Oleh : Masduki Ibnu Zeayah
Dalam
kehidupan dunia, kita dikelilingi oleh hal-hal atau benda-benda yang kita klaim
sebagai milik kita. Keluarga, rumah, pekerjaan, panca indera, harta, ilmu
pengetahuan, keahlian, dan lain sebagainya semua kita sebut sebagai milik kita.
Tapi benarkah itu semua milik kita? Sejak kapan semua itu menjadi milik kita?
Memang
berbagai perangkat keduniaan semisal surat-surat resmi bisa menjadi bukti bahwa
keluarga, pekerjaan, tanah, dan sebagainya itu adalah milik kita, namun status
kepemilikan kita adalah pemilik nisbi. Pemilik mutlak dari segala sesuatu
hanyalah Allah Swt. Bahkan, diri kita yang lemah inipun adalah milik-Nya.
Hal ini
sering dilupakan oleh kita. Kita sering lupa bahwa kita bukanlah pemilik mutlak,
sampai-sampai kita bersikap seolah-olah kitalah pemilik sepenuhnya segala hal
yang kita anggap milik kita. Sehingga, kita memperlakukannya sesuai dengan
selera dan nafsu duniawi kita, bukan disesuaikan dengan keinginan sang pemilik
mutlak, yaitu Allah Swt.
Hal itu juga
terjadi pada harta. Kita sering lupa bahwa ia hanyalah titipan dari Allah Swt.
Di balik itu sebenarnya ada tanggung jawab, ada amanah, bahkan ada sebagian
darinya milik orang lain yang harus kita salurkan kembali.
Kala pertama
kali menyebarkan Islam di Makkah, salah satu misi Nabi Muhammad Saw. adalah
memberantas sikap ketergantungan kepada materi yang menjangkiti masyarakat Arab
pada waktu itu. Mereka begitu terlena dalam pusaran materialisme hingga sikap
dan pandangan hidup mereka senantiasa diwarnai cara pandang materialistis.
Itu menjadi
salah satu sebab mengapa dakwah Rasulullah tidak mendapatkan perhatian
sebagaimana mestinya. Mereka tidak peduli kepada dakwah Rasulullah bukan karena
apa yang Rasulullah sampaikan tidak masuk akal atau karena Rasulullah adalah
orang yang tidak bisa dipercaya, tetapi karena Rasulullah bukan dari golongan
kaya – di mana kala itu Klan Hasyim, keluarga Rasulullah, sedang menurun
pamornya. Kaum kafir Makkah hanya ingin mendengarkan kata-kata dari mereka yang
berharta. Jadi, begitu
kuat pesona harta benda hingga ia mampu menutup cahaya Ilahi (hidayah).
Oleh karenanya,
ada beberapa hal yang mesti dicamkan oleh umat Islam dalam menyikapi
harta benda, yaitu:
a.
Harta adalah anugerah dari Allah yang harus disyukuri.
Tidak semua orang mendapatkan
kepercayaan dari Allah swt. untuk memikul tanggung jawab amanah harta benda.
Karenanya, ia harus disyukuri sebab jika mampu memikulnya, pahala yang amat
besar menanti.
b.
Harta adalah amanah dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan.
Setiap kondisi – entah baik ataupun
buruk -- yang kita alami sudah menjadi ketentuan dari Allah swt, dan mesti kita
hadapi secara baik sesuai dengan keinginan yang memberi amanah. Harta benda
yang dititipkan kepada kita juga demikian. Di balik harta melimpah, ada
tanggung jawab dan amanah yang mesti ditunaikan. Harta yang tidak dinafkahkan
di jalan Allah akan menjadi kotor, karena telah bercampur bagian halal yang
merupakan hak pemiliknya dengan bagian haram yang merupakan hak kaum fakir,
miskin, dan orang-orang yang kekurangan lainnya. Firman Allah Swt. dalam surah
at-Taubah (9): 103:
ÎõÐú ãöäú ÃóãúæóÇáöåöãú ÕóÏóÞóÉð ÊõØóåøöÑõåõãú
æóÊõÒóßøöíåöãú ÈöåóÇ æóÕóáøö Úóáóíúåöãú Åöäøó ÕóáóÇÊóßó Óóßóäñ áóåõãú æóÇááøóåõ
ÓóãöíÚñ Úóáöíãñ
“öAmbillah zakat dari sebagian harta
mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan
mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa
bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
c.
