Rabu, 25 Januari 2010
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Ghuluw atau sikap yang
berlebih-lebihan dalam agama merupakan penyakit yang sangat berbahaya dalam
sejarah agama-agama samawi (langit). Dengan sebab ghuluw, zaman yang penuh
dengan tauhid berubah menjadi zaman yang penuh kesyirikan. Zaman yang penuh
dengan tauhid kepada Allah berlangsung sejak zaman Nabi Adam sampai diutusnya
Nuh 'alaihis salam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Abbas radhiyallahu
'anhu. (Jami'u al-Bayan juz 2 hal. 194. Ibnu Katsir menukilkan penshahihan
al-Hakim pada Tafsir beliau juz 1 hal. 237)
Sejak zaman Nabi Nuh inilah syirik
tumbuh dengan semarak, padahal kita ketahui bahwa syirik itu adalah dosa yang
paling besar dalam bermaksiat kepada Allah. Dengan syirik itu pula akan
terhapus pahala-pahala, diharamkan pelakunya masuk ke dalam surga dan dia akan
kekal di dalam neraka. Dan pada zaman Nabi Nuh inilah awal mula kesyirikan
terjadi.
Allah telah menerangkan dalam
Kitab-Nya tentang ghuluw (sikap berlebihan di dalam mengagungkan, baik dengan
perkataan maupun i'tiqad) kaum Nabi Nuh terhadap orang-orang shalih pendahulu
mereka. Tatkala Nabi Nuh menyeru mereka siang dan malam, baik secara
terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi agar mereka hanya menyembah Rabb yang
satu saja, dan menerangkan kepada mereka akibat-akibat bagi orang yang
menentangnya. Tetapi peringatan tersebut tidaklah membuat mereka takut, bahkan
menambah lari mereka dari jalan yang lurus, seraya mereka berkata:
وَقَالُوا
لاَ تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ
وَيَعُوقَ وَنَسْرًا. ﴿نوح: ٢۳﴾
Dan mereka berkata: "Janganlah
sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian, dan janganlah
pula kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan janganlah pula Suwa', Yaghuts,
Ya'uq dan Nashr." (Nuh: 23)
Di dalam Shahih Bukhari dari Ibnu
Abbas radhiyallahu 'anhu, beliau berkata tentang firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala tersebut: "Mereka adalah orang-orang shalih di kalangan kaum Nabi
Nuh, lalu ketika mereka wafat syaithan mewahyukan kepada mereka (kaum Nabi Nuh)
agar meletakkan patung-patung mereka (orang-orang shalih tersebut) pada
majlis-majlis tempat yang biasa mereka duduk dan memberikan nama patung-patung
tersebut dengan nama-nama mereka, maka mereka pun melaksanakannya, namun pada
saat itu belum disembah. Setelah mereka (generasi pertama tersebut) habis, dan
telah terhapus ilmu-ilmu, barulah patung-patung itu disembah." (lihat
Kitab Fathu al-Majid bab "Ma ja`a Anna Sababa Kufri Bani Adama wa Tarkihim
Dienahum Huwal Ghuluw fis Shalihin")
Ibnu Jarir berkata: "Ibnu
Khumaid berkata kepadaku, Mahran berkata kepadaku dari Sufyan dari Musa dari
Muhammad bin Qais: "Bahwa Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr adalah kaum yang shalih
yang hidup di antara masa Nabi Adam dan Nabi Nuh alaihimus salam. Mereka
mempunyai pengikut yang mencontoh mereka dan ketika mereka meninggal dunia,
berkatalah teman-teman mereka: "Kalau kita menggambar rupa-rupa mereka,
niscaya kita akan lebih khusyu' dalam beribadah." Maka akhirnya mereka pun
menggambarnya. Ketika mereka (generasi pertama tersebut) meninggal dunia,
datanglah generasi berikutnya. Lalu iblis membisikkan kepada mereka seraya
berkata: "Sesungguhnya mereka (generasi pertama) tersebut telah menyembah
mereka (orang- orang shalih tersebut), serta meminta hujan dengan perantaraan
mereka. Maka akhirnya mereka pun menyembahnya." (Shahih Bukhari dalam
kitab tafsir [4920] surat Nuh)
Perbuatan kaum Nabi Nuh yang
menggambar rupa-rupa orang-orang shalih yang meninggal di kalangan mereka ini
berdasarkan anggapan mereka yang baik dan gambar-gambar ini belum disembah.
