Selasa, 17 Januari 2011
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Amat mengherankan perkaranya ketika
dimunculkan satu pertanyaan i'tiqodiyah, "Di mana Allah?", kita
mendapatkan jawaban yang bermacam-macam dan berbeda-beda dari mulut-mulut kaum
muslimin. Ada yang beranggapan bahwa tidak boleh mempertanyakan di mana Allah,
tetapi tak sedikit pula yang menjawab, "Allah ada di mana-mana",
lebih ironisnya ada yang mengatakan, "Allah tidak di atas, tidak juga di
bawah, tidak di sebelah kanan tidak pula di sebelah kiri, tidak di barat tidak
di timur, tidak di selatan tidak juga di utara."
Para pembaca, sungguh sangat
memprihatinkan bila seorang muslim atau banyak muslim tidak mengetahui masalah
pokok dalam agamanya ini, tapi apa hendak dikata bila memang realita yang ada
menunjukkan demikian, satu fenomena yang cukup mu`sif (menyedihkan) menimpa
ummat ini yang dilatarbelakangi dengan jauhnya dari pendidikan ilmu agama yang
benar, sementara Allah telah berfirman, "Allah menganugrahkan al hikmah
(kepahaman yang dalam tentang Al Qur`an dan As Sunnah) kepada siapa yang
dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu ia benar-benar
telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang- orang yang berakallah
yang dapat mengambil pelajaran." (QS Al Baqoroh: 269). "Katakanlah:
'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?' Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran."
(QS Az Zumar: 9).
Bagaimana tidak dikatakan hal yang
pokok dalam agama, pengetahuan tentang "di mana Allah?" tatkala
ternyata Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikannya sebagai dalil
akan kebenaran iman seseorang. Di dalam Shohih Muslim, dan Sunan Abi Daud,
Sunan An Nasa`i, dan lainnya dari sahabat Mu'awiyah bin Hakam as Sulami, ia
berkata: Aku punya seorang budak yang biasa menggembalakan kambingku ke arah
Uhud dan sekitarnya, pada suatu hari aku mengontrolnya, tiba-tiba seekor serigala
telah memangsa salah satu darinya -sedang aku ini seorang laki-laki keturunan
Adam yang juga sama merasakan kesedihan- maka akupun amat menyayangkannya
hingga kemudian akupun menamparnya (menampar budaknya, pent.), lalu aku
mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan kuceritakan kejadian itu
padanya. Beliau membesarkan hal itu padaku, aku pun bertanya, "Wahai
Rosulullah apakah aku harus memerdekakannya?" Beliau menjawab,
"Panggil dia kemari!" Aku segera memanggilnya, lalu beliau bertanya
padanya, "Di mana Allah?" Dia menjawab, "Di langit."
"Siapa aku?" tanya Rosul. "Engkau Rosulullah (utusan
Allah)" ujarnya. Kemudian Rosulullah berkata padaku, "Merdekakan dia,
sesungguhnya dia seorang mu`min."
Di dalam hadits ini terkandung tiga
pelajaran yang sangat signifikan. Pertama: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
menetapkan keimanan sang budak ketika ia mengetahui bahwa Allah di atas langit.
Kedua: Disyari'atkannya ucapan seorang muslim yang bertanya "Di mana
Allah?". Ketiga: Disyari'atkannya bagi orang yang ditanya hal itu agar
menjawab, "Di atas langit." Sulaiman at Taimi, salah seorang tabi'in
mengatakan, "Bila aku ditanya di mana Allah? Aku pasti akan menjawab di
atas langit."
Para pembaca, apa jadinya jika
ternyata sebagian kaum yang taunya sebatas "air barokah" dan
orang-orang yang spesialisasinya hanya itu kemudian apriori untuk menolak
bahkan lebih dari itu mengkafirkan orang yang mempertanyakan "Di mana
Allah?" Ketahuilah bahwa siapa saja yang mengingkari permasalahan ini
berarti ia telah mengingkari Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, wal
'iyadzubillah bila kemudian mengkafirkannya. Jawaban seorang budak dalam hadits
di atas sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala, "Apakah kamu
merasa aman terhadap Allah yang di langit, bahwa Dia akan menjungkirbalikkan
bumi bersama kamu... Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit
bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu." (QS Al Mulk: 16-17).
