Sabtu, 24 Juni 2011
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Kita tahu ada orang yang
mengaku-ngaku sebagai Salafi (pengikut Salaf), padahal Salaf berlepas tangan
dengan mereka, sebab dia berteman dengan orang-orang yang menghalalkan apa yang
diharamkan Allah
Dakwah kita dan aqidah kita lebih
kita cintai dari diri-diri, harta-harta dan anak-anak kita. Kita tidak akan
rela menjualnya dengan emas dan uang...
Kita suarakan terus dakwah ini
sampai pupus harapan orang yang ingin memperalat dakwah ini.
Dia mengira dia bisa mendikte kita
dengan uang dan harta. Oleh sebab ini, mereka menjadi putus asa untuk membujuk
kita dengan harta dan kedudukan.
1. Kita beriman kepada Allah,
nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, menurut apa yang terdapat dalam Al-Qur’an
dan As-Sunnah, tanpa tahrif(menyimpangkan maknanya), mentamtsil (memisalkan
dengan makhluk), mentasybih(menyerupakan dengan makhluk) dan tanpa menta’thil
(meniadakan atau menghapus sifat itu dari Allah)
2. Kita berkeyakinan bahwa berdo’a
kepada orang mati, meminta tolong kepada mereka dan begitu juga terhadap orang
yang masih hidup pada masalah yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah adalah
syirik. Begitu juga keyakinan terhadap jimat-jimat, bahwa dia bisa memberikan
manfaat bersama Allah atau tanpa Allah adalah syirik. Dan membawanya tanpa
keyakinan adalah khurofat
3. Kita berpegang dengan dhazir ayat
dan Sunnah. Kita tidak menta’wilkannya kecuali ada dalil yang membolehkan untuk
melakukan itu dari Al-Qur’an dan Sunnah
4. Kita beriman behwa kaum mukminin
akan melihat Rabb mereka pada Hari Akhir tanpa mentakyif (menanyakan
bagaimana). Dan kita beriman dengan syafa’at dan akan dikeluarkannya
orang-orang yang bertauhid dari neraka
5. Kita mencintai para Sahabat
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan membenci orang- orang yang mencela
mereka. Kita meyakini bahwa menghina mereka berarti menghina agama ini. Karena
merekalah yang membawanya kepada kita. Kita mencintai Ahlul Bait Nabi dengan
kecintaan yang berdasar syariat
6. Kita mencintai Ahlul Hadits dan
seluruh para salaf (pendahulu) ummat ini dari kalangan Ahlus Sunnah
7. Kita membenci Ilmu Kalam. Dan
kita berkeyakinan bahwa dialah penyebab terbesar perpecahan ummat ini.
8. Kita tidak menerima keterangan
dari kitab-kitab fiqih, tafsir, cerita-cerita lampau dari sejarah Nabi
shallallahu alaihi wa sallam, kecuali yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.
Bukan berarti kita membuangnya dan tidak butuh kepadanya, tetapi kita
mengambilnya dari kesimpulan para ulama kita yang faham dan yang selain mereka.
Dan kita tidak menerima hukum kecuali yang berdasarkan argumen yang shahih
9. Kita tidak menulis dalam
kitab-kitab dan pelajaran-pelajaran kita serta kita tidak berkhutbah kecuali
dengan Al-Qur’an atau Hadits yang shahih untuk berhujjah. Kita membenci apa
yang terdapat dalam kebanyakan kitab-kitab para pemberi nasehat, yaitu
cerita-cerita bohong dan hadits-hadits lemah, bahkan palsu.
10. Kita tidak mengkafirkan seorang
muslim kecuali karena kesyirikan atau karena meninggalkan shalat atau murtad.
Semoga Allah melindungi kita dari hal-hal itu
11. Kita beriman bahwa Al-Qur’an
adalah Kalamullah (ucapan Allah), bukan makhluk
12. Kita berpendapat wajib saling
tolong-menolong sesama muslim mana saja dalam kebenaran. Dan kita berlepas diri
dari dakwah-dakwah jahiliyah
13. Kita berpendapat tidak boleh
memberontak terhadap pemerintah kaum muslimin selama mereka masih muslim. Kita
tidak berpendapat bahwa revolusi adalah cara yang membawa kebaikan, bahkan itu
adalah cara yang merusak masyarakat. Adapun sikap kita terhadap penguasa ‘Aden
(Penguasa yg berhaluan komunis/sosialis), maka kita berpendapat bahwa memerangi
mereka adalah adalah wajib hingga mereka mau bertaubat dari penyelewengannya,
yaitu sosialisme dan mengajak manusia untuk beribadah kepada Lenin, Karl Mark
dan tokoh- tokoh kafir lainnya
14. Kita berpendapat bahwa
jama’ah-jama’ah yang baru dan banyak sekarang ini adalah penyebab perpecahan
kaum muslimin dan yang melemahkan mereka
15. Kita berpendapat bahwa dakwah
Ikhwanul Muslimin tidak cocok dan tidak baik untuk perbaikan masyarakat, karena
mereka adalah dakwah politik, bukan dakwah yang bertujuan untuk memperbaiki
jiwa. Dan dia juga dakwah bid’ah, karena dia adalah dakwah untuk membai’at
orang-orang bodoh. Dan dakwah Ikhwanul Muslimin juga adalah dakwah fitnah,
karena berdiri dan berjalan diatas kebodohan
Kita menasehati sebagian teman-teman
kita yang masih bekerja didalamnya agar mereka segera meninggalkannya, hingga
dengan itu dia tidak menyia-nyiakan waktunya pada masalah yang tidak bermanfaat
bagi Islam dan kaum muslimin. Dan wajib bagi setiap muslim meyakini bahwa Allah
akan menolong Islam dan kaum muslimin melalui tangan muslim mana saja dan
jama’ah mana saja.
