunyai
sepuluh makna, yaitu 1) Agama Islam, 2) Iman, 3) Pemberi petunjuk, 4) Nabi
Muhammad saw., 5) Cahaya siang, 6) Cahaya bulan, 7) Cahaya yang menyertai kaum
Mukmin ketika menyebarang shirâth (titian), 8) Penjelasan tentang halal
dan haram yang terdapat dalam Taurat, 9) Injil, dan 10) Al-Qur’an, serta 11)
Keadilan.
Banyak sekali
ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Allah pemberi cahaya, misalnya, (“Sesungguhnya
telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan” (QS.
Al-Mâ’idah [5]: 15). (Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan
nûran/bercahaya” (QS. Yûnus [10]: 5).
Ulama-ulama
merujuk kepada firman-Nya dalam QS. An-Nûr [24]: 35: “Allâhu nûr as-samâwât
wa al-ardh, untuk menyatakan bahwa nûr adalah sifat/nama
Allah. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang maksud ayat tersebut.
Ibnu al-Arabi
mengemukakan enam pendapat ulama tentang makna nûr yang menjadi sifat
Allah ini, yaitu: a. Pemberi hidayah (penghuni langit dan bumi), b. Pemberi
cahaya, c. Penghias, d. Yang zhâhir (tampak dengan jelas),
e. Pemilik cahaya, dan f. Cahaya tetapi bukan seperti cahaya yang
dikenal. Walau para ulama berbeda pendapat tentang maknanya, namun mereka
sepakat bahwa Allah bukan cahaya sebagaimana yang kita kenal. Bukankah Dia “laisa
ka mitslihi syai’un ( tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan-Nya?
Kata nûr
jika dikemukakan dalam konteks uraian tentang manusia—baik dalam kehidupannya
di dunia maupun di akhirat—mengandung makna hidayah dan petunjuk Allah atau
dampak dan hasilnya. Perhatikan antara lain QS. Al-Baqarah [2]: 257,
Az-Zumar [39]: 22, Asy-Syûrâ [42]: 52, dan Al-Hadîd [57]: 13).
Adapun jika
kata yang terangkai dari ketiga huruf di atas menyifati benda-benda langit,
maka ia mengandung makna cahaya, tetapi cahaya yang merupakan pantulan dari
benda langit lainnya yang bercahaya. Ketika berbicara tentang matahari dan
bulan, Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah menjadikan bulan nûr dan
matahari dhiyâ’/ (QS. Yûnus [10]: 5). Di kali lain bulan dilukiskan
sebagai munîr/ (QS. Al-Furqân [25]: 61). Dari Al-Qur’an ditemukan bahwa
kata yang terangkai dari huruf-huruf yang sama dengan huruf-huruf kata dhiyâ’,
digunakan oleh Al-Qur’an untuk cahaya yang bersumber dari dirinya sendiri,
karena itu matahari dijadikan Allah dhiyâ’ bukan nûr karena
cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, bukan pantulan sebagaimana
halnya bulan.
Matahari, api,
atau kilat, (yang cahaya) semuanya dilukiskan Al-Qur’an dengan menggunakan
kata yang berakar sama dengan dhiyâ’. Jangan duga bahwa cahaya tersebut
benar-benar bersumber dari dirinya sendiri. Ini hanya relatif ketika
dibandingkan dengan yang lain. Ini juga hanya ketika didasarkan pada kenyataan
yang kita lihat dengan mata kepala, atau kita ketahui, tetapi sebenarnya semua
cahaya tersebut bersumber dari Allah dan semua pada hakikatnya adalah nûr,
dalam arti pantulan dari sumber cahaya yang tidak redup, yaitu Allah swt.
Karena itu dinyatakan-Nya:
“Segala puji
bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan nûr/cahaya dan
gelap (untuk seluruh yang ada di alam raya)” (QS. Al-An‘âm [6]: 1).
Atas dasar
itulah kita hendaknya memahami kata nûr bagi Allah, dalam arti Pemilik
dan Pemberi cahaya, bagi seluruh yang bercahaya di alam raya.
Imam Ghazali
menjelaskan bahwa nûr adalah “Yang zhâhir/jelas pada dirinya dan
yang bersumber kepadanya segala yang jelas.”
Kalau kita
perhadapkan wujud ini dengan ketiadaan, maka tidak dapat tidak,
pastilah yang tampak adalah yang wujud, dan tiada kegelapan melebihi gelapnya
ketiadaan, karena itu tulis Al-Ghazali lebih lanjut: “Yang tidak disentuh oleh
kegelapan ‘adam (i [ketiadaan]), bahkan
tidak disentuh oleh kemungkinan ketiadaan, (Yang wajib wujud-Nya) serta yang
mengeluarkan segala sesuatu dari kegelapan ketiadaan menuju kejelasan wujud
(Sang Pencipta), pastilah Dia yang wajar menyadang nama Nûr.”
Al-Qur’an,
selalu menggunakan kata nûr dalam bentuk tungggal, berbeda dengan kegelapan
(zhulumât) yang selalu berbentuk jamak. Ini untuk mengisyarakan bahwa
sumber cahaya hanya satu, yaitu Allah swt. Oleh karena itu, ditegaskan-Nya bahwa
(”Barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia
memunyai cahaya sedikit pun” (QS. An-Nûr
[24]: 40).
Adapun kegelapan sungguh banyak, sumbernya
pun beraneka ragam. Di sisi lain, ketika Al-Qur’an menyebut nûr dan zhulumût
secara bergandengan, yang disebutnya terlebih dahulu adalah zhulumât.
Ini bukan saja karena kegelapan (ketiadaan) mendahului cahaya (wujud) tetapi
karena cahaya petunjuk-Nya adalah nûr ‘alâ nûr (yakni cahaya di atas
cahaya maka betapapun terangnya cahaya yang telah Anda raih, masih ada
cahaya terang yang melebihinya, dan ketika Anda berada pada cahaya yang
melebihi itu, maka cahaya yang telah Anda raih sebelumnya, adalah relatif
gelap. Itu sebabnya mereka yang telah memperoleh cahaya petunjuk-Nya pun, masih
dapat memperoleh tambahan petunjuk, (”Allah akan menambah petunjuk kepada
mereka yang telah mendapat petunjuk” (QS. Maryam [19]: 76). Demikian, wa
Allâh A’lam. [M. Quraish Shihab]i
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..