Tidaklah mengherankan bila kemudian penetapan bahwa Dzat Allah di atas langit
menjadi keyakinan para imam yang empat, imam Abu Hanifah -seorang alim dari
negeri Iraq- berkata, "Barangsiapa yang mengingkari Allah 'azza wa jalla
di langit maka ia telah kufur!" Imam Malik -imam Darul Hijroh- mengatakan,
"Allah di atas langit, sedang ilmuNya (pengetahuanNya) di setiap tempat,
tidak akan luput sesuatu darinya." Muhammad bin Idris yang lebih dikenal
dengan sebutan Imam asy Syafi'i berkata, "Berbicara tentang sunnah yang
menjadi peganganku dan para ahli hadits yang saya lihat dan ambil ilmunya
seperti Sufyan, Malik, dan selain keduanya, adalah berikrar bahwa tidak ada
ilah (yang berhak untuk diibadahi secara benar) kecuali Allah dan bahwa
Muhammad adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu di atas 'arsy di
langit..." Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, "Apakah Allah di
atas langit yang ke tujuh di atas 'arsyNya jauh dari makhlukNya, sedangkan
kekuasaanNya dan pengetahuanNya di setiap tempat?" Beliau menjawab,
"Ya, Dia di atas 'arsyNya tidak akan luput sesuatupun darinya."
(Lihat kitab Al 'Uluw, Imam adz Dzahabi).
Aqidah yang agung ini telah tertanam
dalam dada-dada kaum muslimin periode pertama, para salafus sholih ahlussunnah
wal jama'ah. Berkata Imam Qutaibah bin Sa'id -wafat pada tahun 240 H-,
"Ini adalah pendapat / ucapan para imam-imam Islam, sunnah, dan jama'ah,
bahwa kita mengenal Rabb kita di atas langit yang ke tujuh di atas
'arsyNya." Sehingga semakin jelaslah bahwa Allah di atas langit sebagai
ijma ahlissunnah wal jama'ah yang berlandaskan Kitab, Sunnah, akal, dan fitrah.
Allah berfirman, "Dia mengatur urusan dari langit ke bumi." (QS As
Sajdah: 5). "KepadaNyalah naik perkataan yang baik dan amal sholeh yang
dinaikkanNya." (QS Fathir: 10). "Malaikat-malaikat dan Jibril naik
(menghadap) kepada Tuhannya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu
tahun." (QS Al Ma'arij: 4). "Apakah kamu merasa aman terhadap Allah
yang di langit..." (QS Al Mulk: 16-17). "Sucikanlah nama Tuhanmu yang
Maha Tinggi." (QS Al A'laa: 1). Dan ayat-ayat lainnya teramat banyak untuk
disebutkan sampai-sampai sebagian besar kalangan Syafi'i mengatakan, "Di
dalam Al Qur`an terdapat seribu dalil atau bahkan lebih menunjukkan bahwa Allah
ta'ala tinggi di atas makhlukNya." (Majmu'ul Fatawa: 5/226). Di dalam
Shohih Bukhori dan Muslim dari sahabat Abu Bakroh radhiyallahu 'anhu bahwa
ketika Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan manusia
pada hari Arafah, beliau berkata, "Ya Allah, saksikanlah" (seraya
mengangkat jari telunjuknya ke arah langit). Semua orang yang berakal akan
menetapkan bahwa ketinggian adalah sifat sempurna sedangkan kebalikannya adalah
sifat kekurangan, sementara Allah 'azza wa jalla tersucikan dari hal-hal yang
bersifat kekurangan, ini semua menunjukkan bahwa Dzat Allah di atas langit
adalah suatu kesempurnaan bagiNya. Demikian pula secara fitroh, semua kaum
muslimin di belahan dunia apabila berdo'a mengangkat kedua tangannya ke langit,
tak didapatkan seorang pun dari mereka apabila mengatakan, "Ya Allah,
ampunilah dosaku" mengarahkan kedua tangannya ke tanah -selama- lamanya!!-
menunjukkan secara fitrah, semua manusia menetapkan bahwa Dzat Allah di atas
langit.
