Selamat datang di Blog Pribadi Untuk Sosial Dan Semua

ÂYAH (Ayat, tanda)

10 November 20120 komentar



Oleh : Masduki Ibnu Zeayah
Kata âyah (آيَةٌ) adalah bentuk tunggal dari kata âyât (آيَاتٌ). Menurut pengertian etimologi, kata itu dapat diartikan sebagai mu‘jizah (مُعْجِزَةٌ = mukjizat), ‘alâmah (عَلاَمَةٌ = tanda), atau ‘ibrah (عِبْرَةٌ = pelajaran). Selain itu, âyah (آيَةٌ) dapat diartikan pula sebagai al-amrul-‘ajîb (اَْلأَمْرُ اْلعَجِيْبُ = sesuatu yang menakjubkan) dan jamâ‘ah (جَمَاعَةٌ = kelompok, masyarakat), al-burhân/ad-dalîl (اَلْبُرْهَانُ/الدَّلِيْلُ = keterangan/penjelasan). Jika dikaitkan dengan istilah Alquran, âyah (آيَةٌ) berarti huruf-huruf hijaiyah atau sekelompok kata yang terdapat di dalam surah Alquran yang mempunyai awal dan akhir yang ditandai dengan nomor ayat.

Dalam bentuk tunggal kata âyah (آيَةٌ) di dalam Alquran disebut 86 kali, seperti dalam QS. Al-Baqarah [2]: 106; dalam bentuk mutsannâ (dua), ayatain (آيَتَيْنِ) disebut satu kali, yaitu dalam QS. Al-Isra’ [17]: 12, sedangkan dalam bentuk jamak, âyât (آيَاتٌ) disebut 290 kali, seperti dalam QS. Al-Baqarah [2]: 61 dan QS. Al-An‘âm [6]: 4. Dalam bentuk tunggal, kata âyah (آيَةٌ) paling banyak disebut dalam QS. Al-Baqarah [2], QS. Al-An‘âm [6], dan QS. An-Nahl [16] masing-masing tujuh kali, sedangkan dalam bentuk jamak kata itu banyak disebut: dalam QS. آli ‘Imrân [3] sebanyak 18 kali, QS. Al-An‘âm [6] sebanyak 25 kali, dan QS. Al-A‘râf [7] sebanyak 24 kali.

Semua pengertian âyah (آيَةٌ) yang dikemukakan di atas digunakan oleh Alquran. Kata itu di dalam Alquran disebut dalam berbagai konteks pembicaraan. Kata âyah (آيَةٌ) yang disebut dalam QS. Al-Baqarah [2]: 106 misalnya, terkait dengan pembicaraan ayat tentang pengertian ayat-ayat Alquran, yang berhubungan dengan persoalan nasakh di dalam Alquran. Di dalam ayat itu dinyatakan bahwa suatu ayat yang di-nasakh akan digantikan dengan ayat lain yang lebih baik daripada itu, atau yang sama dengan itu. Ayat ini dijadikan dasar oleh sebagian ulama untuk menyatakan bahwa di dalam Alquran terdapat ayat-ayat yang me-nasakh dan ayat-ayat yang di-mansukh.

Dari penggunaannya di dalam Alquran dapat disimpulkan bahwa pengertian kata âyah (آيَةٌ) dapat diartikan dengan “ayat-ayat yang berkaitan dengan kitab suci dan Alquran” apabila di dalam ayat itu kata tersebut dikaitkan dengan kata-kata nazala (نَزَلَ = turun) dan kata-kata lain yang seasal dengan itu atau adanya tantangan yang ditujukan kepada orang-orang untuk membuat sesuatu yang sama dengan ayat-ayat Alquran. Apabila kata ayat dikaitkan dengan kata Allâh (الله) dan segala kata ganti yang berkaitan dengan-Nya, maka kata itu dapat diartikan dengan dua pengertian, yaitu pertama dengan “ayat-ayat Alquran” dan dapat pula dengan “sesuatu yang menunjuk kepada kebesaran dan kekuasaan Allah”. Jika kata âyah (آيَةٌ) yang dihubungkan dengan ungkapan-ungkapan li qaumin yatafakkarûn (لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ), ya‘qilûn (يَعْقِلُوْنَ), yasma‘ûn (يَسْمَعُوْنَ), yadzdzakkarûn (يَذَّكَّرُوْنَ) atau yang semakna dengan itu, maka kata itu diartikan sebagai “tanda-tanda kebesaran Allah Swt”. Ayat dalam pengertian ini cukup banyak diungkapkan di dalam Alquran, antara lain dalam QS. Al-Hijr [15]: 77, QS. An-Nahl [16]: 11, dan QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 91.

