* Buletin PRISMA *
Penulis: Al-Ustadzah Ummu
‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran
Masih berkaca pada untaian nasihat
Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Menjelang akhir nasihatnya, Luqman melarang
sang anak dari sikap takabur dan memerintahkannya untuk merendahkan diri
(tawadhu’). Luqman berkata kepada anaknya:
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ
وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتاَلٍ
فَخُوْرٍ
“Dan janganlah engkau memalingkan
wajahmu dari manusia (karena sombong), dan janganlah berjalan dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang angkuh dan menyombongkan diri.”
(Luqman: 18)
Demikian Luqman melarang untuk
memalingkan wajah dan bermuka masam kepada orang lain karena sombong dan merasa
dirinya besar, melarang dari berjalan dengan angkuh, sombong terhadap nikmat
yang ada pada dirinya dan melupakan Dzat yang memberikan nikmat, serta kagum
terhadap diri sendiri. Karena Allah tidak menyukai setiap orang yang
menyombongkan diri dengan keadaannya dan bersikap angkuh dengan ucapannya.
(Taisirul Karimir Rahman hal. 649)
Pada ayat yang lain Allah k melarang
pula:
وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحاً
إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ اْلأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِباَلَ طُوْلاً
“Dan janganlah berjalan di muka bumi
dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tak akan dapat menembus bumi dan
tidak akan mencapai setinggi gunung.” (Al-Isra`: 37)
Demikianlah, seseorang dengan ketakaburannya
tidak akan dapat mencapai semua itu. Bahkan ia akan menjadi seorang yang
terhina di hadapan Allah k dan direndahkan di hadapan manusia, dibenci, dan
dimurkai. Dia telah menjalani akhlak yang paling buruk dan paling rendah tanpa
menggapai apa yang diinginkannya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 458)
Kehinaan. Inilah yang akan dituai
oleh orang yang sombong. Dia tidak akan mendapatkan apa yang dia harapkan di
dunia maupun di akhirat.
‘Amr bin Syu’aib meriwayatkan dari
ayahnya dari kakeknya dari Nabi n:
يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُوْنَ يَوْمَ
الْقِياَمَةِ أَمْثاَلَ الذَّرِّ فِيْ صُوْرَةِ الرِّجاَلِ، يَغْشاَهُمُ الذُّلُّ
مِنْ كُلِّ مَكاَنٍ، يُسَاقُوْنَ إِلَى سِجْنٍ مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُوْلَسَ،
تَغْلُوْهُمْ ناَرٌ مِنَ اْلأَنْياَرِ، وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ
النَّارِ طِيْنَةِ الْخَباَلِ
“Orang-orang yang sombong
dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam bentuk manusia,
diliputi oleh kehinaan dari segala arah, digiring ke penjara di Jahannam yang
disebut Bulas, dilalap oleh api dan diberi minuman dari perasan penduduk
neraka, thinatul khabal.1” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh
Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 434)
Bahkan seorang yang sombong terancam
dengan kemurkaan Allah k. Demikian yang kita dapati dari Rasulullah n,
sebagaimana yang disampaikan oleh seorang shahabat mulia, ‘Abdullah bin ‘Umar
c:
مَنْ تَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ أَوِ
اخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ
“Barangsiapa yang merasa sombong
akan dirinya atau angkuh dalam berjalan, dia akan bertemu dengan Allah k dalam
keadaan Allah murka terhadapnya.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy- Syaikh
Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 427)
Kesombongan (kibr) bukanlah pada
orang yang senang dengan keindahan. Akan tetapi, kesombongan adalah menentang
agama Allah k dan merendahkan hamba-hamba Allah k. Demikian yang dijelaskan
oleh Rasulullah n tatkala beliau ditanya oleh ‘Abdullah bin ‘Umar c, “Apakah
sombong itu bila seseorang memiliki hullah2 yang dikenakannya?” Beliau n
menjawab, “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki dua sandal yang bagus dengan
tali sandalnya yang bagus?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki binatang
tunggangan yang dikendarainya?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki teman-teman
yang biasa duduk bersamanya?” “Tidak.” “Wahai Rasulullah, lalu apakah
kesombongan itu?” Kemudian beliau n menjawab:
سَفَهُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Meremehkan kebenaran dan
merendahkan manusia.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam
Shahih Al-Adabul Mufrad no. 426)
Tak sedikit pun Rasulullah n membuka
peluang bagi seseorang untuk bersikap sombong. Bahkan beliau n senantiasa
memerintahkan untuk tawadhu’. ‘Iyadh bin Himar z menyampaikan bahwa Rasulullah
n bersabda:
إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ
تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى
أَحَدٍ
“Sesungguhnya Allah mewahyukan
kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’ hingga tidak seorang pun menyombongkan
diri atas yang lain dan tak seorang pun berbuat melampaui batas terhadap yang
lainnya.” (HR. Muslim no. 2865)
Berlawanan dengan orang yang
sombong, orang yang berhias dengan tawadhu’ akan menggapai kemuliaan dari sisi
Allah k, sebagaimana yang disampaikan oleh shahabat yang mulia, Abu Hurairah z
bahwa Rasulullah n bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ للهِ إِلاَّ
رَفَعَهُ اللهُ
“Dan tidaklah seseorang bersikap
tawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan mengangkatnya.” (HR. Muslim no. 2588)
Tawadhu’ karena Allah k ada dua
makna. Pertama, merendahkan diri terhadap agama Allah, sehingga tidak tinggi
hati dan sombong terhadap agama ini maupun untuk menunaikan hukum- hukumnya.
