Oleh : Masduki Ibnu Zeayah
Ashîl (أَصِيْل) adalah bentuk tunggal dari ushûl – âshâl - ashâil (أُصُوْل – آصَال - أَصَائِل) turunan dari huruf hamzah, shad, dan lam. Kata
yang berakar kata demikian mempunyai tiga makna denotatif yang berbeda. Pertama,
ashl (أَصْل= dasar sesuatu) bentuk jamaknya adalah ushûl (أُصُوْل). Makna ini berkembang menjadi “berakar” karena akar merupakan
dasar tumbuhan; “jernih” (pikiran) karena berasal dari dasarnya; “mencabut”
karena mengambil dasarnya; “nasab” karena merupakan dasar dari keturunan;
“kaidah” karena merupakan dasar pemikiran, dan seterusnya. Kedua,
ashâlah (أَصَالَة = biji yang besar) seperti yang terdapat di dalam hadis yang
menggambarkan tentang Dajjal yang disebut sebagai ka’anna ra’sahu ashâlah (كَأَنَّ رَأْسَه أَصَالَة = kepalanya
bagaikan biji besar). Ketiga, ashîl (أَصِيْل = waktu sore hari).
Kata ashîl
dan pecahannya di dalam al-Quran
terulang 10 kali. Ashîl (أَصِيْل) sendiri dan
bentuk jamaknya terulang sebanyak tujuh kali, seperti yang terdapat di dalam S.
Ar-Ra‘d [13]: 15; S. An-Nûr [24]: 36; S. Al-Furqân [25]: 5; S. Al-Ahzâb
[33]: 42, dan sebagainya. Kata lainnya, ashl (أَصْل = akar, dasar, asal, asas) dan bentuk jamaknya, ushûl (أُصُوٍلٌ) terulang tiga kali (S. Ibrâhim [14]: 24; S. Ash-Shâffât [37]:
64; dan S. Al-Hasyr [59]: 5). Kata ashîl selalu dikontraskan dengan kata
bukrah (بُكْرَة = waktu pagi) dan bentuk jamaknya (ashal) selalu
dikontraskan dengan kata guduw (غُدُوّ = waktu pagi).
Kata ashîl
(أَصِيْل) yang terdapat di dalam S. Al-Furqan [25]: 5
digunakan berkaitan dengan pernyataan orang-orang kafir bahwa Muhammad Saw.
hanya menyampaikan dongeng yang ia telah pelajari setiap pagi dan petang.
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan tentang kebohongan orang kafir dengan
pernyataannya itu karena mereka telah tahu persis siapa itu Muhammad sejak
kecil hingga dewasa, bahkan mereka telah memberinya gelar al-amin, lalu
ia menuduhnya telah belajar dongeng setiap pagi dan sore hari.
Di dalam S.
Al-Ahzâb [33]: 42, S. Al-Fath [48]: 9, dan S. Al-Insân [76]:
25, kata ashîl digunakan berkaitan dengan anjuran untuk selalu berzikir
kepada Allah di waktu pagi dan petang. Adanya anjuran ini disebabkan karena
Allah yang telah mengeluarkan manusia dari kegelapan dengan rahmat-Nya dan malaikat
selalu berdoa untuk orang yang beriman (S. Al-Ahzâb [33]: 42-43); Allah yang
telah mengutus Muhammad sebagai rasul, pembawa berita gembira, dan pemberi
peringatan (S. Al-Fath [48]: 8-9); dan karena Allah yang telah menurunkan kitab
kepada Nabi Muhammad Saw. untuk diamalkan (S. Al-Insân [76]: 25). Hal ini
senada dengan firman Allah Swt. di dalam S. Ar-Rûm (30): 17.
Penggunaan âshâl
(bentuk jamak ashîl) digunakan berkaitan dengan:
1.
Adab membaca dan mendengarkan Al-Quran, yaitu diam ketika ada yang membacanya,
selalu berzikir di dalam hati dengan penuh kerendahan dan rasa takut
kepada-Nya, dan dilakukan pada waktu pagi dan petang (S. Al-A‘râf [7]:
205).
2.
Seluruh makhluk beserta bayangannya yang ada di langit dan di bumi bersujud dan
tunduk kepada Allah, baik dengan rela maupun enggan, pada waktu pagi dan petang
hari (S. Ar-Ra‘d [13]: 15). Menurut Al-Qurtubi, di dalam ayat ini disebutkan pagi
dan petang karena bayangan sesuatu hanya muncul pada kedua waktu tersebut.
Mujahid menambahkan bahwa bayangan orang beriman tunduk kepada Allah dengan
rela, sedangkan bayangan orang kafir juga tunduk, tetapi enggan karena
demikianlah sifat orang kafir.
3.
Kebolehan melakukan zikir di masjid-masjid, baik di waktu pagi maupun waktu
petang (S. An-Nûr [24]: 34).
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..