Selasa, 11 Juli 2010
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Dan sudah jelas dari sini bahwa
tujuan yang akan di capai oleh hamba berbeda-beda sesuai dengan apa yang ada
dalam hatinya dari keimanan dan kekufuran. Maka mu’min yang sejati itu berusaha
untuk akherat saja. Jika dia menyentuh dunia dengan badannya dan semangat
kepada dunia dengan hatinya, sesungguhnya dia itu tidak menginginkan kecuali
untuk akherat
Pertanyaan yang sering muncul di
benak kita dan terus menerus membutuhkan jawaban kita, yaitu kenapa Allah
menciptakan manusia ? Apakah hikmah di ciptakan manusia ? Serta apa pula tujuan
apa yang akan dikerjakan manusia di bumi ini ?
Pertanyaan ini telah membikin sesat
dan bingung akal-akal manusia dalam menjawabnya, apakah dari kalangan
cendikiawan, orang-orang yang jenius, lebih-lebih yang dibawah mereka,
khususnya ketika mereka menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan ilmu kalam
dan filsafat yang bersandarkan kepada akal-akal mereka. Dan tidaklah seluruh
akal itu berada dalam kebingungan kecuali akal-akal yang di sinari dengan wahyu
Allah, berpetunjuk dengan petunjuk- Nya, serta mengikuti Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam. Itulah akal yang akan mengetahui jawaban dari pertanyaan ini
dengan berdasarkan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Maka dari sini bisa kita ketahui
bahwa akal itu tidak mungkin bisa sendirian untuk mengetahui aqidah, karena
aqidah itu ilmu yang berkaitan dengan hal-hal ghaib. Dan hal-hal yang ghaib
itu, jika akal ini berbicara tentangnya tanpa bersumber dari wahyu, maka akan
sesat. Hal ini di karenakan akal itu hanya bisa menggambarkan hal-hal yang
diketahui yang sampai padanya dengan jalan panca indra. Dan ketika hal itu
sudah keluar dari areal bumi ini (yakni sudah termasuk urusan alam ghaib. ed.),
maka dia akan terjatuh dalam kebingungan yang besar.
Allah ta’ala berfirman :
“Dan apakah orang yang sudah mati
kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang
dengan cahaya tersebut dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia,
serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali
tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu
memandang baik apa yang telah mereka kerjakan “
( QS. Al-An’am : 122).
Dan mungkin pula akal itu berdalil
dengan apa-apa yang dia lihat dan yang dia dengar, bahwa Tuhannya, penciptanya
dan memberi rezeki kepadanya adalah Allah Al-Wahid, Al-Ahad, yang tidak
melahirkan dan yang tidak dilahirkan, Allah ta’ala berfirman :
“ Dan apakah tidak menjadi petunjuk
bagi mereka, berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan
sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Tuhan).
Maka apakah mereka tidak mendengarkan (memperhatikan) ?. Dan apakah mereka
tidak memperhatikan, bahwasanya kami menghalau (awan yang mengandung) air ke
bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang
daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri .
Maka apakah mereka tidak memperhatiakan ?”
(QS. As-Sajadah : 26-27).
Dan jika kita telah tahu bahwa akal
itu tidak bisa sendirian untuk mengetahui hikmah penciptaan manusia dan jin,
maka wajib bagi kita untuk mempelajari hikmah diciptakannya manusia dan jin
dari Al-Qur’an yang tidak ada kebathilan di dalamnya. Allah subhanahu wa ta’ala
menjelaskan dalam Al-Qur’an hikmah diciptakannya jin dan manusia dalam
firman-Nya :
“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan
manusia untuk beribadah kepada-Ku”
(QS. Adz-Dzariyat : 56).
Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa
ta’ala menyatakan bahwa di ciptakannya jin dan manusia itu adalah untuk
beribadah. Maka ibadah itulah hikmah diciptakannya manusia dan jin, dan juga
kerenanyalah Allah menciptakan langit, bumi, dunia, akherat, surga dan neraka.
Dan oleh karenanya pula Allah mengutus para Rasul dan menurunkan Kitab-kitab
yang menjelaskan antara yang halal dan yang haram, dan untuk menguji kita siapa
yang paling baik amalannya. Sebagaimana yang di firmankan oleh Allah :
“ (Dia-lah) yang menjadikan kematian
dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik
amalannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
(QS. Al-Mulk : 2).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala
menciptakan hamba-hamba-Nya dan mengeluarkan mereka kedunia ini. Lalu
mengabarkan kepada mereka bahwa mereka akan berpindah ke alam lain. Dan Allah
memerintahkan mereka serta melarang mereka dan menguji mereka dengan berbagai
macam syahwat yang menentang perintah serta larangan-Nya. Maka barang siapa
yang tunduk kepada perintah Allah, Allah akan memberikan balasan yang terbaik
kepadanya di negeri akherat, dan barang siapa yang cenderung (menuruti) hawa
nafsunya dan membuang perintah-perintah Allah serta melakukan larangan-Nya,
maka baginya adalah sejelek-jelek balasan. (Lihat Tafsir As-Sa’di Juz 5 hal.
429).
