Rabu, 05 April 2011
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Kebanyakan manusia takut terjatuh ke
dalam kemiskinan. Mereka berusaha dengan berbagai cara untuk menghindarinya.
Mereka begitu sedih dan berduka cita ketika mengalami kekurangan harta. Bahkan
sampai-sampai di antara mereka ada yang menukar agamanya hanya untuk
mendapatkan sebagian harta benda duniawi. Seperti datang ke dukun, paranormal
dan yang sejenisnya untuk meminta jimat, jampi-jampi dan sejenisnya kepada
mereka. Atau memelihara/meminta bantuan makhluk halus (baca:jin) dalam rangka
mendapat kekayaan. Dengan ini mereka telah menjual aqidah dan agamanya dengan
kesenangan duniawi yang rendah dan sesaat. Nas`alullaahas salaamah wal
'aafiyah.
Benarkah kemiskinan yang perlu kita
takutkan? Benarkah kemiskinan yang dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam atas ummatnya?
عَنْ
عَمْرو بْنِ عَوْفٍ الأَنْصَارِيِّ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ بَعَثَ أَبَا عُبَيْدَةَ
بْنَ الْجَرَّاحِ إِلَى الْبَحْرَيْنِ يَأْتِي بِجِزْيَتِهَا، فَقَدِمَ بِمَالٍ
مِنَ الْبَحْرَيْنِ، فَسَمِعَتِ الأَنْصَارُ بِقُدُوْمِ أَبِي عُبَيْدَةَ،
فَوَافَوْا صَلاَةَ الْفَجْرِ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُوْلُ
اللهِ، اِنْصَرَفَ، فَتَعَرَّضُوْا لَهُ، فَتَبَسَّمَ رَسُوْلُ اللهِ حِيْنَ
رَآهُمْ، ثُمَّ قَالَ: ((أَظُنُّكُمْ سَمِعْتُمْ أَنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ قَدِمَ
بِشَيْءٍ مِنَ الْبَحْرَيْنِ)) فَقَالُوْا: أَجَل يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَقَالَ:
((أَبْشِرُوْا وَأَمِّلُوْا مَا يَسُرُّكُمْ، فَوَاللهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى
عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا
بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوْهَا كَمَا تَنَافَسُوْهَا،
فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ))
Dari 'Amr bin 'Auf Al-Anshariy
radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus
Abu 'Ubaidah Ibnul Jarrah radhiyallahu 'anhu ke negeri Bahrain untuk mengambil
upeti dari penduduknya (karena kebanyakan mereka adalah Majusi �pent). Lalu dia kembali dari Bahrain dengan membawa harta.
Maka orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu 'Ubaidah. Lalu mereka
bersegera menuju masjid untuk melaksanakan shalat shubuh bersama Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
selesai shalat beliau pun berpaling (menghadap ke arah mereka). Lalu mereka menampakkan
keinginannya terhadap apa yang dibawa Abu 'Ubaidah dalam keadaan mereka butuh
kepadanya. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun tersenyum ketika
melihat mereka.
Kemudian beliau shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda, "Aku menduga kalian telah mendengar bahwa Abu 'Ubaidah
telah datang dengan membawa sesuatu (harta) dari Bahrain." Maka mereka
menjawab, "Tentu Ya Rasulullah." Lalu beliau shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda, "Bergembiralah dan harapkanlah apa-apa yang akan
menyenangkan kalian. Maka demi Allah! Bukan kemiskinan yang aku khawatirkan
atas kalian. Akan tetapi aku khawatir akan dibentangkan dunia atas kalian
sebagaimana telah dibentangkan atas orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian pun
berlomba-lomba padanya sebagaimana mereka berlomba-lomba padanya. Kemudian
dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan
mereka." (HR. Al-Bukhariy no.3158 dan Muslim no.2961)
Jangan Takut dengan Kemiskinan!
