Senin, 30 Januari 2009
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Sesungguhnya tidak tersamar bagi
seorang muslim yang hidup di muka bumi saat ini, apa yang sedang diderita ummat
Islam berupa kelemahan, kekacauan di setiap aspek kehidupannya, baik aspek
politik maupun ekonomi dan dalam bidang-bidang yang lainnya. Dan orang-orang
yang selalu berusaha berbuat kebaikan sudah sejak lama telah memperingatkan
akan kelemahan ini. Maka mereka mulai berusaha menganalisa dan membatasi
persoalan tersebut, terutama penyembuhan dan pemberantasannya sampai ke
akar-akarnya.
Namun sayang, jalan-jalan yang
mereka tempuh bercerai-berai, ketika menentukan obatnya dan ketika berusaha
menghilangkan penyakit sampai ke akar-akarnya. Hal ini disebabkan oleh beraneka
ragamnya manhaj-manhaj mereka dan bermacam-macamnya firqah dan aliran mereka.
Tidak diragukan lagi, bahwa yang
menimpa kaum muslimin tersebut tiada lain disebabkan oleh jauhnya mereka dari
agamanya. Dan tenggelamnya mereka ke dalam nafsu syahwat yang diharamkan.
Karena permasalahannya seperti itu dan memang demikian adanya, sesungguhnya
Rasulullah telah menjelaskan kepada kita penyakit tersebut dan telah
memberitahukan pula apa obatnya serta tidak meninggalkan peluang -bagi orang
yang masih punya akal- untuk munculnya perselisihan dan pertentangan.
Al-Imam Abu Daud telah mengeluarkan dalam
Sunan-nya (3/740) dan lainnya, dari Ibnu 'Umar, dia berkata: "Aku
mendengar Rasulullah bersabda, yang artinya: "Apabila kalian telah berjual
beli dengan cara 'inah (riba) dan kalian telah memegang ekor-ekor sapi (kiasan
untuk kekuasaan yang zhalim), serta kalian lebih cinta (ridha) kepada pertanian
(dunia) dan kalian tinggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian
kerendahan, tidak akan dicabut kerendahan itu sampai kalian mau kembali kepada
agama kalian". Maka satu-satunya jalan keluar dari kerendahan dan kehinaan
ini adalah dengan kembali kepada syari'at Allah Ta'ala, beramal dengannya. Dan
hal ini telah disaksikan oleh Al-Qur`an di banyak tempat.
Di antaranya adalah firman Allah
Ta'ala yang artinya: "Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertaqwa,
tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami
masukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka
sungguh- sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur`an) yang
diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan
dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang
pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan
mereka." (Al-Ma`idah:65-66).
Begitu jelas dan gamblang permasalahan
ini. Ternyata masih ada manusia yang menisbatkan diri mereka kepada
"dakwah", namun berpaling dari ketundukan kepada ketentuan yang
terang benderang ini. Mereka lebih menyukai pemecahan masalah dengan yang
dihasilkan oleh akal- akal mereka yang dangkal dan pendapat mereka yang tidak
laku (hina). Kemudian mereka mencari perbaikan keadaan kaum muslimin dengan
sesuatu yang tidak disyari'atkan oleh Allah Ta'ala dan tidak pula oleh
Rasulullah. Hasil dari usaha yang mereka lakukan itu tiada lain adalah
kerugian. Akhir langkah mereka adalah bencana. Allah Ta'ala tidak akan
memperbaiki perbuatan orang-orang yang berbuat kerusakan.
Di hadapan langkah yang mereka
lakukan, ada para pengemban dakwah yang tersebar di atas bendera sunnah yang
suci dan petunjuk nabawi. Mereka memperhatikan "sunnah-sunnah" dan
bersemangat untuk mempraktekkannya dalam segala hal. [Perlu diperhatikan di
sini, bahwa yang dimaksudkan dengan "sunnah" pada kalimat ini dan
setelahnya adalah segala sesuatu yang diambil dari Nabi baik perkataan,
perbuatan, ketetapan, sifat jasmani dan rohani atau riwayat sejarah
kehidupannya setelah kenabian dan terkadang masuk juga sebagian perkara sebelum
kenabian; atau secara singkatnya "sunnah" adalah jalan dan petunjuk
Nabi, baik menyangkut 'aqidah, amalan, akhlaq atau sifat jasmani dan rohani
beliau; atau "sunnah" adalah syari'at Islam itu sendiri yang mencakup
Al-Qur`an dan Al-Hadits; "sunnah" adalah bukan seperti yang difahami
kebanyakan orang yang mengartikan sunnah sebagai sesuatu yang selain wajib,
berpahala jika dikerjakan dan tidak berdosa bila ditinggalkan].
Kesimpulan dan inti dari
permasalahan di atas adalah wajibnya mementingkan sunnah yang tsabit dari
Rasulullah dengan mempelajari, mengajarkan dan mengarahkan kepadanya.