Kedua, merendahkan diri terhadap hamba-hamba Allah k karena Allah k, bukan
karena takut terhadap mereka, ataupun mengharap sesuatu yang ada pada mereka,
namun semata-mata hanya karena Allah k. Kedua makna ini benar.
Apabila seseorang merendahkan diri
karena Allah k, maka Allah k akan mengangkatnya di dunia dan di akhirat. Hal
ini merupakan sesuatu yang dapat disaksikan dalam kehidupan ini. Seseorang yang
merendahkan diri akan menempati kedudukan yang tinggi di hadapan manusia, akan
disebut-sebut kebaikannya, dan akan dicintai oleh manusia. (Syarh Riyadhish
Shalihin, 1/365)
Tak hanya sebatas perintah semata,
kisah-kisah dalam kehidupan Rasulullah n banyak melukiskan ketawadhu’an beliau.
Beliau n adalah seorang manusia yang paling mulia di hadapan Allah k. Meski
demikian, beliau menolak panggilan yang berlebihan bagi beliau. Begitulah yang
dikisahkan oleh Anas bin Malik z tatkala orang-orang berkata kepada Rasulullah
n, “Wahai orang yang terbaik di antara kami, anak orang yang terbaik di antara
kami! Wahai junjungan kami, anak junjungan kami!” Beliau n pun berkata:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ
بِقَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، إِنِّي لاَ أُرِيْدُ أَنْ
تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيهِ اللهُ تَعَالَى، أَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Wahai manusia, hati-hatilah dengan
ucapan kalian, jangan sampai kalian dijerumuskan oleh syaitan. Sesungguhnya aku
tidak ingin kalian mengangkatku di atas kedudukan yang diberikan oleh Allah
ta’ala bagiku. Aku ini Muhammad bin ‘Abdillah, hamba-Nya dan utusan-Nya.” (HR.
An- Nasa`i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, dikatakan dalam Ash-Shahihul Musnad
fi Asy-Syamail Muhammadiyah no. 786: hadits shahih menurut syarat Muslim)
Anas bin Malik z mengisahkan:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُوْرُ اْلأَنْصَارَ فَيُسَلِّمُ عَلَى صِبْيَانِهِمْ
وَيَمْسَحُ بِرُؤُوْسِهِمْ وَيَدْعُو لَهُمْ
“Rasulullah n biasa mengunjungi
orang-orang Anshar, lalu mengucapkan salam pada anak-anak mereka, mengusap
kepala mereka dan mendoakannya.” (HR An. Nasa`i, dikatakan dalam Ash- Shahihul
Musnad fi Asy-Syamail Muhammadiyah no. 796: hadits hasan)
Ketawadhu’an Rasulullah n ini
menjadi gambaran nyata yang diteladani oleh para shahabat. Anas bin Malik z
pernah melewati anak-anak, lalu beliau mengucapkan salam pada mereka. Beliau n
mengatakan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ
“Nabi n biasa melakukan hal itu.”
(HR. Al-Bukhari no. 6247 dan Muslim no. 2168)
Memberikan salam kepada anak-anak
ini dilakukan oleh Nabi n dan diikuti pula oleh para shahabat beliau g. Hal ini
merupakan sikap tawadhu’ dan akhlak yang baik, serta termasuk pendidikan dan
pengajaran yang baik, serta bimbingan dan pengarahan kepada anak-anak, karena
anak-anak apabila diberi salam, mereka akan terbiasa dengan hal ini dan menjadi
sesuatu yang tertanam dalam jiwa mereka.(Syarh Riyadhish Shalihin, 1/366-367)
Pernah pula Abu Rifa’ah Tamim bin
Usaid zmenuturkan sebuah peristiwa yang memberikan gambaran ketawadhu’an Nabi n
serta kasih sayang dan kecintaan beliau terhadap kaum muslimin:
اِنْتَهَيْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ،
رَجُلٌ غَرِيْبٌ جَاءَ يَسْأَلُ عَنْ دِيْنِهِ لاَ يَدْرِي مَا دِيْنُهُ؟
فَأَقْبَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرَكَ
خُطْبَتَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَيَّ فَأُتِيَ بِكُرْسِيٍّ، فَقَعَدَ عَلَيْهِ،
وَجَعَلَ يُعَلِّمُنِي مِمَّا عَلَّمَهُ اللهُ، ثُمَّ أَتَى خُطْبَتَهُ فَأَتَمَّ
آخِرَهَا
“Aku pernah datang kepada Rasulullah
n ketika beliau berkhutbah. Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, seorang yang
asing datang padamu untuk bertanya tentang agamanya, dia tidak mengetahui
tentang agamanya.’ Maka Rasulullah n pun mendatangiku, kemudian diambilkan
sebuah kursi lalu beliau duduk di atasnya. Mulailah beliau mengajarkan padaku
apa yang diajarkan oleh Allah. Kemudian beliau kembali melanjutkan khutbahnya
hingga selesai.” (HR. Muslim no. 876)
Begitu banyak anjuran maupun kisah
kehidupan Rasulullah n yang melukiskan ketawadhu’an beliau. Demikian pula dari
para shahabat g. Tinggallah kembali pada diri ayah dan ibu. Jalan manakah
kiranya yang hendak mereka pilihkan bagi buah hatinya? Mengajarkan kerendahan
hati hingga mendapati kebahagiaan di dua negeri, ataukah menanamkan benih
kesombongan hingga menuai kehinaan di dunia dan akhirat?
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
1 Thinatul khabal adalah keringat
atau perasan dari penduduk neraka.
2 Hullah adalah pakaian yang terdiri
dari dua potong baju.
(
http://asysyariah.com/print.php?id_online=284 )
Bundel by PRISMA --- Juni ‘12
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..