* Buletin PRISMA *
Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq
Zulfa Husein Al-Atsariyyah
Pulang dari bekerja, semestinya
adalah waktu untuk beristrirahat bagi suami selaku kepala rumah tangga. Namun
banyak kita jumpai fenomena di mana mereka justru masih disibukkan dengan
segala macam pekerjaan rumah tangga sementara sang istri malah ngerumpi di
rumah tetangga. Bagaimana istri shalihah menyikapi hal ini?
Salah satu sifat istri shalihah yang
menandakan bagusnya interaksi kepada suaminya adalah berkhidmat kepada sang
suami dan membantu pekerjaannya sebatas yang ia mampu. Ia tidak akan membiarkan
sang suami melayani dirinya sendiri sementara ia duduk berpangku tangan
menyaksikan apa yang dilakukan suaminya. Ia merasa enggan bila suaminya sampai
tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah, memasak, mencuci, merapikan
tempat tidur, dan semisalnya, sementara ia masih mampu untuk menanganinya.
Sehingga tidak mengherankan bila kita mendapati seorang istri shalihah
menyibukkan harinya dengan memberikan pelayanan kepada suaminya, mulai dari
menyiapkan tempat tidurnya, makan dan minumnya, pakaiannya, dan kebutuhan suami
lainnya. Semua dilakukan dengan penuh kerelaan dan kelapangan hati disertai
niat ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan sungguh ini merupakan bentuk
perbuatan ihsannya kepada suami, yang diharapkan darinya ia akan beroleh
kebaikan.
Berkhidmat kepada suami ini telah
dilakukan oleh wanita-wanita utama lagi mulia dari kalangan shahabiyyah,
seperti yang dilakukan Asma’ bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu 'anhuma
yang berkhidmat kepada Az-Zubair ibnul Awwam radhiallahu 'anhu, suaminya. Ia
mengurusi hewan tunggangan suaminya, memberi makan dan minum kudanya, menjahit
dan menambal embernya, serta mengadon tepung untuk membuat kue. Ia yang memikul
biji-bijian dari tanah milik suaminya sementara jarak tempat tinggalnya dengan
tanah tersebut sekitar 2/3 farsakh1.” (HR. Bukhari no. 5224 dan Muslim no.
2182)
Demikian pula khidmatnya Fathimah
bintu Rasulillah Shallallahu 'alaihi wa sallam di rumah suaminya, Ali bin Abi
Thalib radhiallahu 'anhu, sampai-sampai kedua tangannya lecet karena menggiling
gandum. Ketika Fathimah datang ke tempat ayahnya untuk meminta seorang pembantu,
sang ayah yang mulia memberikan bimbingan kepada yang lebih baik:
أَلاَ أَدُلُّكُماَ عَلَى ماَ هُوَ
خَيْرٌ لَكُماَ مِنْ خاَدِمٍ؟ إِذَا أَوَيْتُماَ إِلَى فِرَاشِكُماَ أَوْ
أَخَذْتُماَ مَضاَجِعَكُماَ فَكَبَّرَا أًَرْبَعاً وَثَلاَثِيْنَ وَسَبَّحاَ
ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ وَحَمِّدَا ثَلاَثاً وَثَلاثِيْنَ، فَهَذَا خَيْرٌ لَكُماَ
مِنْ خاَدِمٍ
“Maukah aku tunjukkan kepada kalian
berdua apa yang lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu? Apabila
kalian mendatangi tempat tidur kalian atau ingin berbaring, bacalah Allahu
Akbar 34 kali, Subhanallah 33 kali, dan Alhamdulillah 33 kali. Ini lebih baik
bagi kalian daripada seorang pembantu.” (HR. Al-Bukhari no. 6318 dan Muslim no.
2727)
Shahabat Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, Jabir bin Abdillah radhiallahu 'anhu, menikahi seorang janda
untuk berkhidmat padanya dengan mengurusi saudara-saudara perempuannya yang
masih kecil. Jabir berkisah: “Ayahku meninggal dan ia meninggalkan 7 atau 9
anak perempuan. Maka aku pun menikahi seorang janda. Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bertanya padaku:
تَزَوَّجْتَ ياَ جاَبِر؟ فَقُلْتُ:
نَعَمْ. فَقاَلَ: بِكْرًا أَمْ ثَيِّباً؟ قُلْتُ: بَلْ ثَيِّباً. قاَلَ: فَهَلاَّ
جاَرِيَةً تُلاَعِبُهاَ وَتُلاَعِبُكَ، وَتُضاَحِكُهاَ وَتُضاَحِكُكَ؟ قاَلَ
فَقُلْتُ لَهُ: إِنَّ عَبْدَ اللهِ هَلَكَ وَ تَرَكَ بَناَتٍ، وَإِنِّي كَرِهْتُ
أَنْ أَجِيْئَهُنَّ بِمِثْلِهِنَّ، فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً تَقُوْمُ عَلَيْهِنَّ
وَتُصْلِحُهُنَّ. فَقاَلَ: باَرَكَ اللهُ لَكَ، أَوْ قاَلَ: خَيْرًا
“Apakah engkau sudah menikah, wahai
Jabir?”
