Rabu, 07 Desember 20011
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman
:
"Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At Tin : 5)
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di
atas bisa menjadi bahan renungan buat kita! Sungguh kenyataannya terpampang di
hadapan mata. Alangkah sempurna penciptaannya dan alangkah indahnya!
Lalu pernahkan kita memikirkan dari
mana kita diciptakan dan bagaimana tahap-tahap penciptaannya? Pernahkah
terpikir di benak kita bahwa tadinya kita berasal dari tanah dan dari setetes
mani yang hina?
Pembahasan berikut ini mengajak Anda
untuk melihat asal kejadian manusia agar hilang kesombongan di hati dengan
kesempurnaan jasmani yang dimiliki dan agar kita bertasbih memuji Allah 'Azza
wa Jalla dengan kemahasempurnaan kekuasaan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman
kepada para Malaikat-Nya sebelum menciptakan Adam 'Alaihis Salam :
"Sesungguhnya Aku akan
menciptakan manusia dari tanah." (Shad : 71)
Begitu pula dalam ayat lain Allah
Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan orang-orang musyrikin yang ingkar dan sombong
tentang dari apa mereka diciptakan. Dia Yang Maha Tinggi berfirman :
"Sesungguhnya Kami telah
menciptakan mereka dari tanah liat." (Ash Shaffat : 11)
Dua ayat di atas dan ayat-ayat Al
Qur'an lainnya yang serupa dengannya menunjukkan bahwasanya asal kejadian
manusia dari tanah. Barangsiapa yang mengingkari hal ini, sungguh ia telah
kufur terhadap pengkabaran dari Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri.
Berkaitan dengan hal di atas, maka
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menentukan tahapan- tahapan penciptaan itu dan
begitu pula Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah memberikan kabar
kepada kita akan hal tersebut dalam hadits-haditsnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman
:
"Dan sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami
jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami
jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang,
lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia
makhluk yang berbentuk (lain). Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling
Baik." (Al Mukminun : 12-14)
"Wahai manusia, jika kamu dalam
keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka ketahuilah sesungguhnya Kami
telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari
segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan
yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam
rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan, kemudian
Kami keluarkan kamu sebagai bayi … ." (Al Hajj : 5)
Ayat-ayat di atas menerangkan
tahap-tahap penciptaan manusia dari suatu keadaan kepada keadaan lain, yang
menunjukkan akan kesempurnaan kekuasaan-Nya sehingga Dia Jalla wa 'Alaa saja
yang berhak untuk diibadahi.
Begitu pula penggambaran penciptaan Adam
'Alaihis Salam yang Dia ciptakan dari suatu saripati yang berasal dari tanah
berwarna hitam yang berbau busuk dan diberi bentuk.
"Dan sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur
hitam yang diberi bentuk." (Al Hijr : 26)
Tanah tersebut diambil dari seluruh
bagiannya, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
:
"Sesungguhnya Allah menciptakan
Adam dari segenggam (sepenuh telapak tangan) tanah yang diambil dari seluruh bagiannya.
Maka datanglah anak Adam (memenuhi penjuru bumi dengan beragam warna kulit dan
tabiat). Di antara mereka ada yang berkulit merah, putih, hitam, dan di antara
yang demikian. Di antara mereka ada yang bertabiat lembut, dan ada pula yang
keras, ada yang berperangai buruk (kafir) dan ada yang baik (Mukmin)."
(HR. Imam Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi, berkata Tirmidzi : 'Hasan shahih'.
Dishahihkan oleh Asy Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi
juz 3 hadits 2355 dan Shahih Sunan Abu Daud juz 3 hadits 3925)
Semoga Allah merahmati orang yang
berkata dalam bait syi'irnya :
Diciptakan manusia dari saripati
yang berbau busuk.
Dan ke saripati itulah semua manusia
akan kembali.
