Kamis, 08 Desember 2011
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Sesungguhnya kaidah Islam yang
paling agung dan hakikat Islam yang paling besar; satu- satunya yang diterima
dan diridloi Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk hamba-hamba Nya, yang merupakan
satu-satunya jalan menuju kepada Nya, kunci kebahagiaan dan jalan hidayah,
tanda kesuksesan dan pemelihara dari berbagai perselisihan, sumber semua
kebaikan dan nikmat, kewajiban pertama bagi seluruh hamba, serta kabar gembira
yang dibawa oleh para Rasul dan para Nabi adalah ibadah hanya kepada ALLAH
Subhanahu Wa Ta'ala semata dan tidak menyekutukannya, bertauhid dalam semua
keinginannya terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bertauhid dalam urusan
penciptaan, perintah-Nya dan seluruh asma (nama-nama) dan sifat-sifat Nya.
Allah Subhaanahu Wa Ta'ala berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah
mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah
(saja), dan jauhilah Thaghut itu"
(QS An Nahl: 36)
" Dan Kami tidak mengutus
seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:
"Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah
olehmu sekalian akan Aku". (QS Al Anbiya' : 25)
"Padahal mereka hanya disuruh
menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain
Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (QS At Taubah:
31)
"Maka sembahlah Allah dengan
memurnikan keta`atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang
bersih (dari syirik)."
(QS Az Zumar: 2-3)
"Padahal mereka tidak disuruh
kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama dengan lurus"
(QS Al Bayyinah: 5)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah mengatakan:
"Orang yang mau mentadabburi
keadaan alam akan mendapati bahwa sumber kebaikan di muka bumi ini adalah
bertauhid dan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala serta taat kepada
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebaliknya semua kejelekan di muka
bumi ini; fitnah, musibah, paceklik, dikuasai musuh dan lain-lain penyebabnya
adalah menyelisihi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berdakwah
(mengajak) kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Orang yang merenungi hal
ini dengan sebenar-benarnya akan mendapati kenyataan seperti ini baik dalam
dirinya maupun di luar dirinya." (Majmu' Fatawa 15/25)
Karena kenyataannya demikian dan
pengaruhnya-pengaruhnya yang terpuji ini, maka syetan adalah makhluk yang
paling cepat (dalam usahanya) untuk menghancurkan dan merusaknya. Senantiasa
bekerja untuk melemahkan dan membahayakan tauhid itu. Syetan lakukan hal ini
siang malam dengan berbagai cara yang diharapkan membuahkan hasil.
Jika syetan tidak berhasil
(menjerumuskan ke dalam) syirik akbar, syetan tidak akan putus asa untuk
menjerumuskan ke dalam syirik dalam berbagai kehendak dan lafadz (yang
diucapkan manusia). Jika masih juga tidak berhasil maka ia akan menjerumuskan
ke dalam berbagai bid'ah dan khurafat.
(Al Istighatsah, karya Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah hal 293, lihat Muqaddimah Fathul Majiid tahqiq DR Walid bin
Abdurrahman bin Muhammad Ali Furayyaan, hal 4)
Setiap dakwah Islam yang baru muncul
tidak dibangun di atas tauhid yang murni kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'ala dan
tidak menempuh jalan yang telah dilalui oleh para salaful ummah yang shalih,
maka akan tersesat hina dan gagal, meski dikira berhasil, tidak sabar ketika
berhadapan dengan musuh, tidak kokoh dalam al haqq dan tidak kuat berhadapan
(dengan berbagai rintangan).
Kita saksikan banyak contoh-contoh
dakwah yang dicatat dalam sejarah berbicara kenyataan yang menyedihkan ini dan
akhir yang buruk. Dakwah-dakwah yang berlangsung bertahun-tahun, yang telah
mengorbankan nyawa dan harta kemudian berakhir dengan kebinasaan.
