Oleh : Masduki Ibnu Zeayah
Kata âyah (آيَةٌ) adalah bentuk
tunggal dari kata âyât (آيَاتٌ). Menurut
pengertian etimologi, kata itu dapat diartikan sebagai mu‘jizah (مُعْجِزَةٌ = mukjizat), ‘alâmah (عَلاَمَةٌ = tanda), atau
‘ibrah (عِبْرَةٌ = pelajaran). Selain itu, âyah (آيَةٌ) dapat diartikan pula sebagai al-amrul-‘ajîb (اَْلأَمْرُ اْلعَجِيْبُ = sesuatu yang menakjubkan) dan jamâ‘ah (جَمَاعَةٌ = kelompok, masyarakat), al-burhân/ad-dalîl (اَلْبُرْهَانُ/الدَّلِيْلُ = keterangan/penjelasan). Jika dikaitkan dengan istilah
Alquran, âyah (آيَةٌ) berarti huruf-huruf hijaiyah atau sekelompok kata yang
terdapat di dalam surah Alquran yang mempunyai awal dan akhir yang ditandai
dengan nomor ayat.
Dalam bentuk tunggal kata âyah (آيَةٌ) di dalam Alquran disebut 86 kali, seperti dalam QS. Al-Baqarah
[2]: 106; dalam bentuk mutsannâ (dua), ayatain (آيَتَيْنِ) disebut satu kali, yaitu dalam QS. Al-Isra’ [17]: 12,
sedangkan dalam bentuk jamak, âyât (آيَاتٌ) disebut 290
kali, seperti dalam QS. Al-Baqarah [2]: 61 dan QS. Al-An‘âm [6]: 4. Dalam
bentuk tunggal, kata âyah (آيَةٌ) paling banyak
disebut dalam QS. Al-Baqarah [2], QS. Al-An‘âm [6], dan QS. An-Nahl [16]
masing-masing tujuh kali, sedangkan dalam bentuk jamak kata itu banyak disebut:
dalam QS. آli ‘Imrân [3] sebanyak 18 kali, QS. Al-An‘âm [6] sebanyak 25 kali, dan QS.
Al-A‘râf [7] sebanyak 24 kali.
Semua pengertian âyah (آيَةٌ) yang dikemukakan
di atas digunakan oleh Alquran. Kata itu di dalam Alquran disebut dalam
berbagai konteks pembicaraan. Kata âyah (آيَةٌ)
yang disebut dalam QS. Al-Baqarah [2]: 106 misalnya, terkait dengan pembicaraan
ayat tentang pengertian ayat-ayat Alquran, yang berhubungan dengan persoalan nasakh
di dalam Alquran. Di dalam ayat itu dinyatakan bahwa suatu ayat yang di-nasakh
akan digantikan dengan ayat lain yang lebih baik daripada itu, atau yang sama
dengan itu. Ayat ini dijadikan dasar oleh sebagian ulama untuk menyatakan bahwa
di dalam Alquran terdapat ayat-ayat yang me-nasakh dan ayat-ayat yang
di-mansukh.
Dari penggunaannya di dalam Alquran dapat disimpulkan bahwa pengertian kata
âyah (آيَةٌ)
dapat diartikan dengan “ayat-ayat yang berkaitan dengan kitab suci dan Alquran”
apabila di dalam ayat itu kata tersebut dikaitkan dengan kata-kata nazala
(نَزَلَ
= turun) dan kata-kata lain yang seasal dengan itu atau adanya tantangan yang
ditujukan kepada orang-orang untuk membuat sesuatu yang sama dengan ayat-ayat
Alquran. Apabila kata ayat dikaitkan dengan kata Allâh (الله)
dan segala kata ganti yang berkaitan dengan-Nya, maka kata itu dapat diartikan
dengan dua pengertian, yaitu pertama dengan “ayat-ayat Alquran” dan dapat pula
dengan “sesuatu yang menunjuk kepada kebesaran dan kekuasaan Allah”. Jika kata âyah
(آيَةٌ)
yang dihubungkan dengan ungkapan-ungkapan li qaumin yatafakkarûn (لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ),
ya‘qilûn (يَعْقِلُوْنَ),
yasma‘ûn (يَسْمَعُوْنَ),
yadzdzakkarûn (يَذَّكَّرُوْنَ)
atau yang semakna dengan itu, maka kata itu diartikan sebagai “tanda-tanda
kebesaran Allah Swt”. Ayat dalam pengertian ini cukup banyak diungkapkan di
dalam Alquran, antara lain dalam QS. Al-Hijr [15]: 77, QS. An-Nahl [16]: 11,
dan QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 91.
