Oleh : Masduki
Ibnu Zeayah
Manusia unggulan dalam perspektif tasawuf, mereka yang selalu melaksanakan dua tugas pokok, yaitu tugas ibadah sebagai bentuk aplikasi pengkhidmatan kepada Allah dan tugas sosial sebagai bentuk pengabdian kepada sesama.
“Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami
kembalikan dia ketempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada
terputus.” (QS. At-Tin:
4-6).
Di dalam ayat
tadi disebutkan manusia adalah makhluk unggulan karena peran gandanya, peran
sebagai ‘abid seperti terindikasikan dalam ungkapan âmanû dan
peran sebagai khalifah seperti terindikasikan dalam ungkapan wa ‘amilû
as-shâlihât. Konsep ‘abid menunjukan hubungan vertikal (hablum
minallah), dan itu lebih bersifat personal. Sementara konsep khalifah,
terkait dengan tanggung jawab sosial, hubungan horizontal (hablum minannas).
Kalau ‘abid itu tanggung jawab personal dengan Tuhan, sedang khalifah
itu adalah tanggung jawab sosial dalam hubungannya dengan sesama manusia.
Karena Allah selalu menggandengkan dua kalimat itu hampir di semua
ayat-ayat-Nya, manusia unggulan akan selalu melakukan kedua peran itu secara
bersamaan. Dengan demikian, kualitas manusia menurut perspektif tasawuf dilihat
dari peran ganda ini.
Pada suatu hari
Umar bin Khattab Ra. pernah ditanya, “kenapa engkau tidak pernah tidur?” Umar
menjawab, “kalau saya tidur di malam hari bagaimana saya bisa dekat kepada
Allah Swt, karena sepanjang hari waktu habis untuk mengurus umat.” Jadi, waktu
dia sepanjang hari habis untuk melayani umat, karena dia seorang khlaifah. Tapi
malam hari, ia selalu bangun malam untuk beribadah. Yang demikian itu adalah
contoh konkrit amalan tasawuf yang berpijak dari ayat dimaksud.
Masih banyak
orang berasumsi bahwa aktifitas tasawuf hanya terbatas pada dzikir-dzikir,
shalat, puasa, dan ibadah-ibadah ritual lainnya (hablu minallah),
sementara sisi ibadah sosial (hablu minannas) diabaikan. Asumsi seperti
itu tentu saja tidak benar, karena ibadah sosial juga tidak kalah pentingnya
dibandingkan ibadah ritual. Bahkan, tidak jarang karena mengabaikan ibadah
sosial, ibadah ritual bisa menjadi tidak berarti. Itu merupakan inti dari
tujuan tasawuf, seperti disinyalir dalam surah al-Ma’un;
“Apakaha anda
tahu orang yang mendustakan agama itu? Itulah orang yang menghardik anak yatim,
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, maka celakalah bagi orang
yang shalat.” (QS. Al-Ma’un:
1- 4).
Ayat “maka
celakalah bagi orang yang shalat” disebutkan setelah dua ayat yang
berkaitan dengan masalah sosial, yaitu menghardik anak yatim dan tidak
menganjurkan memberi makan orang miskin. Itu adalah suatu gambaran bahwa pelaku
shalat yang tidak peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan bantuan, lemah,
tidak mampu, dan tidak memberikan dampak sosial yang baik yang direalisasikan
melalui interaksi mereka dengan sesamannya, justru shalatnya itu akan
mencelakakannya.
Lebih jelas
lagi diceritakan dalam sebuah hadis, ada seorang wanita yang rajin shalat di
malam hari dan rajin puasa di siang hari, tetapi Rasul mengatakan dia itu masuk
neraka, tentu saja para sahabat menunjukan keheranannya dan bertanya alasannya
kepada Rasulullah Saw, beliau menjawab, “ia masuk neraka karena ia selalu
menyakiti hati tetangganya dengan lidah”. (HR. Ahmad dan Al-Hakim dari Abu
Hurairah). Berdasarkan hadis tersebut, seakan-akan shalat dan puasa yang
dilakukan wanita tadi tidak berarti sama sekali, lantaran ia tidak mau
berkomunikasi secara baik dengan tetangga atau sesamanya.
Di dalam Islam,
tugas-tugas kemasyarakatan ini mempunyai kedudukan penting, sehingga dihargai
lebih tinggi dari pada ibadah-ibadah ritual.
Mantan syekh
Al-Azhar, Abdul Halim Mahmud, memberikan bukti-bukti bahwa beberapa orang sufi
adalah pedagang-pedagang yang aktif dan cukup sukses.
Gerakan
Sanusiah di Afrika Utara adalah gerakan pembaharu sosial yang sangat sufistik,
begitu juga Gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hasan Al-Banna di Mesir.
Sartono, ahli sejarah Indonesia, mencatat bahwa gerakan-gerakan protes di
pedesaan di Jawa diwarnai oleh sufisme.
Pada suatu
ketika, ada seorang sahabat Rasulullah Saw. melewati sebuah lembah yang cukup
indah dan memesona. Lembah itu mempunyai mata air yang jernih dan segar,
sehingga sahabat itu berfikir untuk menghabiskan sisa hidupnya di lembah yang
jauh dari keramaian masyarakat itu, dan ia ingin mengisinya dengan shalat,
puasa, dzikir, berdo’a kepada Allah Swt. Kemudian
maksud itu diberitahukan kepada Rasulullah Saw, dan beliau berkata:
“Jangan lakukan itu, kedudukanmu di
jalan Allah lebih utama daripada shalat yang engkau lakukan di rumahmu selama
tujuh puluh tahun. Tidakkah anda ingin agar Allah mengampuni dosamu dan
memasukkanmu ke surga? Berjuanglah
di jalan Allah”. (HR. Tirmidzi).