16. Adapun tentang Jama’ah Tabligh,
silakan Anda membaca penuturan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Washshabi,
beliau berkata:
(a). Mereka mengamalkan
hadits-hadits dhaif (lemah), maudhu’ (palsu) dan yang tidak ada asalnya
(b). Tauhid mereka penuh dengan
bid’ah, bahkan dakwah mereka berdasarkan bid’ah, karena dakwah mereka dasarnya
adalah Al-Faqra yaitu khuruj (keluar). Dan ini diharuskan setiap bulan 3 hari.
Setiap tahun 40 hari dan seumur hidup 4 bulan. Setiap minggu ada 2
Jaulah…Jaulah pertama di masjid yang didirikan shalat padanya. Dan yang kedua
berpindah-pindah. Disetiap hari ada 2 halaqah, halaqah pertama di masjid yang
didirikan shalat padanya. Yang kedua di rumah. Mereka tidak senang terhadap
seseorang kecuali bila ia mengikuti mereka. Tidak diragukan lagi bahwa ini
adalah bid’ah dalam agama yang tidak diperbolehkan oleh Allah
(c). Mereka berpendapat bahwa dakwah
kepada tauhid itu memecah belah
(d). Mereka berpendapat bahwa
mengajak manusia kepada sunnah itu memecah belah ummat
(e). Pemimpin mereka berkata dengan
tegas bahwa: bid’ah yang bisa mengumpulkan manusia lebih baik daripada Sunnah
yang memecah belah manusia
(f). Mereka menyuruh manusia untuk
tidak menuntut ilmu yang bermanfaat secara halus atau terang-terangan
(g). Mereka berpendapat bahwa
manusia tidak bisa selamat kecuali dengan cara mereka. Dan mereka membuat permisalan
dengan perahu Nabi Nuh ‘alaihis salam, siapa yang naik akan selamat dan siapa
yang tidak naik akan hancur. Mereka berkata:”Sesungguhnya dakwah kita seperti
perahu Nabi Nuh”. Saya sendiri yang mendengarkannya di Urdun dan Yaman
(h). Mereka tidak menaruh perhatian
terhadap Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Sifat
(i). Mereka tidak mau menuntut ilmu
dan berpendapat bahwa waktu yang digunakan untuk menuntut ilmu hanya sia-sia
belaka
17. Kita mengikat pemahaman kita
dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang
berdasarkan pemahaman Salaf (pendahulu) ummat ini dari kalangan ahli hadits
tanpa fanatik terhadap individu mereka, tetapi kita mengambil kebenaran dari
orang yang membawanya. Kita tahu ada orang yang mengaku-ngaku sebagai Salafi
(pengikut Salaf), padahal Salaf berlepas tangan dengan mereka, sebab dia
berteman dengan orang-orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah
18. Kita berkeyakinan bahwa politik
adalah bagian dari agama ini. Dan orang-orang yang memisahkan antara agama dan
politik berarti ingin menghancurkan Dien (agama) ini dan ingin menyebarkan
kekacauan seperti yang terjadi disebagian negeri kaum muslimin. Mereka
mengatakan “Agama untuk Allah dan negara untuk bersama”. Ini adalah
slogan-slogan jahiliyah
19. Kita berkeyakinan bahwa tidak
ada izzah (kemuliaan) dan pertolongan bagi kaum muslimin, hingga mereka mau
kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
20. Kita membenci kelompok-kelompok
baru: Komunisme, Ba’tsi, Nashiry, Sosialisme, dan Rafidhah yang telah keluar
dari Islam. Kita berpendapat bahwa manusia sekarang menjadi 2 golongan, yaitu
golongan Hizbur Rahman (kelompok Allah), yaitu orang-orang yang melaksanakan
rukun-rukun Islam dan Iman tanpa menolak sedikitpun syariat Allah, dan
Hizbusysyaithan (kelompok setan), yaitu yang memerangi syariat-syariat Allah
21. Kita mengingkari orang yang
membagi agama menjadi “kulit” dan “inti”. Dan ini adalah dakwah yang
menghancurkan
22. Kita mengingkari orang yang merasa
tidak butuh kepada ilmu Sunnah dan mengatakan “Ini bukan waktu mempelajarinya”.
