Senin, 27 Maret 2011
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Sebagaimana dialami Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, dakwah yang mengajak kepada tauhid niscaya akan
menghadapi musuh-musuh yang tiada henti-hentinya untuk memadamkan cahaya tauhid
di muka bumi ini. Daulah Utsmani, yang merupakan representasi kelompok Sufi,
yang juga diagungkan banyak kelompok pergerakan Islam, adalah salah satunya.
Bagaimana kisah selengkapnya, simak kajian berikut!
Telah menjadi sunnatullah, Allah telah
menetapkan adanya musuh-musuh yang senantiasa menghalangi dakwah menuju tauhid
dan upaya-upaya untuk menegakkan syariat Islam. Mereka bisa datang dari kaum
kafir ataupun dari kalangan kaum munafiqin yang memakai baju Islam yang merasa
terusik kepentingannya dan khawatir terbongkar kedok dan syubhat-syubhatnya.
Hal ini sebagaimana Allah tegaskan di dalam firman-Nya:
وَكَذَلِكَ
جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِي
بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا
“Dan demikianlah, kami jadikan bagi
tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin.
Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lainnya perkataan yang
indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)
وَكَذَلِكَ
جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِيْنَ، وَكَفَى بِرَبِّكَ
هَادِيًا وَنَصِيْرًا
“Dan demikianlah, kami jadikan bagi
tiap-tiap nabi itu musuh dari kalangan orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah
Rabb mu menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong.” (Al-Furqan: 31)
Begitu pula dakwah yang dilakukan
para ulama pewaris nabi, yang selalu berdakwah untuk memurnikan tauhid serta
menegakkan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Di antara mereka
adalah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu yang telah berupaya
memurnikan tauhid umat serta mengajak mereka untuk menegakkan syariat Islam.
Namun musuh-musuh dakwah beliau tidak rela terhadap apa yang beliau lakukan.
Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz
rahimahullahu menyimpulkan musuh yang menghalangi dakwah Asy-Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab rahimahullahu dalam tiga jenis:
1. Para ulama suu` yang memandang
Al-Haq sebagai suatu kebatilan dan memandang kebatilan sebagai Al-Haq, dan
berkeyakinan bahwa pembangunan (kubah-kubah) di atas kubur serta mendirikan
masjid di atas kubur-kubur tersebut, kemudian berdoa, ber-istighatsah kepadanya
serta amalan yang serupa dengan itu, adalah bagian dari agama dan petunjuk
(yang benar, pent). Dan mereka berkeyakinan bahwa barangsiapa mengingkari hal
itu berarti dia telah membenci orang-orang shalih, serta membenci para wali.
Jenis yang pertama ini adalah musuh
yang harus diperangi.
2. Jenis yang kedua adalah
orang-orang yang dikenal sebagai ulama, namun mereka tidak mengerti tentang
hakekat Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu yang sebenarnya.
Mereka tidak mengetahui pula tentang kebenaran dakwah beliau bahkan cenderung
bertaqlid kepada yang lain, serta membenarkan setiap isu negatif yang
dihembuskan ahli khurafat dan para penyesat.
Sehingga mereka menyangka berada di
atas kebenaran atas isu-isu negatif yang dituduhkan kepada Asy-Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab rahimahullahu, bahwasanya beliau membenci para wali dan para
nabi, serta memusuhi mereka dan mengingkari kekeramatannya. Sehingga mereka
memusuhi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan mencela dakwahnya serta
membuat orang antipati terhadap beliau.
3. Orang-orang yang takut kehilangan
kedudukan dan jabatannya. Mereka memusuhi beliau agar kekuatan para pengikut
dakwah Islamiyyah tersebut tidak sampai menyentuh mereka, yang akan menurunkan
mereka dari posisinya serta menguasai negeri-negeri mereka.-sekian dari Asy-
Syaikh Ibnu Baz.1
Faktanya, musuh-musuh dakwah
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu banyak diperankan oleh:
1. Kaum kafir Eropa
Inggris, Prancis, dan lainnya, yang
tengah berkuasa dan menjajah negeri-negeri Islam pada waktu itu. Mereka
menganggap bahwa dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu yang
bertujuan memurnikan tauhid dan menegakkan syariat, merupakan suatu kekuatan
besar yang dapat mengancam eksistensi mereka di negeri-negeri jajahannya.
Karena dakwah beliau ini telah
berhasil menyatukan umat dalam naungan aqidah tauhid di sejumlah negeri. Selain
di daerah Najd, ternyata dakwah beliau telah berhasil menyentuh muslimin di
negeri lainnya seperti di Afrika Utara yang mayoritasnya adalah negeri-negeri
jajahan Inggris dan Prancis, India sebagai jajahan Inggris, dan tak luput pula
Indonesia sebagai jajahan Belanda.
Hal ini membuat para penjajah kafir
itu geram dan mengkhawatirkan bangkitnya muslimin di negeri jajahannya.
Sehingga mereka pun berupaya untuk menjauhkan kaum muslimin dan membuat mereka
antipati terhadap dakwah tauhid yang dilancarkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab2.
Hal ini mereka lakukan dengan cara:
a. Menebarkan isu-isu negatif dan
dusta tentang dakwah tauhid di tengah-tengah muslimin melalui para misionaris
mereka, baik secara lisan maupun tulisan.
b. Memprovokasi dan mempengaruhi
pemerintahan Dinasti ‘Utsmani untuk membenci dan memerangi dakwah tauhid, dan
dikesankan kepada mereka bahwa dakwah mulia tersebut sebagai ancaman besar bagi
eksistensi Daulah ‘Utsmaniyyah3.
c. Pemberian bantuan pasukan dari
pemerintahan penjajah Inggris maupun Prancis kepada Dinasti ‘Utsmani dalam
upayanya menyerang dakwah tauhid.4
Di antara bukti yang menunjukkan
provokasi mereka terhadap Dinasti ‘Utsmani untuk memusuhi dan menyerang dakwah
tauhid adalah adanya penyerangan tentara Dinasti ‘Utsmani terhadap kota
Ad-Dir’iyyah sebagai pusat dakwah tauhid di bawah pimpinan Ibrahim Basya pada
tahun 1816 M atas perintah ayahnya Muhammad Ali Basya, Gubernur Mesir ketika
itu, yang bersekongkol dengan penjajah Prancis.