Namun seorang mu'min yang yakin
dengan janji Allah yang pasti benar, tidak akan putus asa dan menjadi kendor,
tidak akan gentar menghadapi berbagai cobaan dan tidak akan menerima jika
sekian banyak percobaan-percobaan itu berlangsung silih berganti tanpa ada
manfaat yang diambil atau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
(Sebagaimana hadits dari sahabat Abu
Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no 6133) dan Imam Muslim (no
2998) serta Imam Ahmad dalam Musnadnya (2/379)
Sudah ada teladan dan contoh yang
paling bagus pada diri Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Allah
Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat." (QS Al Ahzab: 21)
Inilah manhaj pertama dari Nabi
shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam berdakwah kepada tauhid, memulai dengan
tauhid dan mendahulukan tauhid dan semua urusan yang dianggap penting.
Urgensi Tauhid
Untuk memperkokoh pemahaman kita
tentang pentingnya aqidah tauhid dalam kehidupan, maka pada kesempatan ini Al
Madina mencoba mengangkat tulisan syaikh jamil zainu seorang ulama besar di
jazirah Saudi Arabia, yang disusun dalam poin-poin dengan maksud memudahkan
pemahaman kita.
Allah telah menciptakan alam semesta
untuk sebuah tujuan yaitu ibadah(tauhid), dan Allah mengutus para rasul untuk
menyeru manusia kepada tauhid ini. Bahkan Al Quran mengkedepankan pembahasan
tauhid ini dalam kebanyakan surat-suratnya.al quran pun memaparkan kejelekan
syirik(lawan dari tauhid) yang berlaku pada individu dan masyarakat.
Syirik pula merupakan sebab
kehancuran kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Sesungguhnya para Rasul
memulai dakwah mereka untuk mengajak manusia kepada Tauhid. Firman ALLAH yg
artinya : "Tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelummu kecuali Kami
wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Aku,
maka beribadahlah kepada-Ku" (QS Surat Al Anbiya')
Rasul pun mentarbiyah(memberikan
pendidikan) kepada sahabatnya tentang tauhid ini semenjak mereka kecil,
sebagaimana perkataan beliau terhadap ibnu Abbas
"Apabila Engkau memohon maka
mohonlah kepada Allah dan apabila engkau meminta pertolongan mintalah
pertolongan kepada Allah ." ( HR. Tirmidzi )
Tauhid inilah hakikat dari agama
Islam yang dibangun diatasnya bangunan Islam yang lain.
Rasul mengajarkan para sahabat agar
memulai dakwahnya dengan tauhid, beliau bersabda kepada Muadz bin Jabal yang
diutus ke Yaman :
" Jadikanlah awal yang kamu
seru adalah syahadat Laa ilaaha illallah, pada riwayat yang lain agar mereka
mentauhidkan Allah" ( Muttafaq Alaih)
Tauhid adalah perwujudan dari
syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah yang maknanya tidak ada
yang berhak diibadahi kecuali Allah dan tidak beribadah kecuali dengan syariat
yang dibawa oleh Rasulullah. Syahadat inilah yang memasukkan seseorang kepada
Islam, ia juga kunci Surga, yang seorang akan masuk surga bila mengucapkannya
selama tidak beraktivitas yang membatalkan Syahadat tersebut.
Kafir Qurays menawari Rasulullah
dengan kekuasaan, harta, wanita dan materi dunia yang lain agar rasul
meninggalkan dakwah Tauhid ini. Rasul menolak tawaran tersebut dan terus
menggencarkan aktivitas dakwahnya walau menanggung beragam ujian dan cobaan.
Hingga berlalu 13 tahun dan setelah itu mekah ditakhlukkan, dihancurkan berhala
yang disembah oleh orang kafir Quraisy. Firman ALLAH yang artinya : "Telah
datang kebenaran dan hancur kebatilan sesungguhnya kebatilan itu pasti akan
hancur " (QS Al Isra').
Tauhid adalah kewajiban tugas
seorang muslim, dengannya dimulai dan diakhiri kehidupannya. Dan tugas dalam
kehidupannya adalah menegakkan Tauhid, berdakwah kepada tauhid. Tauhid pula lah
yang menyatukan hati-hati orang-orang yang beriman , dan kita mohon kepada
Allah agar menjadikan kalimat Tauhid sebagai akhir kehidupan kita.
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..