Dilihat dari jumlah ayat yang terdapat dalam Alquran, para ulama mempunyai perbedaan pendapat. Abu Abdurrahman As-Salmi, salah seorang ulama Kufah, menyebutkan bahwa ayat-ayat Alquran berjumlah 6.236 ayat. Jalaluddin As-Suyuti, seorang ulama tafsir dan fiqh, menyebutkan 6.000 ayat. Imam Al-Alusi menyebutkan 6.616 ayat. Perbedaan pandangan mereka dalam hal ini tidak disebabkan karena perbedaan mereka menyangkut ayat-ayatnya, tetapi disebabkan oleh perbedaan cara mereka menghitungnya. Apakah basmalah dihitung pada masing-masing setiap surat atau dihitung satu saja. Apakah setiap tempat berhenti merupakan satu ayat atau bagian dari ayat. Apakah huruf-huruf hijaiyah pada awal surat merupakan ayat yang berdiri sendiri atau digabung dengan ayat sesudahnya. Demikian seterusnya, sehingga timbul perbedaan di kalangan ulama.

Ayat-ayat Alquran yang dimulai dari ayat pertama surat pertama (S. Al-Fatihah) sampai dengan ayat terakhir surat terakhir (S. An-Nas) disusun secara tauqifi, yaitu berdasarkan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Allah dan Rasulullah Saw, tidak berdasarkan ijtihad para sahabat. Pengelompokan Alquran berdasarkan ayat-ayat mengandung beberapa hikmah. Di antara hikmah-hikmah itu ialah: (1) untuk memudahkan mengatur hafalan dan mengatur waqaf (berhenti) berdasarkan batas-batas ayat; dan (2) untuk memudahkan penghitungan jumlah ayat yang dibaca pada saat melakukan shalat atau khutbah.

Dilihat dari periode turunnya, ayat-ayat Alquran oleh para ulama dikelompokkan atas ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah. Terdapat tiga pendapat para ulama dalam memberikan pengertian Makkiyyah dan Madaniyyah. Pendapat pertama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat-ayat Makkiyyah adalah ayat-ayat yang turun di Mekah dan sekitarnya, walaupun sesudah hijrah, dan Madaniyyah ialah ayat-ayat yang turun di Madinah. Pendapat kedua menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Makkiyyah ialah ayat-ayat yang ditujukan kepada masyarakat Mekah yang antara lain ditandai dengan ungkapan yâ ayyuhan-nâs (يآأَيُّهَاالنَّاسُ) dan yang Madaniyyah ialah ayat-ayat yang turun untuk ditujukan kepada masyarakat Madinah yang sudah beriman, yang antara lain ditandai dengan ungkapan yâ ayyuhal-ladzîna âmanû (يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا). Pendapat ketiga, merupakan pendapat yang populer, menyatakan bahwa ayat Makkiyyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum Nabi Muhammad Saw. berhijrah ke Madinah walaupun turunnya di tempat selain Mekah, sedangkan ayat-ayat Madaniyyah ialah ayat-ayat yang turun sesudah hijrah walaupun turun di Mekah.

Dilihat dari segi jumlahnya, ayat-ayat Makkiyyah lebih banyak dibandingkan dengan ayat-ayat Madaniyyah. Dari ayat-ayat Alquran yang berjumlah 6.236 itu, ayat-ayat Makkiyyah berjumlah 4.726 buah, sedangkan ayat-ayat Madaniyyah berjumlah 1.510 buah. Ini berarti bahwa tiga perempat dari jumlah ayat-ayat Alquran adalah Makkiyyah.