Setelah Allah Subhanahu wa Ta'ala
menciptakan Adam 'Alaihis Salam dari tanah. Dia ciptakan pula Hawa 'Alaihas
Salam dari Adam, sebagaimana firman-Nya :
"Dia menciptakan kamu dari
seorang diri, kemudian Dia jadikan daripadanya istrinya … ." (Az Zumar :
6)
Dalam ayat lain :
"Dialah yang menciptakan kamu
dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa
senang kepadanya … ." (Al A'raf : 189)
Dari Adam dan Hawa 'Alaihimas Salam
inilah terlahir anak-anak manusia di muka bumi dan berketurunan dari air mani
yang keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan hingga hari
kiamat nanti. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 3 halaman 457)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman
:
"Yang membuat segala sesuatu
yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari
tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina
(mani)." (As Sajdah : 7-8)
Imam Thabari rahimahullah dan
selainnya mengatakan bahwa diciptakan anak Adam dari mani Adam dan Adam sendiri
diciptakan dari tanah. (Lihat Tafsir Ath Thabari juz 9 halaman 202)
Allah Subhanahu wa Ta'ala
menempatkan nuthfah (yakni air mani yang terpancar dari laki-laki dan perempuan
dan bertemu ketika terjadi jima') dalam rahim seorang ibu sampai waktu
tertentu. Dia Yang Maha Kuasa menjadikan rahim itu sebagai tempat yang aman dan
kokoh untuk menyimpan calon manusia. Dia nyatakan dalam firman-Nya :
"Bukankah Kami menciptakan
kalian dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh
(rahim) sampai waktu yang ditentukan." (Al Mursalat : 20-22)
Dari nuthfah, Allah jadikan 'alaqah
yakni segumpal darah beku yang bergantung di dinding rahim. Dari 'alaqah
menjadi mudhghah yakni sepotong daging kecil yang belum memiliki bentuk.
Setelah itu dari sepotong daging bakal anak manusia tersebut, Allah Subhanahu
wa Ta'ala kemudian membentuknya memiliki kepala, dua tangan, dua kaki dengan
tulang-tulang dan urat-uratnya. Lalu Dia menciptakan daging untuk menyelubungi
tulang-tulang tersebut agar menjadi kokoh dan kuat. Ditiupkanlah ruh, lalu
bergeraklah makhluk tersebut menjadi makhluk baru yang dapat melihat,
mendengar, dan meraba. (Bisa dilihat keterangan tentang hal ini dalam
kitab-kitab tafsir, antara lain dalam Tafsir Ath Thabari, Tafsir Ibnu Katsir,
dan lain-lain)
Demikianlah kemahakuasaan Rabb
Pencipta segala sesuatu, sungguh dapat mengundang kekaguman dan ketakjuban
manusia yang mau menggunakan akal sehatnya. Semoga Allah meridhai 'Umar Ibnul
Khaththab, ketika turun awal ayat di atas (tentang penciptaan manusia) terucap
dari lisannya pujian :
"Fatabarakallahu ahsanul khaliqin"
Maha Suci Allah, Pencipa Yang Paling
Baik
Lalu Allah turunkan firman-Nya :
"Fatabarakallahu ahsanul
khaliqin" untuk melengkapi ayat di atas. (Lihat Asbabun Nuzul oleh Imam
Suyuthi, Tafsir Ibnu Katsir juz 3 halaman 241, dan Aysarut Tafasir Abu Bakar
Jabir Al Jazairi juz 3 halaman 507-508)
Maha Kuasa Allah Tabaraka wa Ta'ala,
Dia memindahkan calon manusia dari nuthfah menjadi 'alaqah. Dari 'alaqah
menjadi mudhghah dan seterusnya tanpa membelah perut sang ibu bahkan calon
manusia tersebut tersembunyi dalam tiga kegelapan, sebagaimana firman-Nya :
" … Dia menjadikan kamu dalam
perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan … ." (Az Zumar :
6)
Yang dimaksud "tiga
kegelapan" dalam ayat di atas adalah kegelapan dalam selaput yang menutup
bayi dalam rahim, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam perut. Demikian
yang dikatakan Ibnu 'Abbas, Mujahid, 'Ikrimah, Abu Malik, Adh Dhahhak, Qatadah,
As Sudy, dan Ibnu Zaid. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 4 halaman 46 dan
keterangan dalam Adlwaul Bayan juz 5 halaman 778)
Sekarang kita lihat keterangan
tentang kejadian manusia dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam. Abi 'Abdurrahman 'Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu berkata :
