Ahad, 28 Mei 2011
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Jalan menuju ilmu di dunia adalah
alqur'an dan assunnah. Jalan akhir dari ilmu di akhirat adalah surga Allah
tabaraka wa ta'ala. Oleh sebab itulah Nabi Muhammad ‘alaihishalaatu wasallam
mendo'akan Ibnu abbas radliyallahu’anhu, dengan sabdanya:
اللهم فقهه
فى الد ين و علمه التأويل.
"Ya Allah berilah kefaqihan
kepadanya dan berilah kealiman dalam ta'wil (tafsir alquran)"
(HR. Bukhari dan Muslim : 2477,
dengan lafadz yang berbeda).
Doa Nabi ‘alaihisshalaatu wasallam
di atas mengandung perkara yang pokok, yaitu seseorang yang berjalan di atas
ilmu agama Allah akan mendapatkan kebahagian dan keselamatan di dunia dan
akhirat. Nabi ‘alaihisshalaatu wasallam tidak mendoakannya dengan: "Ya
Allah masukkan dia ke dalam surga" atau "Ya Allah selamatkan dia dari
neraka". Tapi Nabi ‘alaihisshalaatu wasallam mendoakannya agar berjalan di
jalan yang mengantarkannya pada martabat yang tinggi di dunia dan akhir
kebahagiaan di akhirat.
Demikianlah martabat ilmu agama
Allah wahai saudara-saudaraku kaum muslimin. Ilmu agama Allah adalah jalan
menuju tuma'ninah (ketenangan) di dunia. Ilmu agama Allah adalah jalan akhir
menuju kebahagian di hari kiamat.
Maka wajib bagi seorang mukmin
mengambilnya untuk mendapatkan keyakinan yang hakiki, menghilangkan keraguan
dan kerancuan syubhat, menafikan kesesatan dan seluruh perbuatan yang
menyimpang dari alqur'an dan assunnah. Dengan ilmu tersebut, seorang mukmin
akan tetap istiqomah dalam hidupnya, dan mendapatkan ilmu yang rosikh (murni)
dalam memahami alqur'an dan assunnah karena menjalankan/mengamalkannya dengan
haq sesuai dengan kehendak-Nya. Allah 'azza wa jalla berfirman yang artinya :
"Hendaklah kalian menjadi
orang-orang robbani, karena kalian selalu mengajarkan alkitab dan kalian tetap
mempelajarinya". (QS. Ali Imron: 79).
Arrobaniyyun adalah orang-orang yang
berdiri di atas ilmu agama Allah ‘azzawa jalla, mempelajari, dan mengajarkan
kepada yang lainnya dengan dirosah (pengajaran) yang haq yang
bersumber dari alqur'an dan sunnah
Rasul-Nya ‘alaihishalaatu wasallam.
Arrobbaniyyun adalah orang-orang
yang menyandarkan keadilan, amanah, agama, ketakwaan, dan ketaatannya kepada
Robbul 'alamin jalla fi 'ula. Sebagaimana keadaan orang-orang yang menyelisihi,
melampaui batas, dan jauh dari bimbingan agama Allah yang menyandarkan dirinya
kepada syaithon la'natullah 'alaih. Seperti perkataan: 'fulan seperti syaithon!
'Fulan memiliki pemikiran seperti syaithon!'
Cukup bagi seorang mukmin yang
berdiri di atas ilmu agama Allah menyandarkan dirinya kepada Robbul 'alamin
sebagai 'abdan robbaniyya (hamba Robb sekalian alam).
"Hendaklah kalian menjadi
orang-orang robbani, karena kalian selalu mengajarkan alkitab dan kalian tetap
mempelajarinya". (QS. Ali Imron: 79).
Demikian juga robbaniyyun adalah
orang-orang yang memberikan tarbiyah kepada manusia di atas kebenaran alquran
dan assunnah.