Ketika Abu 'Ubaidah kembali dengan
membawa harta dari negeri Bahrain, terdengarlah hal ini oleh orang-orang
Anshar. Lalu mereka pun bersegera mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
untuk melaksanakan shalat shubuh. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam selesai shalat, mereka menampakkan keinginannya terhadap apa yang dibawa
Abu 'Ubaidah dalam keadaan mereka butuh kepadanya. Maka Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam pun tersenyum yakni tertawa tanpa mengeluarkan suara. Beliau
shallallahu 'alaihi wa sallam tersenyum karena mereka datang dalam keadaan mengharapkan
harta.
Lalu beliau shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda, "Aku menduga kalian telah mendengar bahwa Abu 'Ubaidah
telah datang dengan membawa sesuatu (harta) dari Bahrain." Maka mereka
menjawab, "Tentu Ya Rasulullah." Yakni kami telah mendengarnya dan
kami sengaja datang untuk mendapatkan bagian kami.
Kemudian beliau shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda, "Bergembiralah dan harapkanlah apa- apa yang akan
menyenangkan kalian. Maka demi Allah! Bukan kemiskinan yang aku khawatirkan
atas kalian."
Berarti kemiskinan bukanlah yang
dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam atas kita.
Bahkan kadang-kadang kemiskinan bisa
menjadi kebaikan bagi seseorang ketika dia bersabar dan tetap taat kepada Allah
? dalam kemiskinannya tersebut.
Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam, "Bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian." Yakni
aku tidak mengkhawatirkan kemiskinan atas kalian.
Karena sesungguhnya orang yang
miskin secara umum lebih dekat kepada kebenaran daripada orang yang kaya.
Perhatikanlah oleh kalian keadaan
para rasul! Siapakah yang mendustakan mereka? Yang mendustakan mereka adalah
para pembesar kaumnya, orang-orang yang paling jeleknya dan orang-orang kaya.
Dan sebaliknya, kebanyakan yang mengikuti mereka adalah orang-orang miskin. Sampai
pun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kebanyakan yang mengikuti beliau adalah
orang-orang miskin.
Maka kemiskinan bukanlah sesuatu
yang perlu dikhawatirkan. Jangan sampai kita takut miskin atau tidak bisa
makan. Jangan sampai selalu terbetik dalam hati kita, "Besok kita makan
apa?" Jangan khawatir! Yang penting kita berusaha mencari rizki dengan
cara yang halal, berdo'a dan bertawakkal kepada Allah. Karena sesungguhnya
Allah telah menjamin rizki seluruh makhluk- Nya.
وَمَا مِنْ
دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا
"Dan tidak ada suatu yang
melata pun (yakni manusia dan hewan) di muka bumi melainkan Allah- lah yang
memberi rizkinya." (Huud:6)
Bahkan sesuatu yang harus kita
khawatirkan adalah ketika dibentangkan dunia kepada kita. Yakni ketika kita
diuji dengan banyaknya harta benda. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam, "Akan tetapi aku khawatir akan dibentangkan dunia atas kalian
sebagaimana telah dibentangkan atas orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian pun
berlomba-lomba padanya sebagaimana mereka berlomba-lomba padanya. Kemudian
dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan
mereka."
Menghancurkan kalian artinya
menghilangkan agama kalian yakni dikarenakan dunia, kalian menjadi lalai dan
meninggalkan ketaatan kepada Allah.
Bahayanya Dunia bagi Seorang Muslim
Dunia sangat berbahaya bagi seorang
muslim. Inilah kenyataannya. Lihatlah keadaan orang- orang di sekitar kita.
Ketika mereka lebih dekat kepada kemiskinan (yakni dalam keadaan miskin),
mereka lebih bertakwa kepada Allah dan lebih khusyu'. Rajin shalat berjama'ah
di masjid, menghadiri majelis 'ilmu dan lain-lain. Namun, ketika banyak
hartanya, mereka semakin lalai dan semakin berpaling dari jalan Allah. Dan
muncullah sikap melampaui batas dari mereka.