Tapi ketika ilmu terhapus dengan kewafatan para Ulama dan ditambah dengan
merajalelanya kebodohan, maka inilah kesempatan bagi setan untuk menjerumuskan
manusia kepada perbuatan syirik dengan cara ghuluw terhadap orang-orang shalih
dan berlebih-lebihan dalam mencintai mereka.
Timbullah pertanyaan di dalam benak
kita, apa sebetulnya tujuan kaum Nabi Nuh menggambar rupa-rupa orang-orang
shalih tersebut? Berkata Imam al-Qurthubi: "Sesungguhnya mereka menggambar
orang-orang shalih tersebut adalah agar mereka meniru dan mengenang amal- amal
baik mereka, sehingga mereka bersemangat seperti semangat mereka (orang-orang
yang shalih), dan mereka beribadah di sekitar kubur-kubur mereka.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"Senantiasa syaithan membisikkan kepada para penyembah kuburan bahwa
membuat bangunan di atas kubur serta beri'tikaf di atasnya adalah suatu
realisasi kecintaan mereka kepada para Nabi dan orang-orang shalih, dan berdoa
di sisinya adalah mustajab. Kemudian hal semacam ini meningkat kepada doa dan
bersumpah kepada Allah dengan menyebut nama-nama mereka. Padahal keadaan Allah
lebih agung dari hal tersebut.." (Lihat Fathul Majid bab Ma Ja'a Anna
Sababa Kufri Bani Adama wa Tarkihim Dienahum Huwal Ghuluw fis Shalihin)
Perbuatan semacam ini merupakan
suatu kesyirikan yang nyata disebabkan oleh sikap ghuluw mereka terhadap
orang-orang shalih. Dan akibat dari perbuatan mereka ini ialah kemurkaan Allah
atas mereka dengan menenggelamkan mereka dengan adzab-Nya sehingga tidak
tertinggal seorang pun dari mereka termasuk anak dan istri beliau sendiri yang
kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah berfirman di dalam ayat-Nya:
مِمَّا
خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ
اللهِ أَنْصَارًا. وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لاَ تَذَرْ عَلَى الأَرْضِ مِنَ
الْكَافِرِينَ دَيَّارًا. ﴿نوح: ٢٥- ٢٦﴾
Dari sebab kesalahan-kesalahan
mereka, mereka ditenggelamkan kemudian dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak
mendapatkan seorang penolong pun selain Allah. Dan berkata Nuh: "Ya
Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun dari orang-orang kafir itu
tinggal di atas bumi. (Nuh: 25-26)
As-Suddi berkata dalam menafsirkan
ayat ini: "Allah mengabulkan doa Nabi Nuh, maka Allah memusnahkan semua
orang-orang kafir yang ada di muka bumi termasuk anak beliau sendiri
dikarenakan penentangannya kepada ayahnya." (Tafsir Ibnu Katsir tentang
surah Nuh)
Maka demikianlah balasan bagi
orang-orang yang ghuluw di masa kaum Nabi Nuh.