Ini adalah nash alquran, wahai
saudara-saudaraku kaum muslimin, yang menerangkan kepada kita tentang kewajiban
mengamalkan ilmu agama Allah, memberikan tarbiyah dengannya, dan seluruh
perkara yang berkaitan dengan kehambaan manusia kepada Robbnya.
Apabila kalian memperhatikan,
melihat, dan memikirkan seluruh sifat tersebut (dalam ayat Allah) maka hanya
terdapat pada mereka yang mendakwahkan ilmu agama Allah 'azza wa jalla. Ciri
pertama dan yang paling pokok yang ada pada arrobbaniyyun adalah keikhlasan
mereka dalam berdakwah kepada alqur'an dan sunnah. Mereka tidak mempunyai niat
untuk membela pemikiran dan pendapat siapapun kecuali dengan perintah Allah dan
Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam dalam menerangkan ilmu agama Allah.
Mereka tidak menyeru kecuali kepada
alquran dan assunnah. Mereka telah memahami alquran dan assunnah dengan
pemahaman yang shahih, shorih (jelas), dan fasih. Sehingga tidak ada pada
mereka seluruh bentuk keraguan, syubhat, hawa nafsu, dan pemikiran yang
disandarkan pada akal. Pemahaman tersebut mereka ambil dari generasi yang
masyhur dengan keadilannya, yaitu generasi salafusholeh (sahabat, tabi'in, dan
atb'ut tabi'in radiyallahu'anhum ajma'in). Rasulullah shallallahu’alaihi
wasallam bersabda yang artinya: "Bacalah alqur'an, yang dengan itu hati-hati
kalian akan bersatu/berkasih sayang. Apabila kalian berselisih, maka kembalilah
kepadanya." (HR. Muslim No. 2667).
Bagaimana menuju jalan yang selamat
dari seluruh perselisihan dan kejelekan tersebut ?! Yang pertama, kembali
kepada Allah 'azza wa jalla. Yaitu dengan mengikhlaskan diri dalam ibadah dan
dakwah. Kedua, memurnikan keterikatan dalam kesiapan untuk kembali pada ilmu
yang bersumber pada alquran dan assunnah. Ketiga, membebaskan jiwa dari
keterikatan/perbudakan syahwat dan hawa nafsu serta syubhat pemikiran yang
bersumber dari akal. Keempat, memurnikan kesiapan untuk kembali pada bimbingan
para ulama dan rukun-rukun agama yang akan menolak/membuang seluruh bentuk
kesesatan, problem, dan pemikiran-pemikiran rusak yang menyimpang dari alquran
dan assunnah.
Apabila seorang muslim telah
menjalankan keempat perkara asas tersebut, maka dia telah menempatkan dirinya
di atas kebenaran! Ini adalah awal menuju keselamatan. Berilah kabar gembira
kepada mereka yang telah menempuh jalan tersebut! Karena akhir dari yang akan
mereka dapatkan adalah rahmat dari Allah Al’aliyyul Jalil.
Apa yang engkau harapkan wahai
saudara-saudaraku kaum muslimin ?! apakah engkau menginginkan kemewahan dunia
dalam beramal, kedudukan dan kehormatan, pengikut yang banyak ?! Apabila
demikian tujuannya, maka engkau di atas jalan kebinasaan. Maka jadilah
arrobbaniyyun
dalam ilmu, amal dan jalan dalam
menempuh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Apabila engkau telah menjadi orang
yang robbani, maka puji dan bersyukurlah kepada Allah 'azza wa jalla.
Berdo'alah kepada Allah agar Dia senantiasa memberikan keistiqomahan dan husnul
khotimah. Karena hati manusia, wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, berada
diantara jari jemari Allah. Allah akan membalikkan sesuai dengan kehendak-Nya.
Janganlah kalian terpengaruh dan
memalingkan niat kepada selain Allah dari ilmu yang telah kalian pelajari,
jumlah pengikut yang telah kalian dapatkan, dan kefasihan (kepandaian)
berbicara untuk meraih massa. Berikanlah seluruh amalan yang kalian jalankan
hanya untuk Allah tabaroka wa ta'ala. Karena Allah akan memberikan kebaikan
selama kita berprasangka baik kepada-Nya. Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam
bersabda yang artinya: "Sesungguhnya Allah berfirman: "Aku sesuai
dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia menyebut-Ku.