Karena keberhasilannya atas
penyerangan ke negeri Ad-Dir’iyyah itu, Pemerintah Inggris mengirimkan utusannya,
yaitu Kapten George Forster Sadleer, untuk menyampaikan ucapan selamat secara
khusus dari Pemerintahan Inggris atas keberhasilan Dinasti ‘Utsmani
menghancurkan Ad-Dir’iyyah5.
2. Daulah ‘Utsmaniyyah
Yang tak kalah gencar pula adalah
permusuhan pemerintahan Dinasti ‘Utsmani yang telah terprovokasi kaum kafir
penjajah. Keadaan ini diperburuk oleh para mufti pemerintahan Dinasti ‘Utsmani
yang notabene beraqidah tashawwuf. Siang dan malam mereka memprovokasi
pemerintah untuk memerangi dakwah tauhid di Najd, baik di masa Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu masih hidup, ataupun permusuhan mereka
terhadap dakwah tauhid sepeninggal beliau.
Tercatat dalam sejarah, beberapa
kali ada upaya penyerangan yang dilakukan Dinasti ‘Utsmani terhadap Negeri Najd
dan kota-kota yang ada di dalamnya yang terkenal sebagai pusat dakwah tauhid.
Di antaranya apa yang terjadi di
masa Sultan Mahmud II, ketika memerintahkan Muhammad ‘Ali Basya untuk menyerang
kekuatan dakwah tauhid di Najd. Tentara Muhammad ‘Ali Basya dipimpin oleh
anaknya Ibrahim Basya dalam sebuah pasukan besar dengan bantuan militer dari
negara-negara kafir Eropa. Pada akhir tahun 1232 H, mereka menyerang kota
‘Unaizah dan Al- Khubra` serta berhasil menguasai Kota Buraidah. Sebelumnya,
pada bulan Muharram 1232 H, tepatnya tanggal 23 Oktober 1818 M, mereka berhasil
menduduki daerah Syaqra’ dalam sebuah pertempuran sengit dengan strategi tempur
penuh kelicikan yang diatur oleh seorang ahli perang Prancis bernama Vaissiere.
Bahkan dalam pasukan Dinasti ‘Utsmani
yang menyerang Najd pada waktu itu didapati 4 orang dokter ahli berkebangsaan
Itali. Nama-nama mereka adalah Socio, Todeschini, Gentill, Scots. Nama terakhir
ini adalah dokter pribadi Ibrahim Basya. Demikian juga didapati perwira-perwira
tinggi Eropa yang bergabung dalam pasukan Dinasti ‘Utsmani dalam penyerangan
tersebut.6
Hal ini menunjukkan bahwa Dinasti
‘Utsmani telah bersekongkol dengan negara-negara kafir Eropa di dalam memerangi
dakwah tauhid, yang tentunya hal ini mengundang amarah Allah Subhanahu wa
Ta'ala dan menjadi sebab terbesar hancurnya Daulah ‘Utsmaniyyah.
Belum lagi kondisi tentara dan
pasukan tempur Dinasti ‘Utsmani yang benar-benar telah jauh dari bimbingan
Islam. Hal ini sebagaimana disebutkan sejarawan berkebangsaan Mesir yang sangat
terkenal, yaitu Abdurrahman Al-Jabrati. Ketika menyampaikan kisah tentang
kondisi pasukan Dinasti ‘Utsmani dan membandingkannya dengan pasukan tauhid di
Najd, yang beliau nukil dari penjelasan salah seorang perwira tinggi militer
Mesir yang menceritakan tentang kondisi pertempuran yang terjadi pada tahun
1227 H yang dipimpin Ahmad Thusun, putra Muhammad ‘Ali Basya, beliau
menyatakan:
“…dan beberapa perwira tinggi mereka
(tentara Mesir, pent.) yang menyeru kepada kebaikan dan sikap wara’ telah
menyampaikan kepadaku bahwa mana mungkin kita akan memperoleh kemenangan,
sementara mayoritas tentara kita tidak berpegang dengan agama ini. Bahkan di
antara mereka ada yang sama sekali tidak beragama dengan agama apapun dan tidak
bermadzhab dengan sebuah madzhab pun. Dan berkrat-krat minuman keras telah
menemani kita. Di tengah-tengah kita tidak pernah terdengar suara adzan, tidak
pula ditegakkan shalat wajib. Bahkan syi’ar-syi’ar agama Islam tidak terbetik
di benak mereka.
Sementara mereka (tentara Najd,
pent), jika telah masuk waktu shalat, para muadzin mengumandangkan adzan dan
pasukan pun segera menata barisan shaf di belakang imam yang satu dengan penuh
kekhusyu’an dan kerendahan diri. Jika telah masuk waktu shalat, sementara
peperangan sedang berkecamuk, para muadzin pun segera mengumandangkan adzan.
Lalu seluruh pasukan melakukan shalat khauf, dengan cara sekelompok pasukan
maju terus bertempur sementara sekelompok yang lainnya bergerak mundur untuk
melakukan shalat.
