Senin, 03 April 2009
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Perhatian umat untuk memperbaiki
kondisi kaum muslimin yang terbelakang dan senantiasa banyak menelan kekalahan
sebenarnya cukup tinggi. Lihatlah, demikian banyak tokoh atau kelompok yang
berupaya melakukan perbaikan dengan berbagai cara dan trik. Namun sayang,
sampai sekarang kondisi umat masih begini-begini saja, malah terlihat makin
terpuruk. Apa penyebabnya?
Tahukah anda apa yang dimaksud
dengan kata-kata kulit? Dan siapakah yang memunculkan statemen ini?
Kulit dalam pandangan mereka adalah
sesuatu yang enteng, remeh, kecil tidak berguna, dan akan dibuang. Padahal
secara rasio, kulit itu sangat menentukan isi dan bila kulit itu rusak maka
isinya pun akan ikut rusak. Bahkan terkadang kulit lebih besar manfaatnya dari
isinya.
Anda bisa membayangkan bila aqidah
dan tauhid sebagai sesuatu yang prinsipil di dalam agama hanya dianggap sebagai
kulit oleh mereka. Yang memunculkan statemen ini adalah ahli bid’ah dari
kalangan hizbiyyun.
Ketahuilah bahwa kerusakan moral di
dalam beragama sesungguhnya merupakan imbas kerusakan aqidah dan tauhid.
Kerusakan peribadahan setiap orang kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan
akibat dari kerusakan aqidah dan tauhid. Kerusakan bermuamalah dengan sesama
merupakan percikan dari kerusakan aqidah dan tauhid. Kerusakan dalam keluarga,
masyarakat, berbangsa dan bernegara merupakan implementasi dari kerusakan
aqidah dan tauhid. Kerusakan aqidah dan tauhid merupakan muara dan poros dari
segala kerusakan di muka bumi ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan
di dalam firman-Nya:
ظَهَرَ
الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah nampak kerusakan di daratan
dan di lautan akibat perbuatan tangan-tangan manusia, dan Allah akan merasakan
kepada mereka akibat perbuatan mereka agar mereka mau kembali.” (Ar- Rum: 41)
Di dalam banyak ayat, Allah
Subhanahu wa Ta'ala telah menvonis suatu kaum atau individu sebagai orang-orang
yang melakukan kerusakan di muka bumi dan menjelaskan bentuk-bentuk kerusakan
mereka.
1. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah
menvonis orang-orang munafik dengan kekufurannya sebagai perusak di muka bumi,
setelah mereka mencoba cuci tangan dari berbuat kerusakan.
وَإِذَا
قِيْلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ
مُصْلِحُوْنَ. أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلَكِنْ لاَ يَشْعُرُوْنَ
“Dan bila dikatakan kepada mereka
janganlah kalian melakukan kerusakan di muka bumi! Mereka menjawab: “Bahkan
sesungguhnya kamilah yang melakukan perbaikan. (Allah mengatakan) ketahuilah
sesungguhnya merekalah yang melakukan kerusakan namun mereka tidak merasa.”
(Al-Baqarah: 11-12)
2. Allah telah menvonis orang-orang
yang ingkar kepada Allah dan kepada para rasul sebagai perusak di muka bumi.
وَالَّذِيْنَ
يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللهِ مِنْ بَعْدِ مِيْثَاقِهِ وَيَقْطَعُوْنَ مَا أَمَرَ
اللهُ بِهِ أَنْ يُوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِي اْلأَرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ
وَلَهُمْ سُوْءُ الدَّارِ
“Orang-orang yang merusak janji
Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa- apa yang Allah telah
perintahkan untuk dihubungkan dan mengadakan kerusakan di muka bumi,
orang-orang itulah yang telah memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat
kediaman yang buruk (Jahannam).” (Ar-Ra’du: 25)
3. Allah Subhanahu wa Ta'ala
menvonis kaum Nabi Shalih yang menentang seruannya sebagai perusak di muka
bumi.