Bahwa bercokolnya kelemahan tersebut
-sebagaimana dijelaskan di atas- pada kita, hanyalah datang dari para pemberani
yang jauh dari ajaran agama Allah, kewajiban dan sunnahnya. Maka jalan yang
benar untuk terlepas dari kelemahan ini adalah kembali kepada agama kita dan
bersemangat untuk mengamalkan serta berdakwah kepadanya secara keseluruhan,
sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, yang artinya: "Hai orang-orang yang
beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya dan janganlah
kalian mengikuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang
nyata bagi kalian." (Al-Baqarah:208).
Al-Alusi dalam Tafsirnya (Ruhul
Ma'ani II/97) berkata: "Maknanya (ayat tersebut) adalah: "Masuklah
kalian ke dalam Islam dengan totalitas kalian dan janganlah kalian tinggalkan
sedikitpun dari lahir dan bathin kalian, kecuali Islam sudah memasukinya,
sehingga tidak ada tempat untuk selain Islam."
Semua yang disyari'atkan Allah dalam
kitab-Nya serta yang disampaikan Rasul-Nya dalam sunnah-sunnahnya tidak
diperkenankan bagi seorangpun untuk menganggapnya kecil dengan alasan apapun,
bahkan wajib berpegang teguh dengan Islam secara keseluruhannya. Maka
permasalahan yang merupakan kewajiban, haram untuk ditinggalkan dan perkara
yang dinyatakan sebagai mandub atau mustahab, maka selayaknya bagi seorang
muslim untuk bersemangat melaksanakannya dan berlomba-lomba dalam kebaikan
secara umum.
Maka tiada jalan lain ke arah
tersebut (perbaikan kondisi ummat), kecuali jalan ini (mengamalkan sunnah),
yang dengannya akan tumbuh generasi sunnah, yang dalam jiwa-jiwanya telah
tertanam kecintaan terhadap agama, suatu kecintaan yang akan melemahkan
kecintaan pada yang lain, seperti kecintaan terhadap diri sendiri, harta dan
anak, sehingga siaplah jiwa-jiwa itu untuk menerima semua kebaikan dan sikap dermawan
dengan semua yang dimilikinya untuk menolong agama Allah ini.
Kewajiban Memperhatikan dan
Mementingkan Sunnah
Sesungguhnya perkara yang paling
pantas untuk dijadikan perhatian oleh seorang muslim dan yang paling utama
waktunya dicurahkan di dalamnya ialah beramal di atas petunjuk Nabi dan
mewujudkannya di dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan kemampuannya.
Hal itu disebabkan oleh tujuan akhir
seorang mukmin adalah mendapatkan hidayah (petunjuk) yang dapat mengantarkannya
ke negeri kebahagiaan. Allah Ta'ala berfirman, yang artinya: "Jika kalian
mau mentaatinya (Nabi) pasti kalian akan mendapat petunjuk." (An-Nur:54).
Dan firman- Nya yang lain: "Dan ikutilah ia agar kalian mendapat
petunjuk." (Al-A'raf:158).
Juga firman-Nya: "Sungguh pada
diri Rasul terdapat suri tauladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang
yang mengharap perjumpaan dengan Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir
kepada Allah." (Al-Ahzab:21). Dan ayat ini, sebagaimana telah dikatakan
oleh Ibnu Katsir adalah pijakan utama dalam meneladani Rasul baik dalam
perkataan, perbuatan dan kehidupannya.
Keteladanan ini hanya akan dijalani
dan dicocoki oleh orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir saja.
Sesungguhnya apa yang ada pada
dirinya, berupa: keimanan, rasa takut kepada Allah, harapan mendapat pahala-Nya
serta takut akan 'adzab-Nya, akan mendorongnya meneladani Rasulullah. (Tafsir
As-Sa'di 6/209).
Kemuliaan dan kedudukan seorang
mukmin hanyalah diukur dengan sikap ittiba'-nya kepada sunnah Rasulullah,
semakin tinggi semangatnya terhadap sunnah, semakin tinggi pula derajatnya.
Oleh karena itu, para 'ulama terdahulu dari kalangan salafush-shalih menentukan
ukuran bagi orang yang bisa diambil ilmunya -sesuatu yang paling mulia untuk
diambil-, adalah dengan seberapa kuat dia memegang sunnah. Sebagaimana
dikatakan oleh Ibrahim An-Nakha`i: "Mereka, para salaf, jika mendatangi
seseorang yang akan diambil ilmunya, terlebih dahulu melihat: bagaimana
shalatnya, sunnahnya serta tingkah laku dan penampilannya. Setelah itu, baru
mereka mengambil ilmunya."
