Senin, 03 Juli 2009
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Atau ada juga kelompok-kelompok
dakwah yang menghabiskan waktunya untuk menyerang atau mengkritik pemerintah
dengan tujuan memperbaiki masyarakat atau dengan cara politik untuk
menghancurkan pemerintah dengan tanpa memperdulikan kerusakan aqidah para
pengikutnya.
Mengikhlaskan agama hanya untuk
Allah ( Tauhid ) merupakan pokok ajaran agama islam, yang mana karena hal
tersebut inilah Allah menurunkan kitab-kitab-Nya serta mengutus para Rasul, dan
seluruh para Nabi menyerukan ( menda’wahkan ) hal ini serta berjihad dengannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan
dalam firman-Nya :
“Maka sembahlah Allah dengan
mengikhlaskan ( memurnikan ) agama ini.”
(QS. Az-Zumar : 2).
Dalam firman-Nya yang lain :
“Dan tidaklah mereka diperintah
kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ( memurnikan ) agama
ini bagi-Nya.” (QS. Al-Bayyinah : 5).
Dan kedudukan Tauhid itu ibarat
pondasi pada sebuah bangunan.
Al Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah
berkata : “Barang siapa yang ingin meninggikan bangunan, maka wajib atasnya
untuk menguatkan dan memantapkan pondasinya serta bersungguh- sungguh untuk
menfokuskan perhatian kepadanya, karena tingginya bangunan tersebut tergantung pada
kuat serta mantapnya pondasi itu. Maka amalan dan tingkatan-tingkatannya adalah
( ibarat ) bangunan dan pondasinya adalah keimanan. Maka orang yang bijaksana
itu cita- citanya adalah membetulkan dan memantapkan pondasi, adapun orang yang
bodoh (adalah orang yang) mendirikan bangunan tanpa adanya pondasi, sehingga
tidak lama bangunannya akan runtuh.
Allah Ta’ala berfirman :
“Maka apakah orang-orang yang
mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhoan-Nya itu
yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang
runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama kedalam neraka jahanam ? Dan
Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dholim,”
(QS. At-Taubah : 109) .
(lihat keterangan ini dalam kitab
Al-Fawaid, hal 204).
Aku (Syaikh Abdul Malik Ramadhany)
katakan : “Ayat ini turun tentang orang-orang munafik yng membangun masjid
untuk ditegakkan sholat di dalamnya. Akan tetapi ketika mereka mengerjakan
amalan yang agung serta mulia ini, hati mereka kosong dari keikhlasan dan tidak
bermanfat bagi mereka sedikitpun, bahkan mereka jatuh kedalam neraka jahanam
sebagaimana tersebut dalam ayat ini.” (lihat kitab Sittu Duror, hal 13-14)”.
Al Imam Ibnul Qoyyim menyatakan :
“Pondasi itu ada dua hal :
Pertama : Benarnya pengenalan kepada
Allah dan perintah-Nya serta nama-nama dan sifat-sifat- Nya.
Kedua : Memurnikan ketundukan kepada
Allah dan Rasul-Nya, tidak kepada yang lainnya. Maka ini adalah sekuat-kuatnya
pondasi yang di gunakan seorang hamba untuk bangunannya.”
Ketika Tauhid itu ibarat pondasi
bagi sebuah bangunan dan akar dari sebuah pohon, maka perintah pertama yang
kita jumpai ketika kita membuka Al-Qur’an dari awal adalah firman Allah Ta’ala
:
“Wahai manusia beribadahlah kepada
Rabb kalian yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian
menjadi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al Baqarah : 21).
Kemudian setelah ayat ini langsung
diikuti dengan larangan dari apa-apa yang menentang Tauhid, yakni syirik. Allah
berfirman :
“Maka janganlah kalian jadikan
tandingan-tandingan (sekutu) bagi Allah sedangkan kalian mengetahuinya “ (QS.
Al Baqarah : 22).
Di sini terdapat faedah yang besar,
yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya memerintahkan kepada kita untuk
beribadah kepada-Nya, akan tetapi Allah melarang kita dari apa-apa yang
membatalkan hal tersebut, yaitu beribadah kepada selain-Nya (syirik). Maka
lihatlah di dalam Al Qur’an, kita akan menjumpai hukum yang berturut-turut,
diantaranya firman Allah :
“Sembahlah Allah dan janganlah kalian
menyekutukan dengan selain-Nya,”
(QS. An-Nisa : 36).
Dalam firman-Nya yang lain :
“Dan sungguh kami tidak mengutus
seorang Rasul pada setiap ummat (untuk menyeru) “sembahlah Allah dan jauhilah
taghut.”
(QS. An-Nahl : 36).
Syaikh Mubarok Al-Mily berkata :
“Tidak cukup di dalam dua kalimat syahadat dengan semata bertauhid saja, sampai
dia meniadakan berbagai macam sesembahan yang lain dan membatasi syari’at ini
hanya pada seseorang yang di utus untuk menyampaikan agama ini (yaitu
Rasulullah shalallahu wa sallam).
Syirik adalah perbuatan haram nomor
satu yang di larang oleh Allah Ta’ala sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya :
“Katakanlah (wahai Muhammad),
“marilah kalian, akan aku bacakan apa saja yang di haramkan oleh Rabb kalian
atas kalian, yaitu janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun…”
(QS. Al-An’am : 151).