Beginilah orang yang enggan mengamalkan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam
23. Kita berpendapat handaknya kita
mendahulukan yang paling penting dari yang penting. Maka wajib bagi seorang
muslim untuk bersungguh-sungguh memperbaiki aqidah, kemudian membinasakan
komunisme dan Ba’tsiyyah dan itu bisa tercapai dengan persatuan yang
berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah
24. Kita berpendapat bahwa jama’ah
yang merangkul Rafidhah, Syi’ah, Sufi, dan Sunni tidak bisa menghadapi musuh
karena itu tidak akan tercapai kecuali dengan ukuwwah (persaudaraan) yang jujur
dan persatuan dalam aqidah
25. Kita mengingkari orang yang
berkata dan menyangka bahwa para da’i yang mengajak manusia kembali kepada
Allah adalah orang-orang Wahhabi. Kita tahu bahwa mereka memiliki maksud yang
sangat jijik dan kotor yaitu ingin memisahkan para ulama dengan masyarakatnya
26. Dakwah kita dan aqidah kita
lebih kita cintai dari diri-diri, harta-harta dan anak-anak kita. Kita tidak
akan rela menjualnya dengan emas dan uang…Kita suarakan terus dakwah ini sampai
pupus harapan orang yang ingin memperalat dakwah ini. Dia mengira dia bisa
mendikte kita dengan uang dan harta. Oleh sebab ini, mereka menjadi putus asa
untuk membujuk kita dengan harta dan kedudukan
27. Kita membenci
pemerintah-pemerintah yang ada, sekedar (sesuai dengan) kejahatan yang mereka
lakukan dan kita mencintai sekedar (sesuai dengan) kebaikan yang ada padanya.
Kita tidak boleh memberontak kecuali bila kita telah melihat adanya kekafiran
yang jelas pada pemerintahan-pemerintahan itu berdasarkan burhan (bukti nyata)
dari Allah
Pemerintah yang paling kita benci
sekarang adalah pemerintahan ’Aden yang berhaluan komunis lagi Atheis, semoga
Allah segera membinasakannya dan menyucikan negeri-negeri Islam darinya
28. Kita menerima bimbingan dan
nasehat dari siapa saja, karena kita adalah para penuntut ilmu yang bisa benar
dan salah
29. Kita mencintai Ulama Sunnah yang
hidup sekarang. Dan kita ingin mengambil faedah dari mereka. Dan kita merasa
sedih karena kejumudan sebagian mereka
30. Kita tidak menerima fatwa
kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
yang tsabit (kokoh)
31. Kita mengingkari kepada
pihak-pihak yang bertanggung jawab dan sektor lainnya dengan adanya usaha
mengunjungi kuburan Lenin dan tokoh-tokoh sesat lainnya untuk menghormati
mereka
32. Kita mengingkari pemerintah
muslim yang melakukan kerja sama dengan musuh-musuh Islam, baik itu antek-antek
Amerika atau komunis
33. Kira mengingkari dakwah-dakwah
jahiliyah seperti kesukuan dan fanatisme Arab. Kita menggolongkannya sebagai
dakwah-dakwah jahiliyah dan termasuk sebab yang memundurkan umat Islam
34. Kita menunggu seorang mujaddid
yang Allah akan memperbaharui agama ini melaluinya. Ini berdasarkan hadits yang
diriwayatkan Abu Daud dalam sunannya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:”Sesungguhnya Allah akan membangkitkan bagi
umat ini disetiap 100 tahun orang yang akan memperbaharui untuk mereka agama
mereka” Dan kita berharap agar kebangkitan Islam menjadi mudah karenanya
35. Kita berkeyakinan bahwa orang
yang mengingkari hadits tentang Al-Mahdi dan Dajjal serta turunnya Isa bin
Maryam adalah sesat. Dan bukan yang kita maksudkan imam Mahdi dari kalangan
Rafidhah, akan tetapi dari Ahlul bait Nabi yang tergolong Ahlus Sunnah. Dia
akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya bumi ini telah
dipenuhi dengan kezaliman. Kita katakan “yang tergolong Ahlus Sunnah”, karena
orang yang mencela Sahabat tidak dianggap adil
36. Ini sekilas tentang aqidah dan
dakwah kita. Kalau disebut dengan dalil akan memperpanjang kitab ini. Dan telah
kusebut dengan panjang lebar dalam kitab “Al-Makhraj minal Fitnah”. Dan siapa
yang memiliki keyakinan yang sebaliknya dari yang telah kita sebutkan ini, maka
kami bersedia menerima nasehat jika dia benar dan kami bersedia berdebat jika
dia salah serta berpaling darinya jika dia membangkang
Ini yang perlu kita ketahui. Dan ini
bukan seluruh dakwah dan aqidah kita, karena dakwah kita berdasarkan Al-Qur’an
dan Sunnah dan mengajak kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Demikianlah aqidah ini.
Cukup Allah bagi kita dan Dia adalah sebaik-baik tempat bertawakal. Tidak ada
daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.
(Diambil dari kitab “Hadzihi
Da’watuna wa ‘Aqidatuna hal 11-23 dan dialihbahasakan oleh Muhammad ‘Ali
‘Ishmah Al-Medani).
Sumber : Buletin Al-Manhaj, edisi
7/1419 H/1999 M
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..