الَّذِيْنَ
يُفْسِدُوْنَ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ يُصْلِحُوْنَ
“Yang membuat kerusakan di muka bumi
dan tidak mengadakan perbaikan.” (Asy-Syu’ara`: 152)
وَكَانَ
فِي الْمَدِيْنَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُوْنَ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ يُصْلِحُوْنَ
“Dan adalah di kota itu sembilan
orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi dan mereka tidak berbuat
kebaikan.” (An-Naml: 48)
4. Allah Subhanahu wa Ta'ala
menvonis Fir’aun dengan segala tindak tanduknya sebagai perusak.
آْلآنَ
وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ
“Apakah sekarang (baru kamu mau
percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk
orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Yunus: 91)
5. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala di
dalam banyak ayat telah memerintahkan kepada setiap hamba-hamba-Nya agar
melihat apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala perbuat terhadap kaum yang melakukan
kerusakan, seperti di dalam Surat Al-‘Araf ayat 86 dan 103 dan Surat An-Naml
ayat 14.
وَانْظُرُوا
كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِيْنَ
“Dan perhatikanlah bagaimana
kesudahan orang-orang yang melakukan kerusakan.” (Al-A’raf: 86)
Dari gambaran ayat di atas, betapa
jelasnya makna perbuatan merusak di muka bumi. Kemudian Allah Subhanahu wa
Ta'ala pun mengutus seluruh rasul untuk melakukan perombakan dan perbaikan atas
segala bentuk kerusakan tersebut. Perlu diingat bahwa para nabi tidak membuat
rancangan sendiri dalam melakukan perbaikan situasi dan kondisi. Namun mereka
menunggu wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tugas yang pertama kali mereka
emban adalah pembaharuan landasan dan prinsip hidup, itulah aqidah dan tauhid.
Alangkah naifnya jika anda mengatakan prinsip dan landasan itu sebagai kulit.
Angan-angan yang Salah
Banyak orang berangan-angan untuk
bisa mengubah sebuah situasi yang buruk untuk kemudian menjadi baik, yang
terbelakang dan mundur untuk menjadi maju dan berkembang. Sehingga bermunculan
ide-ide dari berbagai lapisan, diiringi perdebatan sengit untuk memunculkan ide
tersebut. Mulai dari yang paham agama sampai orang yang tidak mengerti agama,
ikut mengambil bagian dalam membicarakan perbaikan moral dan kerusakan umat.
Tentunya dengan berbagai macam jenis manusia itu akan melahirkan ide yang
beraneka ragam.
Yang mengerti sedikit ilmu agama,
akan melakukan tinjauan dengan keterbatasan ilmu agama yang ada pada dirinya.
Dan yang hanya mengerti tentang ilmu dunia akan menjawabnya dengan pengetahuan
yang dimilikinya. Ada juga poros ketiga yang berusaha mempertemukan semua ide
tersebut sehingga bisa seiring dan sejalan serta tidak bertentangan, sekalipun
alat timbangnya bukan agama.
