Jumat, 05 Mei 2011
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Istilah “penampakan” kian akrab di
telinga masyarakat kita akhir-akhir ini. Bagaimana pandangan syariat menyoroti
hal ini? Bagaimana pula dengan keyakinan bahwa sebagian manusia bisa mengetahui
hal-hal ghaib? Simak bahasan berikut!
Mempercayai hal-hal yang ghaib
merupakan salah satu syarat dari benarnya keimanan. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:
الم.
ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ. الَّذِيْنَ
يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ
يُنْفِقُوْنَ. وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ
مِنْ قَبْلِكَ وَبِاْلآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ. أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ
رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur`an)
ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu)
mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan
sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman
kepada Kitab (Al-Qur`an) yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah
diturunkan sebelummu. Serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb mereka, dan merekalah
orang-orang yang beruntung.” (Al-Baqarah: 1-5)
Ghaib adalah segala sesuatu yang
tersembunyi dan tidak terlihat oleh manusia, seperti surga, neraka dan apa yang
ada di dalamnya, alam malaikat, hari akhir, alam langit dan yang lainnya yang
tidak bisa diketahui manusia kecuali bila ada pemberitaan dari Allah Subhanahu
wa Ta'ala. (Lihat Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 1/53)
Alam jin dan wujud jin dalam bentuk
asli seperti yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala ciptakan adalah ghaib bagi
kita. Namun golongan jin dapat berubah-ubah bentuk –dengan kekuasaan Allah
Subhanahu wa Ta'ala– dan amat mungkin bagi mereka melakukan penampakan,
sehingga kita dapat melihatnya dalam wujud yang bukan aslinya. Allah Subhanahu
wa Ta'ala berfirman:
إِنَّهُ
يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ
“Sesungguhnya ia (setan) dan
pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa
melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)
Dari Abu As-Sa`ib, maula Hisyam bin
Zuhrah, beliau bercerita bahwa dirinya pernah berkunjung ke rumah Abu Sa’id
Al-Khudri radhiallahu 'anhu, katanya: “Aku mendapatinya tengah mengerjakan
shalat, akupun duduk menunggunya hingga beliau selesai. Tiba-tiba aku mendengar
adanya gerakan pada bejana tempat minum yang ada di pojok rumah. Aku menoleh ke
arahnya dan ternyata ada seekor ular. Aku segera meloncat untuk membunuhnya,
namun Abu Sa’id memberi isyarat kepadaku agar aku duduk. Ketika ia selesai dari
shalatnya, ia menunjuk ke sebuah rumah yang ada di kampung itu sambil berkata:
‘Apakah engkau lihat rumah itu?’ ‘Ya,’ jawabku. Ia kemudian menuturkan, ‘Dahulu
yang tinggal di rumah itu adalah seorang pemuda yang baru saja menjadi
pengantin. Kala itu kami berangkat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam ke Khandaq dan pemuda itupun ikut bersama kami. Saat tengah hari, pemuda
itu meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk pulang
menemui istrinya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengizinkannya
sambil berpesan: ‘Bawalah senjatamu karena aku khawatir engkau bertemu dengan
orang-orang dari Bani Quraidhah.’ Pemuda itu mengambil senjatanya, kemudian
pulang menemui istrinya. Setibanya di rumah, ternyata istrinya sedang berdiri
di antara dua daun pintu. Ia mengarahkan tombaknya kepada istrinya untuk melukainya
karena merasa cemburu karena istrinya berada di luar rumah. Istrinya berkata
kepadanya: “Tahan dulu tombakmu, dan masuklah ke dalam rumah sehingga engkau
akan tahu apa yang menyebabkan aku sampai keluar rumah!”
Pemuda itu masuk, dan ternyata terdapat
seekor ular besar yang melingkar di atas tempat tidur. Pemuda itu lantas
menghunuskan tombaknya dan menusukkannya pada ular tersebut. Setelah itu, ia
keluar dan menancapkan tombaknya di dinding rumah. Ular itu (yang belum mati,
red.) menyerangnya dan terjadilah pergumulan dengan ular tersebut. Tidak
diketahui secara pasti mana di antara keduanya yang lebih dahulu mati, ular
atau pemuda itu.’
Abu Sa’id radhiallahu 'anhu
melanjutkan ceritanya: ‘Kami menghadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
dan melaporkan kejadian itu kepadanya dan kami sampaikan kepada beliau:
‘Mohonlah kepada Allah agar menghidupkannya demi kebahagiaan kami.’ Beliau
menjawab: ‘Mohonlah ampun untuk shahabat kalian itu!’