Sedangkan tentara kita
terheran-heran melihat pemandangan tersebut. Karena memang mereka sama sekali
belum pernah mendengar hal yang seperti itu, apalagi melihatnya.” –sekian
Kalau kisah tersebut disampaikan
salah seorang perwira tinggi militer Mesir, maka Abdurrahman Al-Jabrati sendiri
juga menceritakan tentang pertempuran yang terjadi pada tahun 1233 H yang
dipimpin Ibrahim Basya dalam menghancurkan Ad-Dir’iyyah, yang tidak jauh
berbeda dari kisah yang disampaikan sang perwira tinggi tersebut di atas. Lihat
penjelasan tersebut dalam kitab Al- Jabrati, IV/140.8
Dinasti ‘Utsmani melengkapi
kekejaman dan permusuhannya terhadap dakwah tauhid dengan menawan Al-Amir
Abdullah bin Su’ud, sebagai salah satu penerus dan pembela dakwah tauhid yang
telah menginfakkan jiwa dan hartanya dalam menegakkan kalimat tauhid serta
syariat Islam. Beliau dikirim ke Mesir dan selanjutnya dikirim ke Istambul lalu
dihukum pancung di sana setelah sebelumnya diarak di jalan-jalan Istanbul,
dijadikan sebagai lelucon dan olok-olok selama tiga hari. Peristiwa ini terjadi
pada 18 Shafar 1234 H/ 17 Desember 1818 M.9
3. Permusuhan kaum sufiyyah
Musuh berikutnya yang dengan gencar
memusuhi dakwah tauhid yang dilakukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
adalah orang-orang dari aliran tashawwuf/Sufi yang merasa kehilangan pamor di
hadapan para pengikutnya. Dengan dakwah tauhid, banyak syubhat dan kerancuan
kaum Sufi yang terbongkar dan terbantah dengan hujjah-hujjah yang terang dan
jelas, yang disampaikan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu,
murid-murid, serta para pendukungnya.
Berbagai macam bid’ah dan
amalan-amalan yang menyelisihi sunnah Rasul serta amalan-amalan yang tercampur
dengan berbagai praktek kesyirikan yang selama ini mereka tebarkan di daerah
Najd ataupun Hijaz (Makkah dan Madinah), mulai tersingkir dan dijauhi umat.
Demikian juga praktek amalan ibadah haji yang selama ini telah mereka penuhi
dengan bid’ah dan amalan yang menyelisihi Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam, serta berbagai upaya untuk memakan harta umat dengan cara batil,
juga terhalangi dengan adanya dakwah tauhid tersebut.
Ini semua membuat mereka geram dan
marah terhadap dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu dan
murid-muridnya. Itu semua mendorong mereka untuk berupaya menjauhkan umat dari
dakwah beliau. Mereka sebarkan berbagai macam kedustaan tentang beliau dan
dakwah tauhid yang disampaikannya.
Kaum Sufi bersama orang-orang
kesultanan Turki dan Mesir serta kaum kafir Eropa menciptakan sebuah julukan
terhadap dakwah beliau dengan Gerakan Dakwah Al-Wahhabiyyah serta melukiskannya
sebagai madzhab baru di luar Islam. Nama Al-Wahhabiyyah adalah sebuah nama yang
dinisbahkan kepada ayah Asy-Syaikh Muhammad yang bernama Abdul Wahhab.
Padahal jika mereka mau jujur,
semestinya mereka menjulukinya dengan Muhammadiyyun, yaitu nisbah kepada
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu secara langsung. Namun hal
itu sengaja mereka lakukan dalam rangka memberikan kesan lebih negatif terhadap
dakwah beliau. Karena jika memakai julukan Muhammadiyyun akan terkesan di banyak
kalangan bahwa ini adalah sebuah madzhab yang baik.
Bahkan mereka tak segan-segan
mengucapkan kata-kata kotor untuk memuluskan tujuannya, yang sebenarnya kita
sendiri malu untuk mendengar dan menukilkan kalimat tersebut. Namun dengan
sangat terpaksa kami nukilkan salah satu contoh kata-kata kotor dan menjijikkan
yang diucapkan tokoh-tokoh Sufi.
Di antaranya adalah yang diucapkan
salah satu tokoh mereka yang dikenal dengan nama Muhammad bin Fairuz Al-Hanbali
(meninggal 1216 H) dalam rekomendasinya terhadap kitab Ash-Shawa’iq war Ru’ud,
sebuah kitab yang penuh dengan tuduhan dan kedustaan terhadap Asy- Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu, karya seorang tokoh Sufi yang bernama
Abdullah bin Dawud Az-Zubairi (meninggal 1225 H). Dalam rekomendasinya itu,
Ibnu Fairuz berkata:
“…Bahkan mungkin saja Asy-Syaikh
(yakni ayah Asy-Syaikh Muhammad yang bernama Abdul Wahhab, pent.) pernah lalai
untuk menggauli ibunya (yakni ibu Muhammad bin Abdul Wahhab, pent.) sehingga
dia didahului oleh setan untuk menggauli isterinya. Jadi pada hakekatnya
setanlah ayah dari anak yang durhaka ini.”10
Sebuah ucapan kotor yang penuh
kekejian dan kedustaan terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
rahimahullahu bahkan terhadap ayah dan ibunya.
Mereka juga menuduh Asy-Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab rahimahullahu dengan berbagai tuduhan dusta, di antaranya:
Tuduhanq bahwasanya beliau mengklaim An-Nubuwwah (yakni mengaku
sebagai nabi), sebagaimana disebutkan dalam kitab Mishbahul Anam karya Ahmad
Abdullah Al-Haddad Ba’alawi (hal. 5-6). Dan dinyatakan pula oleh Ahmad Zaini
Dahlan (meninggal 1304 H) dalam sebuah makalah kecilnya yang berjudul Ad-Durar
As-Saniyyah fir Raddi ‘alal Wahhabiyyah (hal. 46): “…yang nampak dari kondisi
Muhammad bin Abdul Wahhab, bahwasanya dia adalah seorang yang mengklaim
An-Nubuwwah. Hanya saja dia tidak mampu untuk menampakkan klaimnya tersebut
secara terang-terangan.”
Pernyataan semacam ini dia tegaskan
juga dalam kitabnya yang lain yang berjudul Khulashatul Kalam, hal. 228-261.
Buku-buku Ahmad Zaini Dahlan ini,
adalah buku-buku yang sarat dengan kedustaan dan tuduhan-tuduhan batil terhadap
dakwah dan pribadi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu.
Buku-buku itu, dalam kurun 60 tahun terakhir ini, sering menjadi referensi kaum
Sufi di berbagai belahan bumi, termasuk di Indonesia, dalam menebarkan
kedustaan terhadap dakwah tauhid yang mulia itu. Bahkan sebagian buku-buku
tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Lebih parah lagi, buku-buku karya
kaum Sufi ini dimanfaatkan kaum kafir dan para orientalis sebagai referensi
bagi mereka dalam menebarkan kedustaan terhadap dakwah mulia tersebut dan
menjauhkan umat Islam darinya. Di antara mereka adalah seorang orientalis
berkebangsaan Denmark bernama Caresten Nie Bury dalam bukunya (Travel Through
Arabia and Other Countries In The East) namun dia tidak berhasil memasuki Najd.
