Oleh : Masduki Ibnu Zeayah
Kata آzar (آزَر) adalah
sebutan Allah terhadap orang tua Nabi Ibrahim As. yang tertera dalam QS.
Al-An‘âm [6]:
74. Dia juga dibicarakan dalam QS. At-Taubah [9]: 114, QS. Maryam [19]: 42, QS.
Al-Anbiyâ’ [21]: 52, QS. Asy-Syu‘arâ’ [26]: 70, QS. Ash-Shâffât [37]: 85, QS.
Az-Zukhruf [43]: 26, dan QS. Al-Mumtahanah [60]: 4 tanpa disebut namanya,
tetapi ditunjuk dengan kata abîhi (أَبِيْهِ = ayahnya).
Ungkapan Nabi Ibrahim kepada ayahnya yang berbunyi ya abati (يَأََبَتِ
= wahai ayahku) juga ditemui di dalam QS. Maryam [19]: 42-45. Ditemukan pula
kata آzar (آزَر)
dalam QS. Al-Fath [48]: 29, tetapi berfungsi sebagai kata kerja, dengan arti
“menolong atau memperkuat/memperkokoh” dan tidak ada kaitannya dengan kisah
Nabi Ibrahim As. dengan ayahnya.
Di dalam beberapa kitab tafsir dijumpai keterangan adanya perbedaan
pendapat tentang آzar (آزَر).
Apakah آzar (آزَر)
merupakan nama ayah Nabi Ibrahim As. atau sekadar julukan (laqab), dan
apakah آzar (آزَر)
ayah kandung atau paman Nabi Ibrahim. Mujahid, misalnya, berpendapat bahwa آzar (آزَر)
bukan nama ayah Nabi Ibrahim As., melainkan nama berhala. Sementara itu,
Ibnu Ishaq berpendapat bahwa آzar (آزَر)
bukan nama berhala melainkan julukan (laqab) yang berarti “bengkok”. Ar-Ragib Al-Asfahani
memberi arti sebagai “perkataan yang sesat”. Secara sederhana dapat diambil
pengertian bahwa ayah atau paman Ibrahim memperoleh julukan yang jelek karena
menyembah berhala/patung.
Muhammad Rasyid Ridha di dalam Tafsîr Al-Manâr
menyatakan bahwa mayoritas mufasir, sejarawan, dan ahli bahasa lebih cenderung
berpendapat bahwa ayah Nabi Ibrahim As. adalah Tarakh. Akan
tetapi, dalam hal ini masih juga terdapat perbedaan pendapat menyangkut huruf
akhir yang digunakan, antara Tarakh (dengan kh) dan Tarah (dengan
h).
Ayah Nabi Ibrahim As. memang dikenal di dalam sejarah
sebagai pemahat, penjual, dan sekaligus penyembah patung. Ayat-ayat dalam
al-Quran yang disebut di atas membicarakan hubungan Nabi Ibrahim As. dengan
ayahnya dan dengan orang lain menyangkut persoalan penyembahan terhadap patung.
Nabi Ibrahim As. berupaya membuka kesadaran mereka dengan beberapa ungkapan.
Misalnya, mengapa patung-patung tersebut kalian sembah, padahal mereka tidak
mendengar, tidak dapat melihat, dan tidak pula dapat memberi pertologan sedikit
pun? Pantaskah mereka itu kalian anggap sebagai Tuhan? Tidak cukup dengan
pernyataan dan pertanyaan saja, Nabi Ibrahim As. pun menghancurkan
patung-patung sesembahan mereka kecuali yang terbesar, agar mereka sadar bahwa
yang mereka lakukan itu tidak masuk akal. Ibrahim mempersilakan orang-orang
bertanya kepada patung terbesar itu kalau memang ia bisa berbicara. Walau
mereka sadar bahwa patung itu tidak bisa berbicara, Ibrahim tetap dihukum (QS.
Al-Anbiyâ’ [21]: 58, 63, dan 68).
Ayat-ayat yang disebut di atas juga menjelaskan bahwa
Nabi Ibrahim pernah berjanji akan memintakan ampun kepada Allah Swt. atas
kesesatan ayahnya (QS. At-Taubah [9]: 114 dan QS. Al-Mumtahanah [60]: 4). Janji itu ia tepati
dengan memohon agar Allah mengampuni ayahya (QS. Asy-Syu‘arâ’ [26]: 86). Namun,
Allah menegurnya karena seorang Nabi sekalipun kalau menyekutukan Allah
(musyrik), tidak akan diampuninya kecuali jika ia sudah bertobat. Allah
menyatakan bahwa Nabi dan orang yang beriman tidak patut memintakan ampun atas
kesalahan orang-orang musyrik walau mereka masih ada hubungan keluarga (QS. An-Nisâ’
[4]: 48 dan QS. At-Taubah [9]: 113).
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..