Ahad, 25 Desember 2011
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Tak kenal maka tak sayang, demikian
bunyi pepatah. Banyak orang mengaku mengenal Allah, tapi mereka tidak cinta
kepada Allah. Buktinya, mereka banyak melanggar perintah dan larangan Allah.
Sebabnya, ternyata mereka tidak mengenal Allah dengan sebenarnya.
Sekilas, membahas persoalan
bagaimana mengenal Allah bukan sesuatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang
mengatakan untuk apa hal yang demikian itu dibahas? Bukankah kita semua telah mengetahui
dan mengenal pencipta kita? Bukankah kita telah mengakui itu semua?
Kalau mengenal Allah sebatas di
masjid, di majelis dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya ketika
tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan
mendapatkan kesenangan, barangkali akan terlontar pertanyaan demikian.
Yang dimaksud dalam pembahasan ini
yaitu mengenal Allah yang akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal,
berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita
bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang
oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami
gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung
rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam problema hidup.
Faktanya, banyak yang mengaku
mengenal Allah tetapi mereka selalu bermaksiat kepada-Nya siang dan malam. Lalu
apa manfaat kita mengenal Allah kalau keadaannya demikian? Dan apa artinya kita
mengenal Allah sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya?
Maka dari itu mari kita menyimak
pembahasan tentang masalah ini, agar kita mengerti hakikat mengenal Allah dan
bisa memetik buahnya dalam wujud amal.
Mengenal Allah ada empat cara yaitu
mengenal wujud Allah, mengenal Rububiyah Allah, mengenal Uluhiyah Allah, dan
mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah.
Keempat cara ini telah disebutkan
Allah di dalam Al Qur’an dan di dalam As Sunnah baik global maupun terperinci.
Ibnul Qoyyim dalam kitab Al Fawaid
hal 29, mengatakan: “Allah mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam
Al Qur’an dengan dua cara yaitu pertama, melihat segala perbuatan Allah dan
yang kedua, melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah
seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan
pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi
orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran: 190)
Juga dalam firman-Nya yang lain:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang,
serta bahtera yang berjalan di lautan yang bermanfaat bagi manusia.” (QS. Al
Baqarah: 164)
Mengenal Wujud Allah.
Yaitu beriman bahwa Allah itu ada.
Dan adanya Allah telah diakui oleh fitrah, akal, panca indera manusia, dan ditetapkan
pula oleh syari’at.
Ketika seseorang melihat makhluk
ciptaan Allah yang berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal akan
menyimpulkan adanya semuanya itu tentu ada yang mengadakannya dan tidak mungkin
ada dengan sendirinya. Dan panca indera kita mengakui adanya Allah di mana kita
melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah dan meminta sesuatu, lalu Allah
mengabulkannya. Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh Allah di
dalam Al Qur’an: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu menurunkan keturunan anak-anak
Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman ): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu’ Mereka menjawab: ‘(Betul Engkau
Tuhan kami) kami mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian
pada hari kiamat tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bani Adam adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar kamu tidak
mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan
sejak dahulu sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang setelah
mereka.’.” (QS. Al A’raf: 172-173)
Ayat ini merupakan dalil yang sangat
jelas bahwa fitrah seseorang mengakui adanya Allah dan juga menunjukkan, bahwa
manusia dengan fitrahnya mengenal Rabbnya. Adapun bukti syari’at, kita
menyakini bahwa syari’at Allah yang dibawa para Rasul yang mengandung maslahat
bagi seluruh makhluk, menunjukkan bahwa syari’at itu datang dari sisi Dzat yang
Maha Bijaksana. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih
Al ‘Utsaimin hal 41-45)
Mengenal Rububiyah Allah
Rububiyah Allah adalah mengesakan
Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan- Nya, dan
pengaturan-Nya. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih
Al ‘Utsaimin hal 14)
Maknanya, menyakini bahwa Allah
adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki,
mendatangkan segala mamfaat dan menolak segala mudharat. Dzat yang mengawasi,
mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang
menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah.
Dari sini, seorang mukmin harus
meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini. Allah
mengatakan: “’Katakanlah!’ Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.
Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash: 1-4)
Maka ketika seseorang meyakini bahwa
selain Allah ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di atas,
berarti orang tersebut telah mendzalimi Allah dan menyekutukan-Nya dengan
selain-Nya.
Dalam masalah rububiyah Allah
sebagian orang kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka
meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allah semata. Mereka
tidak menyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu
melakukan hal yang demikian itu. Lalu apa tujuan mereka menyembah Tuhan yang
banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui jikalau ‘tuhan-tuhan’ mereka itu
tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka inginkan dari sesembahan itu?
Allah telah menceritakan di dalam Al
Qur’an bahwa mereka memiliki dua tujuan. Pertama, mendekatkan diri mereka
kepada Allah dengan sedekat-dekatnya sebagaimana firman Allah:
“Dan orang-orang yang menjadikan
selain Allah sebagai penolong (mereka mengatakan): ‘Kami tidak menyembah mereka
melainkan agar mereka mendekatkan kami di sisi Allah dengan sedekat-dekatnya’.”
