Senin, 30 Januari 2010
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Sebelum kita berbicara tentang topik
dan judul pembahasan ini, sebaiknya kita mengenal beberapa pengertian istilah
yang akan dipakai dalam pembahasan ini.
A. Beberapa Pengertian
1. As-Sunnah
As-Sunnah ialah jalan yang ditempuh
atau cara pelaksanaan suatu amalan baik itu dalam perkara kebaikan maupun
perkara kejelekan.
Maka As-Sunnah yang dimaksud dalam
istilah Ahlus Sunnah ialah jalan yang ditempuh dan dilaksanakan oleh Rasulullah
salallahu 'alaihi wa sallam serta para shahabat beliau, dan pengertian Ahlus
Sunnah ialah orang-orang yang berupaya memahami dan mengamalkan As- Sunnah
An-Nabawiyyah serta menyebarkan dan membelanya.
2. Al-Jama'ah
Menurut bahasa Arab pengertiannya
ialah dari kata Al-Jamu' dengan arti mengumpulkan yang tercerai berai. Adapun
dalam pengertian Asyari'ah, Al-Jama'ah ialah orang-orang yang telah sepakat
berpegang dengan kebenaran yang pasti sebagaimana tertera dalam Al-Qur'an dan
Al- Hadits dan mereka itu ialah para shahabat, tabi'in (yakni orang-orang yang
belajar dari shahabat dalam pemahaman dan pengambilan Islam) walaupun jumlah
mereka sedikit, sebagaimana pernyataan Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu : "Al-Jama'ah
itu ialah apa saja yang mencocoki kebenaran, walaupun engkau sendirian (dalam
mencocoki kebenaran itu). Maka kamu seorang adalah Al-Jama'ah."
3. Al-Bid'ah
Segala sesuatu yang baru dan belum
pernah ada asal muasalnya dan tidak biasa dikenali. Istilah ini sangat dikenal
dkialangan shahabat Nabi Rasulullah salallahu 'alaihi wa sallam karena beliau
selalu menyebutnya sebagai ancaman terhadap kemurnian agama Allah, dan
diulang-ulang penyebutannya pada setiap hendak membuka khutbah. Jadi secara bahasa
Arab, bid'ah itu bisa jadi sesuatu yang baik atau bisa juga sesuatu yang jelek.
Sedangkan dalam pengertian syari'ah, bid'ah itu semuanya jelek dan sesat serta
tidak ada yang baik. Maka pengertian bid'ah dalam syariah ialah cara pengenalan
agama yang baru dibuat dengan menyerupai syariah dan dimaksudkan dengan bid'ah
tersebut agar bisa beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala lebih baik lagi
dari apa yang ditetapkan oleh syari'ah-Nya. Keyakinan demikian ditegakkan tidak
di atas dalil yang shahih, tetapi hanya berdasar atas perasaan, anggapan atau
dugaan. Bid'ah semacam ini terjadi dalam perkara aqidah, pemahaman maupun
amalan.
4. As-Salaf
Arti salaf secara bahasa adalah
pendahulu bagi suatu generasi. Sedangkan dalam istilah syariah Islamiyah
as-salaf itu ialah orang-orang pertama yang memahami, mengimami, memperjuangkan
serta mengajarkan Islam yang diambil langsung dari shahabat Nabi salallahu
'alaihi wa sallam, para tabi'in (kaum mukminin yang mengambil ilmu dan
pemahaman/murid dari para shahabat) dan para tabi'it tabi'in (kaum mukminin
yang mengambil ilmu dan pemahaman/murid dari tabi'in). istilah yang lebih
lengkap bagi mereka ini ialah as-salafus shalih. Selanjutnya pemahaman as-
salafus shalih terhadap Al-Qur'an dan Al-Hadits dinamakan as-salafiyah.
Sedangkan orang Islam yang ikut pemahaman ini dinamakan salafi. Demikian pula
dakwah kepada pemahaman ini dinamakan dakwah salafiyyah.
5. Al-Khalaf
Suatu golongan dari ummat Islam yang
mengambil fislafat sebagai patokan amalan agama dan mereka ini meninggalkan
jalannya as-salaf dalam memahami Al-Qur'an dan Al-Hadits. Awal mula timbulnya
istilah Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak diketahui secara pasti kapan dan dimana
munculnya karena sesungguhnya istilah Ahlus Sunnah wal Jama'ah mulai
depopulerkan oleh para ulama salaf ketika semakin mewabahnya berbagai bid'ah
dikalangan ummat Islam.