Dan wasiat petama yang di wasiatkan
oleh Luqman Al-Hakkim kepada putranya adalah :
“Wahai anakku, janganlah kamu
menyekutukan Allah (syirik) itu adalah kedholiman yang sangat besar. “ (QS.
Luqman : 13).
Dalam Tauhid itu adalah wasiat para
Nabi ketika akan menghadapi kematian.
Allah Ta’ala berfirman :
“Adakah kami hadir ketika Ya’qub
kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika itu ia berkata kepada anaknnya
“Apakah yang kalian sembah sepeninggalku ? “Mereka menjawab : “Kami akan
menyembah tuhanmu dan tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu)
Tuhan Yang Maha Esa, dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”
(QS. Al-Baqarah : 133)
Oleh karena itu, para da’i yang
mengajak untuk bertauhid adalah seutama-utama da’i, karena dakwah tauhid adalah
dakwah yang menyeru kepada derajat iman yang paling tinggi. Sebagaimana di
nyatakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :
“Iman itu ada tujuh puluh atau enam
puluh lebih cabang yang paling utama adalah kalimat Laa ilaha illallah, dan
yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah
salah satu cabang keimanan.” (HR. Muslim).
Imam An-Nawawi rahimahullah
menyatakan :
“Rasulullah telah mengingatkan bahwa
cabang keimanan yang paling utama adalah Tauhid yang wajib atas setiap orang
(untuk mengetahui ) dan tidak sah sesuatu pun dari cabang-cabang tersebut
kecuali setelah benarnya Tauhid,” (lihat kitab Syarah Shohih Muslim jilid 1,
hal 20).
Aku (Syaikh Abdul Malik Ramadhany)
katakan :
“Akan tetapi cabang-cabang keimanan
ini tidak akan tumbuh dalam hati seseorang dan tidak akan berbuah pada anggota
badannya kecuali sesuai dengan (seberapa jauh makna) kalimat thoyyibah ini di
laksanakan oleh seorang hamba.”
Hal ini di karenakan bagusnya hati
pada jasad. Dalam sebuah hadist dari An-Nu’man bin Basyir radhiayallahu’anhu,
bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya di dalam tubuh
seseorang itu terdapat segumpal daging, Jika ia baik, maka akan baiklah seluruh
anggota tubuh. Jika ia rusak, maka akan rusaklah seluruh anggota tubuh.
Ketahuilah, dia itu adalah hati.” (HR. Bukhori-Muslim).
Di dalam hadits ini terdapat dalil
yang jelas bahwa memperbaiki Tauhid adalah pokok segala kebaikan dan perkara
yang paling agung. Oleh karena itu seluruh dakwah yang menyerukan kepada
kebaikan yang tidak memusatkan pada urusan Tauhid, akan mengalami penyelewengan
(penyimpangan) sesuai dengan jauhnya dia dari pokok yang mulia ini, yaitu
Tauhid.
Seperti mereka (kelompok-kelompok
dakwah) yang menghabiskan waktunya untuk memperbaiki hubungan sesama manusia
tetapi hubungan dengan Allah (yaitu perkara Aqidahnya) tidak sesuai dengan
tuntunan salafus shalih.
Atau ada juga kelompok-kelompok
dakwah yang menghabiskan waktunya untuk menyerang atau mengkritik pemerintah
dengan tujuan memperbaiki masyarakat atau dengan cara politik untuk menghancurkan
pemerintah dengan tanpa memperdulikan kerusakan aqidah para pengikutnya.
Atau ada juga mereka
(kelompok-kelompok dakwah) yang dalam dakwahnya tidak memperhatikan dan tidak
memulai dakwahnya pada Tauhid dengan anggapan bahwa Tauhid itu akan memecah
belah umat, atau umat akan lari darinya, atau juga dengan anggapan bahwa
masyarakat sudah paham semua tentang Tauhid sehingga mereka dengungkan
(dakwahkan) setiap saat adalah bagaimana membentuk daulah Islam (Negara Islam).
Apakah mereka tidak mendengar do’a
Nabi Ibrahim alaihis salam yang mana beliau kuatir terjatuh dalam kesyirikan,
beliau berdo’a :
“Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri
kami ini negeri yang aman, serta jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari
penyembahan kepada patung-patung (berhala). Wahai Tuhanku, sesungguhnya mereka
(berhala-berhala itu) telah menyesatkan mayoritas manusia. “ (QS. Ibrahim :
35-36).
Oleh karena itu Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam menekankan kepada para da’i agar mementingkan
masalah tauhid serta memulai dakwahnya dengan tauhid itu. Sebagaimana di
riwayatkan dalam sebuah hadist dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz bin Jabal ketika
dia di utus ka Yaman :
“Sesungguhnya kamu akan mendatangi
suatu kaum dari ahli kitab. Maka jika kamu datang kepada mereka, jadikanlah
pertama kali yang kamu dakwahkan kepada mereka adalah “beribadahlah kalian
kepada Allah (Dalam riwayat yang lain : “Agar kalian mentauhidkan Allah). “
(HR. Bukhori- Muslim).
Oleh karena itu awalilah dakwah yang
kita lakukan ini dengan dakwah tauhid sebagaimana yang di perintahkan oleh
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam.Wallahu A’lamu bishshowwab.
Maraji’ : Kitab Sittu Durar min
Ushuli Ahlil Atsar, karya Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhany, di
terjemahkan oleh Ustadz Muhammad Irfan.
Sumber : BULETIN DAKWAH
AT-TASHFIYYAH, Surabaya EDISI : 02 / SYAWAL / 1424
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..