(Az Zumar: 3 )
Kedua, agar mereka memberikan
syafa’at (pembelaan ) di sisi Allah. Allah berfirman:
“Dan mereka menyembah selain Allah
dari apa-apa yang tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat bagi mereka dan
mereka berkata: ‘Mereka (sesembahan itu) adalah yang memberi syafa’at kami di
sisi Allah’.” (QS. Yunus: 18, Lihat kitab Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahab)
Keyakinan sebagian orang kafir
terhadap tauhid rububiyah Allah telah dijelaskan Allah dalam beberapa
firman-Nya:
“Kalau kamu bertanya kepada mereka
siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab Allah.” (QS. Az Zukhruf:
87)
“Dan kalau kamu bertanya kepada
mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menundukkan matahari
dan bulan? Mereka akan mengatakan Allah.” (QS. Al Ankabut: 61)
“Dan kalau kamu bertanya kepada
mereka siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi setelah
matinya? Mereka akan menjawab Allah.” (QS. Al Ankabut: 63)
Demikianlah Allah menjelaskan
tentang keyakinan mereka terhadap tauhid Rububiyah Allah. Keyakinan mereka yang
demikian itu tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam dan menyebabkan
halalnya darah dan harta mereka sehingga Rasulullah mengumumkan peperangan
melawan mereka.
Makanya, jika kita melihat kenyataan
yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari betapa besar kerusakan
akidah yang melanda saudara-saudara kita. Banyak yang masih menyakini bahwa
selain Allah, ada yang mampu menolak mudharat dan mendatangkan mamfa’at,
meluluskan dalam ujian, memberikan keberhasilan dalam usaha, dan menyembuhkan
penyakit. Sehingga, mereka harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan
orang-orang shalih, atau kuburan para wali, atau di tempat-tempat keramat.
Mereka harus pula mendatangi para
dukun, tukang ramal, dan tukang tenung atau dengan istilah sekarang paranormal.
Semua perbuatan dan keyakinan ini, merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk
kesyirikan kepada Allah.
Ringkasnya, tidak ada yang bisa
memberi rizki, menyembuhkan segala macam penyakit, menolak segala macam
marabahaya, memberikan segala macam manfaat, membahagiakan, menyengsarakan,
menjadikan seseorang miskin dan kaya, yang menghidupkan, yang mematikan, yang
meluluskan seseorang dari segala macam ujian, yang menaikkan dan menurunkan
pangkat dan jabatan seseorang, kecuali Allah. Semuanya ini menuntut kita agar
hanya meminta kepada Allah semata dan tidak kepada selain-Nya.
Mengenal Uluhiyah Allah
Uluhiyah Allah adalah mengesakan
segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut,
berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah
yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Memperuntukkan satu jenis ibadah
kepada selain Allah termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang
sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah.
Allah berfirman di dalam Al Qur’an:
“Hanya kepada-Mu ya Allah kami
menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (QS. Al Fatihah: 5)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam telah membimbing Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dengan sabda beliau:
“Dan apabila kamu minta maka
mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada
Allah.” (HR. Tirmidzi)
Allah berfirman:
“Dan sembahlah Allah dan jangan
kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS. An Nisa: 36)
Allah berfirman:
“Hai sekalian manusia sembahlah Rabb
kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar
kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 21)
Dengan ayat-ayat dan hadits di atas,
Allah dan Rasul-Nya telah jelas mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang
untuk memberikan peribadatan sedikitpun kepada selain Allah karena semuanya itu
hanyalah milik Allah semata.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda: “Allah berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan
adzabnya. ‘Kalau seandainya kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya
dan sepertinya lagi, apakah kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ya. Allah
berfirman: ‘Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih rendah dari ini dan
ketika kamu berada di tulang rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus
menyekutukan-Ku.” ( HR. Muslim dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu )
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda: “Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Saya tidak butuh
kepada sekutu-sekutu, maka barang siapa yang melakukan satu amalan dan dia
menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya.”
(HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu )
Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah
Allah di antaranya ketika seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa
terlepas dari musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang
wali, atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya.
Ia meminta di tempat itu agar penghuni tempat tersebut atau sang dukun, bisa
melepaskannya dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika
tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun mempersembahkan sesembelihan bahkan
bernadzar, berjanji akan beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari
musibah seperti keluar dari lilitan hutang.
Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kesyirikan
adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan
berburuk sangka terhadap Allah.”
Mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat
Allah
Maksudnya, kita beriman bahwa Allah
memiliki nama-nama yang Dia telah menamakan diri-Nya dan yang telah dinamakan
oleh Rasul-Nya. Dan beriman bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang
telah Dia sifati diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya. Allah
memiliki nama- nama yang mulia dan sifat yang tinggi berdasarkan firman Allah:
“Dan Allah memiliki nama-nama yang
baik.” (Qs. Al A’raf: 186)
“Dan Allah memiliki permisalan yang
tinggi.” (QS. An Nahl: 60)
Dalam hal ini, kita harus beriman
kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang dimaukan Allah
dan Rasul-Nya dan tidak menyelewengkannya sedikitpun. Imam Syafi’i meletakkan
kaidah dasar ketika berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagai
berikut: “Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah dan
sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah. Aku beriman kepada Rasulullah dan
apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh
Rasulullah” (Lihat Kitab Syarah Lum’atul I’tiqad Syaikh Muhammad bin Shalih Al
Utsaimin hal 36)
Ketika berbicara tentang sifat-sifat
dan nama-nama Allah yang menyimpang dari yang dimaukan oleh Allah dan
Rasul-Nya, maka kita telah berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu. Tentu yang
demikian itu diharamkan dan dibenci dalam agama. Allah berfirman:
“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya
mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi,
dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tampa alasan yang benar,
(mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan
hujjah (keterangan) untuk itu dan (mengharamkan) kalian berbicara tentang Allah
tampa dasar ilmu.” (QS. Al A’raf: 33)
“Dan janganlah kamu mengatakan apa
yang kamu tidak memiliki ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan,
dan hati semuanya akan diminta pertanggungan jawaban.” (QS. Al Isra: 36)
Wallahu ‘alam
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..