Selasa, 17 Januari 2009
Penulis: Masduki Ibnu Zeayah
“Motivasi yang menggebu-gebu untuk
mengejar tujuan sangat membantu karier atau studi. Kali ini adalah peluang baik
untuk memulai obsesi yang terpendam selama ini. Buatlah kesempatan.”
Tunggu dulu! Jangan terburu-buru
saudara menyangka saya mengetahui masa depan dan aktivitas saudara terutama
bagi saudara yang terlahir pada tanggal 23 Oktober - 21 November atau seringnya
orang menyebut saudara berbintang Scorpio. Akan tetapi kalimat di atas adalah
secuplik kalimat ramalan astrolog yang kami ambil dari sebuah koran ternama di
kota pelajar dalam rubrik perbintangan.
Dilihat dari nama rubriknya, dapat
diketahui bahwa dasar pemikiran para astrolog atau yang sejalan pemikirannya
dengan mereka adalah letak dan konfigurasi bintang-bintang di langit. Misalnya,
bila letak gugusan bintang Bima Sakti di arah A lalu kebetulan ada seorang bayi
lahir tepat pada malam ketika bintang itu terbit maka diramalkan bayi itu akan
menjadi orang terkenal setelah besar nanti.
Apabila kita perhatikan ramalan di
atas, akan terlihat bahwa si peramal mencoba atau seolah- olah mengetahui
hal-hal ghaib. Seakan ia mampu membaca dan menentukan nasib seseorang. Dengan
dasar ini ia memerintah dan melarang pasiennya untuk berbuat sesuatu. Bahkan ia
sering menakut-nakutinya meskipun akhirnya memberi kabar gembira atau hiburan
dengan kata- kata manis. Bagi orang yang senang akan rubrik seperti tersebut di
atas atau yang suka membaca buku-buku astrologi (ramalan-ramalan bohong)
terkadang ramalan itu cocok dengan keadaan yang di alami. Namun yang menjadi
permasalahan, darimana pikiran peramal itu mencuat? Bagaimana pandangan Islam
terhadap masalah ini?
Sesungguhnya perkara-perkara ghaib
hanyalah Allah yang mengetahui. Dan ini adalah hak prerogatif Allah semata,
selain makhluk yang Ia beritahukan tentangnya, seperti sebagian Malaikat dan
para Rasul sebagai mukjizat. Dalam hal ini, Allah berfirman :
“(Dia adalah Rabb) Yang mengetahui
yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seseorang pun tentang yang
ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridlai-Nya. Maka sesungguhnya Dia
mengadakan penjaga-penjaga (Malaikat) di muka bumi dan di belakangnya.” (QS. Al
Jin : 26-27)
Barangsiapa mengaku mengetahui
perkara atau ilmu ghaib selain orang yang dikecualikan sebagaimana ayat di
atas, maka ia telah kafir. Baik mengetahuinya dengan perantaraan membaca
garis-garis tangan, di dalam gelas, perdukunan, sihir, dan ilmu perbintangan
atau selain itu. Yang terakhir ini yang biasa dilakukan oleh paranormal. Bila
ada orang sakit bertanya kepadanya tentang sebab sakitnya maka akan dijawab :
“Saudara sakit karena perbuatan orang yang tidak suka kepada saudara.” Darimana
dia tahu bahwa penyebab sakitnya adalah dari perbuatan seseorang, sementara
tidak ada bukti-bukti yang kuat sebagai dasar tuduhannya? Sebenarnya hal ini
tidak lain adalah karena bantuan jin dan para syaithan. Mereka menampakkan
kepada khalayak dengan cara-cara di atas (melihat letak bintang, misalnya)
hanyalah tipuan belaka.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
berkata : “Para dukun dan yang sejenis dengan mereka sebenarnya mempunyai
pembantu atau pendamping (qarin) dari kalangan syaithan yang mengabarkan
perkara-perkara ghaib yang dicuri dari langit. Kemudian para dukun itu menyampaikan
berita tersebut dengan tambahan kedustaan. Di antara mereka ada yang mendatangi
syaithan dengan membawa makanan, buah-buahan, dan lain-lain (untuk
dipersembahkan) … . Dengan bantuan jin, mereka ada yang dapat terbang ke Makkah
atau Baitul Maqdis atau tempat lainnya.” (Kitabut Tauhid, Syaikh Fauzan halaman
25)
Sungguh benar kabar Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengenai syaithan yang mencuri berita dari
