Oleh : Masduki Ibnu Zeayah
Kata atsar
(أَثَرٌ) dalam bentuk tunggal hanya disebut tiga kali di dalam
al-Quran, yaitu pada Surah An-Nâzi‘ât [79]: 38, S. Yûsuf [12]: 91, dan S. Thâhâ
[20]: 96. Bentuk lain kata itu disebut 13 kali, yaitu pada S. Al-Muddatstsir
[74]: 24, S. Al-Hasyr [59]: 9, S. Al-Fath [48]: 29, S. Ar-Rûm [30]: 50, S.
Al-A‘lâ [87]: 16, S. Ghâfir [40]: 21 dan 82, S. Al-Kahfi [18]: 6 dan 64, S.
Al-Mâ’idah [5]: 46, S. Yâsin [36]: 12, S. Ash-Shâffât [37]: 70, S. Az-Zukhruf
[43]: 22 dan 23, S. Al-Hadîd [57]: 27, dan S. Al-Ahqâf [46]: 4.Menurut Ibnu
Faris, kata atsar (أَثَرٌ) mulanya mempunyai tiga pengertian. Pertama, ‘taqdimu
asy-syai’’ (تَقْدِيْمُ
الشَّيْءِ = mengutamakan atau memilih
sesuatu), dalam arti memutuskan untuk mengambil sesuatu dari beberapa pilihan
yang ada. Mengambil salah satu dari sekian banyak pilihan menyiratkan bahwa
pertimbangan yang matang telah dilakukan terlebih dahulu. Hasilnya disebut
pilihan. Demikian juga pengertian kata tersebut di dalam S. Al-A‘lâ [87]: 16, bal
tu’tsirûna al-hayât ad-dunyâ (بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا = mereka mengutamakan kehidupan dunia). Pilihan jatuh pada
kehidupan dunia karena menurut mereka kehidupan dunia lebih utama daripada
kehidupan lain. Kedua, bekas-bekas peninggalan lama. Bekas-bekas
dimaksud dapat membuktikan bahwa dahulu pernah ada pemiliknya. Misalnya,
bekas-bekas rumah disebut atsaru al-bait (أَثَرُ الْبَيْتِ) karena ia dapat membuktikan bahwa dahulu pernah ada rumah
tersebut. Demikian juga atsaru ath-tharîq (أَثَرُ الطَّرِيْق), diartikan sebagai bekas-bekas jalan karena bekas itu
membuktikan bahwa di situ pernah ada orang lewat. Ketiga, berita
yang disampaikan. Hadis Nabi Saw. disebut astar karena ia merupakan
berita yang disampaikan kepada orang lain.Dari beberapa ayat yang menyebut kata
atsar (أَثَرٌ) dan yang seasal dengan itu, dapat difahami bahwa al-Quran
menggunakan kata tersebut dengan ketiga arti di atas. Misalnya, untuk arti
“keutamaan” atau “pilihan” dapat dilihat dalam S. Yûsuf [12]: 91, yang
menggunakan kata atsar (أَثَرٌ) untuk
menggambarkan kelebihan dan keutamaan yang diberikan Allah kepada Yusuf berupa
ketampanan, keimanan, kejujuran, dan sebagainya. S. Al-A‘lâ [87]: 16
menggunakannya untuk menggambarkan sikap orang musyrik yang mengutamakan
kehidupan dunia.
Untuk arti
“bekas” atau “jejak” yang membuktikan bahwa sesuatu yang meninggalkan bekas itu
pernah ada, misalnya, S. Ghâfir [40]: 21 yang menggambarkan bekas-bekas orang
terdahulu berupa bangunan, perlengkapan, benteng-benteng pertahanan, istana,
dan sebagainya. Untuk arti “menyampaikan sesuatu” ditemukan misalnya di dalam
S. Al-Muddatstsir (74): 24, yang menggambarkan penyampaian sihir orang-orang
dahulu kepada Nabi Muhammad.
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..