Yang jelas wabah bid'ah itu mulai
berjangkit pada jamannya tabi'in dan jaman tabi'in ini yang bersuasana demikian
dimulai di jaman khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu. Diriwayatkan
oleh Imam Muslim dalam Kitab Shahihnya juz 1 hal.84, Syarah Imam Nawawi bab
Bayan Amal Isnad Minad Din dengan sanadnya yang shahih bahwa Muhammad bin
Sirrin menyatakan, "Dulu para shahabat tidak pernah menanyakan tentang
isnad (urut-urutan sumber riwayat) ketika membawakan hadits Nabi salallahu
'alaihi wa sallam. Maka ketika terjadi fitnah yakni bid'ah mereka menanyakan,
'sebutkan para periwayat yang menyampaikan kepadamu hadits tersebut.' Dengan
cara demikian mereka dapat memeriksa masing-masing para periwayat tersebut,
apakah mereka itu dari ahlus sunnah atau ahlul bid'ah. Bila dari ahlus sunnah
diambil dan bila ahlul bid'ah ditolak."
Riwayat yang sama juga dibawakan
oleh Khalid Al-Baghdadi dengan sanadnya dalam kitab beliau. Riwayat ini
memberitahukan kepada kita bahwa pada jaman Muhammad bin Sirrin sudah ada
istilah ahlus sunnah dan ahlul bid'ah. Muhammad bin Sirrin lahir pada tahun 33
H dan meniggal pada tahun 110 H. kemudian istilah ini juga muncul pada jaman
Imam Ahmad bin Hambal (lahir 164 dan meninggal 241 H) khususnya ketika terjadi
fitnah pemahaman sesat yang menyatakan bahwa Al-Qur'an itu makhluk,
bertentangan dengan ahlus sunnah yang menyatakan bahwa Al-Qur'an itu
Kalamullah.
Fitnah terjadi di jaman pemerintahan
Khalifah Al-Ma'mun Al-Abbasi. Imam Ahmad pada masa fitnah ini adalah termasuk
tokoh yang paling berat mendapat sasaran permusuhan dan kekejaman para tokoh
ahlul bid'ah melalui Khalifah tersebut. Mulai saat itulah istilah ahlus sunnah
wal jama'ah menjadi sangat populer hingga kini. Jadi, istilah ahlu sunnah
timbul dan menjadi populer ketika mulai serunya pergulatan antara as-salaf dan
al-khalaf, akibat adanya infiltrasi berbagai filsafat asing ke dalam masyarakat
Islam. Ahlus Sunnah wal Jama'ah kemudian menjadi simbol sikap istiqamahnya
(tegarnya) para ulama ahlul hadits dalam berpegang dengan as- salafiyah ketika
para tokoh ahlul bid'ah meninggalkannya dan ketika berbagai pemahaman dan
amalan bid'ah mendominasi masyarakat Islam.
B. Dalil-Dalil Ahlus Sunnah wal
Jama'ah
Mengapa ahlu sunnah demikian
bersikeras merujuk pada pemahaman para shahabat Nabi salallahu 'alaihi wa
sallam dalam memahami Al-Qur'an dan Al-Hadits? Ini adalah pertanyaan yang
tentunya membutuhkan dalil-dalil Al-Qur'an dan Al-Hadits untuk menjawabnya. Ahlus
Sunnah merujuk kepada para shahabat dalam memahami Al-Qur'an dan Al-Hadits
dikarenakan Allah dan Rasul-Nya banyak sekali memberitahukan kemuliaan mereka,
bahkan memujinya. Faktor ini membuat para shahabat menjadi acuan terpercaya
dalam memahami Al-Qur'an dan Al-Hadits sebagai landasan utama bagi Syari'ah
Islamiyah.
Dalil dari Al-Qur'an dan Al-Hadits
shahih yang menjadi pegangan ahlus sunnah dalam merujuk kepada pemahaman
shahabat sangat banyak sehingga tidak mungkin semuanya dimuat dalam tulisan
yang singkat ini. Sebagian diantaranya perlu saya tulis disini sebagai gambaran
singkat bagi pembaca tentang betapa kokohnya landasan pemahaman ahlus sunnah
terhadap syariah ini.
