Oleh
: Masduki Ibnu Zeayah
Kata ‘azzara
(عَزَّرَ)
adalah fi‘l mâdhi yang terambil dari akar kata yang terdiri atas tiga
huruf, yaitu, ’ain – zai – dan ra’ yang menunjukkan arti ar-raddu
wa al-man‘u (الرَّدُّ
وَالْمَنْعُ = menolak atau mencegah). Dari situ
lahir istilah ta‘zir (تَعْزِيْر),
yaitu hukuman yang tidak termasuk hadd (حَدّ) karena tujuannya
mencegah pelaku kejahatan tersebut agar tidak mengulangi kejahatan yang telah
dilakukannya.
Kata ‘azzara
juga dipakai dalam arti “menolong” dan “menghormati” karena orang yang menolong
dan menghormati seseorang pasti mencegah kejahatan atau hal-hal yang tidak
baik, sehingga tidak menimpa orang tersebut, baik dari musuh-musuhnya maupun
dari yang lainnya. Ada juga yang berpendapat bahwa makna dasar dari kata
tersebut justru “menolong” dan “menghormati”. Dari makna inilah timbul istilah ta‘zir
(تَعْزِيْر)
tersebut karena mengandung arti “menolong pelaku kejahatan tersebut agar tidak
berlarut-larut dalam kejahatannya”.
Di dalam
al-Quran kata ’azzara (عَزَّرَ)
dan yang seakar dengannya berulang sebanyak empat kali, yaitu pada S.
Al-Mâ’idah [5]: 12; S. Al-A‘râf [7]: 157; S. Al-Fath [48]: 8; dan S. At-Taubah
[9]: 30.
Pada S.
Al-Mâ’idah [5]: 12 tersebut, kata ‘azzara (عَزَّرَ)
dipakai dalam arti “mendukung” dan “membela rasul-rasul Allah”. Pada ayat itu
disebutkan mengenai janji Allah terhadap Bani Israil berupa ampunan dan surga
bagi yang beriman kepada rasul-rasul-Nya, lalu mendukungnya serta mendirikan
shalat dan menunaikan zakat.
Demikian pula
pada S. Al-A‘raf [7]: 157, kata ‘azzara (عَزَّرَ)
juga mengandung arti “mendukung” dan “membela” rasul Allah yang di dalam ayat
ini khusus ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw, di mana ditegaskan bahwa
pendukung-pendukung beliau benar-benar termasuk orang yang beruntung.
Adapun pada S.
Al-Fath [48]: 9, kata ‘azzara (عَزَّرَ) digunakan dalam
makna “mengagungkan Allah” dalam arti menguatkan agama-Nya. Ayat ini berbicara
tentang fungsi kerasulan Nabi sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi
peringatan. Dengan terlaksananya fungsi tersebut, maka nyatalah siapa yang
beriman kepada Allah dan rasul-Nya, menguatkan agama-Nya, serta bertasbih dan
mengagungkan-Nya, baik di waktu pagi maupun petang.
Selanjutnya, pada S. At-Taubah [9]: 30, kata itu menunjuk
pada nama ‘Uzair (عُزَيْر).
Di dalam ayat itu, disinggung mengenai kepercayaan sesat orang Yahudi dan
Nasrani. Orang Yahudi meyakini bahwa ‘Uzair itu adalah putra Allah, sedangkan
orang Nasrani meyakini bahwa Al-Masih (Nabi Isa) itu putra Allah.
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..