Akhirnya, sekarang manusia menjadi
orang-orang yang selalu merindukan keindahan dunia dan perhiasannya: mobil,
rumah, tempat tidur, pakaian dan lain-lainnya. Dengan ini semuanya, mereka
saling membanggakan diri antara satu dengan lainnya. Dan mereka berpaling dari
amalan-amalan yang akan memberikan manfaat kepadanya di akhirat.
Jadilah majalah-majalah, koran-koran
dan media lainnya tidaklah membicarakan kecuali tentang kemegahan dunia dan
apa-apa yang berkaitan dengannya. Dan mereka berpaling dari akhirat, sehingga
rusaklah manusia kecuali orang-orang yang Allah kehendaki.
Maka kesimpulannya, bahwasanya dunia
ketika dibukakan �kita memohon kepada Allah agar menyelamatkan kami dan kalian
dari kejelekannya- maka dunia itu akan membawa kejelekan dan akan menjadikan
manusia melampaui batas.
كَلاَّ
إِنَّ الإِنْسَانَ لَيَطْغَى. أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى
"Ketahuilah! Sesungguhnya
manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba
cukup." (Al-'Alaq:6-7)
Dan sungguh Fir'aun telah berkata
kepada kaumnya,
يَاقَوْمِ
أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي أَفَلاَ
تُبْصِرُونَ
"Hai kaumku, bukankah kerajaan
Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku;
maka apakah kalian tidak melihat(nya)?" (Az-Zukhruf:51)
Fir'aun berbangga dengan dunia. Oleh
karena itulah, maka dunia adalah sesuatu yang sangat berbahaya.
Hadits di atas mirip dengan hadits
berikut:
عَنْ أَبِي
سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: جَلَسَ رَسُوْلُ اللهِ عَلَى الْمِنْبَرِ،
وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ، فَقَالَ: ((إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي
مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِيْنَتِهَا))
Dari Abu Sa'id Al-Khudriy
radhiyallahu 'anhu dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
duduk di atas mimbar dan kami pun duduk di sekitar beliau. Lalu beliau
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya di antara yang
paling aku takutkan atas kalian sepeninggalku adalah ketika dibukakan atas
kalian keindahan dunia dan perhiasannya." (HR. Al-Bukhariy no.1465 dan
Muslim no.1052)
Dunia Itu Manis dan Hijau
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam telah menjelaskan tentang keadaan dunia sekaligus memperingatkan
ummatnya dari fitnahnya.
عَنْ أَبِي
سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: ((إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ
خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ
تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ))
Dari Abu Sa'id Al-Khudriy
radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda, "Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah
subhanahu wa ta'ala menjadikan kalian pemimpin padanya. Lalu Dia akan melihat
bagaimana amalan kalian. Maka takutlah kalian dari fitnahnya dunia dan takutlah
kalian dari fitnahnya wanita." (HR. Muslim no.2742)
Sabda beliau shallallahu 'alaihi wa
sallam, "Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau." Yakni manis rasanya
dan hijau pemandangannya, memikat dan menggoda. Karena sesuatu itu apabila
keadaannya manis dan sedap dipandang mata, maka dia akan menggoda manusia.
Demikian juga dunia, dia manis dan hijau sehingga akan menggoda manusia.
Akan tetapi beliau shallallahu
'alaihi wa sallam juga menyatakan, "Dan sesungguhnya Allah subhanahu wa
ta'ala menjadikan kalian pemimpin padanya." Yakni Dia menjadikan kalian
pemimpin-pemimpin padanya, sebagian kalian menggantikan sebagian yang lainnya
dan sebagian kalian mewarisi sebagian yang lainnya.
"Lalu Dia akan melihat
bagaimana amalan kalian." Apakah kalian mengutamakan dunia atau akhirat?