1. Para shahabat Nabi salallahu
alaihi wa sallam adalah kecintaan Allah dan mereka pun sangat cinta kepada
Allah :
"Sesungguhnya Allah telah ridha
kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Hai Muhammad)
di bawah pohon (yakni Baitur Ridwan) maka Allah mengetahui apa yang ada di
dalam hati mereka lalu menurunkan keterangan atas mereka dan memberi balasan
atas mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).(Al-Fath:18)
Ayat ini menerangkan bahwa Allah
telah ridha kepada para shahabat yang turut membaiat Rasulullah salallahu
alaihi wa sallam di Hudhaibiyyah sebagai tanda bahwa mereka telah siap taat
kepada beliau dalam memerangi kufar (kaum kafir) Quraisy dan tidak lari dari
medan perang.
Diriwayatkan bahwa yang ikut ba'iah
tersebut seribu empat ratus orang. Dalam ayat lain, Allah Sunahanahu wa Ta'ala
berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kalian yang
murtad dari agama-Nya (yakni keluar dari Islam) niscaya Allah akan datangkan
suatu kaum yang Ia mencintai mereka dan mereka mencintai Allah, bersikap lemah
lembut terhadap kaum mukminin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir,
mereka berjihad di jalan Alah dan tidak takut cercaan si pencerca. Yang
demikian itu adalah keutamaan dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang
Ia kehendaki dan Allah itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui."(Al- Maidah:54)
Ath-Thabari membawakan beberapa
riwayat tentang tafsir ayat ini antara lain yang beliau nukilkan dari beberapa
riwayat dengan jalannya masin-masing, bahwa Al-Hasan Al-Basri, Adh-Dhahadh,
Qatadah, Ibnu Juraij, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah Abu
Bakar Ash- Shidiq dan segenap shahabat Nabi setelah wafatnya Rasulullah
salallahu alaihi wa sallam dalam memerangi orang yang murtad.
2. Para shahabat Nabi salallahu
alaihi wa sallam adalah umat yang adil yang dibimbing oleh Rasulullah salallahu
alaihi wa sallam.
"Dan demikianlah Kami jadikan
kalian adalah umat yang adil agar kalian menjadi saksi atas sekalian manusia
dan Rasul menjadi saksi atas kalian."(Al-Baqarah:143)
Yang diajak bicara oleh Allah
Subhanahu wa Ta'ala di ayat ini ialah para shahabat Nabi salallahu alaihi wa
sallam. Mereka adalah kaum mukminin generasi pertama yang terbaik yang ikut
menyaksikan turunnya ayat ini dan generasi pertama yang disebutkan dalam ayat
Al-Qur'an. Ibnu Jarir Ath-Thabari menerangkan: "Dan aku berpandangan
bahwasanya Allah Ta'ala menyebut mereka sebagai "orang yang ditengah"
karena mereka bersikap tengah-tengah dalam perkara agama, sehingga mereka itu
tidaklah sebagai orang-orang yang ghulu (ekstrim, melampaui batas) dalam beragama
sebagaimana ghulunya orang-orang Nashara dalam masalah peribadatan dan
pernyataan mereka tentang Isa bin Maryam alaihi salam. Dan tidak pula umat ini
mengurangi kemuliaan Nabiyullah Isa alaihi salam, sebagaimana tindakan
orang-orang Yahudi yang merubah ayat-ayat Allah dalam kitab-Nya dan membunuh
para nabi-nabi mereka dan berdusta atas nama Allah dan mengkufurinya. Akan
tetapi ummat ini adalah orang-orang yang adil dan bersikap adil sehingga Allah
mensikapi mereka dengan keadilan, dimana perkara yang paling dicintai oleh
Allah adalah yang paling adil.
3. Para shahabat adalah teladan
utama setelah Nabi dalam beriman
Ditegaskan dalam firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala :
"Kalau mereka itu beriman
seperti imannya kalian (yaitu kaum mukminin) terhadapnya, maka sungguh mereka
itu mendapatkan perunjuk dan kalau mereka berpaling mereka itu dalam
perpecahan. Maka cukuplah Allah bagimu (hai Muhammad) terhadap mereka dan Dia
Maha Mendengar dan Maha Mengetahui."(Al-Baqarah:137)
Ayat ini menegaskan bahwa imannya kaum
mukminin itu adalah patokan bagi suatu kaum untuk mendapat petunjuk Allah. Kaum
mukminin yang dimaksud yang paling mencocoki kebenaran sebagaimana yang dibawa
oleh Nabi salallahu alaihi wa sallam tidak lain ialah para shahabat Nabi yang
paling utama dan generasi sesudahnya yang mengikuti mereka.