Sikap ghuluw ini terus terjadi dari
zaman ke zaman dan masa ke masa sampai terjadi pula di masa Bani Israil. Kaum
Yahudi yang menyatakan bahwa 'Uzair adalah anak Allah sebagaimana terjadi pula
pada kaum Nashrani yang menyatakan bahwa al-Masih adalah anak Allah. Allah
menjelaskan keadaan mereka di dalam ayat-Nya:
وَقَالَتِ
الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ
ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ
قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ. ﴿التوبة: ۳۰﴾
Dan orang-orang Yahudi berkata:
"Uzair itu putera Allah." Dan orang-orang Nashrani berkata: "Al-
Masih itu putera Allah." Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut-mulut
mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu, dilaknati
Allah-lah mereka. Bagaimana mereka sampai berpaling?" (at-Taubah: 30)
Adapun penyebab sikap ghuluw
orang-orang Yahudi terhadap 'Uzair adalah karena mereka melihat dari
mukjizat-mukjizat yang terjadi pada 'Uzair seperti penulisan kitab Taurat
dengan hafalannya setelah Taurat dihapus dari dada-dada orang-orang Yahudi,
serta keadaan 'Uzair yang hidup kembali setelah wafat seratus tahun lamanya.
Lalu setelah akal mereka sempit untuk membedakan perbuatan dan kekuasaan Allah
dengan kemampuan manusia yang terbatas, maka mereka menyandarkan hal tersebut
kepada 'Uzair dan mereka menyatakan bahwa 'Uzair adalah anak Allah sebagaimana
Ibnu Abbas menyatakan: "Sesungguhnya mereka (Orang-orang Yahudi)
menyatakan demikian ('Uzair anak Allah) karena mereka tatkala mengamalkan suatu
amal yang tidak benar, Allah menghapus Taurat dari dada-dada mereka. 'Uzair pun
berdoa kepada Allah. Tatkala itu kembalilah Taurat yang sudah dihapus dari
dada-dada mereka turun dari langit dan masuk ke dalam batin 'Uzair. Kemudian
'Uzair menyuruh kaumnya seraya berkata: "Allah telah memberi Taurat
kepadaku." Maka serta merta mereka mereka menyatakan: "Tidaklah
Taurat itu diberikan kecuali karena dia anak Allah." Sedangkan di dalam
riwayat lain beliau berkata: "Bakhtanshar ketika menguasai Bani Israil
telah menghancurkan Baitul Maqdis dan membunuh orang-orang yang membaca Taurat.
Waktu itu 'Uzair masih kecil sehingga dia dibiarkan (tidak dibunuh). Dan tatkala
'Uzair wafat di Babil seratus tahun lamanya kemudian Allah membangkitkan serta
mengutusnya kepada Bani Israil, beliau berkata: "Saya adalah 'Uzair."
Mereka pun tidak mempercayainya seraya menjawab: "Nenek moyang kami
mengatakan bahwa 'Uzair telah wafat di Babil, dan jika engkau benar-benar
adalah 'Uzair, diktekanlah Taurat kepada kami. Maka 'Uzair pun menuliskannya.
Melihat hal itu mereka menyatakan: "Inilah adalah anak Allah." (Zadul
Masi'ir Fii 'Ilmi At-Tafsir, oleh Ibnul Jauzi juz 3 hal 423-424)
Riwayat kedua ini menyatakan bahwa
'Uzair adalah seorang Nabi dari para Nabi Bani Israil. Setelah beliau meninggal
seratus tahun lamanya, Allah membangkitkannya sebagaimana dijelaskan dalam
firman-Nya:
أَوْ
كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّى
يُحْيِي هَذِهِ اللهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ
بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ
بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ
وَانْظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ ءَايَةً لِلنَّاسِ وَانْظُرْ إِلَى
الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ
قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. ﴿البقرة: ٢٥۹﴾
Atau apakah kamu tidak
(memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh
menutupi atapnya. Dia berkata: "Bagaimana Allah menghidupkan kembali
negeri ini setelah hancur?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun
kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: "Berapa lama kamu
tinggal di sini?" Ia menjawab: "Saya telah tinggal di sini sehari
atau setengah hari." Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal
di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum lagi
berubah, dan lihatlah keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami
akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah tulang
belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali kemudian Kami
membalutnya dengan daging." Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana
Allah menghidupkan yang mati) dia pun berkata: "Saya yakin bahwa Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu. (al-Baqarah: 259)
Demikianlah asal usul orang-orang
Yahudi menamakan 'Uzair sebagai anak Allah. Adapun perkataan orang-orang
Nashrani bahwa Isa anak Allah atau sebagai Allah, ada dua sebab. Yang pertama
karena Isa lahir tanpa bapak. Dan kedua karena dia mampu menyembuhkan orang
buta dan bisu serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah. (Kitab Mahabbatu
ar-Rasul hal. 155)
Yang menyatakan demikian bukanlah
shahabat-shahabat Nabi Isa sendiri, melainkan orang- orang yang ghuluw dari
kalangan Nashrani setelah wafat beliau. Setelah selang beberapa waktu mereka
menjadi musyrik dikarenakan perkataan mereka itu.