langit. Diceritakan dalam sebuah hadits :
Tatkala Allah memutuskan perkara di
langit, para Malaikat mengepakkan sayap, mereka merasa tunduk dengan
firman-Nya, seolah-olah kepakan sayap itu bunyi gemerincing rantai di atas batu
besar. Ketika telah hilang rasa takut, mereka saling bertanya : “Apakah yang
dikatakan Rabbmu? Dia berkata tentang kebenaran dan Dia Maha Tinggi lagi Maha
Besar.” Lalu firman Allah itu didengar oleh pencuri berita langit. Para pencuri
berita itu saling memanggul (untuk sampai di langit), lalu melemparkan hasil
curiannya itu kepada teman di bawahnya. (HR. Bukhari dari Abi Hurairah
radliyallahu 'anhu)
Seorang dukun atau paranormal yang
memberitakan perkara-perkara ghaib sebenarnya menerima kabar dari syaithan itu
dengan jalan melihat letak bintang untuk menentukan atau mengetahui
peristiwa-peristiwa di bumi, seperti letak benda yang hilang, nasib seseorang,
perubahan musim, dan lain-lain. Inilah yang biasa disebut ilmu perbintangan
atau tanjim. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
“ … Kemudian melemparkan benda itu
kepada orang yang di bawahnya sampai akhirnya kepada dukun atau tukang sihir.
Terkadang setan itu terkena panah bintang sebelum menyerahkan berita dan
terkadang berhasil. Lalu setan itu menambah berita itu dengan seratus
kedustaan.” (HR. Bukhari dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu)
Meskipun demikian, masih banyak
orang yang mempercayai dan mau mendatangi peramal atau astrolog atau para
dukun, bukan saja dari kalangan orang yang berpendidikan dan ekonomi rendahan
bahkan dari orang-orang yang berpendidikan dan berstatus sosial tinggi. Perbuatan
orang yang mendatangi atau yang didatangi dalam hal ini para dukun sama-sama
mendapatkan dosa dan ancaman keras dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
berupa dosa syirik dan tidak diterima shalatnya selama 40 malam.
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
bersabda :
“Barangsiapa yang mendatangi dukun
dan menanyakan tentang sesuatu lalu membenarkannya, maka tidak diterima
shalatnya 40 malam.” (HR. Muslim dari sebagian istri Nabi Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam)
Pada kesempatan lain, Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam juga mengancam mereka tergolong orang-orang yang
ingkar (kufur) dengan apa yang dibawa beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
“Barangsiapa yang mendatangi dukun
(peramal) dan membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh ia telah ingkar (kufur)
dengan apa yang dibawa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.” (HR. Abu Dawud)
Ancaman dalam hadits di atas berlaku
untuk yang mendatangi dan menanyakan, baik membenarkan atau tidak. (Syaikh
Abdurrahman Alu Syaikh 1979)
Tujuan Penciptaan Bintang-Bintang
Alam dan segala isinya diciptakan
dengan hikmah karena diciptakan oleh Dzat yang memiliki sifat Maha Memberi
Hikmah dan Maha Mengetahui. Dia Maha Mengetahui apa yang di depan dan di balik
ciptaan-Nya. Sehingga mustahil Allah mencipta makhluk dengan main-main. Sebab
itu, kewajiban atas makhluk-Nya ialah tunduk dan menerima berita, perintah, dan
larangan-Nya. Sebagai contoh, yang berhubungan dengan pembahasan kali ini ialah
penciptaan bintang-bintang di langit.
Allah Subhanahu wa Ta'ala
memberitakan bahwa penciptaan bintang-bintang itu ialah untuk penerang, hiasan
langit, penunjuk jalan, dan pelempar setan yang mencuri wahyu yang sedang
diucapkan di hadapan para malaikat. Sebagaimana Dia firmankan :
“Dan sungguh, Kami telah menghiasi
langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu
alat-alat pelempar setan.” (QS. Al Mulk : 5)
Dalam kitab Shahih Bukhari
disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan bintang- bintang itu
untuk tujuan sebagai hiasan langit, alat pelempar setan, dan rambu-rambu jalan.
