Oleh
: Masduki Ibnu Zeayah
Kata khusyû‘ (خشُوْع)
beserta kata lain yang seakar dengan itu ditemukan di dalam Alquran sebanyak 17
kali. Satu kali dengan fi‘l mâdhi (kata kerja masa lalu), satu kali
dengan fi‘l mudhâri‘ (kata kerja masa kini dan akan datang), satu kali
dengan mashdar (infinitif) dan selebihnya diungkapkan dengan ism
fâ‘il (kata benda yang menunjukkan pelaku). Secara bahasa, khusyû‘ (خُشُوْع)
berarti ‘tunduk’ atau ‘merendahkan diri’. Al-Asfahani menyamakan arti khusyû‘
(خشُوْع)
dengan dhirâ‘ah (ضِرَاعَة
= merendahkan diri). Hanya saja pada umumnya kata khusyû‘ (خشُوْع)
lebih banyak dipergunakan untuk anggota tubuh, sementara kata dhirâ‘ah (ضِرَاعَة)
lebih banyak dipergunakan untuk hati (ketundukan hati). Ia mengemukakan contoh
sebuah riwayat yang mengatakan, idzâ dhara’a al-qalb khasya‘at al-jawârih
(إِذَا ضَرَعَ الْقَلْبُ خَشَعَتِ
الْجَوَارِحُ = ketika hati telah tunduk, ketika
itu pula anggota tubuh menjadi tunduk). Hal senada juga dikemukakan oleh Ibnu
Manzur Al-Ansari yang mengatakan bahwa khusyû‘ (خُشُوْع)
berarti “tindakan yang dilakukan oleh seseorang dengan melemparkan pandangannya
ke bawah (ke bumi) lalu ditundukkan kepalanya dan dipeliharanya suaranya”.
Pendapat lain mengatakan bahwa kata khusyû‘ lebih sempurna dari kata khudhû‘.
Kalau khudhû‘ hanya dengan membungkukkan badan untuk memperoleh suatu
benda yang ada di bawah, sementara khusyû‘ (خُشُوْع)
mencakup menundukkan badan, suara, dan penglihatan. Hal ini sesuai dengan
firman Allah yang artinya, “Dan mereka menyungkurkan muka sambil menangis dan
mereka bertambah khusyuk” (QS. Al-Isrâ’ [17]: 109). Ayat ini sebagai penghibur
Nabi Muhammad Saw. bahwa beriman atau tidaknya seseorang itu tidak usah
dirisaukan. Pada hari Kiamat suara dan penglihatan manusia menjadi rendah (khusyuk)
karena dulunya ada yang tidak mau bersujud kepada Allah (S. Thâhâ [20]: 108 dan
S. Al-Qalam [68]: 43).
Dengan demikian khusyû‘ (خُشُوْع) berarti
“menundukkan diri dengan cara menundukkan anggota badan, merendahkan suara,
atau penglihatan, dengan maksud agar yang menundukkan diri itu benar-benar
merasa rendah dan tanpa kesombongan”. Pada umunya pengertian khusyû‘ (خُشُوْع)
ditemukan di dalam rangka mendekatkan diri, memperhambakan diri kepada Allah
seperti salat dan berdoa memohon sesuatu dari Allah. Di dalam S. Al-Mu’minûn
[23]: 1–2 misalnya, dikatakan bahwa orang beriman yang sukses antara lain
ditandai dengan kekhusyukan salatnya. Latar belakang turunnya ayat ini,
sebagaimana dikemukakan oleh Ath-Thabari, bahwa Rasulullah Saw. dan
sahabatnya mengarahkan penglihatan ke langit waktu melakukan salat. Kemudian,
Allah menurunkan ayat ini dengan maskud agar di dalam salat penglihatan harus
dikebawahkan dan tidak boleh melebihi batas tempat melakukan salat. Karena itu,
Ath-Thabari mengartikan khusyû‘ (خُشُوْع), berdasarkan
beberapa riwayat yang dikemukakannya, dengan “menundukkan kepala dan melihat
tempat sujud, tenang melakukannya, tidak menoleh ke kiri dan ke kanan,
menundukkan hati dan menjaga penglihatan”. Sementara itu, Ibnu Katsir
mengartikan khusyû‘ (خُشُوْع)
dengan “rasa takut kepada Allah dan tenang melakukan salat (khâ’ifûn sâkinûn)”.
Ini berarti khusyû‘ di dalam salat adalah mengosongkan hati dari
kesibukan di luar salat yang akan mempengaruhi anggota tubuh dan pikiran.
Dengan demikian, khusyû‘ (خُشُوْع) tidak lagi
sekadar menundukkan diri, tetapi sudah mengarah kepada pemusatan perhatian
(konsentrasi) kepada perbuatan yang dilakukan.
Pada tempat lain, kata khusyû‘ (خُشُوْع) juga
dipergunakan untuk orang yang beriman dengan melakukan ketaatan sepenuhnya
kepada Allah serta ajaran-ajaran-Nya (S. Ali ‘Imrân [3]: 199) dihubungkan
dengan orang-orang yang berserah diri, beriman, taat, orang yang benar, sabar,
suka bersedekah, dan berpuasa serta memelihara kehormatannya (QS. آli ‘Imrân [3]:
35, QS. Al-Mu’minun [23]: 1-11).
Di samping pemakaian kata khusyû‘ (خُشُوْع) dalam
pengertian-pengertian di atas, di dalam Alquran juga ditemukan kata itu dengan
makna lain yang dikaitkan dengan kemahakuasaan Allah. Contohnya, Allah mampu
menghidupkan yang mati dengan mengemukakan perumpamaan bumi yang kering tandus
(khâsyi‘ah, خَاشِعَة),
jika Allah menurunkan hujan maka ia menjadi hidup dan subur (QS. Fushshilat
[41]: 39). Juga dikaitkan dengan pembuktian dan kebenaran Alquran sebagai
mukjizat karena ada tantangan dari orang kafir. Karena itu, Allah memberikan
perumpamaan jika Alquran diturunkan di atas gunung, maka gunung itu akan
merunduk dan pecah (khâsyi‘an mutashaddi‘an) karena takut kepada Allah.
Di sini kata khâsyi‘ disambung dengan kata mutashaddi‘ untuk
menguatkan perumpamaan tersebut, agar manusia berpikir.
Kendati di dalam Alquran pemakaian kata khusyû‘ (خُشُوْع)
mengacu ke beberapa makna seperti telah diuraikan, tetapi yang paling banyak
dipergunakan adalah arti kekhusyukan di dalam beribadah, seperti dalam salat,
berdoa, dan ibadah lainnya.
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..