* Buletin PRISMA *
Penulis: Bintu Humron
"Ketahuilah, bahwasannya tidak
dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia harus
mampu memilih kriteria-kriteria orang yang dijadikannya teman, baik dari segi
sifat-sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa menimbulkan gairah
berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan
tersebut itu. Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia, seperti karena
harta, kedudukan atau sekedar senang melihat- lihat dan bisa ngobrol saja,
tetapi itu bukan tujuan kita.
"Apabila engkau berada di
tengah-tengah suatu kaum maka pililhlah orang-orang yang balk sebagai sahabat,
dan janganlah engkau bersahabat dengan orang-orang jahat sehingga engkau akan
binasa bersamanya"
Wanita adalah bagian dari kehidupan
manusia, sehingga dia tak akan pernah lepas dari pola interaksi dengan sesama.
Terlebih dominasi perasaan yang melekat pada dirinya, membuat dia butuh teman
tempat mengadu, tempat bertukar pikiran dan bermusyawarah. Berbagai problem
hidup yang dialami menjadikan dia berfikir bahwa, meminta pendapat, saran dan
nasehat teman adalah suatu hal yang perlu. Maka teman sangat vital bagi
kehidupannya, siapa sih yang tidak butuh teman dalam hidup ini..?.
Namun wanita muslimah adalah wanita
yang dipupuk dengan keimanan dan dididik dengan pola interaksi Islami. Maka
pandangan Islam dalam memilih teman adalah barometernya, karena dirinya sadar,
teman yang baik (shalihah) memiliki pengaruh besar dalam menjaga keistiqomahan
agamanya. Selain itu teman shalihah adalah sebenar-benar teman yang akan
membawa mashlahat dan manfaat. Maka dalam pergaulannya dia akan memilih teman
yang baik dan shalihah, yang benar-benar memberikan kecintaan yang tulus,
selalu memberi nasihat, tidak curang dan menunjukan kebaikan. Karena bergaul
dengan wanita-wanita shalihah dan menjadikannya sebagai teman selalu
mendatangkan manfaat dan pahala yang besar, juga akan membuka hati untuk
menerima kebenaran. maka kebanyakan teman akan jadi teladan bagi temannya yang
lain dalam akhlak dan tingkah lake. Seperti ungkapan "Janganlah kau
tanyakan seseorang pada orangnya, tapi tanyakan pada temannya. karena setiap
orang mengikuti temannya".
Bertolak dari sinilah maka wanita
muslimah senantiasa dituntut untuk dapat memilih teman, juga lingkungan
pergaulan yang tak akan menambah dirinya melainkan ketakwaan dan keluhuran
jiwa. Sesungguhnya Rasulullah juga telah menganjurkan untuk memilih teman yang
baik (shalihah) dan berhati-hati dari teman yang jelek.
Hal ini telah dimisalkan oleh
Rasulullah melalui ungkapannya:
"Sesungguhnya perumpamaan teman
yang baik (shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi
dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan
minyak wanginya itu atau engkau menibeli darinya atau engkau hanya akan mencium
aroma harmznya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar
bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap".
(Riwayat Bukhari, kitab Buyuu',
Fathul Bari 4/323 dan Muslim kitab Albir 4/2026)1
Dari petunjuk agamanya, wanita
muslimah akan mengetahui bahwa teman itu ada dua macam. Pertama, teman yang
shalihah, dia laksana pembawa minyak wangi yang menyebarkan aroma harum dan
wewangian. Kedua teman yang jelek laksana peniup api pandai besi, orang yang
disisinya akan terkena asap, percikan api atau sesak nafas, karena bau yang tak
enak.
Maka alangkah bagusnya nasehat Bakr
bin Abdullah Abu Zaid, ketika baliau berkata," Hati- ¬hatilah dari teman
yang jelek ...!, karena sesungguhnya tabiat itu suka meniru, dan manusia
seperti serombongan burung yang mereka diberi naluri untuk meniru dengan yang
lainnya. Maka hati-hatilah bergaul dengan orang yang seperti itu, karena dia
akan celaka, hati- hatilah karena usaha preventif lebih mudah dari pada
mengobati ".
Maka pandai-pandailah dalam memilih
teman, carilah orang yang bisa membantumu untuk mencapai apa yang engkau cari .
Dan bisa mendekatkan diri pada Rabbmu, bisa memberikan saran dan petunjuk untuk
mencapai tujuan muliamu.
Maka perhatikanlah dengan detail
teman-¬temanmu itu, karena teman ada bermacam-macam
• ada teman yang bisa memberikan
manfaat
• ada teman yang bisa memberikan
kesenangan (kelezatan)
• dan ada yang bisa memberikan
keutamaan.
Adapun dua jenis yang pertama itu
rapuh dan mudah terputus karena terputus sebab-sebabnya. Adapun jenis ketiga,
maka itulah yang dimaksud persahabatan sejati. Adanya interaksi timbal balik
karena kokohnya keutamaan masing-masing keduanya. Namun jenis ini pula yang
sulit dicari. (Hilyah Tholabul 'ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaid halarnan 47-48)
Memang tidak akan pernah lepas dari
benak hati wanita muslimah yang benar-benar sadar pada saat memilih teman, bahwa
manusia itu seperti barang tambang, ada kualitasnya bagus dan ada yang jelek.