Maka barangsiapa mempergunakannya untuk selain tujuan itu, sungguh terjerumus
ke dalam kesalahan, kehilangan bagian akhiratnya, dan terbebani dengan satu hal
yang tak diketahuinya. (Perkataan dalam kitab Shahih Bukhari di atas adalah
ucapan Qatadah rahimahullah)
Hukum Mempelajari Ilmu Falak
Para ulama berbeda pendapat dalam
menentukan hukum mempelajari ilmu perbintangan atau ilmu falak (astrologi).
Qatadah rahimahullah (seorang tabi’in) dan Sufyan bin Uyainah (seorang ulama
hadits, wafat pada tahun 198 H) mengharamkan secara mutlak mempelajari ilmu
falak. Sedangkan Imam Ahmad dan Ishaq rahimahullah memperbolehkan dengan syarat
tertentu. Menurut Syaikh Muhammad bin Abdil Aziz As Sulaiman Al Qarawi --yang
berusaha mengkompromikan perbedaan pendapat para ulama di atas-- bahwa
mempelajarinya adalah :
Pertama, kafir bila meyakini
bintang-bintang itu sendiri yang mempengaruhi segala aktivitas makhluk di bumi.
Ini yang pertama.
Kedua, mempelajarinya untuk
menentukan kejadian-kejadian yang ada, akan tetapi semua itu diyakini karena
takdir dan kehendak-Nya. Maka yang kedua ini hukumnya haram.
Ketiga, mempelajarinya untuk
mengetahui arah kiblat, penunjuk jalan, waktu, menurut jumhur ulama hal ini
diperbolehkan (jaiz).
Dari uraian di atas dapat diketahui
bahwa mengaku mengetahui ilmu ghaib menyebabkan pelakunya kafir. Sedangkan
mendatangi dukun dan bertanya kepadanya, hukumnya haram, baik ia membenarkan
atau tidak. Dan yang disebut dukun sekarang ini banyak julukannya. Kadang ia
disebut orang pintar atau paranormal, astrolog, fortuneteller, atau yang
lainnya. Walaupun begitu, hakikatnya sama saja. Penggunaan julukan yang
berbeda-beda hanyalah sebagai pelaris dagangan saja (atau agar terkesan tidak
ketinggalan jaman). Hal ini karena mempelajari ilmu falak yang ditujukan untuk
meramal nasib atau mengaku mengetahui ilmu ghaib merupakan tindakan kekufuran.
Tujuan penciptaan bintang adalah sebagaimana yang telah diterangkan Allah dan
para ulama, bukan untuk mengetahui perkara ghaib seperti yang diyakini oleh
sebagian besar astrolog. Ayat yang mengatakan :
“Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda
(penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka (mendapat
petunjuk).” (QS. An Nahl : 16)
Maksudnya, agar manusia mengetahui
arah jalan dengan mengetahui letak bintang-bintang, bukan untuk mengetahui
perkara ghaib. Banyak hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang
mengharamkan dan melarang mempelajari ilmu nujum (perbintangan) dengan tujuan yang
dilarang syariat, seperti hadits :
“Barangsiapa mempelajari satu cabang
dari cabang ilmu nujum (perbintangan) sungguh ia telah mempelajari satu cabang
ilmu sihir … .” (HR. Ahmad[1], Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas)
Sementara Islam mengharamkan orang
yang menyihir atau meminta sihir. Dan mengaku mengetahui ilmu ghaib merupakan
perkara yang membatalkan atau menggugurkan tauhid dan keimanan orang karena
menandingi Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam sifat Rububiyah. (Kitabut Tauhid,
Syaikh Fauzan halaman 25)
Wallahul Musta’an.
[1] Hadits hasan, dihasankan oleh
Syaikh Ibnu Alis Sinan dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul
Jami’ nomor 5950 dan dalam Ash Shahihah nomor 793.
(SALAFY XIX/1418/1997)
Syukron Atas Kunjungan
Anda..
Mohon Luangkan waktu
ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..

Posting Komentar
Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..