Karena inilah beliau shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan, "Maka
takutlah kalian dari fitnahnya dunia dan takutlah kalian dari fitnahnya
wanita."
Harta dan Kekayaan yang Bermanfaat
Akan tetapi apabila Allah memberikan
kekayaan kepada seseorang, lalu kekayaannya tersebut membantunya untuk taat
kepada Allah, dia infakkan hartanya di jalan kebenaran dan di jalan Allah, maka
jadilah dunia itu sebagai kebaikan.
Kita semua tidak bisa lepas dari
dunia secara keseluruhan. Kita butuh tempat tinggal/rumah, kendaraan, pakaian
dan lain sebagainya. Bahkan kalau benda-benda tadi kita gunakan untuk membantu
ketaatan kepada Allah niscaya kita mendapatkan pahala. Sebagai contohnya adalah
kendaraan. Kita gunakan untuk menghadiri majelis 'ilmu atau kegiatan lainnya
yang bermanfaat. Bahkan kita pun bisa mengajak teman-teman ikut bersama kita.
Dengan menggunakan kendaraan sendiri kita bisa menghindari kemaksiatan seperti
ikhtilath (campur baur antara laki- laki dan wanita yang bukan mahram) dan
lainnya.
Akan tetapi jangan sampai kendaraan
ataupun harta benda duniawi menjadikan kita bangga, sombong sehingga akhirnya
merendahkan dan meremehkan orang lain. Jadikan harta tersebut sebagai alat
bantu untuk taat kepada Allah yang dengannya kita bisa menjadi orang yang
bersyukur.
Bahkan sebagian 'ulama mewajibkan
untuk memiliki kendaraan pribadi. Dengan kendaraan tersebut seorang muslim akan
terhindar dari ikhtilath dan kemaksiatan lainnya. Sedangkan menghindari maksiat
adalah wajib. Sementara di dalam kaidah ushul fiqh disebutkan, "Suatu kewajiban
tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu maka sesuatu itu adalah wajib."
Akan tetapi tentunya disesuaikan
dengan kemampuan masing-masing. Jangan sampai karena ingin mendapatkan
kendaraan, dia mati-matian mencari harta siang dan malam. Yang terbenak dalam
otaknya adalah uang, uang dan uang. Sehingga lupa berdzikir kepada Allah,
mempelajari agamanya, menghadiri majelis ilmu, shalat berjama'ah dan ketaatan
lainnya.
Ingatlah selalu firman Allah
subhanahu wa ta'ala,
فَاتَّقُوا
اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
"Maka bertakwalah kalian kepada
Allah menurut kesanggupan kalian." (At-Taghaabun:16)
لاَ
يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا
"Allah tidak membebani
seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Al- Baqarah:286)
Oleh karena itulah, keadaan orang yang
menginfakkan hartanya di jalan Allah dan pada keridhaan-Nya seperti kedudukan
orang 'alim yang telah Allah berikan hikmah dan ilmu kepadanya, yang
mengajarkan ilmunya kepada manusia.
Maka di sana ada perbedaan antara
orang yang rakus/ambisi terhadap dunia dan berpaling dari akhirat dengan orang
yang Allah berikan kekayaan yang digunakannya untuk mendapatkan kebahagiaan
baik di dunia maupun di akhirat dan dia infakkan di jalan Allah.
رَبَّنَا
ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa
neraka." (Al-Baqarah:201)
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala
selalu membimbing kita untuk mengamalkan apa-apa yang dicintai dan diridhai-Nya
serta memperbaiki urusan-urusan kita. Aamiin. Wallaahu A'lam.
Maraaji': Syarh Riyaadhish
Shaalihiin 2/186-189, Maktabah Ash-Shafaa; dan Bahjatun Naazhiriin 1/528, Daar
Ibnil Jauziy.
(http://www.fdawj.co.nr/)
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..