Telah menceritakan kepada kami
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan beliau adalah yang selalu benar
(jujur) dan dibenarkan. Beliau bersabda (yang artinya) "Sesungguhnya
setiap kalian dikumpulkan kejadiannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa
nuthfah. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian
menjadi gumpalan seperti sekerat daging selama itu pula. Kemudian diutus
kepadanya seorang Malaikat maka ia meniupkan ruh kepadanya dan ditetapkan empat
perkara, ditentukan rezkinya, ajalnya, amalnya, sengsara atau bahagia. Demi
Allah yang tiada illah selain Dia, sungguh salah seorang di antara kalian ada
yang beramal dengan amalan ahli Surga sehingga tidak ada di antara dia dan
Surga melainkan hanya tinggal sehasta, maka telah mendahuluinya ketetapan
takdir, lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka sehingga ia memasukinya. Dan
sungguh salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan ahli
neraka sehingga tidak ada antara dia dan neraka melainkan hanya tinggal
sehasta. Maka telah mendahuluinya ketetapan takdir, lalu ia beramal dengan
amalan ahli Surga sehingga ia memasukinya." (HR. Bukhari 6/303 -Fathul
Bari dan Muslim 2643, shahih)
Berita Nubuwwah di atas mengabarkan
bahwa proses perubahan janin anak manusia berlangsung selama 120 hari dalam
tiga bentuk yang tiap-tiap bentuk berlangsung selama 40 hari. Yakni 40 hari
pertama sebagai nuthfah, 40 hari kedua dalam bentuk segumpal darah, dan 40 hari
ketiga dalam bentuk segumpal daging. Setelah berlalu 120 hari, Allah
perintahkan seorang Malaikat untuk meniupkan ruh dan menuliskan untuknya 4
perkara di atas.
Dalam riwayat lain :
Malaikat masuk menuju nuthfah
setelah nuthfah itu menetap dalam rahim selama 40 atau 45 malam, maka Malaikat
itu berkata : "Wahai Rabbku! Apakah (nasibnya) sengsara atau
bahagia?" Lalu ia menulisnya. Kemudian berkata lagi : "Wahai Rabbku!
Laki-laki atau perempuan?" Lalu ia menulisnya dan ditulis (pula) amalnya,
atsarnya, ajalnya, dan rezkinya, kemudian digulung lembaran catatan tidak
ditambah padanya dan tidak dikurangi. (HR. Muslim dan Hudzaifah bin Usaid radhiallahu
'anhu, shahih)
Dalam Ash Shahihain dari Anas bin
Malik radhiallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
Allah mewakilkan seorang Malaikat
untuk menjaga rahim. Malaikat itu berkata : "Wahai Rabbku! Nuthfah, Wahai
Rabbku! Segumpal darah, wahai Rabbku! Segumpal daging." Maka apabila Allah
menghendaki untuk menetapkan penciptaannya, Malaikat itu berkata : "Wahai
Rabbku! Laki-laki atau perempuan? Apakah (nasibnya) sengsara atau bahagia?
Bagaimana dengan rezkinya? Bagaimana ajalnya?" Maka ditulis yang demikian
dalam perut ibunya. (HR. Bukhari `11/477 - Fathul Bari dan Muslim 2646 riwayat
dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu)
Dari beberapa riwayat di atas, ulama
menggabungkannya sehingga dipahami bahwasanya Malaikat yang ditugasi menjaga
rahim terus memperhatikan keadaan nuthfah dan ia berkata : "Wahai Rabbku!
Ini 'alaqah, ini mudhghah" pada waktu-waktu tertentu saat terjadinya
perubahan dengan perintah Allah dan Dia Subhanahu wa Ta'ala Maha Tahu. Adapun
Malaikat yang ditugasi, ia baru mengetahui setelah terjadinya perubahan
tersebut karena tidaklah semua nuthfah akan menjadi anak. Perubahan nuthfah itu
terjadi pada waktu 40 hari yang pertama dan saat itulah ditulis rezki, ajal,
amal, dan sengsara atau bahagianya. Kemudian pada waktu yang lain, Malaikat
tersebut menjalankan tugas yang lain yakni membentuk calon manusia tersebut dan
membentuk pendengaran, penglihatan, kulit, daging, dan tulang, apakah calon
manusia itu laki-laki ataukah perempuan. Yang demikian itu terjadi pada waktu 40
hari yang ketiga saat janin berbentuk mudhghah dan sebelum ditiupkannya ruh
karena ruh baru ditiup setelah sempurna bentuknya.