Juga ditegaskan pula hal ini oleh
Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surat Al-Fath 29 :
"Muhammad itu adalah
Rasulullah, dan orang-orang yang besertanya keras terhadap orang- orang kafir,
berkasih sayang sesama mereka. Engkau lihat mereka ruku dan sujud mengharapkan
keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya. Terlihat pada wajah-wajah mereka bekas
sujud. Demikianlah permisalan mereka di Taurat, dan demikian pula permisalan
mereka di Injil. Sebagaimana tanaman yang bersemi kemudian menguat dan kemudian
menjadi sangat kuat sehingga tegaklah ia diatas pokoknya, yang mengagumkan
orang yang menanamnya, agar Allah membikin orang-orang kafir marah pada mereka.
Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari kalangan mereka itu ampunan
dan pahala yang besar."
Dan masih banyak lagi ayat-ayat
Al-Qur'an yang menjadi dalil bagi Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam merujuk kepada
para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam dalam memahami Al- Qur'an dan
Al-Hadits. Tentunya dalil-dalil dari Al-Qur'an tersebut berdampingan pula
dengan puluhan bahkan ratusan hadists shahih yang menerangkan keutamaan
shahabat secara keseluruhan ataupun secara individu.
Dari hadits-hadits berikut dapat
disimpulkan bahwa :
1. Kebaikan para shahabat tidak
mungkin disamai :
"Jangan kalian mencerca para
shahabatku, seandainya salah seorang dari kalian berinfaq sebesar gunung Uhud,
tidaklah ia mencapai ganjarannya satu mud(ukuran gandum sebanyak dua telapak
tangan diraparkan satu dengan lainnya) makanan yang dishodaqahkan oleh salah
seorang dari mereka dan bahkan tidak pula mencapai setengah mudnya."(HR.
Bukhari dan Muslim)
2. Para shahabat adalah sebaik-baik
generasi dan melahirkan sebaik-baik generasi penerus pula :
"Dari Imran bin Hushain
radhiallahu anhu bahwa Rasulullah salallahu alaihi wa sallam bersabda:
'Sebaik-baik ummatku adalah yang semasa denganku kemudian generasi sesudahnya
(yakni tabi'in), kemudian generasi yang sesudahnya lagi (yakni tabi'it
tabi'in). Imran mengatakan: 'Aku tidak tahu apakah Rasulullah menyebutkan
sesudah masa beliau itu dua generasi atau tiga.' Kemudian Rasulullah salallahu
alaihi wa sallam bersabda: 'Kemudian sesungguhnya setelah kalian akan datang
suatu kaum yang memberi persaksian padahal ia tidak diminta persaksiannya, dan
ia suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, dan mereka suka bernadzar dan
tidak memenuhi nadzarnya, dan mereka berbadan gemuk yakni gambaran orang-orang
yang serakah kepadanya'."(HR Bukhari)
3. Para shahabat Nabi salallahu
alaihi wa sallam adalah orang-orang pilihan yang diciptakan Allah untuk
mendampingi Nabi-Nya :
"Rasulullah salallahu alaihi wa
sallam bersabda: 'Sesungguhnya Allah telah memilih aku dan juga telah memilih
bagiku para shahabatku, maka Ia menjadikan bagiku dari mereka itu para pembantu
tugasku, dan para pembelaku, dan para menantu dan mertuaku. Maka barang siapa
mencerca mereka, maka atasnyalah kutukan Allah dan para malaikat-Nya an segenap
manusia. Allah tidak akan menerima di hari Kiamat para pembela mereka yang bisa
memalingkan mereka dari adzab Allah."(HR Al-Laalikai dan Hakim, SHAHIH)
Dan masih banyak lagi hadits-hadits
shahih yang menunjukkan betapa tingginya kedudukan para shahabat Nabi salallahu
alaihi wa sallam di dalam pandangan Nabi.
Maka kalau Allah dan Rasul-Nya di dalam
Al-Qur'an dan Al-Hadits telah memuliakan para shahabat dan menyuruh kita
memuliakannya, sudah semestinya kalau Ahlus Sunnah wal Jama'ah menjadikan
pemahaman, perkataan, dan pengamalan para shahabat terhadap Al- Qur'an dan
Al-Hadits sebagai patokan utama dalam menilai kebenaran pemahamannya. Ahlus
sunnah juga sangat senang dan mantap dalam merujuk kepada para shahabat Nabi
dalam memahami Al-Qur'an dan Al-Hadits.
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..