Dilihat dari jumlah ayat yang terdapat dalam Alquran,
para ulama mempunyai perbedaan pendapat. Abu Abdurrahman As-Salmi, salah seorang
ulama Kufah, menyebutkan bahwa ayat-ayat Alquran berjumlah 6.236 ayat.
Jalaluddin As-Suyuti, seorang ulama tafsir dan fiqh, menyebutkan 6.000 ayat.
Imam Al-Alusi menyebutkan 6.616 ayat. Perbedaan pandangan mereka dalam hal ini
tidak disebabkan karena perbedaan mereka menyangkut ayat-ayatnya, tetapi
disebabkan oleh perbedaan cara mereka menghitungnya. Apakah basmalah
dihitung pada masing-masing setiap surat atau dihitung satu saja. Apakah setiap
tempat berhenti merupakan satu ayat atau bagian dari ayat. Apakah huruf-huruf
hijaiyah pada awal surat merupakan ayat yang berdiri sendiri atau digabung
dengan ayat sesudahnya. Demikian seterusnya, sehingga timbul perbedaan di
kalangan ulama.
Ayat-ayat Alquran yang dimulai dari ayat pertama surat
pertama (S. Al-Fatihah) sampai dengan ayat terakhir surat terakhir (S. An-Nas)
disusun secara tauqifi, yaitu berdasarkan petunjuk-petunjuk yang
diberikan oleh Allah dan Rasulullah Saw, tidak berdasarkan ijtihad para
sahabat. Pengelompokan Alquran berdasarkan ayat-ayat mengandung beberapa
hikmah. Di antara hikmah-hikmah itu ialah: (1) untuk memudahkan mengatur
hafalan dan mengatur waqaf (berhenti) berdasarkan batas-batas ayat; dan (2)
untuk memudahkan penghitungan jumlah ayat yang dibaca pada saat melakukan
shalat atau khutbah.
Dilihat dari periode turunnya, ayat-ayat Alquran oleh
para ulama dikelompokkan atas ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah.
Terdapat tiga pendapat para ulama dalam memberikan pengertian Makkiyyah
dan Madaniyyah. Pendapat pertama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan
ayat-ayat Makkiyyah adalah ayat-ayat yang turun di Mekah dan sekitarnya,
walaupun sesudah hijrah, dan Madaniyyah ialah ayat-ayat yang turun di
Madinah. Pendapat kedua menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Makkiyyah
ialah ayat-ayat yang ditujukan kepada masyarakat Mekah yang antara lain
ditandai dengan ungkapan yâ ayyuhan-nâs (يآأَيُّهَاالنَّاسُ) dan yang Madaniyyah ialah ayat-ayat yang turun untuk
ditujukan kepada masyarakat Madinah yang sudah beriman, yang antara lain
ditandai dengan ungkapan yâ ayyuhal-ladzîna âmanû (يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا). Pendapat ketiga, merupakan pendapat yang populer, menyatakan
bahwa ayat Makkiyyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum Nabi Muhammad
Saw. berhijrah ke Madinah walaupun turunnya di tempat selain Mekah,
sedangkan ayat-ayat Madaniyyah ialah ayat-ayat yang turun sesudah hijrah
walaupun turun di Mekah.
Dilihat dari segi jumlahnya, ayat-ayat Makkiyyah
lebih banyak dibandingkan dengan ayat-ayat Madaniyyah. Dari ayat-ayat
Alquran yang berjumlah 6.236 itu, ayat-ayat Makkiyyah berjumlah 4.726
buah, sedangkan ayat-ayat Madaniyyah berjumlah 1.510 buah. Ini berarti
bahwa tiga perempat dari jumlah ayat-ayat Alquran adalah Makkiyyah.
