Ahad, 20 Agustus 2011
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Ibarat sebuah pintu, surga
menbutuhkan sebuah kunci untuk membuka pintu-pintunya. Namun, tahukah Anda apa
kunci surga itu ? Bagi yang merindukan surga, tentu akan berusaha mencari
kuncinya walaupun harus mengorbankan nyawa.
Tetapi anda tak perlu gelisah, Nabi
Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan pada umatnya apa kunci
surga itu, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits yang mulia, beliau bersabda
(yang artinya): “Barang siapa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh dengan
penuh keikhlasan, maka dia akan masuk surga. “
(HR. Imam Ahmad dengan sanad yang
shohih).
Ternyata, kunci surga itu adalah Laa
ilaahaa illalloh, kalimat Tauhid yang begitu sering kita ucapkan. Namun semudah
itukah pintu surga kita buka ? Bukankah banyak orang yang siang malam
mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh, tetapi mereka masih meminta-minta
(berdo’a dan beribadah) kepada selain Allah, percaya kepada dukun-dukun dan
melakukan perbuatan syirik lainnya ? Akankah mereka ini juga bisa membuka pintu
surga ? Tidak mungkin !
Dan ketahuilah, yang namanya kunci
pasti bergerigi. Begitu pula kunci surga yang berupa Laa ilaaha illalloh itu,
ia pun memiliki gerigi. Jadi, pintu surga itu hanya bisa dibuka oleh orang yang
memiliki kunci yang bergerigi.
Al-Iman Al-Bukhori meriwayatkan
dalam Shohih-nya (3/109), bahwa seseorang pernah bertanya kepada Al-Imam Wahab
bin Munabbih (seorang Tabi’in terpercaya dari Shon’a yang hidup pada tahun
34-110 H) : “Bukankah Laa ilaaha illalloh itu kunci surga ? “Wahab menjawab :
“Benar, akan tetapi setiap kunci yang bergerigi. Jika engkau membawa kunci yang
bergerigi, maka pintu surga itu akan di bukakan untukmu !”.
Lalu, apa gerangan gerigi kunci itu
Laa ilaaha illalloh itu ? Ketahuilah, gerigi kunci Laa ilaaha illalloh itu
adalah syarat-syarat Laa ilaaha illalloh ! Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin
Qoshim Al-Hambali An-Najdi rahimahullah, penyusun kitab Hasyiyyah Tsalatsatil
Ushul, pada halaman 52 kitab tersebut menyatakan, syarat-syarat Laa ilaaha
illalloh itu ada delapan, yaitu :
Pertama : Al-‘Ilmu (mengetahui),
maksudnya adalah Anda harus mengetahui arti (makna) Laa ilaaha illalloh secara
benar. Adapun artinya adalah : “Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali
Allah”. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
“Barang siapa mati dalam keadaan
mengetahui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, niscaya
dia akan masuk surga.”
(HR. Muslim).
Seandainya Anda mengucapkan kalimat
tersebut, tetapi anda tidak mengerti maknanya, maka ucapan atau persaksian
tersebut tidak sah dan tidak ada faedahnya.
Kedua : Al-Yaqiinu (meyakini),
maksudnya adalah anda harus menyakini secara pasti kebenaran kalimat Laa ilaaha
illalloh tanpa ragu dan tanpa bimbang sedikitpun. Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan
yang berhak di sembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidaklah
seorang hamba bertemu dengan Allah sambil membawa dua kalimat syhadat tersebut
tanpa ragu kecuali pasti dia akan masuk surga.
(HR. Muslim).
Ketiga : Al-Qobulu (manerima),
maksudnya Anda harus menerima segala tuntunan Laa ilaaha illalloh dengan senang
hati, lisan dan perbuatan, tanpa menolak sedikitpun. Anda tidak boleh seperti
orang-orang musyirik yang di gambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an (yang
artinya):
“Orang-orang yang musyrik itu
apabila di katakan kepada mereka : (ucapkanlah) Laa ilaaha illalloh, mereka
menyombongkan diri seraya berkata : Apakah kita harus meninggalkan
sesembahan-sesembahan kita hanya karena ucapan penyair yang gila ini ? “
(QS. As-Shoffat : 35-36).
