Selasa, 24 Oktober 2009
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Seorang muslim yang telah mengetahui
kewajibannya kepada Alloh (yakni beribadah kepada- Nya), tentu ia akan selalu
menjaga kemurnian agamanya, khususnya aqidahnya atau keyakinannya, agar tak
bercampur dengan amalan-amalan yang rusak (yakni kesyirikan).
Mengapa demikian ? Mari kita
perhatikan penjelasaan Alloh Ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya) :
“Orang-orang yang beriman dan yang tidak mencampur adukkan iman mereka dengan
kedholiman, mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan, dan
mereka selalu mendapatkan petunjuk. “(QS. Al-An’am : 82).
Al-Imam Ibnu Katsir rohimahullah
menjelaskan ayat ini dengan menyatakan : “ Mereka itu adalah orang-orang yang
mengikhlaskan atau memurnikan ibadah hanya untuk Alloh Ta’ala saja, dan tidak
menyekutukannya dengan sekutu apapun. Dan mereka itu mendapatkan keamanan (rasa
aman dari adzab Alloh) pada hari kiamat, dan mereka juga senantiasa mendapatkan
petunjuk didunia dan diakherat. “(Tafsir Al-Qur’anul Adzim 2/152).
Penjelasan Kalimat :
1. “Orang-orang yang beriman”, arti
iman secara bahasa (etimologi) adalah At-Tadhdiq (Membenarkan), adapun menurut
istilah syar’inya adalah keyakinan di dalam hati, pengikraran atau pengakuan
dengan lisan dan diwujudkan dengan amal perbuatan (anggota badan). Dan iman itu
bisa bertambah-tambah dengan sebab melakukan amal-amal ketaatan, dan bisa pula
berkurang dengan sebab berbuat kemaksiatan.
2. “Memcampur adukan iman mereka”, yakni
menodai tauhid mereka.
3. “Dengan kedholiman”, maksudnya
adalah dengan perbuatan syirik, karena syirik adalah kedholiman yang paling
besar (lihat QS. Luqman : 13). Ketahuilah, kedholiman ada 3 jenis, yaitu :
Perbuatan syirik (mendholimi hak Allah). Mendholimi diri sendiri, dan
mendholimi orang lain. Al- Imam Al-Bukhori meriwayatkan dalam shohihnya (No.
3636) tentang sikap para sahabat Rosulullah sholallallahu ‘alaihi wa sallam
ketika turun ayat ini dari Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Ketika
turun ayat ini (QS. Al-An’am : 82), kami (para sahabat) berkata : “Wahai
Rosulullah, siapakah diantara kami ini yang tidak pernah berbuat dholim
terhadap diri sendiri ? (Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan : “Ketika turun
ayat ini, hal ini memberatkan hati para sahabat (kerena mereka kuatir tidak
termasuk orang-orang yang mendapatkan keutamaan seperti yang di sebutkan dalam
ayat itu), sehingga mereka berkata : “Wahai Rosulullah, siapakah diantara kami
ini yang tidak pernah berbuat dholim terhadap diri sendiri ?”). Rosulullah
shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “(Kedholiman yang dimaksud dalam ayat
ini) bukanlah seperti yang dikatakan ! ‘Tidak mencampuradukkan iman mereka
dengan kedholiman’, maksudnya adalah dengan kesyirikan ! Tidaklah kalian mendengar
perkataan Luqman (dalam riwayat lain : hamba yang sholih) terhadap putranya :
“Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Alloh (melakukan perbuatan syirik),
sesungguhnya syirik itu benar-banar kedholiman yang sangat besar. “[Kisah ini
bisa anda lihat pada Shohih Al-Bukhori dalam Kitabul Ima (No. 3636 dan lain-
lain), Masnud Imam Ahmad (1/378) dengan sanad yang shohih, Fathul Majid hal.
47-48].
4. “Mereka mendapatkan keamanan /
rasa aman”, yang dimaksud aman di sini adalah keselamatan dari azab (siksa) neraka
selama mereka tetap menjaga kemurnian tauhid mereka dan berhenti dari melakukan
dosa-dosa besar, atau maksud nya adalah terbebas dari vonis kekal di neraka
(yakni tidak kekal di azab dineraka) bila ia ternyata masih melakukan dosa-dosa
besar.
5. “Orang-orang yang mendapat
petunjuk”, yakni orang-orang yang mengetahui kebenaran ketika hidupnya, lalu ia
mengamalkannya.
Penjelasan Umum :
Allah Ta’ala mengabarkan kepada
kita, bahwa bagi siapa saja yang mengesakan Alloh Ta’ala dalam beribadah
kepada-Nya, dan tidak menodai tauhidnya dengan perbuatan syirik, Allah Ta’ala
pasti akan membebaskan dari neraka diakhirat nanti, dan Alloh pasti akan
memberi petunjuk kepadanya kepada shirotul mustaqim didunia ini.
Faedah yang bisa diambil dari ayat
yang mulia ini :
1. Tidak sah iman seseorang yang
ternodai oleh dosa syirik.
2. Syirik termasuk salah satu bentuk
kedholiman (mendholimi hak-hak Alloh).
3. Orang yang tidak menodai imannya
dengan perbuatan syirik akan mendapatkan keselamatan dari azab (siksa).
Kesimpulan :
Ayat diatas merupakan dalil bahwa
orang yang meninggal dunia diatas aqidah tauhid (yakni menjaga kemurnian tauhid
mereka sampai akhir hayatnya) serta bertobat dari dosa-dosa besar, pasti
selamat dari azab neraka. Adapun orang yang mati diatas aqidah tauhid (yang
menjaga kemurnian tauhidnya), tetapi ia juga melakukan dosa-dosa besar, dia ini
hanya mendapatkan keutamaan selamat dari vonis kekal didalam neraka.
Wallohu a’lam.
BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH,
Surabaya. Edisi : 20 / Sya’ban / 1425 H
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..