Ayat-ayat
Alquran yang secara lengkap sampai kepada kita saat kini tidak diturunkan
sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan
kebutuhan-kebutuhan kaum muslimin pada awal Islam itu. Ini berarti bahwa di antara ayat-ayat
itu ada yang turun pertama sekali, ada yang turun terakhir sekali, dan ada pula
yang turun pada periode-periode di antara keduanya. Di dalam hal ini ada empat
pendapat para ulama. Pertama, ulama yang mengatakan bahwa ayat yang
pertama turun adalah Ayat 1–5 dari S. Al-‘Alaq [96] berdasarkan, antara lain,
hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah Ra. yang
menceriterakan kejadian yang dialami Nabi ketika menerima wahyu itu. Kedua,
ulama yang menyatakan bahwa ayat yang pertama turun adalah Ayat 1–5 dari S.
Al-Muddatstsir [74], berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim dari Abi Salmah bin Abdur Rahman bin ‘Auf. Ketiga, ulama yang
berpendapat bahwa ayat yang pertama turun adalah QS. Al-Fâtihah [1],
berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Maisarah ‘Umar bin
Syurahbil. Adapun yang keempat, menyatakan ayat yang pertama turun ialah
bismillâhir-rahmânir-rahîm, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh
Al-Wahidi dari Ikrimah dan Al-Hasan.
Mayoritas ulama menyatakan bahwa pendapat yang paling kuat adalah pendapat
pertama, yakni Ayat 1–5 dari S. Al-‘Alaq [96] merupakan wahyu pertama yang
diterima oleh Nabi Muhammad Saw, dan tidak satu pun wahyu yang turun sebelum
itu. Tiga pendapat lainnya oleh Az-Zarqani dikompromikan sebagai berikut; Ayat
1–5 dari S. Al-Muddatstsir [74] merupakan ayat-ayat yang turun pertama kali
setelah beberapa saat lamanya terjadi kekosongan turunnya wahyu setelah
turunnya Ayat 1–5 dari S. Al-‘Alaq [96]. Ayat-ayat dari S. Al-Fâtihah [1]
mungkin dapat dipandang sebagai surah Alquran yang diturunkan pertama kali
secara lengkap mulai dari ayat pertama sampai dengan ayat terakhir. S.
Al-Fâtihah [1] itu turun beberapa saat lamanya setelah Muhammad diangkat
sebagai Nabi.
Mengenai ayat yang terakhir turun, juga terdapat perbedaan pendapat para
ulama. Menurut az-Zarqani, terdapat 10 pendapat ulama, yaitu: (1). Ayat 281
dari S. Al-Baqarah [2], berdasarkan hadis riwayat An-Nasa’i melalui Ikrimah
dari Ibnu Abbas dan riwayat Ibnu Abi Hatim; (2). Ayat 278 dari S. Al-Baqarah [2],
berdasarkan hadis riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas dan riwayat Baihaqi dari Ibnu
Umar; (3). Ayat 282 dari S. Al-Baqarah [2], berdasarkan hadis riwayat Ibnu
Jarir dari Sa‘id bin Al-Musayyib dan riwayat Abu Ubaid dari Ibnu Syihab. (4).
Ayat 195 dari S. آli ‘Imrân [3]; (5). Ayat 94 dari S. An-Nisâ’ [4]; (6). Ayat
176 dari S. An-Nisâ’ [4]; (7). Ayat 3 dari S. Al-Mâ’idah [5], (8). Ayat 128
dari S. At-Taubah [9]; (9). Ayat 110 S. Al-Kahf [18], dan (10). Ayat-ayat S.
An-Nashr [110], yang semuanya berdasarkan riwayat. Perbedaan pendapat ini timbul karena
perbedaan masa para sahabat mendengarkan ayat yang disampaikan Nabi. Menurut
Az-Zarqani dan Subhi As-Salih, ayat-ayat yang terakhir turun adalah Ayat 281
dari S. Al-Baqarah [2].
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..