Di dalam risalah Al-Qusyairiyah
(1/75) karya Dzinnun Al-Mashri, dia berkata: "Termasuk tanda bagi
seseorang yang mencintai Allah adalah bahwa dia mengikuti kekasih Allah dalam
akhlaq, perbuatan dan perintah-perintah serta sunnah-sunnahnya." Pernyataan
ini benar-benar diambil dari Kitabullah. Allah Ta'ala berfirman:
"Katakanlah: "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah
aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian." Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali 'Imran:31).
Berkata Al-Hasan Al-Bashri:
"Tanda kecintaan mereka kepada Allah adalah sikap ittiba' mereka kepada
sunnah Rasulullah." (Riwayat Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya 2/204,
Ath-Thabari 3/232 dan Al-Laalika`' 1/204)
Para 'ulama rabbaniyyin di sepanjang
masa selalu seragam dan menonjol dalam memberi semangat untuk beramal dengan
sunnah sesuai makna yang asli -lihat kembali makna "sunnah" di atas-.
Baik dengan pengarahan, pengajaran maupun tulisan-tulisan mereka. Dan dengan
keutamaan Allah serta kesungguhan yang tercurah ini, telah menghabiskan waktu
dan tenaganya, dihadapinya mara bahaya dengan penuh susah payah. Ditempuhnya
jalan yang diliputi kesulitan serta kemudahan, hingga sampailah As-Sunnah
kepada kita dalam keadaan terlindungi, terjaga dan terpenuhinya kebutuhan (akan
sunnah), agar kita dapat mempelajari, berhubungan serta menyeru kepadanya
dengan sepenuh daya upaya yang ada.
Senantiasa di sepanjang masa -dengan
memuji Allah dan taufiq serta pertolongan-Nya- ada sekelompok manusia yang
mengarahkan perhatian dan kemauannya serta membesarkan anak- anaknya di atas
perhatian yang besar terhadap sunnah nabawiyyah. Dan tidak ada perbedaan dalam
hal ini antara yang sedikit ataupun yang seluruhnya diambil, sebagaimana telah
digariskan oleh Nabi dengan ketentuan yang syar'i yang tercantum dalam hadits
shahih: "Apabila aku perintah kalian untuk melaksanakan sesuatu, maka
kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kalian." (Muttafaqun 'alaih dari Abu
Hurairah).
Mereka menyeru untuk berpegang
kepada sunnah dan selalu berada di atasnya, baik secara keseluruhan maupun
terperinci. Dan mereka juga mengingkari orang yang menyimpang dari jalan
tersebut, bagaimanapun bentuk penyimpangannya. Merekalah orang-orang yang
dikatakan oleh Abu 'Abdillah Al-Hakim: "Suatu kaum yang menempuh jalan
orang-orang shalih serta mengikuti atsar orang salaf yang telah lampau. Mereka
kalahkan para ahli bid'ah, orang-orang yang menyimpang dari jalan sunnah
Rasulullah. Akal-akal mereka dipenuhi dengan kelezatan sunnah dan hati-hati
mereka penuh dengan keridhaan dalam segala keadaan. Mempelajari sunnah adalah
kesenangan mereka dan majlis-majlis ilmu adalah kesukaan mereka. Dan ahli
sunnah tanpa kecuali, adalah saudara-saudara mereka. Dan orang-orang yang
menyimpang dari jalan kebenaran serta ahli bid'ah seluruhnya adalah musuh-musuh
mereka." (Ma'rifatu 'Ulumil Hadits hlm. 4)
Akan tetapi, kelompok ini -yang
mendapat pertolongan dan keselamatan (firqatun najiyah)- pada setiap masa tidak
terlepas dari orang bodoh atau pengikut hawa nafsu yang membuat berbagai macam
tipu daya, mencanangkan permusuhan dan melekatkan dengan kedustaan yang sangat
besar kepada mereka.
Terkadang mereka mencerca orang yang
menjalankan sunnah dengan julukan memecah-belah persatuan kaum muslimin! Demi
Allah mereka telah berdusta. Cercaan itu terkadang dalam bentuk umpatan dan
celaan kepada orang yang mendalami sunnah nabawiyyah melalui penelitian,
penetapan, perbuatan dan dakwah, yaitu -ucapan para penentang sunnah- di bawah
kaidah pembagian agama kepada perkara juz`iyyat (cabang) untuk mencela orang
yang mendalami masalah ini dan kepada perkara kulliyyat (ushul) untuk mencela
orang yang tidak ada perhatian padanya.
Akan tetapi pembagian tadi telah
dibantah oleh para 'ulama baik dahulu ataupun 'ulama jaman sekarang. Di antara
'ulama jaman dahulu adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang berkata:
"Adapun pemisahan antara satu macam penamaan: masalah-masalah ushul dengan
macam yang lain dengan penamaan: masalah-masalah furu', maka ini pemisahan yang
tidak ada asalnya, tidak dari para shahabat dan tidak pula dari tabi'in serta
tidak pula dari para imam Islam. Pembagian ini tidak lain diadopsi dari
kelompok Mu'tazilah dan yang seperti mereka (dari kalangan) ahli bid'ah."