“Sudah,” jawabku.
“Dengan gadis atau janda?” tanya
beliau.
“Dengan janda,” jawabku.
“Mengapa engkau tidak menikah dengan
gadis, sehingga engkau bisa bermain-main dengannya dan ia bermain-main
denganmu. Dan engkau bisa tertawa bersamanya dan ia bisa tertawa bersamamu?”
tanya beliau.
“Ayahku, Abdullah, meninggal dan ia
meninggalkan anak-anak perempuan dan aku tidak suka mendatangkan di
tengah-tengah mereka wanita yang sama dengan mereka. Maka aku pun menikahi
seorang wanita yang bisa mengurusi dan merawat mereka,” jawabku.
Beliau berkata: “Semoga Allah
memberkahimu”, atau beliau berkata: “Semoga kebaikan bagimu.” (HR. Al-Bukhari
no. 5367 dan Muslim no. 1466)
Hushain bin Mihshan berkata: “Bibiku
berkisah padaku, ia berkata: “Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam karena suatu kebutuhan, beliaupun bertanya:
أَيْ هذِهِ! أَذَاتُ بَعْلٍ؟ قُلْتُ:
نَعَم. قاَلَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قُلْتُ: ماَ آلُوْهُ إِلاَّ ماَ عَجَزْتُ
عَنْهُ. قاَلَ: فَانْظُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّماَ هُوَ جَنَّتُكَ
وَناَرُكَ
“Wahai wanita, apakah engkau telah
bersuami?”
“Iya,” jawabku.
“Bagaimana engkau terhadap suamimu?”
tanya beliau.
“Aku tidak mengurang-ngurangi dalam
mentaatinya dan berkhidmat padanya, kecuali apa yang aku tidak mampu
menunaikannya,” jawabku.
“Lihatlah di mana keberadaanmu
terhadap suamimu, karena dia adalah surga dan nerakamu,” sabda beliau. (HR.
Ibnu Abi Syaibah dan selainnya, dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al- Albani
rahimahullah dalam Adabuz Zifaf, hal. 179)
Namun di sisi lain, suami yang baik tentunya
tidak membebani istrinya dengan pekerjaan yang tidak mampu dipikulnya. Bahkan
ia melihat dan memperhatikan keberadaan istrinya kapan sekiranya ia butuh
bantuan.
Adalah Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam gambaran suami yang terbaik. Di tengah kesibukan mengurusi
umat dan dakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala, beliau menyempatkan
membantu keluarganya dan mengerjakan apa yang bisa beliau kerjakan untuk
dirinya sendiri tanpa membebankan kepada istrinya, sebagaimana diberitakan
istri beliau, Aisyah radhiallahu 'anha ketika Al-Aswad bin Yazid bertanya
kepadanya:
ماَ كاَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي الْبَيْتِ؟ قاَلَتْ: كاَنَ يَكُوْنُ فِيْ
مِهْنَةِ أَهْلِهِ –تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ- فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ
إِلَى الصَّلاَةِ
“Apa yang biasa dilakukan Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam rumah?”
Aisyah radhiallahu 'anha menjawab:
“Beliau biasa membantu pekerjaan istrinya. Bila tiba waktu shalat, beliau pun
keluar untuk mengerjakan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 676, 5363)
Dalam riwayat lain, Aisyah
radhiallahu 'anha menyebutkan pekerjaan yang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam lakukan di rumahnya:
ماَ يَصْنَعُ أَحَدُكُمْ فِيْ
بَيْتِهِ، يَخْصِفُ النَّعْلَ وَيَرْقَعُ الثَّوْبَ وَيُخِيْطُ
“Beliau mengerjakan apa yang biasa
dikerjakan salah seorang kalian di rumahnya. Beliau menambal sandalnya,
menambal bajunya, dan menjahitnya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.
540, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adabil Mufrad
no. 419 dan Al-Misykat no. 5822)
كاَنَ بَشَرًا مِنَ الْبَشَرِ،
يَفْلِي ثَوْبَهُ وَيَحْلُبُ شاَتَهُ
“Beliau manusia biasa. Beliau
menambal pakaiannya dan memeras susu kambingnya”. (HR. Al- Bukhari dalam
Al-Adabul Mufrad no. 541, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam
Shahih Al-Adabil Mufrad no. 420 dan Ash-Shahihah 671)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
1 1 farsakh kurang lebih 8 km atau
3,5 mil
(http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=256)
Bundel by PRISMA --- Juni ‘12
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..