Oleh : Ibnu Zeayah
آD (عاد)
Kata ‘âd adalah nama suatu
kaum Nabi Hud as. Menurut Al-Qurthubi, nama ini diambil dari nama nenek moyang
mereka yang bernama ‘Ad bin ‘Aus bin Iram bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam
bin Nuh. Nabi Hud sendiri adalah keturunan dari ‘Ad, yaitu melalui ayahnya
Abdullâh bin Rabah bin Al-Jalûd bin ‘Ad. Kaum ‘Ad datang setelah umat
Nabi Nuh as. (QS. Al-A‘râf [7]: 69) dan sebelum kaum Tsamud, umat Nabi Shaleh
as. (QS. Al-A‘râf [7]: 74). Daerah tempat tinggal mereka berada di pinggiran
Hadramaut membentang hingga Yaman, demikian Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi.
Kaum ‘Ad termasuk penguasa yang
kejam (QS. Hûd [11]: 59), jika menghukum seseorang tidak mengenal rasa perikemanusiaan
(QS. Asy-Syu‘arâ’ [26]: 130). Peradaban Kaum ini sudah sangat maju. Mereka
membangun kota yang megah bernama Iram (QS. Al-Fajr [89]: 7), suatu kota yang
belum pernah ada sebelumnya. Kota tersebut dikelilingi dengan benteng-benteng
yang kokoh (QS. Asy-Syu‘arâ [26]: 129). Bangunan yang ada di dalamnya adalah
bangunan yang tinggi-tinggi (QS. Al-Fajr [89]: 7) dan didirikan di daerah yang
tinggi (QS. Asy-Syu‘arâ [26]: 128) di atas bukit-bukit yang berpasir (QS.
Al-Ahqâf [46]: 21). Penduduknya sangat sejahtera karena berlimpahan
kemewahan yang sangat banyak (QS. Asy-Syu‘arâ [26]: 128). Hal ini, menurut Ibnu
Katsir, disebabkan oleh tanahnya yang subur sehingga hasil perkebunan dan
pertanian sangat melimpah. Dengan peradaban yang demikian, pantaslah mereka
merasa diri cukup kuat (QS. Fushshilat [41]: 15).
Kaum ‘Ad adalah suatu kaum
yang sangat kuat berpegang pada tradisi nenek moyang mereka, yaitu tradisi
meyembah berhala (QS. Hûd [11]: 53). Karena itulah, Nabi Hud diutus Allah untuk
membimbing mereka ke jalan yang benar, yaitu menyembah hanya kepada Allah swt.
(QS. Al-A‘râf [7]: 65 dan QS. Hûd [11]: 50). Kaum ‘Ad tidak menghiraukan seruan
Nabi Hud dan tidak percaya terhadap apa yang disampaikannya, hari akhirat
mereka dustakan (QS. Al-Hâqqah [69]: 4), meskipun Nabi Hud mendatangkan suatu
bukti kerasulannya (QS. Hûd [11]: 53), bahkan menganggap dia sebagai orang
yang kurang akal dan pendusta (QS. Al-A‘râf [7]: 66). Mereka juga menuduh bahwa
kegilaan Nabi Hud disebabkan oleh bencana dari Tuhan mereka kepadanya (QS. Hûd
[11]: 54). Lebih dari itu, mereka juga menantang Nabi Hud, jika memang benar
apa yang disampaikannya itu, agar ditimpakan azab kepada mereka (QS. Al-A‘râf
[7]: 70).
Karena
pembangkangan yang mereka lakukan dan tantangan yang mereka minta,
datanglah azab Allah berupa angin yang sangat dingin dan amat kencang (QS.
Al-Hâqqah [69]: 6) serta bergemuruh (QS. Fushshilat [41]: 16) yang berlangsung
terus-menerus sehingga menyebabkan mereka bagaikan pohon kurma yang tumbang
satu persatu (QS. Al-Qamar [54]: 19-20) dan apa yang dilewatinya akan hancur
menjadi serbuk-serbuk (QS. Adz-Dzâriyât [51]: 41 dan 42). Ketika azab itu
datang, mereka sangat gembira karena menganggapnya sebagai awan pertanda akan
turun hujan. Awan itu seakan menelusuri lembah-lembah mereka. Akan tetapi, apa
yang mereka sangka awan ternyata azab yang menghancurkan mereka dan kemewahan
yang mereka miliki, sehingga yang tinggal hanyalah puing-puing yang berserakan
(QS. Al-Ahqâf [46]: 24-25 dan Al-‘Ankabût [29]: 38).
Kata ‘Ad dengan
arti kaum ‘Ad terulang 24 kali di dalam Al-Qur’an. Kisah ini di dalam Al-Qur’an
dimaksudkan agar menjadi pelajaran bagi mereka yang ingkar kepada Allah dan menentang
rasul-Nya, yaitu bahwa betapapun manusia memiliki kekuatan/kekuasaan yang luar
biasa dan kekayaan yang melimpah ruah, seperti yang dimiliki oleh kaum ‘Ad,
pasti akan hancur (QS. At-Taubah [9]: 70, Al-Furqân [25]: 38, An-Najm [53]: 50,
dan Al-Fajr [89]: 6) Mereka itu akan mendapat laknat, baik di dunia maupun di
akhirat (QS. Ibrâhîm [14]: 15-16).
Kisah ini juga
merupakan motivasi kepada Nabi saw. di dalam berdakwah, yaitu bahwa setiap nabi
dan rasul yang diutus oleh Allah pasti mendapat tantangan yang sangat berat
dari kaumnya, sebagaimana dikatakan di dalam QS. Al-Hajj [22]: 42, “Dan
jika mereka mendustakan kamu (Muhammad) maka sesungguhnya telah mendustakan
juga mereka kaum Nuh, ‘Ad, dan Tsamud (kepada nabinya) sebelum kamu.” Juga
di dalam QS. Fushshilat [41]: 13, “Jika mereka berpaling maka katakanlah,
‘Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum
‘Ad dan Tsamud.” Ayat ini juga berlaku bagi seluruh umat Islam yang akan
menegakkan agama Allah.
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..