(Al-Masa`il Al-Maaridiniyah hal.788).
Sedangkan dari kalangan 'ulama
sekarang yang membantahnya adalah Asy-Syaikh Al-'Allamah Al-Imam Muhadditsul
'Ashr (Muhaddits jaman ini) Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy Rahimahullahu
Ta'ala, dalam pembicaraannya dengan salah seorang anggota Jama'ah Hizbiyyah
Islamiyyah. Beliau berkata:
"Yang kami ketahui, bahwa semua
da'i-da'i Islam pada saat ini selain yang berintima' -kepada manhaj salafush
shalih- membagi Islam kepada ushul dan furu' -dan sebagaimana yang telah kami
katakan tadi: mereka membagi Islam kepada isi (bagian dalamnya-pent.) dan kulit
(bagian luar Islam-pent.)." Jaman sekarang ini merupakan jaman yang di
dalamnya terjadi kemelut yang membinasakan kaum muslimin, sehingga mereka
semakin dijauhkan dari Islam, sekiranya mereka ingin mendekatinya.
Sekarang -dengan tsaqofah yang anda
punyai dan ilmu yang saya miliki-: Tidaklah kita akan mampu untuk membedakan
mana yang ushul dan mana yang furu', kecuali bila yang dimaksud dengan ushul
adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan 'aqidah saja dan tidak ada
kaitannya dengan perkara hukum. Dengan begitu, amalan shalat yang merupakan
rukun kedua tidak masuk dalam masalah ushul, akan tetapi merupakan bagian furu'
atau cabang. Mengapa demikian? Karena ia tidak punya kaitan dengan 'aqidah
secara murni. Pembagian seperti ini sangat membahayakan sekali. Kalau kita
anggap benar pembagian ini, yaitu uhsul adalah masalah 'aqidah yang tidak boleh
berselisih tentangnya, siapa yang menyelisihinya berarti kafir sedangkan furu'
adalah masalah hukum, yang setiap orang boleh berselisih di dalamnya. Sekarang
kita ambil contoh masalah shalat fardhu -yang menurut mereka termasuk furu'-.
Semua kaum muslimin sepakat tentang kewajiban shalat fardhu tersebut dan
barangsiapa yang mengingkarinya maka dia telah kufur walaupun hal ini termasuk
masalah ahkam, yang tentunya hal ini sangat bertentangan dengan pengertian
mereka tentang furu'. Contoh kedua adalah masalah apakah Rasulullah melihat
Allah di dunia atau tidak? Ini termasuk perkara 'aqidah, akan tetapi tidak ada
satu 'ulamapun yang mengkafirkan orang yang berbeda pendapat dalam masalah ini.
Dari dua contoh ini, tampak jelas bathilnya pembagian agama ke dalam uhsul dan
furu'.
Untuk itu, aku mengetahui, bahwa
sebagian jama'ah dahulu menyerukan untuk mengadopsi (mengambil) Islam secara
keseluruhan. Dan ini merupakan dakwah yang benar. Karena Islam sebagaimana
datang kepada kita yang wajib kita adopsi (ambil).
Akan tetapi dari sisi amaliyah:
mungkin saja seseorang secara individu misalnya, atau kelompok hanya mampu
untuk menjalankan satu sisi saja, tapi tidak mampu untuk menjalankan sisi yang
lain. Akan tetapi dari segi pemikiran: Al-Islam wajib untuk diadopsi secara
total, tidak dibagi-bagi (dipetak-petak) misalnya: fardhu, sunnah, mustahab,
mandub,?dan seterusnya. Jangan kita katakan: "Ini hanya perkara mandub
tidak ada nilainya, ini mustahab tidak penting?, cukup bagi kita yang
fardhu-fardhu saja." Tidak demikian, kita menyeru kepada Islam secara
keseluruhan dan selanjutnya setiap individu mengambil dari apa yang dapat
membangkitkan dan yang mampu untuk dilaksanakan." (lihat kembali tafsir
surat Al-Baqarah:208 di atas).
Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita
termasuk orang-orang yang mencintai Sunnah Nabi, mengamalkannya, berpegang
teguh dengannya serta membelanya dari para penentang dan musuh-musuhnya. Amin
Ya Mujiibas Saa`iliin. Wallahu a'lamu bish shawaab. {Untuk lebih jelas bisa
meruju' kepada kitab "Dharuuratul Ihtimaam Bis Sunnanin Nabawiyyah"
karya Asy-Syaikh 'Abdussalam bin Barjas Alu 'Abdil Karim}
(http://fdawj.co.nr/)
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..