Apabila dia menyebut-Ku pada dirinya, Aku menyebutnya pada diri-Ku…" (HR.
Bukhori dalam Fathul baari Juz 13/384, Muslim: 2675).
Demi Allah! Kita sebagai seorang
mukmin wajib memberikan prasangka baik kepada Allah, dan kita telah
melakukannya. Tetapi sedikit amalan kita dalam menjalankan perintahnya! Mudah-
mudahan Allah selalu memberikan ampunan kepada kita.
Oleh sebab itulah seorang muslim
wajib berada di atas kebenaran dalam beramal untuk meraih keridho'an Allah dan
membuang angan-angan tanpa amal. Janganlah kalian menjadi orang-orang yang
mengatakan: "Saya menghendaki ilmu agama Allah!" kemudian setelah
datang ilmu tersebut kalian berpaling darinya! "Saya menghormati dan
menjunjung tinggi para ulama" setelah datang bimbingan dari mereka kalian
menyelisihinya ! "Saya menjunjung tinggi alkitab dan assunnah !"
tetapi kalian menghabiskan seluruh kehidupan kalian untuk membaca kitab-kitab
(buku-buku) filsafat, haroki (pergerakan), yang tidak bersumber pada kebenaran
alquran .
Apakah demikian jalan menuju
kebahagiaan wahai orang-orang yang mencari kebahagiaan ?! Orang-orang yang
menginginkan kebahagiaan dengan berangan-angan dan tidak beramal, pada
hakekatnya mereka sama dengan keadaan orang yang bermimpi pada malam hari.
Kenapa demikian?! karena mereka tidak mengamalkan apa yang mereka ucapkan. Maka
jadikanlah diri kalian sebagai orang-orang yang kembali pada alquran dan
sunnah, berpegang teguh dan beramal serta berdakwah kepada keduanya, memuliakan
hukum-hukum yang ada pada keduanya, dan kembali pada bimbingan para ulama yang
menyeru pada keduanya.
Inilah jalan menuju keselamatan dan
kebahagiaan yang hakiki. Inilah hakekat seorang muslim yang selalu menghiasi
dirinya dengan ilmu robbani (ilmu agama Allah). Karena selain ilmu robbani,
semuanya kembali pada tujuan/niat yang diberikan kepada selain Allah. Yaitu
dengan tujuan memperbanyak pengikut, kesombongan, pengagungan, kehormatan, dan
pangkat. Yang kesemuanya berakhir dengan membuang keikhlasan dalam beramal.
Mereka tidak menghiraukan sabda Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam yang
artinya: "Barangsiapa yang mempelajari ilmu, tidak mempelajarinya kecuali
ingin mendapatkan kemewahan dunia, dia tidak akan mendapatkan bau surga di hari
kiamat" (HR. Abu Dawud No. 3664, Ibnu Majah No. 252, Ahmad Juz II/338, dan
lainnya.Dari jalan Abu Hurairoh).
Demikianlah, balasan sesuai dengan
amalan yang dikerjakan. Allah berfirman yang artinya :
“Adapun orang yang memberi di jalan
Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya surga. Maka, Kami akan menyiapkan
jalan yang mudah baginya kelak. Dan adapun orang-orang yang bakhil, dan merasa
dirinya cukup, serta mendustakan balasan, maka Kami akan menyiapkan jalan yang
sukar baginya kelak." (QS. Al Lail :5 - 10 ).
(Bersambung InsyaAllah)
(Diterjemahkan dari Kaset Dakwah
Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdil Hamid
Oleh Al Ustadz Abu’Isa Nur Wahid)
Sumber : Buletin Dakwah Al Atsary,
Semarang Edisi IX/1427H/Th.I
Dikirim oleh Al Akh Dadik via Email
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..