Selanjutnya beliau bersabda:
‘Sesungguhnya di Madinah terdapat golongan jin yang telah masuk Islam, maka
jika kalian melihat sebagian mereka –dalam wujud ular– berilah peringatan tiga
hari. Dan apabila masih terlihat olehmu setelah itu, bunuhlah ia, karena
sebenarnya dia adalah setan.” (HR. Muslim no. 2236 dan 139 dari Abu Sa`ib,
maula Hisyam bin Zuhrah)1
Para Rasul Tidak Mengetahui yang
Ghaib
Telah disebutkan sebelumnya bahwa
sekumpulan jin datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian
mendengarkan bacaan Al-Qur`an. Ketika itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
tidak mengetahui kehadiran mereka kecuali setelah sebuah pohon memberitahunya
–dan Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Kuasa untuk menjadikan pohon dapat
berbicara– seperti yang disebutkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari
shahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu 'anhu. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak
mengetahui perkara ghaib kecuali yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala kabarkan.
(Nashihati li Ahlis Sunnah Minal Jin)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ لاَ
أَقُوْلُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللهِ وَلاَ أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلاَ أَقُوْلُ
لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوْحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ
يَسْتَوِي اْلأَعْمَى وَالْبَصِيْرُ أَفَلاَ تَتَفَكَّرُوْنَ
“Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan
kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui
yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat.
Aku tidak mengetahui kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’ Katakanlah: ‘Apakah
sama orang yang buta dengan orang yang melihat?’ Maka apakah kamu tidak
memikirkannya?” (Al-An’am: 50)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga
berfirman:
قُلْ لاَ
أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنْتُ
أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إِنْ
أَنَا إِلاَّ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ
“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa
menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali
yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku
berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan.
Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi
orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)
Para Malaikat Tidak Mengetahui yang
Ghaib
Kendatipun para malaikat adalah
mahluk yang dekat di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, namun untuk urusan ghaib
ternyata mereka pun tidak mengetahuinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman
saat pertama kali hendak menciptakan manusia:
وَإِذْ
قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي اْلأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوا
أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ
نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ
تَعْلَمُوْنَ. وَعَلَّمَ آدَمَ اْلأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ
فَقَالَ أَنْبِئُوْنِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ. قَالُوا
سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيْمُ
الْحَكِيْمُ
“Dan ingatlah ketika Rabbmu
berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang
khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu
tidak ketahui.’ Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda)
seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:
‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda- benda itu jika kamu memang orang-orang yang
benar!’ Mereka menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain
dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’.” (Al-Baqarah: 30-32)
Kaum Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib
Banyak sekali orang yang tertipu dan
keliru kemudian mengira jika bangsa jin mengetahui yang ghaib, terutama bagi
mereka yang terjun dalam kancah sihir dan perdukunan. Akibatnya, kepercayaan
dan ketergantungan mereka terhadap jin sangatlah besar sehingga menggiring
mereka kepada kekufuran.
Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala
dengan tegas telah mementahkan anggapan ini dalam firman-Nya:
فَلَمَّا
قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلاَّ دَابَّةُ اْلأَرْضِ
تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا
يَعْلَمُوْنَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِيْنِ
“Maka tatkala Kami telah menetapkan
kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu
kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia tersungkur, tahulah jin
itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak
tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Saba`: 14)
Manusia Tidak Dapat Mengetahui Alam
Ghaib
Jika para rasul yang merupakan
utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam menyampaikan syariat-Nya kepada manusia
tidak mengetahui hal yang ghaib sedikitpun, maka sudah tentu manusia secara
umum tidak ada yang dapat mengetahui alam ghaib atau menjangkau batasan-
batasannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya memerintahkan agar mengimani
perkara yang ghaib dengan keimanan yang benar.
Keyakinan seperti ini agaknya sudah
mulai membias. Apalagi saat ini banyak sekali orang yang menampilkan dirinya
sebagai narasumber untuk urusan-urusan yang ghaib, mampu menjawab
pertanyaan-pertanyaan terkait dengan masa depan seseorang, dari mulai jodoh,
karir, bisnis, atau yang lainnya.
Kata ‘dukun’ barangkali sekarang ini
jarang didengar dan bahkan serta merta mereka akan menolak bila dikatakan
dukun. Dalihnya, apalagi kalau bukan seputar “Kami tidak meminta syarat-syarat
apapun kepada anda”, “Kami tidak menyuruh memotong ayam putih”, dan sebagainya.
