Selamat datang di Blog Pribadi Untuk Sosial Dan Semua

WAHY (wahyu)

10 November 20120 komentar



Oleh : Masduki Ibnu Zeayah
Kata wahy dan derivasinya di dalam al-Qur’an disebut sebanyak 78 kali. Kata wahy (وَحْي) yang dalam bahasa Indonesia disebut “wahyu” merupakan bentuk mashdar yang berasal dari akar kata wâw, hâ’ dan yâ’. Makna awal dari kata wahy adalah “isyarat yang cepat”. Ia bisa berupa ucapan dalam bentuk lambang dan isyarat, atau dalam bentuk suara yang tak tersusun, atau juga berupa isyarat anggota badan. Karena wahy memiliki dua ciri utama, yakni “samar” dan “cepat”, maka secara etimologis kata tersebut kerap diartikan sebagai “pemakluman secara samar, cepat, dan terbatas hanya kepada orang yang diinginkan, tanpa diketahui oleh orang lain”. Dengan demikian, wahy dengan berbagai derivasinya, dari sudut pengertian etimologisnya, mencakup hal-hal berikut: (1) Ilham yang bersifat naluriah pada manusia (QS. Al-Qashash [28]: 7); (2) Ilham yang bersifat instinktif pada hewan (QS. An-Nahl [16]: 68); (3) Isyarat yang cepat dalam bentuk sandi/lambang/simbol sebagai suatu pemakluman (QS. Maryam [19]: 11); (4) Bisikan setan (QS. Al-An‘âm [6]: 121); (5) Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikat sebagai suatu perintah yang harus mereka kerjakan, seperti firman Allah di dalam QS. Al-Anfâl [8]: 12.

Makna etimologis dari kata wahy seperti yang dijelaskan di atas memang lebih luas daripada makna terminologisnya yang dapat diuraikan dalam tiga definisi, tergantung dari aspek mana kata tersebut dilihat. Kendati pun demikian, makna terminologis itu dapat dikembalikan kepada makna etimologisnya, yaitu “pemakluman secara samar, cepat, dan terbatas”. Ketiga definisi wahy itu adalah:

(1) Dilihat dari aspek verba yang berbentuk kata benda (mashdar), yakni “pewahyuan”, wahy didefinisikan sebagai “suatu pemberitahuan secara rahasia dari Allah swt. kepada para nabi, baik melalui perantara maupun tidak”; (2) Dilihat dari aspek hasil dari proses pewahyuan, kata wahy  berarti “pengetahuan (‘irfân) yang ada apa diri seseorang dengan keyakinan bahwa pengetahuan tersebut bersumber dari Allah, baik melalui perantara maupun tidak”. Wahyu berbeda dengan ilham, karena yang disebut terakhir adalah “gejala kejiwaan (wijdân) yang diyakini secara naluriah dan mendorong kepada apa yang dicari tanpa adanya suatu kesadaran dari mana datangnya gejala tersebut, seperti halnya rasa haus dan lapar, sedih dan gembira”. Dengan pemilahan seperti ini, jelas kiranya bahwa definisi ini telah cukup tegas membedakan antara wahyu di satu sisi, serta ilham dan pengetahuan sufistik (al-kasyf al-shûfî) di sisi lain; dan (3) dilihat dari aspek maksud dari suatu pewahyuan, maka penyebutan wahy dalam bentuk mashdar (infinitif) ini dimaksudkan sebagai maf‘ûl bih (objek), yakni mûhâ bihî (sesuatu yang diwahyukan), sehingga kata wahy didefinisikan sebagai “firman Allah Swt. yang diturunkan kepada para Nabi-Nya”. Definisi terakhir ini hampir sama dengan makna “wahyu” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu “petunjuk dari Allah yang diturunkan hanya kepada para Nabi dan Rasul melalui mimpi dan lain sebagainya”.  


Syukron Atas Kunjungan Anda..
Mohon Luangkan waktu ANDA sebentar untuk MengKlik Web diBawah ini.
karena Kami sangat membutuhkan bantuan ANDA..








Share this article :

Posting Komentar

Komentar Kritik dan Saran yang Membangun sangat Berarti bagi Kami.
Terimakasih sudah mampir di Blog yang Sederhana ini :D
Mohon untuk LIKE Pane Fage Pondok Yatim Daarussalam di Pojok Kanan Atas. Terimakasi..

 
Support : Qye Ducky | Creating Website | Qye Course | Masduki | PAYTREN YUSUF MANSUR
Copyright © 2016/1437.H qyeowner.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modify by Masduki Ibnu Zeeyah
Proudly powered by Blogger