Demikian halnya manusia, seperti dijelaskan Rasulullah Shalallahu’alaihi
Wassallam :
" Manusia itu adalah barang
tambang seperti emas dan perak, yang paling baik diantara mereka pada zaman
jahiliyyah adalah yang paling baik pada zaman Islam jika mereka mengerti. Dan
ruh- ruh itu seperti pasukan tentara yang dikerahkan, yang saling kenal akan
akrab dan yang tidak dikenal akan dijauhi " (Riwayat Muslim)
Wanita muslimah yang jujur hanya
akan sejalan dengan wanita-wanita shalihah, bertakwa dan berakhlak mulia,
sehingga tidak dengan setiap orang dan sembarang orang dia berteman, tetapi dia
memilih dan melihat siapa temannya. Walaupun memang, jika kita mencari atau
memilih teman yang benar-benar bersih sama sekali dari aib, tentu kita tidak
akan mendapatkannya. Namun, seandainya kebaikannya itu lebih banyak daripada
sifat jeleknya, itu sudah mencukupi.
Maka Syaikh Ahmad bin 'Abdurrahman
bin Qudamah al-Maqdisi atau terkenal dengan nama Ibnu Qudamah AlMaqdisi
memberikan nasehatnya juga dalam memilih teman: "Ketahuilah, bahwasannya
tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia
harus mampu memilih kriteria¬-kriteria orang yang dijadikannya teman, baik dari
segi sifat- sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa menimbulkan
gairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari
persahabatan tersebut itu. Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia,
seperti karena harta, kedudukan atau sekedar senang melihat-lihat dan bisa
ngobrol saja, tetapi itu bukan tujuan kita.
Ada pula orang yang berteman karena
kepentingan Dien (agama), dalarn hal inipun ada yang karena ingin mengambil
faidah dari ilmu dan amalnya, karena kemuliaannya atau karena mengharap
pertolongan dalam berbagai kepentingannya. Tapi, kesimpulan dari semua itu
orang yang diharapkan jadi teman hendaklah memenuhi lima kriteria berikut; Dia
cerdas (berakal), berakhlak baik, tidak fasiq, bukan ahli bid'ah dan tidak
rakus dunia. Mengapa harus demikian ?, karena kecerdasan adalah sebagai modal
utama, tak ada kabaikan jika berteman dengan orang dungu, karena terkadang ia
ingin menolongmu tapi malah mencelakakanmu. Adapun orang yang berakhlak baik,
itu harus. Karena terkadang orang yang cerdaspun kalau sedang marah atau
dikuasai emosi, dia akan menuruti hawa nafsunya. Maka tak baik pula berteman
dengan orang cerdas tetapi tidak berahlak. Sedangkan orang fasiq, dia tidak
punya rasa takut kepada Allah. Dan barang siapa tidak takut pada Allah, maka
kamu tidak akan aman dari tipu daya dan kedengkiannya, Dia juga tidak dapat
dipercaya. Kalau ahli bid'ah jika kita bergaul dengannya dikhawatirkan kita
akan terpengaruh dengan jeleknya kebid'ahannya itu. (Mukhtasor Minhajul
Qasidin, Ibnu Qudamah hal 99).
Maka wanita muslimah yang
benar-benar sadar dan mendapat pancaran sinar agama, tidak akan merasa terhina
akibat bergaul dengan wanita-wanita shalihah meskipun secara lahiriyah, status
sosial clan tingkat materinya tidak setingkat. Yang menjadi patokan adalah
substansi kepribadiannya dan bukan penampilan dan kekayaan atau lainnya.
"Pergaulan anda dengan orang mulia menjadikan anda termasuk golongan
mereka, karenanya janganlah engkau mau bersahabat dengan selain mereka".
Oleh karena itu datang petunjuk Al
Qur'an yang menyerukan hal itu :
"Dan bersabarlah kamu bersama
dengan orang¬-orang yang menyeru Rabbnya dipagi dan disenja hari dengan
mengharap keridhoan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka
karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti
orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa
nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas"
(Al-Kahfi:28)
Footnote:
1.Al Bid'ah, Dr. Ali bin M. Nashir
Maraji :
• Hilyah tolabul 'ilmi, Bakr
Abdullah Abu Zaed
• Mukhtasor Minhajul Qasidin, Ibnu
Qudamah
• Bid'ah dhowabituha wa atsaruhas
Sayyisil Ummah,
Dr. Ali Muhammad Nashir AlFaqih
• Sahsiyah Mar'ah, Dr M.Ali Al
Hasyimi
Dikutip dari Buletin Dakwah
Al-Atsari, Cileungsi Edisi X Sha’ban 1419
Bundel by PRISMA --- Juni ‘12
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..