Sehingga ketika menulis tentang sejarah Najd, dia banyak menukil dan
menyandarkan karyanya pada berita-berita yang beredar di Jazirah Arabia yang
telah dipenuhi banyak kedustaan oleh para tokoh Sufi di sana11.
Begitu juga salah seorang tokoh
kafir yang lainnya menulis sebuah buku yang berjudul (Memorandum, by T.E.
Ravenshaw)12. Buku ini pun dipenuhi berbagai macam kedustaan dan
tuduhan-tuduhan batil terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
rahimahullahu.
Kemudian diikuti pula oleh seorang
orientalis lainnya yang bernama William W. Hunter dalam bukunya Al-Muslimun fil
Hind (The Indian Musalmans, dicetak pada tahun 1871 M, kemudian dicetak kedua
kalinya pada tahun 1945 M) yang telah banyak menukil dari seniornya, yaitu T.E.
Ravenshaw.13
Beliau jugaq dituduh sebagai penganut inkarul hadits (aliran yang
mengingkari hadits); sebagaimana dituduhkan Ahmad Abdullah Al-Haddad Ba‘alawi
di dalam kitabnya Mishbahul Anam. Tentunya tuduhan tersebut sangatlah aneh.
Karena Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu selalu berhujjah
dengan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana dalam
banyak karya beliau, yang telah banyak diketahui oleh umat Islam. Namun
begitulah kaum Sufi, tidak malu dan segan untuk berdusta untuk menjauhkan umat
dari dakwah tauhid.
Tuduhan kepadaq Al-Amir Su’ud bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud -salah
satu pembela dan pembawa bendera dakwah tauhid yang menghabiskan waktu, tenaga,
pikiran, dan segala yang dimilikinya dalam membela dakwah yang mulia tersebut -
bahwasanya beliau telah menghancurkan kubah yang dibangun di atas kuburan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, padahal itu sama sekali tidak pernah
terjadi.
Memang benar beliau dan para
pendukungnya telah menghancurkan beberapa kubah yang berada di Najd dan
sekitarnya, namun sedikitpun mereka belum pernah menyentuh bangunan kubah di
atas kubur Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Walaupun mereka semua
yakin bahwa bangunan kubah tersebut tidak diridhai Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam dan bertentangan dengan syariat beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Sebagaimana dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu 'anhu,
bahwasanya beliau berkata:
نَهَى
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ القَبْرُ وَأِنْ
يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam melarang dilaburnya sebuah makam, dan diduduki, serta
dibangun di atasnya.” (HR. Muslim 970)
Hal ini dipertegas pula dalam hadits
‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu, ketika beliau mengutus Abul Hayyaj,
“Maukah engkau aku utus dengan sebuah misi yang dengan misi tersebut pula aku
diutus oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam?” Yaitu:
أَلاَّ
تَدَعَ صُوْرَةً إِلاَّ طَمَسْتَهَا، وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ
“Jangan kau biarkan satu gambarpun
kecuali kau musnahkan, dan jangan kau biarkan ada satu kuburan pun yang
menonjol kecuali kau ratakan.” (HR. Muslim no. 969)
Namun demikianlah musuh-musuh dakwah
tauhid memutarbalikkan fakta, sehingga beberapa sejarawan orientalis senang
dengan disebutkannya beberapa kisah dusta tersebut. Hal ini sebagaimana
didapati dalam beberapa buku sejarah karya mereka, di antaranya tulisan yang berjudul
Hadhir Al-‘Alam Al-Islami (The New World of Islam) karya L. Stoddard (1/64),
Dictionary of Islam “Wahhabiyah” karya Thomas P. Hughes (hal. 660), Mustaqbal
Al-Islam (Future of Islam) karya Lady Anne Blunt (hal. 45). Dan masih banyak
sejarawan orientalis lainnya yang memanfaatkan kedustaan serta tuduhan batil
kaum Sufi terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk semakin
mencemarkan dakwah tauhid yang beliau dakwahkan.14
Dan masihq banyak tuduhan-tuduhan dusta yang lainnya.
Namun kami simpulkan kedustaan-kedustaan
tersebut dengan menukilkan sebuah surat yang ditulis oleh putra beliau yang
bernama Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, yang ditujukan
kepada penduduk Makkah pada tahun 1218 H / 1803 M. Beliau berkata:
“…Adapun sekian perkara dusta atas
nama kami dalam rangka untuk menutupi al-haq, di antaranya tuduhan bahwa kami
menafsirkan Al-Qur`an dengan logika kami serta mengambil hadits-hadits yang
sesuai dengan pemahaman kami… Dan bahwasanya kami merendahkan kedudukan Nabi
kita Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan pernyataan kami bahwasanya Nabi telah
menjadi debu di kuburnya dan tongkat salah seorang kami lebih bermanfaat dari
beliau, dan bahwasanya beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memiliki
syafaat, serta berziarah kepadanya tidak disunnahkan…, dan bahwasanya kami
adalah beraliran mujassimah15, serta mengkafirkan manusia secara mutlak (tanpa
batas, pent)… Maka ketahuilah bahwa seluruh kisah khurafat tersebut di atas dan
yang semisalnya… Jawaban kami terhadap setiap permasalahan tersebut di atas
adalah dengan ucapan:
سُبْحَانَكَ
هَذا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ
“Maha Suci Engkau (Wahai Rabb kami)
sesungguhnya ini adalah kedustaan yang sangat besar.” (An-Nur: 16)
—sekian dari kitab Al-Hadiyyatus
Sunniyyah, hal. 46 16
4. Syi’ah Rafidhah
Tak kalah dahsyat dari permusuhan
kaum Sufi terhadap dakwah tauhid, adalah permusuhan kaum Syi’ah Rafidhah, yang
juga merasa terusik dengan adanya dakwah tauhid. Aqidah mereka yang sesat dan
penuh dengan kekufuran, yang mereka tebarkan di tengah-tengah umat dengan penuh
pembodohan dan penipuan, terbongkar dengan tersebarnya dakwah tauhid tersebut.