Maka seluruh hamba itu di ciptakan
untuk ibadah, akan tetapi di antara mereka ada yang diciptakan untuk ibadah
tanpa mendapatkan ujian, seperti malaikat, sehingga ibadah itu merupakan
tabi’at mereka dan mereka tidak menginginkan selainnya (ibadah). Allah Ta’ala
menyatakan tentang mereka :
“Dan mereka berkata : “Tuhan Yang
Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”. Maha Suci Allah. Sebenarnya
(malaikat-malaikat itu adalah hamba-hamba yang di muliakan). Mereka itu tidak
mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.
Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang
dibelakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang
diridhoi Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.”
(QS. Al-Anbiya’ : 26-28).
Dan diantara hamba Allah tersebut
ada yang diciptakan untuk ibadah disertai ujian kepada mereka, seperti jin dan
manusia. Mereka di uji dengan berbagai macam syahwat (kesenangan- kesenangan
dunia, ed.). seperti syahwat makanan, syahwat minuman, syahwat nikah, syahwat
menguasai dan lain-lain.
Sebagaimana pula mereka diuji dengan
teman-teman yang jelek serta syubhat-syubhat (keracunan pemahaman,ed.). yang
diterima oleh hati-hati mereka. Dan ujian yang lebih besar lagi adalah setan
yang senantiasa mengintai sejak dikeluarkannya Adam dari surga untuk
menyesatkan anak cucu Adam dan menjatuhkan mereka di dalam kekufuran, kesyirikan,
kefasikan serta kemaksiatan. Oleh karena itu, ibadah yang merupakan kewajiban
mereka itu ada ujian-ujiannya, yaitu dengan adanya seruan-seruan untuk
menyelisihinya (atau mentang kewajiban itu,ed.). Maka barang siapa yang
menjawab seruan-seruan tersebut serta ta’at kepada setan, maka dia termasuk
orang-orang yang menyimpang yang berhak untuk di masukkan ke neraka jahanam,
sebagai mana Allah Ta’ala berfirman :
“ Allah berfirman : “Maka yang benar
(adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Kukatakan. Sesungguhnya Aku
pasti akan memenuhi neraka jahanam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang
yang mengikuti kamu di antara mereka semuanya.” (QS. Shaad : 84-85).
Adapun orang-orang yang mendahulukan
keta’atan kepada Allah dan semangat untuk mencari keridhoan-Nya, serta
mengikuti Rasulullah, maka dialah mu’min yang sejati yang dijanjikan dengan
derajat yang tinggi di dalam suirga Firdaus.
Adapun tujuan yang akan di capai
manusia dalam amalan-amalan itu berbeda-beda sesuai dengan penngetahuannya serta
aqidah mereka. Diantara mereka ada yang mengenal Tuhannya dan mengetahi haq
Allah atasnya, dan dia beriman dengan akan bertemunya dia dengan Allah
(diakherat), serta dia mengetahui kadar dunia ini hanyalah tempat persinggahan
untuk menuju akherat, lalu dia mengambil apa-apa yang berguna baginya serta
bekal yang mengantarkan kepada keridhoan Allah dan surganya, maka itulah tujuan
hidup yang akan di capai dengan usahanya.
Dan diantara mereka ada yang tidak
mengetahui hal tersebut tidak mengenal Tuhannya, tidak mengenal hak-Nya, serta
tidak beriman terhadap pertemuannya dengan Allah (di akherat), bahkan dia
menyangka bahwa dunia dan kelezatannya serta kehidupannya adalah sebagai
tujuannya, maka dia berusaha untuk semata-mata mencari dunia, menghabiskan waktu
dan umurnya untuk mengumpulkan harta, maka dunia menjadi tujuan akhir segala
aktivitasnya.
Allah Ta’ala menyatakan tentang dua
model golongan manusia tersebut dalam ayat-Nya :
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak
mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan
kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang
melalaikankan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa
yang mereka selalu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang beriman dan mengerjakan
amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya,
di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalamn surga yang penuh kenikmatan.
Do’a mereka di dalamnya ialah : “Salam”. Dan penutup do’a mereka ialah : “Alhamdulilaahi
Rabbil ‘aalamin”. (QS. Yunus : 7-10).
Dan sudah jelas dari sini bahwa
tujuan yang akan di capai oleh hamba berbeda-beda sesuai dengan apa yang ada
dalam hatinya dari keimanan dan kekufuran. Maka mu’min yang sejati itu berusaha
untuk akherat saja. Jika dia menyentuh dunia dengan badannya dan semangat
kepada dunia dengan hatinya, sesungguhnya dia itu tidak menginginkan kecuali
untuk akherat, sebagaimana firman Allah :
“Dan barang siapa yang menghendaki
kehidupan akherat dan berusaha kearah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia
adalah mu’min, maka mereka adalah orang-orang yang usahanya di balasi dengan
kebaikan”.
(QS. Al-Israa’ : 19).
Adapun orang kafir yang murni itu
berusaha untuk dunia saja, karena dia tidak beriman kecuali kepada hal itu
saja, dan tidak cenderung kecuali hanya pada hal tersebut. Allah berfirman :
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan sekarang (dunia
), maka Kami segerakan baginya
didunia itu apa yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam,
ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. “(QS. Al- Israa’ : 18).
Adapun muslim yang berbuat maksiat
maka dia berada diantara keduanya. Wallahu a’alamu bish-shawab
Maraji’ : Al-Mauridul ‘Adzabuz Zilal
karya Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi.
Sumber :
BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH,
Surabaya EDISI : 04 / Dzulqo’dah / 1424
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..