Adapun sabda beliau Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam :
Apabila telah melewati nuthfah waktu
42 malam, Allah mengutus padanya seorang Malaikat, maka dia membentuknya dan
membentuk pendengarannya, panglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulangnya.
Kemudian Malaikat itu berkata : "Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan …
."
Al Qadhi 'Iyadl dan selainnya
mengatakan bahwasanya sabda beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam di atas tidak
menunjukkan dhahirnya dan tidak benar pendapat yang membawakan hadits ini pada
makna dhahirnya. Akan tetapi yang dimaksudkan maka dia membentuknya dan
membentuk pendengarannya, penglihatannya … dan seterusnya adalah bahwasanya
Malaikat itu menulis yang demikian, kemudian pelaksanaannya pada waktu yang
lain (pada waktu 40 hari yang ketiga) dan tidak mungkin pada waktu 40 hari yang
pertama. Urutan perubahan tersebut sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam surat
Al Mukminun ayat 12 sampai 14. (Lihat keterangan hal ini dalam Shahih Muslim
Syarah Imam An Nawawi, halaman 189-191)
Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah
dalam Fathul Bari (II/484) membawakan secara ringkas perkataan Ibnu Ash Shalah
: "Adapun sabda beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dalam hadits
Hudzaifah bahwasanya pembentukan terjadi pada awal waktu 40 hari yang kedua.
Sedangkan dalam dhahir hadits Ibnu Mas'ud dikatakan bahwa pembentukan baru terjadi
setelah calon anak manusia menjadi mudhghah (segumpal daging). Maka hadits yang
pertama (hadits Hudzaifah) dibawa pengertiannya kepada pembentukan secara
lafadh dan secara penulisan saja belum ada perbuatan, yakni pada masa itu
disebutkan bagaimana pembentukan calon anak manusia dan Malaikat yang ditugasi
menuliskannya."
Dalam ta'liq kitab Tuhfatul Wadud
halaman 203-204 disebutkan bahwasanya hadits yang menyatakan Malaikat membentuk
nuthfah setelah berada di rahim selama 40 malam, tidaklah bertentangan dengan
hadits-hadits yang lain. Karena pembentukan Malaikat atas nuthfah terjadi
setelah nuthfah tersebut bergantung di dinding rahim selama 40 hari yakni
ketika telah berubah menjadi mudhghah. Wallahu A'lam.
Perubahan janin dari nuthfah menjadi
'alaqah dan seterusnya itu berlangsung setahap demi setahap (tidak sekaligus).
Pada waktu 40 hari yang pertama, darah masih bercampur dengan nuthfah, terus
bercampur sedikit demi sedikit hingga sempurna menjadi 'alaqah pada 40 hari
yang kedua, dan sebelum itu tidaklah ia dinamakan 'alaqah. Kemudian 'alaqah
bercampur dengan daging, sedikit demi sedikit hingga berubah menjadi mudhghah.
(Lihat Fathul Bari)
Tatkala telah sempurna waktu 4
bulan, ditiupkanlah ruh dan hal ini telah disepakati oleh ulama. Imam Ahmad bin
Hanbal rahimahullah membangun madzhabnya yang masyhur berdasarkan dhahir hadits
Ibnu Mas'ud bahwasanya anak ditiupkan ruh padanya setelah berlalu waktu 4
bulan. Karena itu bila janin seorang wanita gugur setelah sempurna 4 bulan,
janin tersebut dishalatkan (telah memiliki ruh kemudian meninggal).
Diriwayatkan yang demikian juga dari Sa'id Ibnul Musayyib dan merupakan salah
satu dari pendapatnya Imam Syafi'i dan Ishaq.
Dinukilkan dari Imam Ahmad
bahwasanya ia berkata : "Apabila janin telah mencapai umur 4 bulan 10
hari, maka pada waktu yang 10 hari itu ditiupkan padanya ruh dan dishalatkan
atasnya (bila janin tersebut gugur)." (Lihat Iqadzul Himam Al Muntaqa min
Jami' Al 'Ulum wa Al Hikam halaman 88-89 oleh Abi Usamah Salim bin 'Ied Al
Hilali)
Kita lihat dalam hadits Ibnu Mas'ud
di atas bahwasanya penulisan Malaikat terjadi setelah berlalu waktu 40 hari
yang ketiga. Sedangkan pada riwayat-riwayat di atas, penulisan Malaikat terjadi
setelah waktu 40 hari yang pertama. Riwayat-riwayat tersebut tidaklah bertentangan.