Sungguh, jika mereka membuka kembali
lembaran-lembaran Al-Qur`an dan As-Sunnah yang menceritakan seruan pembaharuan
yang dilakukan oleh para rasul, niscaya mereka akan menemukan jawabannya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَقَدْ
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوْتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ
الضَّلاَلَةُ فَسِيْرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ
الْمُكَذِّبِيْنَ
“Dan sesungguhnya Kami telah
mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah dan
jauhilah thagut itu. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi
petunjuk oleh Allah dan ada pula orang-orang yang telah pasti kesesatan
baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana
kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَا
أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang
rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Tidak ada sesembahan
yang benar melainkan Aku maka sembahlah Aku oleh kalian’.” (Al-Anbiya`: 25)
وَلَقَدْ
أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيْرٌ مُبِيْنٌ. أَنْ لاَ
تَعْبُدُوا إِلاَّ اللهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ
“Dan sesungguhnya Kami telah
mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan mengatakan): “Sesungguhnya aku adalah
pemberi peringatan yang nyata kepada kalian yaitu agar kalian tidak menyembah
kecuali kepada Allah dan aku khawatir menimpa kalian pada suatu hari adzab yang
pedih.” (Hud: 25-26)
وَإِلَى
عَادٍ أَخَاهُمْ هُوْدًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ
غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُوْنَ
“Dan kepada kaum ‘Ad kami mengutus
kepada mereka saudara mereka Hud dan (dia) berkata: “Wahai kaumku sembahlah
Allah, kalian tidak memiliki sesembahan selain Dia, maka tidakkah kalian
takut?” (Al-A’raf: 65)
وَاذْكُرْ
فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيْقًا نَبِيًّا. إِذْ قَالَ
لأَبِيْهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لاَ يَسْمَعُ وَلاَ يُبْصِرُ وَلاَ
يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا. يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ
يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا. يَا أَبَتِ لاَ تَعْبُدِ
الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا. يَا أَبَتِ إِنِّي
أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطَانِ
وَلِيًّا
“Dan ceritakanlah (hai Muhammad)
kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Al-Qur`an) ini, sesungguhnya dia adalah orang
yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada
bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak bisa
mendengar, tidak melihat dan tidak bisa menolongmu sedikitpun. Wahai bapakku,
sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak
datang kepadamu. Maka ikutilah aku niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan
yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan, sesungguhnya setan
itu durhaka kepada Rabb yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku
khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Rabb Yang Maha Pemurah maka kamu
menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 41-45)
Wahai para da’i kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala, apa yang engkau ambil manfaat dari kisah pembaharuan para
nabi dan rasul tersebut?
Inilah Nabi Musa yang berada di
bawah kekuasaan pemerintah yang sangat kufur, bahkan menobatkan dirinya sebagai
Rabb semesta alam, berundang-undang dengan undang-undang iblis, membunuh
anak-anak laki dan membiarkan hidup anak-anak perempuan.
إِنَّ
فِرْعَوْنَ عَلاَ فِي اْلأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ
طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ
كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat
semena-mena di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan
menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan
membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk
orang- orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berkata
kepada Nabi Musa:
وَأَنَا
اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوْحَى. إِنَّنِي أَنَا اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي. إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ
أَكَادُ أُخْفِيْهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى
“Dan Aku telah memilihmu, maka
dengarkanlah kepada apa yang kamu diwahyukan: Sesungguhnya Aku adalah Allah dan
tidak ada sesembahan yang benar melainkan Aku. Maka sembahlah Aku dan
dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Sesungguhnya hari kiamat pasti datang dan
Aku menyembunyikannya agar setiap orang dibalas apa yang telah diperbuat.”
(Thaha: 15)
Inilah Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang
dihinakan di dalam penjara dan disejajarkan dengan para pelaku maksiat. Beliau
tidak mengajak para penghuni penjara mencaci maki penguasa dan membakar
semangat mereka untuk menentang pemerintah yang diktator dan mempersiapkan
kekuatan untuk melakukan perombakan hukum dan segala tatanan hidup kenegaraan
yang kafir. Namun yang beliau serukan di dalam penjara adalah:
يَاصَاحِبَيِ
السِّجْنِ أأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُوْنَ خَيْرٌ أَمِ اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ.
مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ إِلاَّ أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوْهَا أَنْتُمْ
وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ
لِلَّهِ أَمَرَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ
“Hai kedua penghuni penjara, manakah
yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha
Perkasa. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya menyembah
nama-nama dan nenek moyangmu membuatnya, Allah tidak menurunkan suatu
keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah keputusan Allah.
Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang
lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Yusuf: 39-40)
Dan inilah rasul terakhir dan
penutup semua rasul, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau diutus
kepada kaum yang rusak segala-galanya, bahkan mereka bagaikan binatang yang
berwujud manusia. Tidak ada halal dan haram, tidak ada aturan yang mengikat
perbuatan mereka. Kerusakan hidup tingkat tertinggi dan segala bentuk kejahatan
terkumpul di saat itu. Apakah yang beliau perbuat untuk melakukan perombakan
tatanan kehidupan jahiliyah lagi hewani tersebut dan apa tugas yang diemban
dari Allah Subhanahu wa Ta'ala? Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan di dalam
firman-firman-Nya:
قُلْ
إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّيْنَ. وَأُمِرْتُ لأَنْ
أَكُوْنَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِيْنَ. قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي
عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ. قُلِ اللهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِيْنِي
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku
diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya
dalam menjalankan agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang
pertama berserah diri. Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari
yang besar jika aku durhaka kepada Rabbku. Katakan, hanya Allah saja yang aku
sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama.”
(Az-Zumar: 11-14)
إِنَّا
أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ
الدِّيْنَ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan
kepadamu kitab (Al-Qur`an) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (Az-Zumar: 2) [Lihat secara ringkas
kitab Manhajul Anbiya` Fii Ad-Da’wati Ilallah Fiihi Al-Hikmatu Wal ‘Aql karya
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, hal. 41-77]
Langkah yang Benar
Kini tahukah anda, bahwa angan-angan
manusia untuk memperbaiki situasi dan kondisi yang telah rusak dengan cara
seperti itu, ternyata keliru dan jauh dari syariat? Sehingga setelah itu anda
mengetahui bahwa jalan yang benar untuk memperbaiki situasi dan kondisi yang
telah rusak adalah dengan menempuh jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah
ditapaki oleh para rasul. Kembali kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala
artinya kembali kepada agama-Nya. Berikut petikan indah dari Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabda beliau:
إِذَا
تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ
بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ
يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِيْنِكُمْ
“Bila kalian telah mempraktekkan
jual beli dengan ‘inah (salah satu bentuk jual beli riba), kalian melakukan
kedzaliman, cinta kepada cocok tanam dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah
akan menimpakan kepada kalian kehinaan dan tidak akan tercabut kehinaan
tersebut sehingga kalian kembali kepada agama kalian.”1
Agama mana yang dimaksud sehingga
bisa mengembalikan kejayaan dan kemuliaan kaum muslimin? Apakah agama yang
dipahami dengan akal? Ataukah agama yang dipahami oleh kelompok dan golongan
tertentu? Ataukah yang dipahami oleh nenek-nenek moyang? Ataukah yang dipahami
oleh guru-guru besar? Atau bagaimana?
Tentu hal ini telah ada jawabannya:
Pertama, Allah Subhanahu wa Ta'ala
telah menjelaskan di dalam Al-Qur`an:
لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ
وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا
“Sungguh telah ada pada diri rasul
kalian suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan berjumpa dengan
Allah dan hari kiamat dan banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)
وَمَنْ
يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ
غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ
وَسَاءَتْ مَصِيْرًا
“Barangsiapa yang menentang
Rasulullah setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti selain jalan kaum
mukminin maka Kami akan memalingkannya kemana dia berpaling dan Kami akan
nyalakan baginya neraka Jahannam dan Neraka Jahannam adalah sejelek-jelek
tempat kembali.” (An-Nisa`: 115)
Kedua, Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam telah menjelaskan di dalam sabda-sabda beliau:
فَعَلَيْكُمْ
بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ تَمَسَّكُوا
بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ
فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Hendaklah kalian menempuh sunnahku
dan sunnah Al-Khulafa`ur Rasyidin setelahku, gigitlah dia dengan gigi geraham
dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru (di dalam agama) karena
perkara-perkara baru di dalam agama adalah bid’ah dan setiap kebid’ahan itu
adalah sesat.”2
خَيْرُ
النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah
generasiku kemudian setelah mereka kemudian setelah mereka.”3
Ketiga, beberapa ucapan ulama Salaf:
Abdullah ibnuq Mas’ud radhiallahu 'anhu berkata: “Ikutilah oleh kalian dan
jangan kalian mengada-ada sungguh (Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam) telah cukup buat kalian.”4
‘Umar bin Abdulq ‘Aziz rahimahullahu mengatakan: “Berhentilah kamu di mana
kaum itu (para shahabat) berhenti. Sesungguhnya mereka berhenti di atas ilmu,
dan di atas ilmu pula mereka menahan diri, dan mereka lebih sanggup untuk
membuka (perbendaharaan ilmu) dan jika memiliki keutamaan merekalah yang lebih
dahulu. Jika kalian mengatakan: ‘Telah muncul perkara baru setelah mereka
(shahabat).’ Maka tidak ada yang mengadakannya kecuali orang yang menyelisihi
dan benci mengikuti jalan mereka. Mereka telah mensifati segala apa yang
menyembuhkan dan berbicara yang mencukupkan. Melebihi mereka adalah melampaui
batas dan menguranginya adalah meremehkan. Maka tatkala suatu kaum meremehkan
mereka, mereka menjadi kaku. Dan ketika kaum itu melampau batas, mereka menjadi
berlebihan. Dan sesungguhnya jika mereka berada di tengah-tengah, sungguh
mereka berada di atas jalan yang lurus.”5
Al-Imam Malikq rahimahullahu berkata: “Tidak ada yang akan memperbaiki
situasi dan kondisi umat sekarang ini melainkan harus kembali kepada apa yang
telah memperbaiki umat terdahulu.”6
Abu ‘Amrq Al-Auza’I rahimahullahu berkata: “Sabarkan dirimu di atas
As-Sunnah! Berhentilah di mana kaum (Salafus Shalih) berhenti dan katakan
(semisal) apa yang mereka telah katakan, dan tahan dirimu pada hal-hal yang
mereka menahan diri. Tempuhlah jalan Salafmu yang shalih, niscaya kamu akan
mendapatkan apa yang mereka telah dapatkan.”7
Dalam kesempatan yang lain berkata:
“Hendaklah kamu menempuh jalan Salaf meskipun orang- orang menolakmu. Dan
berhati-hatilah dari pendapat banyak orang sekalipun mereka hiasi dengan
ucapan- ucapan.”8
Dari dalil-dalil di atas kita mengetahui
Islam yang dimaksudkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Islam yang
akan mengembalikan kejayaan, kemuliaan, dan keemasan Islam serta kaum muslimin.
Itulah agama yang difahami, diamalkan dan didakwahkan oleh salaf umat ini yang
shalih. Mereka adalah para shahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in.
Berarti jalan yang sesuai dengan
syariat dalam menjawab problematika umat sekarang ini adalah:
Pertama: Menyebarkan aqidah yang
benar di tengah kaum muslimin.
Kedua: Kembali ke jalan Salafush
Shalih dalam memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan Islam.
Ketiga: Menyebarkan ilmu yang benar
yaitu ilmu yang berlandaskan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam sesuai dengan pemahaman Salaf umat ini.
Keempat: Mentarbiyah (mendidik)
generasi Islam di atas agama yang mushaffa (bersih).