Dalam hadis lain disebutkan juga:
“Dari Abu Umamah, dia bercerita: “Kami keluar bersama
Rasulullah Saw. dalam salah satu ekspedisi beliau, kemudian seseorang melewati
sebuah gua yang di situ ada air. Orang itu berkata kepada dirinya sendiri untuk
tinggal dalam gua itu dengan jaminan hidup dari air yang ada dan memakan
tetumbuhan di sekitarnya kemudian melepaskan diri dari dunia. Lalu orang itu
berkata, “Kalau nanti aku bertemu Nabi Allah Saw. aku akan ceritakan perkara
itu kepada beliau. Kalau beliau izinkan, aku akan lakukan, kalau tidak, tidak”.
Maka, datanglah ia menemui beliau (Nabi), lalu berkata, “Wahai Nabi Allah, aku
melewati sebuah gua yang di situ ada air dan tetumbuhan yang menjamin hidupku. Maka, aku pun
berkata kepada diriku sendiri untuk tinggal di gua itu dan melepaskan diri dari
dunia.” Orang itu menuturkan bahwa Nabi saw. menjawab, “Aku tidak diutus dengan
keyahudian, juga tidak dengan kekeristenan. Aku diutus dengan kehanifan yang
lapang (al-hanafiyatu al-samha’). Demi Dia yang jiwa Muhammad ada di
tangan-Nya, pergi-pagi dan pulang–petang di jalan Allah adalah lebih baik
daripada dunia beserta seluruh isinya. Pastilah berdiri tegaknya seseorang di
antara kamu (dalam barisan perjuangan) adalah lebih baik daripada sembahyangnya
selama enam puluh tahun.” (H.R. Ahmad).
Berjuang atau
pergi di jalan Allah Swt. adalah hidup di tengah-tengah masyarakat dan ikut
berperan serta dalam membangun, memberikan yang terbaik bagi sesama,
menyebarkan rasa cinta dan kasih sayang, menyerukan perbuatan yang baik dan
mencegah perbuatan mungkar, dan peran-peran kemanusiaan lainnya, karena
kehadiran seorang muslim sebagai anggota masyarakat merupakan suatu hal yang
sangat penting untuk suatu perubahan masyarakat.
Ada beberapa
hadis menjelaskan tentang manusia terbaik, dan semua itu bermuara pada sikap
perbuatan yang dilakukan antar sesama, di antara hadis- hadis itu adalah:
“Manusia yang paling baik ialah yang paling baik akhlaknya.
Manusia yang paling baik adalah manusia yang paling banyak manfaatnya kepada
sesama. Manusia yang paling baik adalah manusia yang paling baik dalam membayar
hutangnya. Yang paling baik di antara kamu adalah yang paling baik kepada
isteri dan anak-anaknya. Yang paling baik di antara kamu adalah engkau masukan
rasa bahagia kepada hati saudaramu yang mukmin.”
Sekali lagi, kebanyakan ayat al-Qur’an ketika menyebut kata âmanû
(ibadah ritual) selalu digandengkan dengan kata wa ‘amilû as-shâlihât (ibadah
soaial), karena memang keduanya tak bisa terpisah. Sesudah shalat pada waktunya
dan membasahi lidah dengan dzikir kepada Allah, manusia paling baik akan
berjuang di tengah-tengah manusia. Ia akan berusaha memasukan rasa bahagia
kepada orang lain, ia akan memperlakukan isteri dan anak-anaknya dengan baik,
ia memperbaiki masyarakat dengan melakukan kontrol sosial yang penuh tanggung
jawab dan lain-lain, karena memang kecintaan kepada Allah Swt. melalui
kecintaan kepada sesama, dan kedekatan manusia kepada Allah Swt. dengan melakukan
sopan santun kepada sesamanya. Inilah salah satu yang terkandung dalam
pengertian tasawuf, seperti dikatakan seorang sufi besar Junaid Al-Baghdadi,
“bertasawuf adalah engkau merasa bersama Allah Swt. dan Allah Swt. bersama
engkau, dan kedekatan itu bisa dilakukan dengan menyantuni sesama, seperti
menyantuni orang-orang yang hancur hatinya.”
Ketika Nabi Musa bertanya kepada Allah Swt, “Tuhanku, di
mana aku harus mencari-Mu, Allah Swt. menjawab, “Carilah aku di tengah-tengah
mereka yang hancur hatinya”.
Tetapi, ketika tugas ganda ini terlepas dari manusia, Allah
akan menempatkan manusia ke tempat yang sangat hina (neraka), mereka menjadi
manusia yang tak berarti, manusia yang lebih sesat, lebih keji, dan lebih kejam
daripada binatang, dan ketika itu tidak akan ada yang namanya kebaikan,
kesejahteraan, dan kedamaian, baik buat dirinya maupun buat masyarakatnya.
Allah Swt. berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam)
kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata
(tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan
mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka itu lebih sesat lagi.
Mereka itulah orang-orang yang lalai”.
(QS. Al-A’raf: 179).
Dengan begitu, manusia unggulan
dalam perspektif tasawuf yaitu mereka yang selalu melaksanakan dua tugas pokok
ini, tugas ibadah sebagai bentuk aplikasi pengkhidmatan kepada Allah dan tugas
sosial sebagai bentuk pengabdian kepada sesama. Wa Allâhu a’lam bi
ash-shawwâb.
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..