Umat menjadi mengerti bahwa aqidah Syi’ah Rafidhah yang meyakini bahwa:
‘Ali bin Abiq Thalib radhiallahu 'anhu adalah seorang imam yang ma’shum,
dan seluruh shahabat yang menyelisihinya adalah kafir.
Para imamq Syi’ah Rafidhah yang 12 mengetahui perkara-perkara ghaib,
bahkan punya andil di dalam mengatur alam semesta.
Keyakinanq mereka dengan aqidah Ar-Raj’ah, yaitu keyakinan bahwasanya
‘Ali bin Abi Thalib dan imam-imam mereka yang 12 akan kembali hidup di akhir
zaman
danq lain-lain,
adalah aqidah sesat yang bisa
mengantarkan seseorang kepada kekufuran.
Ini semua membuat mereka marah dan
memusuhi dakwah tauhid hingga hari ini. Belum lagi kemarahan mereka karena
pasukan tauhid telah menghancurkan bangunan kubah di atas kuburan Husain bin
‘Ali bin Abi Thalib di Karbala. Itu semua mendorong mereka untuk memusuhi
dakwah tauhid tersebut dan menebarkan kedustaan-kedustaan tentangnya.
Tak cukup sampai di situ. Mereka
bahkan melampiaskan kebencian dan permusuhannya itu dalam bentuk tindakan
fisik. Di antaranya adalah pembunuhan atas Al-Amir Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin
Su’ud pada tanggal 18 Rajab 1218 H/4 November 1803 M, yang dilakukan seorang
Syi’ah Rafidhah berkebangsaan Iran. Beliau dibunuh oleh penjahat ini ketika
beliau sedang menunaikan shalat Ashar. Tepatnya ketika beliau bersujud,
tiba-tiba datanglah orang Syi’ah tersebut dengan membawa sebilah belati
kemudian menghunjamkannya ke tubuh Al-Amir Abdul Aziz rahimahullahu.
Permusuhan ini terus berlanjut
hingga masa kini. Baik dalam bentuk permusuhan fikri ataupun fisik. Sebagai
contoh adalah sejumlah upaya penyerangan yang dilakukan kaum Syi’ah Rafidhah
pengikut Khumaini (Khomeini, red.) di Kota Makkah, pada musim haji tepatnya
pada hari Jum’at 6 Dzulhijjah 1407 H. Didahului penyebaran selebaran-selebaran
yang berisi kedustaan dan provokasi, sebuah penyerangan sporadis dan penuh
kezhaliman itu menelan 402 korban jiwa dari jamaah haji dan pihak keamanan
Negeri Tauhid.
Tak cukup sampai di sana, pada tahun
1409 H, kembali para pengikut Khumaini dari kalangan Syi’ah Rafidhah yang kejam
dan tidak berperikemanusiaan itu melakukan peledakan bom di Masjidil Haram,
yang juga menelan korban jiwa serta korban luka dari para jamaah haji, tamu-
tamu Allah.17
5. Hizbiyyun dan
pergerakan-pergerakan Islam
Zaman berganti zaman, generasi pun
telah berganti. Namun permusuhan terhadap dakwah tauhid tak kunjung usai, dan
memang akan terus berlanjut. Dalam beberapa dekade terakhir ini, kaum hizbiyyun
menampilkan diri sebagai musuh dakwah tauhid dan sunnah yang ditegakkan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu dan para penerusnya. Di
antara kaum hizbiyyun itu pada masa ini adalah:
Al-Ikhwanulq Muslimun (IM)
Gerakan yang didirikan di atas upaya
merangkul berbagai macam kelompok dan pemikiran bid’ah —sebagaimana telah
dijelaskan dalam majalah Asy Syari’ah edisi 20, Sejarah Hitam IM— telah
mempraktekkan berbagai macam bentuk permusuhan terhadap dakwah tauhid dan
sunnah serta negara tauhid Saudi Arabia. Baik melalui statemen dan karya-karya
tulis para tokohnya, maupun dalam bentuk tindakan fisik nyata di lapangan.
Di antara penulis dan tokoh besar IM
adalah Muhammad Al-Ghazali, yang melarikan diri dari ancaman Anwar Sadat -
Presiden Mesir kala itu - dan tinggal di negeri Saudi Arabia.
Dengan segala fasilitas yang dia
terima dari negeri tauhid ini, dia justru menikam dari belakang dan membalas
kebaikan itu dengan caci maki terhadap para ulama tauhid dan sunnah, penerus
dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Hal ini sebagaimana didapati dalam
beberapa karyanya yang penuh dengan kesesatan. Di antaranya adalah apa yang dia
tulis dalam kitabnya Kaifa Nata’amalu ma’al Qur`an dan kitab As-Sunnah baina
Ahlil Fiqhi wa Ahlil Hadits.
Namun Alhamdulillah, para ulama
tauhid telah membantah dan menghancurkan syubhat- syubhatnya. Di antaranya
adalah bantahan yang ditulis Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dan
Asy-Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahumallah.
Kemudian permusuhan Muhammad
Al-Ghazali terhadap dakwah tauhid dan sunnah ini diikuti pula oleh tokoh dan
pemikir besar IM lainnya, yaitu Yusuf Al-Qaradhawi. Dia adalah murid dari
Muhammad Al-Ghazali sekaligus temannya. Namun cara Al-Qaradhawi di dalam
menunjukkan permusuhannya lebih halus dan terselubung dibandingkan gurunya. Hal
ini nampak sekali dalam karya-karyanya, seperti kitab Kaifa Yata’amalu Ma’as
Sunnah dan Awwaliyatul Harakatil Islamiyyah, serta beberapa kitabnya yang
lain.18
Kemudian pada generasi berikutnya IM
melahirkan tokoh-tokoh semacam Muhammad Surur bin Naif Zainal ‘Abidin, yang
nampak lebih arogan dalam memusuhi negeri tauhid dan dakwah tauhid itu sendiri.