Allah telah membantah serta
menerangkan sangkaan mereka yang tanpa dalil tersebut, yang menyebabkan mereka
kafir. Allah berfirman:
لَقَدْ
كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ. ﴿المائدة:
٧٢﴾
Sungguh telah kafir orang-orang yang
berkata: Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam... (al-Maidah: 72)
لَقَدْ
كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلاَّ
إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ
كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. ﴿المائدة: ٧۳﴾
Sungguh telah kafir orang yang
menyatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga," padahal
sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika
mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir
di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (al-Maidah: 73)
Siksaan yang pedih di akhirat
merupakan balasan orang-orang yang menyatakan bahwa Isa adalah putra Allah atau
Isa adalah Allah. Dan mereka termasuk orang-orang kafir dan akan kekal di
neraka. Mereka tidak mengetahui bahwa Isa adalah hanyalah seorang Rasul, dan
dia hanyalah orang biasa yang dimuliakan dengan beberapa kekhususan,
sebagaimana firman Allah Ta'ala:
مَا
الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ
وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلاَنِ الطَّعَامَ... ﴿المائدة: ٧٥﴾
Al-Masih putra Maryam itu hanyalah
seorang Rasul, yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya para Rasul, dan
Ibunya seorang yang benar, keduanya biasa memakan makanan..." (al-Maidah:
75)
Demikianlah umat-umat terdahulu
terjebak ke dalam jurang dosa yang sangat dalam yaitu kesyirikan disebabkan
sikap ghuluw mereka kepada orang-orang shalih.
Kerusakan seperti ini tak kunjung
berhenti dan akan terus berulang sebagaimana yang telah disabdakan oleh
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa umat ini akan meniru peradaban
kaum-kaum sebelumnya. Beliau bersabda:
لَتَتَّبِعُنَّ
سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ
دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوْهُ قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ
وَ النَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟! (رواه البخاري ومسلم)
Benar-benar kalian akan mengikuti
sunnah-sunnah (jalan-jalan) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi
sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai kalau mereka masuk ke lubang biawak,
niscaya kamu akan mengikuti mereka. Kami (shahabat) bertanya: "Wahai
Rasulullah, Yahudi dan Nashrani?" Beliau menjawab: "Siapa lagi?"
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dan kita harus meyakini hadits ini
bahwa umat ini akan mengikuti sunnah-sunnah umat-umat sebelum mereka seperti
sikap ghuluw Yahudi dan Nashara. Hal ini telah terjadi di masa kekhalifahan Ali
bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yaitu ketika terjadi kekufuran yang bersumber
pada sikap ghuluw kelompok Saba'iyah (pengikut Abdullah bin Saba', seorang
Yahudi) terhadap Ali bin Abi Thalib sehingga mereka menyatakan bahwa Ali adalah
Tuhan dan memiliki sifat ketuhanan. Kelompok ini lebih dikenal dengan sebutan
Syi'ah Rafidlah yang pertama kali membuka pintu ghuluw terhadap Ali bin Abi
Thalib dan kepada anak cucu beliau radhiallahu 'anhu.