Ayat-ayat Alquran yang secara lengkap sampai kepada kita saat kini tidak diturunkan sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kaum muslimin pada awal Islam itu. Ini berarti bahwa di antara ayat-ayat itu ada yang turun pertama sekali, ada yang turun terakhir sekali, dan ada pula yang turun pada periode-periode di antara keduanya. Di dalam hal ini ada empat pendapat para ulama. Pertama, ulama yang mengatakan bahwa ayat yang pertama turun adalah Ayat 1–5 dari S. Al-‘Alaq [96] berdasarkan, antara lain, hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah Ra. yang menceriterakan kejadian yang dialami Nabi ketika menerima wahyu itu. Kedua, ulama yang menyatakan bahwa ayat yang pertama turun adalah Ayat 1–5 dari S. Al-Muddatstsir [74], berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abi Salmah bin Abdur Rahman bin ‘Auf. Ketiga, ulama yang berpendapat bahwa ayat yang pertama turun adalah QS. Al-Fâtihah [1], berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Maisarah ‘Umar bin Syurahbil. Adapun yang keempat, menyatakan ayat yang pertama turun ialah bismillâhir-rahmânir-rahîm, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Wahidi dari Ikrimah dan Al-Hasan.

Mayoritas ulama menyatakan bahwa pendapat yang paling kuat adalah pendapat pertama, yakni Ayat 1–5 dari S. Al-‘Alaq [96] merupakan wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw, dan tidak satu pun wahyu yang turun sebelum itu. Tiga pendapat lainnya oleh Az-Zarqani dikompromikan sebagai berikut; Ayat 1–5 dari S. Al-Muddatstsir [74] merupakan ayat-ayat yang turun pertama kali setelah beberapa saat lamanya terjadi kekosongan turunnya wahyu setelah turunnya Ayat 1–5 dari S. Al-‘Alaq [96]. Ayat-ayat dari S. Al-Fâtihah [1] mungkin dapat dipandang sebagai surah Alquran yang diturunkan pertama kali secara lengkap mulai dari ayat pertama sampai dengan ayat terakhir. S. Al-Fâtihah [1] itu turun beberapa saat lamanya setelah Muhammad diangkat sebagai Nabi.

Mengenai ayat yang terakhir turun, juga terdapat perbedaan pendapat para ulama. Menurut az-Zarqani, terdapat 10 pendapat ulama, yaitu: (1). Ayat 281 dari S. Al-Baqarah [2], berdasarkan hadis riwayat An-Nasa’i melalui Ikrimah dari Ibnu Abbas dan riwayat Ibnu Abi Hatim; (2). Ayat 278 dari S. Al-Baqarah [2], berdasarkan hadis riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas dan riwayat Baihaqi dari Ibnu Umar; (3). Ayat 282 dari S. Al-Baqarah [2], berdasarkan hadis riwayat Ibnu Jarir dari Sa‘id bin Al-Musayyib dan riwayat Abu Ubaid dari Ibnu Syihab. (4). Ayat 195 dari S. آli ‘Imrân [3]; (5). Ayat 94 dari S. An-Nisâ’ [4]; (6). Ayat 176 dari S. An-Nisâ’ [4]; (7). Ayat 3 dari S. Al-Mâ’idah [5], (8). Ayat 128 dari S. At-Taubah [9]; (9). Ayat 110 S. Al-Kahf [18], dan (10). Ayat-ayat S. An-Nashr [110], yang semuanya berdasarkan riwayat. Perbedaan pendapat ini timbul karena perbedaan masa para sahabat mendengarkan ayat yang disampaikan Nabi. Menurut Az-Zarqani dan Subhi As-Salih, ayat-ayat yang terakhir turun adalah Ayat 281 dari S. Al-Baqarah [2].


Syukron Atas Kunjungan Anda..
Mohon Luangkan waktu ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..







http://freedollar.danatripler.com/
Share this article :

Posting Komentar

Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..

 
Support : Qye Ducky | Creating Website | Qye Course | Masduki | PAYTREN YUSUF MANSUR
Copyright © 2016/1437.H qyeowner.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modify by Masduki Ibnu Zeeyah
Proudly powered by Blogger