Kelima: Menegakkan amar ma’ruf dan
nahi mungkar
Keenam: Mendirikan shalat
Ketujuh: Menunaikan zakat
(diambil dari kaset Keindahan Islam,
Asy-Syaikh Musa Alu Nashr)
Aqidah yang Benar
Munculnya berbagai keyakinan di
tengah kaum muslimin memiliki dampak demikian besar dalam beragama. Bagaimana
tidak, banyak dari kaum muslimin menganggap sesuatu yang menurut agama
merupakan kesyirikan, sebagai tauhid yang harus diyakini dan dipegang seumur
hidup. Dan begitu sebaliknya, ketauhidan dianggap sebagai ajaran baru dan
menyesatkan yang harus dimusuhi dan diperangi. Sunnah menjadi bid’ah dan bid’ah
menjadi sunnah, kebatilan sebagai kebenaran dan kebenaran menjadi sesuatu yang
samar. Dengan fenomena yang menyedihkan ini kita dituntut untuk belajar guna
mengetahui aqidah yang benar untuk kemudian bisa memilahnya dari aqidah yang
jelek. Aqidah yang benar adalah aqidah yang bersumber dari Al- Qur`an dan
hadits-hadits yang shahih (benar datangnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam) yang dipahami dengan pemahaman Salafush Shalih umat ini. (‘Aqidatu
Tauhid karya DR. Shalih bin Fauzan hal. 11)
Meremehkan Aqidah dan Tauhid
Aqidah dan tauhid memiliki kedudukan
tinggi dan sangat besar di dalam agama. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan
Rasul-Nya meletakkan keduanya dalam prinsip yang pertama dan utama di dalam
agama.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَاعْلَمْ
أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
“Berilmulah kamu tentang Laa Ilaha
Illallah.” (Muhammad: 19)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:
بُنِيَ
اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ
مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ
وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas lima dasar:
Mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan
Muhammad adalah utusan Allah…”9
فَلْيَكُمْ
أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
“Hendaklah yang pertama kali kamu
serukan kepada mereka adalah mempersaksikan kalimat La Ilaha illallah.”10
Dengan sebab itulah para nabi dan
rasul diutus, kitab-kitab diturunkan, adanya perintah amar ma’ruf nahi munkar,
ditegakkannya jihad, ada hari pembalasan, ada hari hisab (perhitungan), adanya
timbangan dan adanya surga dan neraka. Bila engkau meremehkan masalah aqidah
dan tauhid dengan menyebutnya sebagai kulit agama atau ucapan lain yang
semakna, berarti engkau telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan
melakukan dosa besar. Engkau berada dalam ambang marabahaya yang dahsyat dan di
tepi jurang kehinaan serta kehancuran. Dikhawatirkan engkau keluar dari Islam.
Engkau wajib bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari perbuatanmu, yaitu
meremehkan sesuatu yang karenanya diutus para nabi dan rasul serta diturunkannya
kitab-kitab oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Wallahu a’lam.
1 HR. Al-Imam Abu Dawud no. 3003,
dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash- Shahihah jilid 1
hadits no. 11.
2 HR. Al-Imam Abu Dawud no. 3991,
Ibnu Majah no. 42, Ahmad no. 165 dan Ad-Darimi no. 95 dari shahabat ‘Irbadh bin
Sariyah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash- Shahihah no.
2735.
3 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 2457,
2458 dan Al-Imam Muslim no. 4600, 4601, 4602 dari shahabat Abdullah bin Mas’ud
dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash.
4 Atsar Ibnu Mas’ud adalah shahih
diriwayatkan oleh beberapa tabi’in. Di antaranya Abu Abdurrahman As-Sulami
diriwayatkan oleh Al-Imam Ath-Thabrani di dalam Al-Kabir (8870), Ad- Darimi
(211), Al-Baihaqi di dalam Al-Madkhal (204) dan Ibnu Wadhdhah di dalam Al-Bida’
wan Nahyu ‘Anha hal. 10. Juga dari Ibrahim An-Nakha’i diriwayatkan oleh Abu
Khaitsamah di dalam kitab Al-‘Ilmu, serta dari Qatadah diriwayatkan oleh Ibnu
Wadhdhah (hal. 11)
5 Lihat Lum’atul I’tiqad karya Ibnu
Qudamah dan beliau sebutkan pula di dalam kitab beliau Al- Burhan Fi Bayanil
Qur`an hal. 88 dan 89
6 Lihat Kitab ‘Ilmu Ushulil Bida’
karya Asy-Syaikh Ali Hasan Ali bin Abdul Hamid
7 Lihat Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah
1/174
8 Lihat Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah
1/159 dan Lum’atul I’tiqad masalah 9.
9 HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim
dari shahabat Ibnu ‘Umar
10 HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim
dari shahabat Ibnu ‘Abbas
(http://asysyariah.com/print.php?id_online=340)
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..