Keempat : Al-Inqiyaadu (tunduk atau
patuh), maksudnya Anda harus tunduk dan patuh melaksanakan tuntunan Laa ilaaha
illalloh dalam amal-amal nyata. Allah subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):
“Kembalilah ke jalan Tuhanmua, dan
tunduklah kepada-Nya. “
(QS. Az-Zumar : 54).
Allah Ta’ala juga berfirman (yang
artinya):
“Dan barang siapa yang menyerahkan
dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya
ia telah berpegang pada buhul (ikatan) tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa
ilaaha illalloh). “(QS. Luqman : 22).
Makna “menyerahkan dirinya kepada
Allah” yaitu tunduk, patuh dan pasrah kepada-Nya (ed.).
Kelima : Ash-Shidqu (jujur atau
benar), maksudnya Anda harus jujur dalam melaksanakan tuntutan Laa ilaaha
illalloh, yakni sesuai antara keyakinan hati dan amal nyata, tanpa di sertai
kebohongan sedikitpun. Nabi Sholallahu ‘alahi wa sallam bersabda (yang artinya)
:
“Tidaklah seseorang itu bersaksi
bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan Muhammad itu
adalah hamba dan utusan-Nya, dia mengucapkannya dengan jujur dari lubuk
hatinya, melainkan pasti Allah mengharamkan neraka atasnya. “
(HR. Imam Bukhori dan Muslim).
Keenam : Al-Ikhlas (ikhlas atau
murni), maksudnya Anda harus membersihkan amalan Anda dari noda-noda riya’
(amalan ingin di lihat dan dipuji oleh orang lain), dan berbagai amalan
kesyirikan lainnya. Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya
Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh
semata-mata hanya untuk mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla. “(HR. Imam
Bukhori dan Muslim).
Ketujuh : Al-Mahabbah (mencintai),
maksudnya anda harus mencintai kalimat tauhid, tuntunannya, dan mencintai juga
kepada orang-orang yang bertauhid dengan sepenuh hati, serta membenci segala
perkara yang merusak tauhid itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang
artinya): “Dan di antara manusia ada yang menbuat tandingan-tandingan (sekutu)
selain Allah yang di cintai layaknya mencintai Allah. Sedangkan orang-orang
yang beriman, sangat mencintai Allah diatas segala-galanya). “
(QS. Al-Baqarah : 165). Dari sini
kita tahu, Ahlut Tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih.
Sedangkan Ahlus Syirik mencintai Allah dan mencintai tuhan-tuhan yang lainnya.
Hal ini tentu sangat bertentangan dengan isi kandungan Laa ilaaha
illalloh.(ed,).
Kedelapan : Al-Kufru bimaa siwaahu
(mengingkari sesembahan yang lainnya), maksudnya Anda harus mengingkari segala
sesembahan selain Allah, yakni tidak mempercayainya dan tidak menyembahnya, dan
juga Anda harus yakin bahwa seluruh sesembahan selain Allah itu batil dan tidak
pantas disembah-sembah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan (yang artinya):
“Maka barang siapa mengingkari thoghut (sesembahan selain Allah) dan hanya
beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh pada ikatan
tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illalloh), yang tidak akan
putus….”(QS. Al-Baqoroh : 256).
Saudaraku kaum muslimin dari sini
dapatlah anda ketahui, bahwa orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh
hanya dengan lisannya tanpa memenuhi syarat-syaratnya, dia bagaikan orang yang
memegang kunci tak bergerigi, sehingga mustahil baginya untuk membuka pintu
surga, walaupun dia mengucapkannya lebih dari sejuta banyaknya. Karena itu
perhatikanlah ! Wallahu a’lamu bish showwab !.
Dinukil dari bulletin Dakwah
Al-Bayyinah, edisi 07/02/20, diolah dan disusun kembali oleh Abu Abdirrahman.
(BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH,
Surabaya Edisi : 13 / Shafar / 1425)
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..