Para pembaca, perjalanan waktu yang
cukup lama aqidah Islam ini tak lagi dikenal dan diketahui mayoritas umat
Islam, seakan-akan sirna dari sumbernya, malah sebaliknya faham-faham Jahmiyah,
Asy'ariyah, Mu'tazilah, dan ahli kalam yang merajalela bak wabah penyakit yang
menular. Kalangan anak-anak, remaja, dan para orang tua, bahkan sang ustadz
atau kyai dan guru ngaji bila ditanya, "Di mana Allah?" serempak
menjawab, "Allah ada di mana-mana." Inna lillahi wa inna ilaihi
roji'un. Sebagian yang dinisbatkan kepada ilmu berdalil atas pernyataannya itu
dengan firman Allah, "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada."
(QS Al Hadid: 4). Memang menjadi ciri khas ahli bathil adalah "seenaknya
mengambil dalil tetapi buruk ketika berdalil". Ketahuilah bahwa ayat itu
sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah ada di mana- mana, sebab bila
difahami demikian, maka tentu ketika seseorang berada di masjid Allah ada di
situ, ketika di pasar Allah juga ada di situ, bahkan tatkala seseorang berada
di tempat kotor sekalipun, seperti WC, maka Allah pun ada di situ! Maha tinggi
Allah atas pernyataan-pernyataan ini. Tetapi maksud dari ayat itu "Dia
bersama kamu..." ialah ilmuNya, pengawasanNya, penjagaanNya bersama kamu,
sedang Dzat Allah di atas arsy di langit. (Lihat Tafsir Qur`anil Azhim: 4/317).
Imam Sufyan ats Tsaury -wafat pada tahun 161 H- pernah ditanya tentang ayat ini
"Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada." Beliau menjawab,
"yakni ilmuNya." Hanbal bin Ishaq berkata: Abu Abdillah (Imam Ahmad,
pent.) ditanya apa makna "Dan Dia bersama kamu"? Beliau menjawab,
"Yakni ilmuNya, ilmuNya meliputi segala hal sedangkan Rabb kita di atas
arsy..." Imam Nu'aim bin Hammad -wafat pada tahun 228 H- ditanya tentang
firman Allah "Dan Dia bersama kamu" beliau berkata, "Maknanya
tidak ada sesuatupun yang luput darinya, dengan ilmunya." (lihat Al 'Uluw,
Imam adz Dzahabi). Ketika Imam Abu Hanifah mengatakan, "Allah subhanahu wa
ta'ala di langit tidak di bumi", ada yang bertanya, "Tahukah Anda
bahwa Allah berfirman, 'Dia (Allah) bersama kamu'?" Beliau menjawab,
"Ungkapan itu seperti kamu menulis surat kepada seseorang "saya akan
selalu bersama kamu" padahal kamu jauh darinya. (I'tiqodul a`immah al
arba'ah).
Para pembaca -semoga dirahmati
Allah- sudah saatnya kita tanamkan kembali aqidah yang murni warisan Nabi dan
para salafus sholih ini di dalam jiwa-jiwa generasi Islam kini dan mendatang.
Sungguh keindahan, ketentraman mewarnai anak-anak kita dan para orang tua saat
kita tanyai "Di mana Allah?" lalu mereka mengarahkan jari telunjuknya
ke atas dan berucap, "Allah di langit." Wallahul haadi ila sabilir
rosyaad. Wal ilmu indallah.
(Buletin Dakwah Al Wala' Wal Bara')
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..