Imam An Nawawi rahimahullah
menerangkan dalam Syarah Muslim (juz 5 halaman 191) setelah membawakan lafadh
hadits dari Imam Bukhari berikut ini (yang artinya) : 'Sesungguhnya penciptaan
setiap kalian dikumpulkan dalam rahim ibunya selama 40 hari (sebagai nuthfah).
Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga. Kemudian menjadi segumpal
daging selama itu juga. Kemudian Allah mengutus seorang Malaikat dan diperintah
(untuk menuliskan) empat perkara, rezkinya dan ajalnya, sengsara atau
bahagianya. Kemudian ditiupkan ruh padanya … .'
Sabda beliau ((… ????????…)) dengan
menggunakan ((… ?? …)) menunjukkan diakhirkannya penulisan Malaikat atas
perkara-perkara tersebut setelah waktu 40 hari yang ketiga. Sedangkan dalam
hadits-hadits yang lain penulisan itu ditetapkan setelah waktu 40 hari yang
pertama. Jawaban dari permasalahan ini adalah bahwasanya sabda beliau ((… ?????
????? ????? ???? ???? ?? …)) merupakan ma'thuf dari sabdanya ((…
??????????????? …)) bukan dengan sabda sebelumnya yakni ((… ?????????????????
…)). Maka sabda beliau ((… ????????????????? ???????????????????…)) merupakan
kalimat sisipan antara ma'thuf dan ma'thuf 'alaih dan yang demikian ini
dibolehkan dan biasa dijumpai dalam Al Qur'an, hadits yang shahih, dan
selainnya dari ucapan orang-orang Arab."
Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
"Sabda beliau ((…
??????????????????????… )) merupakan ma'thuf dari (( … ????? … )). Adapun
sabdanya (( … ?????… )) merupakan kesempurnaan dari kalimat-kalimat yang awal.
Dan tidaklah yang dimaksudkan bahwasanya penulisan Malaikat itu baru terjadi
setelah selesai tiga tahap kejadian (dari nuthfah sampai menjadi mudhghah).
Bisa jadi (yang diberitakan dalam hadits Ibnu Mas'ud) yang dimaksudkan adalah
untuk susunan berita saja, bukan susunan yang diberitakan." (Fathul Bari
11/485)
Yang jelas penulisan takdir untuk
janin di perut ibunya bukanlah penulisan takdir yang ditetapkan untuk semua
makhluk sebelum makhluk itu dicipta. Karena takdir yang demikian telah
ditetapkan 50.000 tahun sebelumnya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam dari Abdullah bin 'Amr radhiallahu 'anhuma :
"Sesungguhnya Allah menetapkan
takdir-takdir makhluknya lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan
langit-langit dan bumi." (HR. Muslim 2653, shahih)
Dalam hadits 'Ubadah bin Shamit
radhiallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :
Pertama kali yang Allah ciptakan
adalah pena (Al Qalam). Lalu Dia berfirman kepadanya : "Tulislah!"