Di antara sikap ghuluw yang ada kita
juga bisa menemukan adanya sikap ghuluw yang dilakukan sekelompok dari
orang-orang sufi terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan syaikh-
syaikh mereka. Seperti tindakan mereka berdoa kepada Rasul, meminta bantuan
(isti'anah), dan pertolongan (istighatsah) dengan memanggil-manggil beliau,
atau mengusap-usap kubur beliau atau thawaf di sekelilingnya. Dan terkadang
seperti itu pula mereka melakukan terhadap syaikh- syaikh mereka yang telah
meninggal.
Di antara mereka ada yang bersikap
ghuluw terhadap Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah di Baghdad, Syaikh
al-Adawi di Mesir, Para Syaikh (yang dianggap, red) Wali Songo di Indonesia,
serta di antara mereka ada pula yang bersikap ghuluw terhadap seorang tokoh
yang difiguritaskan seperti Hasan al-Banna di Mesir yang dilakukan oleh
sekelompok kaum muslimin dari kalangan firqah Ikhwanul Muslimin sampai di
antara mereka ada yang mengatakan bahwa: "Hasan Al-Banna tidak mati, akan
tetapi hidup di sisi Allah, akhlaknya adalah Al-Quran", sehingga beliau
dijuluki sebagai asy-Syahid. Padahal beliau adalah seorang yang berakidahkan
Sufi al- Hashafiyah Asy-Syadziliyah, sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh
Farid Ahmad bin Manshur Ali Asy-Syabit di dalam Kitabnya Da'watu Ikhwanil
Muslimin fi Mizanil Islam hal. 63. Diterangkan pula di dalam kitab tersebut
bahwa Hasan al-Banna telah menolak hadits tentang turunnya Imam Mahdi di akhir
zaman, serta akidah beliau yang telah menyimpang dari akidah para salafus
shalih.
Demikianlah sikap ghuluw selalu ada
di umat ini selama mereka menjauhi Al-Qur`an dan As- Sunnah serta pemahaman
para shahabat radhiyallahu 'anhum. Dengan semakin jauhnya mereka dari al-Qur`an
dan as-Sunnah, semakin besarlah kerusakan yang mereka lakukan disebabkan sikap
ghuluw tersebut. Tidak sedikit dari kalangan muslimin khususnya orang-orang
awam yang terjatuh ke dalam perbuatan syirik sebagaimana yang dilakukan di
zaman Nabi Nuh 'alaihis salam.
Maka bagi kita haruslah ingat sabda
beliau:
إِيَّاكُمْ
وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ
فِي الدِّيْنِ. (رواه أحمد وابن ماجه والنسائي وقال الشيخ الإسلام ابن تيمية في
الإقتضاء ص ١٠٦، إسناده على شرط مسلم و وافقه الألباني في الصحيحة رقم ١٢٨٣)
Hati-hatilah kalian terhadap
perbuatan ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya hancurnya orang-orang
sebelum kalian dikarenakan (sikap) ghuluw di dalam agama." (HR. Ahmad,
Ibnu Majah, Nasa`i, dan berkata Syaikhul Islam di dalam Iqtidha hal. 106:
Sanadnya dengan atas syarat Muslim, dan disepakati oleh Al-Albani di dalam
ash-Shahihah 1283)
Kita memohon kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala agar menjauhkan kita dari sikap berlebih- lebihan di dalam beragama,
dan agar Allah menunjuki kita serta kaum muslimin untuk kembali ke jalan-Nya
yang lurus. Amin. Wallahu a'lam bis shawab.
Maraji':
1. Al-I'tisham oleh al-Imam
asy-Syatibi
2. Al-Qur`an al-Karim
3. Dakwah Ikhwanul Muslimin fi
Mizanil Islam oleh Syaikh Farid Ahmad bin Manshur Ali Asy- Syabt.
4. Kasyfus Syubhat oleh Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab
5. Kitab Fathul Majid oleh
Asy-Syaikh Abdurrahman Ali Asy-Syaikh.
6. Mahabbatur Rasul Bainal Ittiba'
Wa al-Ibtida' oleh Asy-Syaikh Abdurrauf Muhammad Utsman.
7. Tafsir Ibnu Katsir jilid 4.
( Salafy edisi VII/Shafar/1417/1996
)
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..