Harta adalah ujian.
Yang jadi ujian bukan hanya
kemiskinan, tetapi kekayaan juga merupakan ujian. Persoalannya bukan pada kaya atau
miskin, tetapi persoalannya adalah bagaimana menghadapinya. Kedua kondisi itu
ada pada manusia, yang tujuannya dibalik itu cuma satu, yaitu Allah ingin
mengetahui siapa yang terbaik amalannya. Bagi yang berharta, tentunya, ada
kewajiban-kewajiban yang mesti dilakukan terhadap harta itu.
d.
Harta adalah hiasan hidup yang harus diwaspadai.
Allah Swt. menciptakan bagi manusia
banyak hiasan hidup. Keluarga, anak, dan harta benda adalah hiasan hidup. Dengannya, hidup
menjadi indah. Namun, patut disadari bahwa pesona keindahan hidup itu sering
menyilaukan hingga membutakan mata hati dan membuat manusia lupa kepada-Nya,
serta lupa kepada tujuan awal penciptaan hiasan itu. Semua itu sebenarnya
merupakan titipan dan ujian. Allah Swt. berfirman di dalam surah at-Taghabun
(64): 15:
ÅöäøóãóÇ
ÃóãúæóÇáõßõãú æóÃóæúáóÇÏõßõãú ÝöÊúäóÉñ æóÇááøóåõ ÚöäúÏóåõ ÃóÌúÑñ ÚóÙöíãñ
“Sesungguhnya harta dan anak-anakmu
hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah pahala yang besar”.
e.
Harta adalah bekal beribadah.
Tujuan penciptaan manusia adalah untuk
beribadah kepada Allah Swt. Karenanya, segenap perangkat duniawi, baik yang
meteril maupun yang non materil, tercipta sebagai sarana yang bisa digunakan
manusia untuk beribadah. Kekayaan adalah salah satu sarana ibadah. Ia bukan
hanya menjadi ibadah kala dinafkahkan di jalan Allah, ia bahkan sudah bernilai
ibadah kala manusia dengan ikhlas mencari nafkah untuk keluarganya dan
selebihnya untuk kemaslahatan umat. Jika harta dipergunakan sebaik-baiknya,
pahala yang amat besar menanti. Namun jika tidak, siksa Allah amatlah pedih.
Di atas
terlihat bahwa Islam begitu menekankan harta benda sebagai kepemilikan yang
tidak terpusat pada satu atau segolongan orang. Namun, itu tidak bisa dipahami
bahwa Islam mengabaikan sama sekali hak individu untuk menikmati harta yang
telah diusahakannya dengan susah payah. Allah swt. berfirman di dalam Al-Quran, surah Al-Isra
(17): 29:
æóáóÇ ÊóÌúÚóáú
íóÏóßó ãóÛúáõæáóÉð Åöáóì ÚõäõÞößó æóáóÇ ÊóÈúÓõØúåóÇ ßõáøó ÇáúÈóÓúØö ÝóÊóÞúÚõÏó
ãóáõæãðÇ ãóÍúÓõæÑðÇ
“Dan janganlah
kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu
mengulurkannya sehingga kamu menjadi tercela dan menyesal”.
Demikianlah, semoga kita tergolong orang-orang yang
pandai menyikapi harta benda sesuai dengan ketentuan-Nya, amieeen. Barakallahu
li wa lakum, walhamdu lillahi rabbil ‘alamin.
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..