Maka pena menuliskan segala apa yang akan terjadi hingga hari kiamat. (HR. Abu
Daud 4700, Tirmidzi 2100, dan selain keduanya. Dishahihkan oleh Syaikh Salim Al
Hilali dalam Iqadzul Himam)
Banyak nash yang menyebutkan bahwa
penetapan takdir seseorang apakah ia termasuk orang yang bahagia atau sengsara
telah ditulis terdahulu. Antara lain dalam Shahihain dari Ali bin Abi Thalib
radhiallahu 'anhu bahwasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
"Tidak ada satu jiwa melainkan
Allah telah menulis tempatnya di Surga atau di neraka dan telah ditulis
sengsara atau bahagia." Maka seorang laki-laki berkata : "Wahai
Rasulullah! Mengapa kita tidak mengikuti (saja) ketentuan kita (yang telah
ditulis) dan kita tinggalkan amal?" Maka beliau bersabda :
"Beramal-lah, maka setiap orang akan dimudahkan terhadap apa yang ditetapkan
baginya. Adapun orang yang bahagia akan dimudahkan baginya untuk beramal dengan
amalan orang yang bahagia. Adapun orang yang sengsara akan dimudahkan baginya
untuk beramal dengan amalan orang yang sengsara." Kemudian beliau membaca
: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan
membenarkan adanya pahala yang terbaik (Surga), maka Kami kelak akan menyiapkan
baginya jalan yang mudah." (QS. Al Lail : 5- 7) [HR. Bukhari 3/225 -Fathul
Bari dan Muslim 2647]
Bahagia atau sengsara seseorang
ditentukan oleh akhir amalnya, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits Ibnu
Mas'ud di atas. Demikian pula dalam hadits berikut, dari Sahl bin Sa'ad
radhiallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :
"Sesungguhnya hanyalah
amal-amal ditentukan pada akhirnya (penutupnya)." (HR. Bukhari 11/330
-Fathul Bari)
Sebagai penutup dapat kita simpulkan
bahwa Allah Maha Kuasa menciptakan apa saja yang Dia kehendaki. Dia menciptakan
manusia pertama (Adam 'Alaihis Salam) dari tanah, sedangkan anak-anak Adam
berketurunan dengan nuthfah hingga akhir kehidupan nanti. Dia tempatkan nuthfah
dalam rahim ibu dan dijaga oleh seorang Malaikat. Nuthfah ini kemudian pada
akhirnya menjadi segumpal daging dan dari segumpal daging terus berkembang
hingga menjadi sosok anak manusia kecil yang bernyawa lengkap dengan
pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki. Bersamaan dengan itu telah ditulis
ketentuan takdir untuknya, apakah rezkinya lapang ataukah sempit, apakah
amalnya baik atau sebaliknya, kapan datang ajalnya dan apakah ia termasuk hamba
Allah yang beruntung ataukah yang sengsara. Naudzubillah!
Dari tanah manusia berasal dan pada
akhirnya akan kembali menjadi tanah. Mungkin ini bisa menjadi bahan renungan
untuk kita semua.
Wallahu A'lam Bis Shawab.
Daftar Bacaan :
1. Al Qur'anul Karim.
2. Adlwaul Bayan. Asy Syaikh
Muhammad Amin Asy Syinqithi.
3. Ad Durul Mantsur fi At Tafsir Al
Ma'tsur. Imam As Suyuthi.
4. Ahkamuth Thifli. Asy Syaikh Ahmad
Al 'Aysawi.
5. Asbabun Nuzul. Imam As Suyuthi.
6. 'Aunul Ma'bud. Al Hafidh Ibnu
Qayyim Al Jauziyah.
7. Aysarut Tafasir. Asy Syaikh Abu
Bakar Jabir Al Jazairi.
8. Fathul Bari. Al Hafidh Ibnu Hajar
Al Atsqalani.
9. Iqadzul Himam Al Muntaqa min
Jami' Al 'Ulum wal Hikam. Syaikh Abi Usamah Salim bin 'Ied Al Hilali.
10. Jami' Al 'Ulum wal Hikam. Al
Hafidh Ibnu Rajab Al Hanbali.
11. Jami' Al Bayan fi Ta'wil Al
Qur'an. Ibnu Jarir Ath Thabari.
12. Mu'jam Mufradat Alfadzil Qur'an.
Al 'Allamah Al Ashfahani.
13. Shahih Muslim Syarah An Nawawi.
Imam An Nawawi.
14. Shahih Sunan Abi Daud. Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al Albani.
15. Shahih Sunan At Tirmidzi. Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al Albani.
16. Tafsir Ibnu Katsir. Al Hafidh
Ibnu Katsir.
17. Tafsir Al Qurthubi. Imam Al
Qurthubi.
Artinya : Jejak kehidupannya.
Ma'thuf merupakan istilah dalam ilmu
nahwu yang bermakna kurang lebih lafadh yang mengikuti lafadh tertentu yang
terletak sebelumnya.
Ma'thuf 'alaih bermakna lafadh yang
diikuti oleh lafadh tertentu yang terletak sesudahnya.
(Dinukil dari Majalah Salafy -
MUSLIMAH Edisi XIX/Rabi'ul Awwal/1418/1997], ditulis oleh : ustadz Abul Muslim
Al Atsari dan ustadzah Zulfa. Peringatan : Majalah Salafy edisi 2002 dan
seterusnya, dipegang oleh Ja'far Umar Thalib dan isinya sarat dengan kesesatan
Sufiyahnya. Allahu a'lam)
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..