Begitu besar kebencian dan permusuhannya, sehingga dia merasa sesak nafasnya
dan sempit dadanya untuk tinggal bersama kaum muslimin di negeri tauhid. Dia
justru memilih tinggal bersama kaum kafir di Inggris dengan merendahkan dirinya
di bawah perlindungan hukum-hukum kufur di negeri kafir yang sangat memusuhi
Islam itu. Sementara itu, dia mengkafirkan pemerintah-pemerintah muslimin
dengan alasan mereka tidak berhukum dengan hukum-hukum Allah.
Dengan penuh kebencian dan tanpa
malu, dia keluarkan sejumlah pernyataan pedas dan dusta tentang ulama-ulama
tauhid dan sunnah di negeri tauhid Saudi Arabia khususnya. Lihat sebagian
pernyataan-pernyataannya yang pernah dimuat dalam majalah Asy Syari’ah Vol.
I/No. 12/1425 H/2005. Lihat pula kitab Al-Ajwibah Al-Mufidah karya Asy-Syaikh
Shalih Al-Fauzan hal. 51-57; Al- Irhab karya Asy-Syaikh Zaid Al-Madkhali, hal. 67-77.
Kelompok ini pun tak segan-segan
melakukan tindakan fisik untuk mewujudkan permusuhannya terhadap dakwah Tauhid
dan para da’inya, sebagaimana telah terjadi di beberapa tempat. Di antaranya
adalah yang terjadi di negeri Yaman berupa penembakan brutal dan sporadis
terhadap sejumlah Ahlus Sunnah di sebuah masjid, yang menyebabkan sebagian
mereka terbunuh.
Bahkan salah satu tokoh IM di negeri
Yaman mengancam Ahlus Sunnah dengan pernyataannya: “Jika seandainya kami
memiliki kekuatan, niscaya kami akan memerangi Wahhabiyyin sebelum kami
memerangi kaum komunis.” Hal ini sebagaimana dikisahkan Asy-Syaikh Muqbil
Al-Wadi’i rahimahullahu dalam beberapa kali ceramah beliau.
Lebih dari itu semua, apa yang telah
terjadi di Afghanistan dengan terbunuhnya seorang mujahid Ahlus Sunnah, yaitu
Asy-Syaikh Jamilurrahman rahimahullahu. Pembunuhnya adalah salah seorang dari
kelompok IM yang dikenal dengan Abu ‘Abdillah Ar-Rumi. Dia datang ke
Afghanistan membawa kebencian yang sangat besar terhadap Ahlus Sunnah dan menjulukinya
dengan Wahhabiyyah. Pembunuhan sadis ini terjadi pada hari Jum’at 20 Shafar
1412 H/ 30 Agustus 1991 M sebelum Asy-Syaikh Jamilurrahman berangkat menuju
shalat Jum’at. Pembunuh kejam itu mendatangi beliau sebagai tamu yang hendak
memeluknya. Tanpa disangka ternyata orang ini melepaskan tembakan ke arah
Asy-Syaikh dan tepat mengenai wajah dan kepala beliau!
Inilah sekelumit contoh permusuhan
dan kebencian tokoh-tokoh besar IM terhadap para ulama tauhid dan sunnah serta
negeri tauhid Saudi Arabia.
Hizbutq Tahrir
Kelompok Hizbut Tahrir (HT) adalah
sebuah kelompok sempalan yang didirikan Taqiyyuddin An- Nabhani di negeri
Yordania pada tahun 1372 H/1953 M. Selengkapnya bisa pembaca dapati pada
majalah Asy Syari’ah Vol. II/No. 16/1426 H/2005.
Namun yang hendak kita tampilkan di
sini adalah bentuk kebencian dan permusuhan HT terhadap Daulah Tauhid dan para
ulamanya.
Permusuhan itu diwujudkan dalam
statemen-statemen mereka dan karya-karya tulisnya. Di antaranya adalah apa yang
disebutkan dalam buku berbahasa Inggris How The Khilafah Destroyed (Kaifa
Hudimat Al-Khilafah) karya Abdul Qadim Zallum yang diterbitkan Khilafah
Publication London England. Buku ini adalah salah satu buku refensi utama dalam
perjalanan HT.
Dalam buku ini, penulisnya telah
menuduh Daulah Tauhid sebagai suatu bentuk konspirasi Barat dalam meruntuhkan
Khilafah ‘Utsmaniyyah, dengan mengkambinghitamkan Al-Amir Abdul ‘Aziz bin
Muhammad bin Su’ud rahimahullahu dan menyatakan beliau sebagai agen Inggris.
Padahal justru beliau adalah seorang yang telah menyerahkan waktu, tenaga,
pikiran, dan hidupnya untuk membela dan menegakkan tauhid sebagaimana telah
kami sebutkan di atas.
Tuduhan HT ini sama sekali tidak
disertai dengan bukti dan fakta ilmiah. Tapi yang ada hanya sebatas analisa dan
klaim semata. Sebaliknya telah kami paparkan di atas dengan bukti-bukti ilmiah
bahwa ternyata Dinasti ‘Utsmanilah yang sebenarnya bersekongkol dan diperdaya
oleh negara-negara kafir Eropa dalam memerangi dakwah tauhid dan sunnah.
Kemudian mereka juga menuduh gerakan
Dakwah Tauhid sebagai gerakan pemberontakan terhadap Dinasti ‘Utsmani. Tuduhan
ini pun adalah tuduhan yang batil dan dusta, sebagaimana telah kami bahas di
atas.
Masih dalam buku tersebut di atas,
penulis HT ini menuduh bahwa Al-Amir Su’ud bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin
Su’ud telah menghancurkan bangunan kubah di atas makam Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam serta mempereteli batu perhiasan dan ornamen-ornamennya yang
sangat berharga. Namun itu semua adalah dusta. Bahkan dengan itu, penulis HT
ini telah mengikuti jejak para orientalis Eropa belaka, sebagaimana telah
dijelaskan di atas.
Tak kalah serunya adalah salah satu
tokoh HT yang bernama Muhammad Al-Mis’ari ikut meramaikan permusuhan kelompok
ini terhadap dakwah dan negara tauhid dalam beberapa statemennya.