Padahal praktek seperti itu adalah praktek dukun juga. Bedanya, dukun sekarang
ini berpendidikan sehingga bahasa yang digunakannya pun bahasa-bahasa ilmiah,
sehingga mereka jelas enggan disebut dukun.
Tak ada seorang pun yang dapat
melihat dan mengetahui perkara ghaib, menentukan ini dan itu terhadap sesuatu
yang belum dan akan terjadi di masa datang. Jika toh bisa, itu semata-mata
bantuan dan tipuan dari setan, sehingga dusta bila itu dihasilkan dari latihan
dan olah jiwa.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَقَدْ
صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوْهُ إِلاَّ فَرِيْقًا مِنَ
الْمُؤْمِنِيْنَ. وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلاَّ لِنَعْلَمَ
مَنْ يُؤْمِنُ بِاْلآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ حَفِيْظٌ
“Dan sesungguhnya Iblis telah dapat
membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya,
kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan Iblis
terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang
beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang hal
itu. Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (Saba`: 20-21)
Ada pula sebagian manusia yang
memiliki aqidah rusak, di mana mereka meyakini adanya sebagian orang yang
keberadaannya ghaib dari pandangan manusia, dan biasanya identik dengan orang-orang
yang dianggap telah suci jiwanya. Mereka mengistilahkannya dengan roh suci atau
rijalul ghaib.
Ketahuilah bahwa tidak ada istilah
manusia ghaib. Tidak ada pula istilah rijalul ghaib di tengah- tengah manusia.
Rijalul ghaib itu tiada lain adalah jin. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَأَنَّهُ
كَانَ رِجَالٌ مِنَ اْلإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ
رَهَقًا
“Dan bahwasanya ada beberapa orang
laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di
antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Al-
Jin: 6) (Lihat Qa’idah ‘Azhimah, hal. 152)
Alam ghaib tetaplah ghaib, sesuatu
yang tidak bisa diketahui dan dilihat manusia kecuali apa yang telah Allah
Subhanahu wa Ta'ala beritakan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
عَالِمُ
الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِنْ
رَسُوْلٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا
“(Dia adalah) Yang Mengetahui yang
ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.
Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan
penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Al-Jin: 26-27)
Kunci-kunci Ghaib adalah Milik Allah
Subhanahu wa Ta'ala Semata
Sesungguhnya tak ada seorangpun yang
mengetahui perkara ghaib dan hal-hal yang berhubungan dengannya, kecuali Allah
Subhanahu wa Ta'ala. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah banyak menegaskan hal
ini dalam Al-Qur`an. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ لاَ
يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ وَمَا
يَشْعُرُوْنَ أَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ
“Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun
di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan
mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّ
اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي
اْلأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ
بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Sesungguhnya Allah, hanya pada
sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat, dan Dialah yang menurunkan
hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat
mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada
seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga
berfirman:
ذَلِكَ
عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ
“Yang demikian itu ialah Rabb Yang
mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.”
(As-Sajdah: 6)
Dalam ayat lainnya:
قَالَ
أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَأَعْلَمُ
مَا تُبْدُوْنَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ
“Allah berfirman: ‘Bukankah sudah
Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi
dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?’.”
(Al-Baqarah: 33)
Banyak sekali dalil-dalil yang
berhubungan dengan masalah ini. Namun mungkin yang disebutkan di sini, sudah
dapat mewakili bahwa Allah-lah yang mengetahui hal ihwal alam ghaib. Sedangkan
manusia, tak ada yang bisa mengetahui dan melihatnya kecuali apa-apa yang telah
Allah Subhanahu wa Ta'ala kuasakan.
Mudah-mudahan semua uraian-uraian di
atas bermanfaat bagi kita semua. Amin yaa Mujiibas sa`iliin.
Wal ’ilmu ‘indallah.
1 Terjadi perbedaan pendapat dalam
hal membunuh ular yang berada di rumah. Sebagian ulama berpendapat bahwa
pemberian peringatan terlebih dahulu itu hanya berlaku di Madinah, adapun di
tempat selainnya bisa langsung dibunuh. Ini adalah pendapat Al-Imam Malik, dan
yang dikuatkan oleh Al-Maziri. Sebagian yang lain berpendapat bahwa pemberian
peringatan terlebih dahulu bersifat umum, bukan hanya di Madinah. Kecuali ular
Al-Abtar yakni yang berekor pendek dan Dzu Thufyatain, yang mempunyai dua garis
lurus berwarna putih di punggungnya, boleh langsung dibunuh walaupun di rumah.
(ed)
Sumber : http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=351
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..