Di antaranya adalah pernyataan dia
yang dimuat oleh surat kabar Asy-Syarqul Ausath edisi 6270, terbit pada hari
Jum’at 8 Ramadhan 1416 H:
“Sesungguhnya kondisi saat ini di
negeri Saudi Arabia yang tidak mengizinkan bagi kaum Masehi (Nashara, pent.)
dan Yahudi untuk mempraktekkan syi’ar-syi’ar ibadah secara terang-terangan akan
berubah dengan tampilnya Komisi ini19 di medan hukum. Bahwasanya pemberian hak
kepada kaum minoritas adalah wajib, dalam bentuk hak untuk melaksanakan
syi’ar-syi’ar agama mereka di gereja-gereja mereka, serta hak untuk mendapatkan
pengakuan resmi atas pelaksanaan akad pernikahan sesuai dengan aturan agama
mereka secara khusus serta hak-hak lainnya, sebagai bentuk penyempurnaan
terhadap kebebasan kehidupan keagamaan dan kehidupan pribadi mereka secara
sempurna. Baik mereka itu dari kaum Yahudi, Masehi, ataupun kaum Hindu!!”
Kemudian dia berkata: “Sesungguhnya
pembangunan gereja-gereja adalah perkara yang mubah dalam syariat Islam.”20
Dia pun dengan lancang mencaci maki
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab —sang Mujaddid yang berdakwah untuk
memurnikan tauhid umat ini dan menjauhkan mereka dari kesyirikan dan bid’ah—
dengan statemennya yang dia ucapkan dalam sebuah selebaran resmi yang
dikeluarkan CDLR dari London pada hari Kamis 22 Syawwal 1415 H / 23 Maret 1995
M:
“Kedua: Saya tidak akan membahas
tentang aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu. Namun saya
hanyalah menyebutkan tentang sebuah realita, yaitu bahwasanya dia (Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab, pent) adalah seorang yang berpemikiran nyleneh dan
bukanlah seorang yang alim. Dia adalah seorang yang diliputi dengan berbagai
masalah dan cara bersikap nyleneh yang memang sesuai dengan ke-nyleneh-an kaum
di Najd pada masa itu…”
Nampak sekali kebencian tokoh besar
HT yang satu ini terhadap dakwah tauhid sekaligus menunjukkan kebodohannya
tentang tauhid itu sendiri. Namun yang sangat aneh dari orang ini, ketika dia
mencaci maki Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, pada saat yang sama dia
memuji tokoh besar Syi’ah Rafidhah, Al-Khumaini, dengan pernyataannya:
“Sesungguhnya dia (Al-Khumaini,
pent) adalah seorang pemimpin bersejarah yang agung dan jenius…”
Dalam selebaran yang sama pula,
dengan penuh arogansi dia mencaci maki salah satu imam dakwah ini, yaitu
Al-Imam Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullahu dengan pernyataannya:
“Pertama: Saya tidak menuduh
Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz dengan kekufuran. Namun saya menyatakan dengan
satu kata bahwa mayoritas ulama dan masyayikh berpandangan bahwasanya dia (Ibnu
Baz) setelah (mengeluarkan) fatwanya tentang bolehnya upaya perjanjian damai
dengan Israil telah sampai ke sebuah tahapan yang mendekati kepada kekufuran.
Saya hanya menukilkan pendapat para ulama dan masyayikh tersebut. Adapun
pendapat saya pribadi adalah beliau (Asy-Syaikh Ibnu Baz, pent) telah sampai
pada derajat pikun, bodoh, dan kelemahan yang sangat rendah.”21
Bantahan tuntas atas ucapan keji ini
para pembaca bisa mendapatinya dalam buku kami Mereka Adalah Teroris (Bantahan
Aku Melawan Teroris) hal. 325-326 footnote no. 215. Begitu pula tentang jawaban
hukum perdamaian dengan kaum kafir, lihat hal. 203-219 (cet. II/Edisi Revisi)
Subhanallah… Betapa kejinya ucapan
tersebut! Seseorang yang berdakwah untuk memurnikan tauhid umat serta menjauhkan
dari kesyirikan dibenci, dicaci maki, dan dituduh dengan tuduhan- tuduhan
dusta. Sementara seorang Syi’ah Rafidhah, semacam Khumaini, yang menyeru kepada
kesesatan dan kekufuran disanjung dan dipuji. Inikah sebuah Hizb dan tokohnya
yang konon menginginkan tegaknya khilafah??!
Sayang sekali Al-Mis’ari yang telah
mengumumkan kebenciannya terhadap daulah tauhid serta ulamanya dan merasa gerah
hidup di tengah-tengah muslimin, justru rela dan merasa tentram tinggal di
negeri kufur dengan perlindungan hukum dari mereka.
Al-Qa’idahq (Al-Qaeda, red.)
Jaringan Al-Qa’idah, yang merupakan
jaringan khawarij terbesar masa kini, juga tak kalah besar kebencian dan
permusuhannya terhadap daulah tauhid dan sunnah serta para ulamanya. Kebencian
tersebut tidak hanya dituangkan dalam bentuk statemen-statemen para tokohnya,
bahkan juga dalam bentuk serangan fisik dan teror.
Usamah bin Laden mencaci maki salah
seorang imam besar Ahlus Sunnah pada masa ini, yaitu Al-Imam Abdul ‘Aziz bin
Baz rahimahullahu, di antaranya dalam suratnya yang ditujukan kepada Al-Imam
Ibnu Baz tanggal 27/7/1415 H yang dikeluarkan Hai`ah An-Nashihah (Lembaga
Nasehat) di negeri London, Usamah berkata:
“Dan kami mengingatkan engkau —wahai
syaikh yang mulia— atas beberapa fatwa dan sikap- sikap yang mungkin Anda tidak
mempedulikannya, padahal fatwa-fatwa tersebut telah menjerumuskan umat ini ke
dalam jurang kesesatan (yang dalamnya) sejauh (perjalanan) 70 (tujuh puluh)
tahun.”
Dengan tegas dan lugas, Usamah bin
Laden menghukumi daulah tauhid Saudi Arabia sebagai negara kafir. Hal ini
sebagaimana dimuat dalam koran Ar-Ra`yul ‘Am Al-Kuwaity edisi 11-11-2001 M,
dalam sebuah wawancara dengan Usamah bin Laden, ia menjawab:
“Hanya Afghanistan sajalah Daulah
Islamiyyah itu. Adapun Pakistan dia memakai undang-undang Inggris. Dan saya
tidak menganggap Saudi itu sebagai Negara Islam….”
Usamah juga memvonis kafir Putra
Mahkota Abdullah bin Abdul ‘Aziz –waktu itu dan kini sebagai Raja Negara Saudi
Arabia—, yaitu dalam ucapannya yang terakhir untuk rakyat Iraq pada bulan
Dzulhijjah 1423 H:
“…... Maka para penguasa tersebut
telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya dan sekaligus MEREKA TELAH KELUAR
DARI AGAMA (ISLAM) INI dan berarti mereka juga telah mengkhianati umat.”
Dengan bangga Usamah menyanjung para
teroris yang melakukan aksi peledakan di negeri tauhid tersebut:
“Aku (Usamah) memandang dengan penuh
pemuliaan dan penghormatan kepada para pemuda yang mulia, yang telah
menghilangkan kehinaan dari umat ini, baik mereka yang telah meledakkan (bom)
di kota Riyadh, atau peledakan di kota Khubar, ataupun peledakan-peledakan di
Afrika Timur dan yang semisalnya.”
Dalam dua peledakan ini, terkhusus
di Kota Khubar, memakan 18 korban jiwa yang mayoritasnya adalah muslimin, serta
350 lebih luka-luka dan sebagiannya lagi menderita cacat seumur hidup. Tidak
cukup itu, bahkan Usamah “membumbui” kebenciannya terhadap daulah tauhid dengan
kedustaan. Di antara kedustaannya adalah pernyataan dia bahwa kaum Salibis
telah menduduki Masjidil Haram.
Wallahu a’lam.
1 Lihat kitab Al-Imam Muhammad bin
‘Abdil Wahhab wa Da’watuhu wa Siratuhu, karya Asy- Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz,
hal. 23; lihat pula kitab Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al- Wahhabiyyah,
karya Dr. Muhammad bin Sa’d Asy-Syuwai’ir, cet. III hal. 91.
2 Lihat kitab Tash-hihu Khatha`in
Tarikhi Haula Al Wahhabiyyah, karya Dr. Muhammad bin Sa’d Asy-Syuwai’ir, hal.
63-67 (cet III/1419 H).
3 Ibid, hal. 77-78.
4 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil
Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi, karya Al- Ustadz Mas’ud
An-Nadwi, hal. 139.
5 Lihat kitab Imam wa Amir wa Dakwah
likulli Al-‘Ushur karya Ahmad bin Abdul ‘Aziz Al-Hushain, penerbit Daruth
Tharafain cet. I th. 1993, hal. 191, dan penulis mengisyaratkan pada kitab
Jaulah fi Biladil ‘Arab hal. 104-111
6 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil
Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi, karya Al Ustadz Mas’ud An-Nadwi,
hal. 139
7 Shalat Khauf yaitu shalat fardhu
yang ditegakkan ketika sedang berkecamuk perang, dengan beberapa tata cara
tertentu yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang
sangat berbeda dengan tata cara pelaksanaan shalat fardhu di luar waktu
pertempuran.
8 Dinukil dari kitab Muhammad bin
‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi, karya Al-Ustadz Mas’ud
An-Nadwi, hal. 152-153.
9 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil
Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi, karya Al- Ustadz Mas’ud
An-Nadwi, hal. 141.
10 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil
Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi, karya Al- Ustadz Mas’ud An
Nadwi, hal. 199.
9 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil
Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi, karya Al- Ustadz Mas’ud
An-Nadwi, hal. 141.
10 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil
Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi, karya Al- Ustadz Mas’ud An
Nadwi, hal. 199.
12 Ibid, hal. 236.
13 Ibid, hal. 237.
14 Ibid, hal. 214
15 Yaitu sebuah aliran yang
menetapkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki jasmani seperti layaknya
makhluk. Ini adalah aliran sesat yang keluar dari prinsip manhaj Ahlus Sunnah
wal Jamaah.
16 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil
Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi, karya Al- Ustadz Mas’ud
An-Nadwi, hal. 213
17 Revolusi Iran Khumaini telah
banyak mempengaruhi pemikiran para aktivis dan pergerakan Islam di mancanegara
untuk melakukan tindakan-tindakan teror dan pembunuhan-pembunuhan serta
menebarkan pemikiran bernuansa terorisme pada kaum muda Islam. Bahkan secara
terbuka kelompok Al-Ikhwanul Muslimun menyatakan dukungannya terhadap Revolusi
Iran ini.
18 Lihat kitab Da’watul Ikhwanil
Muslimin fi Mizanil Islam, hal. 175-203. Untuk mengetahui lebih banyak tentang
kesesatan aqidah dan pemikiran Yusuf Al-Qaradhawi, lihat buku Membongkar Kedok
Yusuf Al-Qaradhawi cet. Pustaka Salafiyah, Depok
19 Komisi yang dimaksud adalah
Lajnah Ad-Difa’ ‘anil Huquqisy Syar’iyyah (Komisi Pembelaan Hak-hak Syari’ah)
[C.D.L.R] yang berpusat di London, di mana Muhammad Al-Mis’ari ini sebagai Juru
Bicara Resminya. Komisi ini banyak mengeluarkan statemen dan tindakan-tindakan
yang berisi provokasi untuk membenci dan melawan pemerintah Saudi Arabia.
Selengkapnya tentang Komisi ini dan fatwa para ulama sunnah tentangnya bisa
dibaca pada buku Mereka Adalah Teroris hal. 370-374 (edisi revisi).
20 Lihat kitab Al-Ajwibah
Al-Mufidah, hal. 38-39 (cet. II) Percetakan Darus Salaf.
21 Lihat kitab Al-Quthbiyyah hiyal
fitnah Fa’rifuha Abu Ibrahim bin Sulthan, hal. 115.
(www.asysyariah.com)
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..